Wacana Mindfulness Ala Nusantara Jadi Sorotan di IdeaFest 2025
01 November 2025 |
19:52 WIB
Kesadaran diri atau mindfulness belakangan menjadi salah satu topik yang banyak dibicarakan. Di ruang-ruang kerja, komunitas, hingga media sosial, makin banyak orang mencari cara untuk menenangkan pikiran dan mengelola hidup dengan lebih sadar.
Founder of Tantra Sastra Nusantara, I Ketut Sandika, mengatakan di tengah derasnya teknologi dan manusia yang makin hidup di dua dunia, maya dan nyata, tak mengherankan bila banyak orang mencari mindfulness. Sebab, bisa jadi, dunia memang tengah mengalami pandemi kesadaran.
Baca juga: IdeaFest 2025 Soroti Perkembangan Art Award yang Pacu Ekosistem Seni di Indonesia
Ketut mengatakan akar persoalan pandemi kesadaran sebenarnya terletak pada manusia itu sendiri. Modernisasi membuat kesadaran kolektif terdistraksi, sehingga orientasi hidup bergeser menjadi serba material dan hedonistik.
"Terlebih, generasi hari ini cenderung memandang materi sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, padahal justru itu yang melahirkan penderitaan," ungkap Ketut Sandika dalam diskusi bertema Stillness As Revolution: Rediscovering The Mindfulness Of Nusantara di IdeaFest 2025 di Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
Namun, kata Ketut, jangan salah menyadari bahwa kita perlu untuk menolak materi. Sebab, selama manusia hidup dalam tubuh, kebutuhan duniawi akan tetap ada. Akan tetapi, yang perlu dikendalikan adalah keterikatan kita dengan materi tersebut.
Ketut mengingatkan bahwa ketika materi dijadikan pusat kebahagiaan, kekecewaan akan hadir begitu keinginan tidak terpenuhi. Oleh karena itu, solusinya adalah menempatkan diri dalam kesadaran. Dalam artian, bekerja bukan semata mengejar hasil, melainkan menghadirkan pelayanan, bakti, cinta, dan welas asih dalam setiap aktivitas.
Menurutnya, puncak dari praktik mindfulness adalah kemampuan mengikhlaskan. Ketika seseorang mampu melepaskan dan tidak lagi digerakkan oleh keinginan, hidup menjadi lebih ringan.
"Untuk sampai pada tahap itu, diperlukan latihan panjang. Namun, kita bisa memulainya dengan proses sederhana, seperti duduk hening, menyadari tubuh, pikiran, dan napas. Melalui kesunyian itu, seseorang menyadari bahwa segala hal dalam hidup bersifat sementara," imbuhnya.
Terlebih, katanya, bila kita hidup dalam kondisi kota besar, seperti Jakarta, mindfulness sebenarnya jadi satu hal yang penting. Sebab, kemacetan, kebisingan, dan intensitas pekerjaan memicu ledakan emosi yang sulit dikendalikan.
Meditasi hadir sebagai cara untuk mengamati pikiran dan perasaan tanpa harus terperangkap di dalamnya. Jika emosi negatif terus disimpan, ia akan terakumulasi dalam alam bawah sadar dan dapat menimbulkan tekanan batin hingga gangguan fisik.
Pengajar Mindfulness MBSR dan MBCT Hendrick Tanu mengatakan kesadaran atau mindfulness mulai dikenal luas di Indonesia setelah masa pandemi. Pada periode itu, praktik Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) menjadi salah satu metode yang banyak dipelajari. Lonjakan minat tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat kebutuhan untuk hadir lebih penuh dalam hidup sehari-hari.
Namun, mindfulness bukan hal baru dalam ranah global. Praktik ini sudah menjadi sorotan ilmiah sejak 1979, saat pertama kali masuk dalam publikasi medis dan psikologis. Sejak itu, ribuan penelitian telah dilakukan untuk membuktikan manfaatnya, terutama dalam menurunkan tingkat stres, meningkatkan ketenangan, dan membantu pengelolaan emosi.
Namun, jauh sebelum menjadi sorotan di Eropa, mindfulness sebenarnya telah lama dipelajari di Indonesia, terutama oleh para leluhur. Dia mengatakan mindfulness memiliki akar yang kuat di Nusantara. "Relief-relief di Candi Borobudur, misalnya, menggambarkan perjalanan batin manusia melalui tahapan hidup yang penuh kesadaran," ungkapnya.
Di luar itu, menurutnya, perjalanan ini juga selaras dengan pemikiran psikologi modern, terutama piramida kebutuhan Maslow. Bila Maslow menempatkan aktualisasi diri sebagai puncak, tradisi Nusantara menawarkan satu langkah lebih jauh, yaitu self-transcendence atau pembebasan dari ego dan identitas yang dibentuk keinginan. Dalam konteks ini, mindfulness bukan hanya soal menenangkan diri, tetapi tentang mengenali jati diri yang lebih dalam.
Dengan demikian, mindfulness ala Nusantara tidak hanya dipahami sebagai teknik pernapasan atau meditasi singkat, melainkan jalan hidup. Pola ini mengajarkan kita untuk hadir dalam setiap pengalaman, menyadari emosi tanpa terjebak di dalamnya, dan melihat kehidupan sebagai proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Sementara itu, Meditation Instructor of Bali Usada Ayu Kartika Dewi mengatakan mindfulness merupakan usaha yang dilakukan sepanjang hidup. Ini bukan sekali dua kali dilakukan lalu mendapatkan manfaat. Namun, ini mesti menjadi kebiasaan sehingga mindfulness bukan sekadar praktikal, melainkan jalan hidup sehingga keseharian pun lebih damai.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Founder of Tantra Sastra Nusantara, I Ketut Sandika, mengatakan di tengah derasnya teknologi dan manusia yang makin hidup di dua dunia, maya dan nyata, tak mengherankan bila banyak orang mencari mindfulness. Sebab, bisa jadi, dunia memang tengah mengalami pandemi kesadaran.
Baca juga: IdeaFest 2025 Soroti Perkembangan Art Award yang Pacu Ekosistem Seni di Indonesia
Ketut mengatakan akar persoalan pandemi kesadaran sebenarnya terletak pada manusia itu sendiri. Modernisasi membuat kesadaran kolektif terdistraksi, sehingga orientasi hidup bergeser menjadi serba material dan hedonistik.
"Terlebih, generasi hari ini cenderung memandang materi sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, padahal justru itu yang melahirkan penderitaan," ungkap Ketut Sandika dalam diskusi bertema Stillness As Revolution: Rediscovering The Mindfulness Of Nusantara di IdeaFest 2025 di Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
Namun, kata Ketut, jangan salah menyadari bahwa kita perlu untuk menolak materi. Sebab, selama manusia hidup dalam tubuh, kebutuhan duniawi akan tetap ada. Akan tetapi, yang perlu dikendalikan adalah keterikatan kita dengan materi tersebut.
Ketut mengingatkan bahwa ketika materi dijadikan pusat kebahagiaan, kekecewaan akan hadir begitu keinginan tidak terpenuhi. Oleh karena itu, solusinya adalah menempatkan diri dalam kesadaran. Dalam artian, bekerja bukan semata mengejar hasil, melainkan menghadirkan pelayanan, bakti, cinta, dan welas asih dalam setiap aktivitas.
Menurutnya, puncak dari praktik mindfulness adalah kemampuan mengikhlaskan. Ketika seseorang mampu melepaskan dan tidak lagi digerakkan oleh keinginan, hidup menjadi lebih ringan.
"Untuk sampai pada tahap itu, diperlukan latihan panjang. Namun, kita bisa memulainya dengan proses sederhana, seperti duduk hening, menyadari tubuh, pikiran, dan napas. Melalui kesunyian itu, seseorang menyadari bahwa segala hal dalam hidup bersifat sementara," imbuhnya.
Terlebih, katanya, bila kita hidup dalam kondisi kota besar, seperti Jakarta, mindfulness sebenarnya jadi satu hal yang penting. Sebab, kemacetan, kebisingan, dan intensitas pekerjaan memicu ledakan emosi yang sulit dikendalikan.
Meditasi hadir sebagai cara untuk mengamati pikiran dan perasaan tanpa harus terperangkap di dalamnya. Jika emosi negatif terus disimpan, ia akan terakumulasi dalam alam bawah sadar dan dapat menimbulkan tekanan batin hingga gangguan fisik.
Mindfulness Ala Nusantara

CMO & Founder of Myndfulact Beby Vinny (dari kiri), Mindfulness MBSR and MBCT Teacher Hendrick Tanu, Founder of Tantra Sastra Nusantara Ketut Sandika, dan Meditation Instructor of Bali Usada Ayu Kartika Dewi mengikuti diskusi IdeaFest 2025 di Jakarta, Sabtu (1/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)
Pengajar Mindfulness MBSR dan MBCT Hendrick Tanu mengatakan kesadaran atau mindfulness mulai dikenal luas di Indonesia setelah masa pandemi. Pada periode itu, praktik Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) menjadi salah satu metode yang banyak dipelajari. Lonjakan minat tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat kebutuhan untuk hadir lebih penuh dalam hidup sehari-hari.
Namun, mindfulness bukan hal baru dalam ranah global. Praktik ini sudah menjadi sorotan ilmiah sejak 1979, saat pertama kali masuk dalam publikasi medis dan psikologis. Sejak itu, ribuan penelitian telah dilakukan untuk membuktikan manfaatnya, terutama dalam menurunkan tingkat stres, meningkatkan ketenangan, dan membantu pengelolaan emosi.
Namun, jauh sebelum menjadi sorotan di Eropa, mindfulness sebenarnya telah lama dipelajari di Indonesia, terutama oleh para leluhur. Dia mengatakan mindfulness memiliki akar yang kuat di Nusantara. "Relief-relief di Candi Borobudur, misalnya, menggambarkan perjalanan batin manusia melalui tahapan hidup yang penuh kesadaran," ungkapnya.
Di luar itu, menurutnya, perjalanan ini juga selaras dengan pemikiran psikologi modern, terutama piramida kebutuhan Maslow. Bila Maslow menempatkan aktualisasi diri sebagai puncak, tradisi Nusantara menawarkan satu langkah lebih jauh, yaitu self-transcendence atau pembebasan dari ego dan identitas yang dibentuk keinginan. Dalam konteks ini, mindfulness bukan hanya soal menenangkan diri, tetapi tentang mengenali jati diri yang lebih dalam.
Dengan demikian, mindfulness ala Nusantara tidak hanya dipahami sebagai teknik pernapasan atau meditasi singkat, melainkan jalan hidup. Pola ini mengajarkan kita untuk hadir dalam setiap pengalaman, menyadari emosi tanpa terjebak di dalamnya, dan melihat kehidupan sebagai proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Sementara itu, Meditation Instructor of Bali Usada Ayu Kartika Dewi mengatakan mindfulness merupakan usaha yang dilakukan sepanjang hidup. Ini bukan sekali dua kali dilakukan lalu mendapatkan manfaat. Namun, ini mesti menjadi kebiasaan sehingga mindfulness bukan sekadar praktikal, melainkan jalan hidup sehingga keseharian pun lebih damai.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.