Ilustrasi startup yang memanfaatkan AI. (Sumber gambar: Freepik/DC Studio)

Arah Pendanaan Global Berubah, Investor Lirik Startup Berbasis AI

27 October 2025   |   13:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Gelombang pendanaan untuk perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) tengah melonjak di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, di tengah derasnya arus modal yang mengalir ke sektor tersebut, pendanaan startup di Indonesia terbilang masih terbatas.

Founding Partner at First Move Joel Neoh menilai bahwa arah investasi global kini bergeser tajam ke perusahaan yang mengembangkan solusi berbasis AI. Baru kembali dari Amerika Serikat selama 2 tahun berada di sana, dia melihat bagaimana AI mengubah peta persaingan bisnis. 

“Saya melihat sendiri betapa cepatnya startup AI tumbuh di sana. Itu membuat saya berpikir, bagaimana caranya Asia Tenggara bisa mengejar ketertinggalan?” ujar Neoh di Jakarta belum lama ini. 

Baca juga: Co-Founder East Ventures Beberkan Lima Arah Baru Dunia Startup 

Menurutnya, perubahan pola investasi ini menciptakan tantangan baru bagi startup di Asia Tenggara, terutama di Indonesia. Jika sebelumnya investor berlomba menanamkan modal ke sektor e-commerce dan fintech, kini pendanaan lebih selektif dan mengalir ke startup dengan efisiensi tinggi dan kemampuan teknologi mendalam. 

Dalam pengamatannya di AS selama 2 tahun, dia menilai paradigma investor telah berubah, mereka kini mencari startup dengan tim kecil, struktur ramping, tapi punya potensi pendapatan besar. Bagi investor, efisiensi dan kecepatan tumbuh menjadi indikator utama kelayakan investasi, menggantikan pola lama yang menekankan pertumbuhan pengguna dan ekspansi besar-besaran.

“Startup AI di sana sangat ramping. Banyak hanya punya lima atau sepuluh orang (karyawan), yang mereka ukur bukan jumlah karyawan, tapi revenue per employee,” ungkapnya. 

Pelajaran kedua yang ditangkap Neoh yakni pertumbuhan startup AI sangat cepat. Jika dahulu dia butuh lima tahun untuk membuat Fave mencapai US$10 juta annual recurring revenue (ARR), startup AI di AS sekarang bisa mencapainya hanya dalam 5 hingga 12 bulan.

Ketiga, adalah soal kecepatan eksekusi. “Mereka bergerak sangat cepat, fokus, dan berani mengambil risiko. Pertanyaannya, apakah model seperti ini bisa diterapkan di Asia Tenggara?” imbuhnya.

Di tengah perubahan paradigma ini, startup di Indonesia menurutnya perlu menyesuaikan strategi. Neoh menilai, banyak pendiri masih terjebak pada pola growth at all cost, padahal iklim modal kini menuntut efisiensi dan model bisnis yang bisa cepat menghasilkan. 

Selain efisiensi, tantangan utama startup Indonesia terletak pada kurangnya pendiri dengan latar belakang teknis. Menurut Neoh, banyak startup lokal dibangun oleh pelaku bisnis yang kuat di sisi strategi dan pemasaran, tapi tidak memiliki kemampuan mengembangkan teknologi AI dari dalam. 

Kondisi ini menyebabkan sebagian investor global lebih memilih menanamkan modal di Singapura atau India, yang memiliki ekosistem talenta AI lebih kuat. Padahal, dengan populasi besar dan kebutuhan digital yang tinggi, Indonesia berpotensi menurutnya bisa menjadi pasar sekaligus pusat pengembangan AI di kawasan. 

Neoh juga menyoroti pentingnya peran investor domestik dalam membangun fondasi ekosistem AI nasional. Selama ini, sebagian besar pendanaan startup di Indonesia masih bergantung pada modal ventura asing atau berbasis di luar negeri. 

Dia berpendapat, kehadiran modal lokal yang memahami konteks pasar Indonesia sangat penting untuk mendorong pertumbuhan startup AI tahap awal. Pendanaan tidak hanya soal uang, tapi juga tentang pendampingan, jejaring, dan pemahaman terhadap kebutuhan lokal.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya menyebut Indonesia merupakan ekonomi digital terbesar di kawasan, sekaligus rumah bagi startup dengan jumlah terbanyak di Asia Tenggara, terhitung lebih dari 3.000 startup hingga pertengahan tahun ini, dan mencatat Gross Merchandise Value (GMV) hingga US$90 miliar atau sekitar Rp1.420 triliun pada 2024. 

Diproyeksikan nilai ini akan melonjak menjadi US$210 miliar-US$360 miliar pada 2030, alias meningkat hingga 300 persen. Pertumbuhan ini kata Meutya, didorong oleh penerapan kecerdasan buatan di berbagai sektor, mulai dari keuangan, logistik, kesehatan, hingga industri kreatif. Disokong investasi AI dari partner global seperti Microsoft, Google, Amazon.

“Pertumbuhan ini perlu dikelola dengan baik agar startup tidak hanya mampu menjawab berbagai tantangan, tetapi juga tetap berkelanjutan dari sisi bisnis,” ujar Meutya saat ditemui di ajang Tech in Asia Conference 2025 di Jakarta.

Baca juga: Ekosistem Startup Masih Menjanjikan, AI Paling Menarik 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Tema Peringatan & Filosofi Logo Hari Sumpah Pemuda 2025

BERIKUTNYA

Review Film It Was Just an Accident, Potret Gelap Iran Karya Jafar Panahi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: