Founder Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia Jansen Ongko Menyampaikan pemaparan saat diskusi bertema "From Passion to Profit: Turning Movement into Market Value" dalam acara IdeaFest 2025 di Jakarta, Jumat (31/10/2025). (Sumber gambar: Hypeabis/Eusebio Chrysnamurti)

Ekosistem Olahraga, dari Gerakan Jadi Peluang Bisnis Bernilai Tinggi

31 October 2025   |   19:12 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah maraknya gaya hidup sehat, olahraga tidak lagi dipandang sebatas aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran. Di tangan para pelaku kreatif dan profesional, olahraga justru menjelma menjadi ekosistem bisnis yang menjanjikan dan bernilai ekonomi tinggi.

Jansen Ongko, pendiri Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) mengatakan bahwa potensi industri olahraga semakin besar karena banyak masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan.

“Dulu olahraga itu pilihan, sekarang sudah menjadi kebutuhan,” ujar Jansen Ongko, dalam sesi Ideatalks Ideafest 2025 bertajuk “Turning Movement into Market Value”, Jumat (31/10/2025).

Baca Juga: Penulis Abigail Limuria Hidupkan Budaya Berpikir Kritis Generasi Muda di IdeaFest 2025

Dia menyoroti bahwa saat ini lebih dari 80% masyarakat Indonesia masih belum aktif berolahraga tetapi trennya akan bertumbuh. Artinya, dari 240 juta penduduk, sekitar 200 juta orang masih bisa digerakkan. “Itu tambang emas yang bisa dioptimalkan potensinya,” tuturnya.

Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk hidup lebih sehat menciptakan potensi pasar yang luas mulai dari pusat kebugaran, pelatih pribadi, lapangan olahraga, hingga klinik fisioterapi dan pemulihan cedera.

Sektor ini pun berkembang karena olahraga saat ini telah terintegrasi dengan lifestyle. Misalnya saja padel yang saat ini booming karena telah masuk ke ruang sosial masyarakat sehingga olahraga saat ini bukan hanya untuk menjaga kebugaran tetapi menjadi bagian dari status sosial dan komunitas.

“Industri ini akan terus berkembang, semakin banyak orang yang akan berolahraga ekosistemnya akan terus terbentuk sehingga menjadi peluang yang menjanjikan bagi siapapun yang ingin berbisnis di bidang olahraga,” tuturnya.
 

Deputy Commercial & Partnership KONI Anjar Nugraha (dari kiri) bersama dengan Founder Bebas Cedera Physio Asep Azis dan Founder Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia Jansen Ongko saat diskusi bertema "From Passion to Profit: Turning Movement into Market Value" dalam acara IdeaFest 2025 di Jakarta, Jumat (31/10/2025). (Sumber gambar: Hypeabis/Eusebio Chrysnamurti)

Deputy Commercial & Partnership KONI Anjar Nugraha (dari kiri) bersama dengan Founder Bebas Cedera Physio Asep Azis dan Founder Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia Jansen Ongko saat diskusi bertema "From Passion to Profit: Turning Movement into Market Value" dalam acara IdeaFest 2025 di Jakarta, Jumat (31/10/2025). (Sumber gambar: Hypeabis/Eusebio Chrysnamurti)


Jansen juga menilai seseorang yang bisa mengolah hobinya berolahraga menjadi bisnis bisa mendapatkan dua keuntungan. Pertama akan membuat dirinya dan masyarakat menjadi lebih sehat, kedua memberikan keuntungan dari sisi bisnis sekaligus menggerakan perekonomian.

Peluang bisnis dalam ekosistem ini ditangkap langsung oleh Asep Azis, fisioterapis timnas yang  mendirikan bisnis di bidang sport recovery. Klinik fisioterapi Bebas Cedera miliknya ini telah memiliki lebih dari 30 titik yang menyediakan layanan fisioterapi di pusat kebugaran dan klinik olahraga.

Asep mengatakan, meningkatnya minat masyarakat untuk berolahraga justru membuat layanan pemulihan cedera (recovery) tumbuh cepat. “Banyak orang semangat olahraga, tapi lupa pemanasan, lupa pendinginan. Akhirnya cedera,” jelas Asep.

Dari situ dia melihat celah besar di pasar sehingga dia pun membangun konsep Active Flow Sport Massage dan ASP Performance Center dua layanan yang menggabungkan edukasi, sains olahraga, dan pendekatan fisioterapi profesional.

 “Kami ingin edukasi masyarakat tentang pentingnya recovery. Karena kalau penanganannya benar, orang bisa return to performance, bukan sekadar sembuh,” tambahnya.

Selain pemulihan, tren baru juga muncul dari komunitas-komunitas olahraga yang tumbuh organik. Mulai dari pelari maraton, pesepeda, hingga pemain padel semuanya kini didukung oleh ekosistem pelatih, fisioterapis, hingga layanan home care recovery.

“Sekarang orang yang mau ikut New York Marathon aja dari setahun sebelumnya sudah punya pelatih, fisioterapis, bahkan paket nutrisi. Ekosistem ini bergerak cepat dan potensinya luar biasa besar,” tambahnya.

 Wakil Ketua IV Bidang Usaha KONI Pusat Anjar Nugraha mengatakan, industri olahraga kini mulai dilihat sebagai bagian dari strategi nasional menuju Indonesia Emas 2045. “Olahraga itu bukan hanya prestasi, tapi kesejahteraan. Kita dorong agar industri olahraga bisa hidup dari komunitas,” ujarnya.

Baca Juga: Dari Nyanyi Bareng hingga Bocor Banget Politik, IdeaFest X Jadi Ruang Perayaan Budaya Kolaboratif
 

SEBELUMNYA

Pameran Hewan Peliharaan IIPE 2025 Hadir Kembali dengan Tema Garden Party

BERIKUTNYA

Oppo Find X9 Series Diklaim Bisa Gantikan Kamera Mirrorless, Meluncur Bulan Depan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga