illustrasi peralatan Film (sumber: Freepik)

Pyongyang International Film Festival Kembali Digelar Setelah 6 Tahun Absen

27 October 2025   |   07:13 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Korea Utara kembali menarik perhatian dunia melalui gelaran Pyongyang International Film Festival yang kembali diadakan tahun ini, setelah enam tahun tanpa penyelenggaraan. Ajang ini menjadi salah satu aktivitas publik terbesar yang dibuka untuk peserta mancanegara sejak pandemi.

Meskipun masih terbatas, kehadiran festival ini menandai usaha Pyongyang untuk memperlihatkan sisi lain dari negaranya kepada dunia, terutama lewat medium budaya populer seperti film. Acara yang biasanya digelar setiap dua tahun sekali ini sempat terhenti selama pandemi dan baru kembali hadir pada 22 hingga 25 Oktober tahun 2025.

Pemerintah Korea Utara mengundang sejumlah pihak internasional untuk datang, termasuk jurnalis dan utusan media dari China serta Rusia. Undangan ini memperlihatkan bahwa negara tersebut masih ingin menjalin hubungan diplomasi melalui jalur seni dan hiburan.

Selama ini, film menjadi salah satu alat propaganda utama dalam sistem Korea Utara, sehingga festival ini juga menjadi panggung penting untuk menunjukan karya yang mewakili narasi nasional mereka. 

Baca juga: Jumbo Berkompetisi di Sharjah International Film Festival for Children & Youth 

Informasi yang dipublikasikan menyebutkan bahwa film dokumenter yang menampilkan Kim Jong Un ikut diputar sebagai bagian dari program resmi. Hal ini cukup bisa diprediksi mengingat sosok pemimpin Korea Utara sering diangkat dalam karya film maupun dokumenter domestik.

Selain itu, film-film dari Rusia dan China juga tampil dalam jajaran pemutaran, sebuah tanda bahwa kedua negara tersebut tetap menjadi mitra budaya terdekat bagi Korea Utara. Di sisi lain, festival ini tidak menampilkan film dari negara Barat yang biasanya turut diundang dalam festival internasional pada umumnya. 

Festival ini berlangsung di Teater Taedongmoon, salah satu pusat penayangan film paling terkenal di Pyongyang. Para peserta terlihat mengikuti rangkaian acara yang terbilang modern, mulai dari pemutaran film, diskusi, hingga agenda pertemuan antar insan perfilman. Media lokal Korea Utara juga melaporkan bahwa acara ini sebagai bentuk kebangkitan perfilman nasional setelah periode sulit yang dialami negara tersebut ketika akses ke dunia luar sangat terbatas.

Walau begitu, festival ini tetap dibalut dengan kontrol ketat. Peserta dari luar negeri hanya dapat mengakses lokasi yang telah ditentukan oleh panitia. Tidak ada kesempatan bebas untuk berkeliling Pyongyang atau melakukan liputan selain agenda yang sudah dijadwalkan.

Kembalinya festival ini tentu menimbulkan banyak interpretasi. Melansir koreajoongangdaily, sebagian pengamat menilai bahwa Korea Utara ingin memperlihatkan perubahan dan kemajuan melalui jalur kebudayaan untuk memperbaiki citra di mata dunia. Ada juga yang berpendapat bahwa festival itu lebih merupakan simbol konsolidasi hubungan dengan negara sekutu seperti Rusia dan China di tengah ketegangan internasional yang masih berlangsung.

Meski tidak bisa dikatakan sebagai langkah besar terhadap keterbukaan, penyelenggaraan festival ini tetap menjadi momen yang penting. Dalam kondisi Korea Utara yang jarang mengizinkan acara internasional berbasis publik, setiap kesempatan yang menghadirkan tamu asing bisa menjadi sinyal diplomasi yang halus.

Film kembali menjadi medium yang bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga alat komunikasi lintas budaya ketika politik kerap menjadi penghalang. 

Baca juga: DKI Jakarta Siapkan Jakarta Film Commission, Belajar dari Busan International Film Festival 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Saat Estetika Film Merambah Iklan Komersial di Tangan Bizaroid

BERIKUTNYA

Kawasan Asean Tegaskan Persatuan Lewat KTT ke-47 di Malaysia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga