Belajar dari Thailand & Korea, Diplomasi Kuliner Indonesia Mendapat Sorotan di IdeaFest 2025
31 October 2025 |
19:43 WIB
Kekayaan kuliner Nusantara menyimpan potensi luar biasa dengan ragam cita rasa yang menggugah selera dan bernilai budaya tinggi. Namun, hingga kini Indonesia belum sepenuhnya mampu mengoptimalkan warisan kuliner tersebut sebagai instrumen efektif diplomasi budaya di kancah global.
Bukan sekadar promosi kuliner di luar negeri, diplomasi gastronomi menjadi salah satu strategi kebudayaan dan ekonomi dari sebuah bangsa untuk memperkenalkan identitas dan memperkuat pengaruhnya melalui cita rasa.
Alda Chairani, Founding Member Dewan Kuliner Indonesia mengatakan, Indonesia sebetulnya bisa belajar banyak dari Thailand dan Korea Selatan dalam mengelola diplomasi kuliner mereka.
Baca Juga: Penulis Abigail Limuria Hidupkan Budaya Berpikir Kritis Generasi Muda di IdeaFest 2025
Kedua negara tersebut, menurutnya tak hanya menjual makanan tetapi juga membangun sistem, narasi budaya, hingga mendapat dukungan lintas sektor yang solid di baliknya.
“Kalau bicara gastrodiplomacy, Thailand dan Korea itu dua contoh paling sukses. Mereka tidak hanya menjual rasa, tapi menjual cerita dan konsistensi. Semua bergerak bersama mulai dari pemerintah, akademisi, dan industri,” ujarnya dalam diskusi Gastrodiplomacy is The Main Driver of Soft-Power di IdeaFest 2025, Jumat (31/10/2025).
Pada tahun 2002, pemerintah Thailand meluncurkan program Global Thai Restaurant Project sebagai bagian dari diplomasi kuliner atau gastrodiplomacy. Mereka memasang target ambisius yaitu membuka ribuan restoran Thailand di luar negeri.
Dalam dua dekade, hasilnya terlihat nyata. Berdasarkan data per tahun 2024 terdapat lebih dari 17.000 restoran Thai tersebar di seluruh dunia.
“Artinya dalam jangka waktu 22 tahun, mereka bisa membangun lebih dari 5.000 restaurant di luar negeri. Nah, ini menjadi best practice dari Thailand,” tutur Alda yang juga Assisten Professor di Institute Pariwisata trisaksi.
Keberhasilan Thailand bahkan berdampak ekonomi signifikan. Restoran Thai di luar negeri membuka lapangan kerja dan mendorong ekspor produk olahan seperti bumbu, saus, dan rempah khas Negeri Gajah Putih.
Keberhasilan serupa juga terjadi di Korea Selatan yang memanfaatkan budaya pop sebagai katalis. Melalui gelombang Hallyu, makanan Korea perlahan masuk ke kesadaran global lewat drama, film, dan musik K-pop.
Dari adegan ramyeon hingga kimchi, semua menjadi bagian dari narasi budaya yang kuat dan mudah diidentifikasi. “Budaya populer membuat orang penasaran untuk mencoba. Dan pemerintah Korea melihat peluang itu dengan serius,” ujar Chef Ray Janson.
Korea kemudian membentuk lembaga khusus yang menangani promosi makanan nasional secara terintegrasi, termasuk pelatihan chef, festival kuliner di luar negeri, hingga riset bahan lokal agar bisa diekspor secara efisien.
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang luar biasa mulai dari rempah-rempah, keragaman rasa, hingga diaspora yang tersebar di banyak negara. Namun, menurut Alda, tantangannya ada di koordinasi dan kesinambungan.
“Masalahnya bukan di rasa atau bahan. Masalahnya di strategi. Kita perlu satu ekosistem yang menyatukan pemerintah, akademisi, chef, pelaku industri, dan diaspora,” jelasnya.
Senada disampaikan oleh Chef Ray Jensen bahwa keberhasilan diplomasi kuliner tidak bisa lahir dari acara promosi jangka pendek semata. “Kalau negara lain membangun branding kuliner selama bertahun-tahun, kita jangan terus mulai dari nol setiap pergantian program,” katanya.
Sementara itu Vice President Association of Culinary Professional Indonesia, Chef Vindex Tengker mengatakan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi kuliner yang dapat dikembangkan di pasar luar negeri. Namun menurutnya, Indonesia juga perlu memperkuat fondasi kulinernya terlebih dahulu sehingga dapat diakui di kancah global.
“Kita harus punya kurikulum kuliner yang kuat, riset bahan pangan lokal, dan dukungan konkret untuk para chef muda. Tanpa itu, sulit menciptakan standar yang bisa diakui dunia,” ujarnya.
Baca Juga: Ekosistem Olahraga, dari Gerakan Jadi Peluang Bisnis Bernilai Tinggi
Bukan sekadar promosi kuliner di luar negeri, diplomasi gastronomi menjadi salah satu strategi kebudayaan dan ekonomi dari sebuah bangsa untuk memperkenalkan identitas dan memperkuat pengaruhnya melalui cita rasa.
Alda Chairani, Founding Member Dewan Kuliner Indonesia mengatakan, Indonesia sebetulnya bisa belajar banyak dari Thailand dan Korea Selatan dalam mengelola diplomasi kuliner mereka.
Baca Juga: Penulis Abigail Limuria Hidupkan Budaya Berpikir Kritis Generasi Muda di IdeaFest 2025
Kedua negara tersebut, menurutnya tak hanya menjual makanan tetapi juga membangun sistem, narasi budaya, hingga mendapat dukungan lintas sektor yang solid di baliknya.
“Kalau bicara gastrodiplomacy, Thailand dan Korea itu dua contoh paling sukses. Mereka tidak hanya menjual rasa, tapi menjual cerita dan konsistensi. Semua bergerak bersama mulai dari pemerintah, akademisi, dan industri,” ujarnya dalam diskusi Gastrodiplomacy is The Main Driver of Soft-Power di IdeaFest 2025, Jumat (31/10/2025).
Pada tahun 2002, pemerintah Thailand meluncurkan program Global Thai Restaurant Project sebagai bagian dari diplomasi kuliner atau gastrodiplomacy. Mereka memasang target ambisius yaitu membuka ribuan restoran Thailand di luar negeri.
Dalam dua dekade, hasilnya terlihat nyata. Berdasarkan data per tahun 2024 terdapat lebih dari 17.000 restoran Thai tersebar di seluruh dunia.
“Artinya dalam jangka waktu 22 tahun, mereka bisa membangun lebih dari 5.000 restaurant di luar negeri. Nah, ini menjadi best practice dari Thailand,” tutur Alda yang juga Assisten Professor di Institute Pariwisata trisaksi.
Keberhasilan Thailand bahkan berdampak ekonomi signifikan. Restoran Thai di luar negeri membuka lapangan kerja dan mendorong ekspor produk olahan seperti bumbu, saus, dan rempah khas Negeri Gajah Putih.
Keberhasilan serupa juga terjadi di Korea Selatan yang memanfaatkan budaya pop sebagai katalis. Melalui gelombang Hallyu, makanan Korea perlahan masuk ke kesadaran global lewat drama, film, dan musik K-pop.
Dari adegan ramyeon hingga kimchi, semua menjadi bagian dari narasi budaya yang kuat dan mudah diidentifikasi. “Budaya populer membuat orang penasaran untuk mencoba. Dan pemerintah Korea melihat peluang itu dengan serius,” ujar Chef Ray Janson.
Korea kemudian membentuk lembaga khusus yang menangani promosi makanan nasional secara terintegrasi, termasuk pelatihan chef, festival kuliner di luar negeri, hingga riset bahan lokal agar bisa diekspor secara efisien.
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang luar biasa mulai dari rempah-rempah, keragaman rasa, hingga diaspora yang tersebar di banyak negara. Namun, menurut Alda, tantangannya ada di koordinasi dan kesinambungan.
“Masalahnya bukan di rasa atau bahan. Masalahnya di strategi. Kita perlu satu ekosistem yang menyatukan pemerintah, akademisi, chef, pelaku industri, dan diaspora,” jelasnya.

Chef, Entrepreneur, Podcaster Ray Janson (dari kiri) bersama dengan Vice President Association of Culinary Professional Indonesia Vindex Tengker, Founding Member Dewan Kuliner Indonesia & Assistant Professor at Institut Pariwisata Trisakti Alda Chairani dan VP of F&B (LUC Coffe) Renaldo Gabriel saat diskusi bertema "Gastrodiplomacy Is The Main Driver of Soft-Power" dalam acara IdeaFest 2025 di Jakarta, Jumat (31/10/2025). (Sumber gambar: Hypeabis/Eusebio Chrysnamurti)
Senada disampaikan oleh Chef Ray Jensen bahwa keberhasilan diplomasi kuliner tidak bisa lahir dari acara promosi jangka pendek semata. “Kalau negara lain membangun branding kuliner selama bertahun-tahun, kita jangan terus mulai dari nol setiap pergantian program,” katanya.
Sementara itu Vice President Association of Culinary Professional Indonesia, Chef Vindex Tengker mengatakan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi kuliner yang dapat dikembangkan di pasar luar negeri. Namun menurutnya, Indonesia juga perlu memperkuat fondasi kulinernya terlebih dahulu sehingga dapat diakui di kancah global.
“Kita harus punya kurikulum kuliner yang kuat, riset bahan pangan lokal, dan dukungan konkret untuk para chef muda. Tanpa itu, sulit menciptakan standar yang bisa diakui dunia,” ujarnya.
Baca Juga: Ekosistem Olahraga, dari Gerakan Jadi Peluang Bisnis Bernilai Tinggi
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.