Pengunjung melintasi salah satu instalasi dalam pameran Wound karya Alisa Chunchue, di Ara Contemporary (sumber gambar: Ara Contemporary)

Saat Duo Seniman Menjahit Luka & Menyulam Ingatan di Ara Contemporary

29 October 2025   |   21:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Patung-patung kaca menyerupai benang bedah itu tampak melayang di ruang pamer. Dibentuk dalam lengkung-lengkung organik yang terhubung oleh ring aluminium, instalasi ini memancarkan kesan rapuh sekaligus kokoh, seperti kerangka berkilau yang menggantung di udara.

Warna-warnanya bergradasi dari kuning keemasan, hijau gelap, hingga perak metalik, menciptakan kedalaman visual yang memikat. Setiap untaian tersusun presisi, menjuntai dan memantulkan cahaya serta bayangan lembut di lantai di bawah sorot lampu.

Inilah Invisible Suture (2022–2024) dan Stitching (2024), karya Alisa Chunchue, perupa asal Thailand. Dari dekat, patung-patung kaca itu menyingkap transparansi yang mengundang penonton larut dalam suasana meditatif.

Baca Juga: Pameran Dinamika dalam Diam: Dialog Artistik Dua Perupa Senior di Balai Budaya Jakarta

Kedua instalasi ini menjadi pintu pembuka pameran Wound di Ara Contemporary, Jakarta, yang berlangsung hingga 2 ovenver 2025. Seri terbaru Chunchue ini, terinspirasi dari luka autopsi pada jenazah di Condon Anatomical Museum, Bangkok.

Bagi Chunchue, benang bedah memang menjadi simbol ketelitian, kesabaran, sekaligus cara untuk menemukan ketenangan. Dia mengaitkan proses menjahit luka dengan perjalanan penyembuhan emosional dan fisik yang dijalani sejak 2020.

“Inspirasi awal muncul saat saya mengunjungi ruang anatomi. Saya menyadari, pada tubuh mati luka tidak menimbulkan sakit, tetapi pada tubuh hidup luka terasa begitu nyata,” ujar Chunchue.
 

ahah

Pengunjung melihat karya dalam pameran Wound karya Alisa Chunchue, di Ara Contemporary (sumber gambar: Ara Contemporary)
 

Dari pengalaman itu, dia mulai mempelajari teknik menjahit luka. Latihan berulang yang semula bersifat teknis justru berkembang menjadi bentuk meditasi, sebuah proses yang memberinya pemahaman lebih dalam tentang tubuh dan penyembuhan.

Beranjak dari seri karya ini, publik juga diajak memasuki ruang utama dari seri lain karya Chunchue. Sebelum memasukinya, pengunjung harus melewati sebuah tirai yang menyerupai pintu masuk ruang bedah rumah sakit.

Di ruang inilah, Chunchue secara lebih dalam mengeksplorasi paradoks luka. Sebab, pada tubuh yang hidup, paparnya, luka dapat pulih dan bekasnya memudar, sementara pada tubuh mati luka tak pernah hilang, meski tak ada lagi yang mengingatnya.

Ketertarikannya pada sifat paradoksal inilah yang kemudian mendorongnya meneliti teknik jahitan bedah. Dia menirukan langkah-langkahnya dengan pensil, menciptakan pola berulang tanpa akhir: lembut, berputar, dan konsisten hingga memenuhi bidang kanvas atau kertas.

Refleksi itu tampak pada karya Wound 05/2024 dan Scarlet Sutures 04/2024. Garis-garis repetitif yang digurat dengan pensil warna menghasilkan pola runut, membentuk bidang visual yang padat namun tetap tenang.

Dari kejauhan, karya-karya ini tampak seperti bidang polos berwarna. Namun ketika didekati, detail jahitan terungkap, dengan palet yang mengingatkan pada tubuh manusia seperti darah, daging, dan kulit.

 

Luka & Ingatan


Sejalan dengan pameran Wound karya Alisa Chunchue, Ara Contemporary juga membuka pameran tunggal Mar Kristoff bertajuk Interloper. Namun, alih-alih lewat tubuh, Kristoff mengungkap ingatan lewat arsip sebagai ruang cair yang rapuh dan terbuka untuk ditafsir ulang.

Bekerja dengan foto keluarga dan benda temuan, Kristoff memperlakukan arsip sebagai wadah transparan bagi memori. Dalam lukisannya, foto seolah berubah menjadi perangkat kuasa, atau alat yang bukan hanya mencatat, tetapi juga membangun, memisahkan, sekaligus mendistorsi identitas.

Misalnya saat dia membeli arsip foto anonim dari zaman kolonial lalu mengolahnya menjadi karya bertajuk The Passenger (2025). Berdimensi 70x90x5 cm, lukisan ini menampilkan sosok yang sedang menyetir mobil dari sudut pandang penumpang di kursi belakang dengan objek yang memudar.

Ada pula lukisan bertajuk Handover (2025) yang merekonstruksi gambar almarhum ayahnya setelah bermain dalam sebuah band jazz. Dalam karya ini Kristoff juga membuat replika patung dari koper saksofon ayahnya. Patung saksofon yang rusak, sepatu, hingga gelas juga hadir berserakan di ruang pamer.

“Pameran ini adalah sebuah meditasi mengenai makna kepemilikan dan pembatasan antara ruang publik dan ruang privat. Saya menggunakan arsip yang berisi foto-foto keluarga pribadi saya dan foto-foto keluarga anonim yang saya beli dari lokapasar,” katanya.
 

zh

Salah satu karya dalam pameran  tunggal Mar Kristoff bertajuk Interloper , di Ara Contemporary (sumber gambar: Ara Contemporary)

Pameran ini juga menandai perluasan bahasa artistik Kristoff. Untuk pertama kalinya, ia menghadirkan medium video dan patung. Dalam karya video berjudul Puri Gading, sang seniman menyusun sebuah kolase visual dari kenangan masa kecilnya saat di Bali.

Berdurasi 19 menit, video hitam-putih tersebut menampilkan montase dari kompleks tempat tinggalnya sebelum hijrah ke tempat lain. Dibalut dalam alunan musik blues, lewat karya ini Kristoff memetakan bagaimana memori berkembang dan berlipat dalam bentuk-bentuk yang saling beririsan.

Lewat dua pameran ini, Ara Contemporary mempertemukan dua pendekatan artistik yang berbeda, namun saling berkelindan. Alisa Chunchue menghadirkan luka sebagai jejak tubuh, meditasi, dan proses penyembuhan. Sementara Mar Kristoff menelusuri ingatan yang rapuh lewat arsip keluarga maupun anonim, yang terus terbuka untuk ditafsir ulang.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Material & Memori di Pameran Conjunction of Drones Jakarta

SEBELUMNYA

Peluang Besar Industri Coating, Dari Tren Keberlanjutan hingga Inovasi Teknologi AI

BERIKUTNYA

Film Abadi Nan Jaya Rajai Netflix Top 10 Global dan Ditonton 11 Juta Kali

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga