Teguh Ostenrik: Seni Bukan Sekadar Jawaban, Tapi Keberanian untuk Bertanya
25 October 2025 |
10:00 WIB
Nama Teguh Ostenrik sudah lama dikenal sebagai salah satu seniman kontemporer paling berpengaruh di Indonesia. Karyanya melintas melewati batas-batas medium Dari instalasi logam, patung, hingga proyek sosial artistik di ruang publik seperti ARTificial Reef Park di perairan Lombok yang sangat populer.
Namun di balik semua pencapaian itu, Teguh tetap meneguhkan hati pada satu hal. Bahwa seni adalah proses pencarian tanpa akhir.
Perjalanan panjangnya menuju dunia seni dimulai dari keputusan berani meninggalkan studinya di Indonesia dan berangkat ke Berlin, Jerman seorang diri. Dia rela menjadi sopir taksi demi mengumpulkan uang dan menempuh tahun-tahun awal yang keras demi diterima di kampus seni.
Baca Juga: Mau jadi Seniman Profesional? Simak Nih Wejangan Seniman Kawakan Teguh Ostenrik
“Saya tidak lulus tiga kali, tapi saya coba terus untuk masuk,” katanya dalam agenda ILM SCREENING & TALKS: Creative Education as a Bridge Between Art & Industry, kolaborasi IDS | BTEC dan Teguh Ostenrik Indonesian Contemporary Art & Design 2025 di grandkemang, Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Ketekunan itu membentuk karier dan falsafah hidupnya sebagai seniman. Salah satu titik balik dalam hidupnya datang ketika dia menghadapi ujian akhir di kampus seninya di Berlin. Setelah dua jam sesi tanya jawab, salah satu profesor menyatakan dia lulus padahal dia merasa belum sempat menjawab apa pun.
Saat memprotes keputusan itu, sang profesor menjawab, "Kalau kamu mau menjadi maestro, kamu harus bisa bertanya.”
Kalimat itu, kata Teguh, menjadi fondasi pemikirannya tentang seni. Di Jerman, dia belajar bahwa pendidikan seni bukan soal menemukan jawaban yang benar, tetapi membangun pertanyaan yang tepat. “Kalau saya bisa membuat dan bisa mempertanyakan sesuatu, berarti saya menguasai hal itu,” ujarnya.
Baginya, di sinilah letak perbedaan besar antara sistem pendidikan seni di Indonesia dan di Eropa. Di sana, mahasiswa dituntut menjadi observer, bukan sekadar maker (pembuat).
Bagi Teguh, menjadi seniman berarti melatih seluruh pancaindra untuk memahami dunia. Seniman, menurut pandangannya, harus mampu melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Baginya, kepekaan visual dan sosial adalah senjata utama seorang kreator di zaman di mana informasi berserakan tapi makna makin langka.
Ketika bicara soal idealisme, Teguh tak segan mengucapkan kalimat yang kerap membuat audiensnya terdiam. “Saya gak percaya sama idealisme. Idealisme itu hanya ego seniman aja," katanya.
Bagi Teguh, istilah idealis sering disalahartikan sebagai pembenaran untuk menolak masukan atau revisi. Padahal, menurutnya, proses kreatif sejati justru terjadi ketika seniman bersedia membuka diri terhadap kritik dan kebutuhan publik.
Dia menyebut revisi dalam dunia seni seharusnya bukan dimaknai sebagai ancaman, tapi dialog yang memperkaya gagasan. Dalam dunia commission work, karya pesanan Teguh telah bekerja dengan berbagai pihak, dari kolektor pribadi hingga proyek sosial. Di situ, dia belajar bahwa seni yang hidup adalah seni yang bisa berinteraksi dengan manusia lain, bukan yang hanya mengagumi dirinya sendiri saja.
Pandangan itu sejalan dengan pendekatannya terhadap kolaborasi lintas disiplin. Dia percaya, karya yang kuat lahir dari keberanian mempertemukan pandangan berbeda. “Jadi, tidak ada istilah ide dicolong. Justru ide harus dibicarakan, di-brainstorm, supaya tumbuh dan menemukan bentuk terbaiknya," katanya.
Dalam refleksi panjangnya sebagai pendidik, Teguh sering menegaskan bahwa seni kontemporer seharusnya tidak terjebak pada estetika semata. Dia lebih tertarik pada bagaimana seni menantang publik untuk berpikir ulang. “Kita bukan memberikan solusi atas masalah, tapi menunjukkan masalahnya lebih jelas kepada publik,” katanya.
Baginya, itulah tugas seniman masa kini. Seniman harus mau mengguncang kenyamanan, menyingkap paradoks, dan menyalakan percakapan yang baru.
Baca Juga: Teguh Ostenrik, Seniman Kawakan Terjun ke Ranah Aset Kripto
Namun di balik semua pencapaian itu, Teguh tetap meneguhkan hati pada satu hal. Bahwa seni adalah proses pencarian tanpa akhir.
Perjalanan panjangnya menuju dunia seni dimulai dari keputusan berani meninggalkan studinya di Indonesia dan berangkat ke Berlin, Jerman seorang diri. Dia rela menjadi sopir taksi demi mengumpulkan uang dan menempuh tahun-tahun awal yang keras demi diterima di kampus seni.
Baca Juga: Mau jadi Seniman Profesional? Simak Nih Wejangan Seniman Kawakan Teguh Ostenrik
“Saya tidak lulus tiga kali, tapi saya coba terus untuk masuk,” katanya dalam agenda ILM SCREENING & TALKS: Creative Education as a Bridge Between Art & Industry, kolaborasi IDS | BTEC dan Teguh Ostenrik Indonesian Contemporary Art & Design 2025 di grandkemang, Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Ketekunan itu membentuk karier dan falsafah hidupnya sebagai seniman. Salah satu titik balik dalam hidupnya datang ketika dia menghadapi ujian akhir di kampus seninya di Berlin. Setelah dua jam sesi tanya jawab, salah satu profesor menyatakan dia lulus padahal dia merasa belum sempat menjawab apa pun.

LM SCREENING & TALKS: Creative Education as a Bridge Between Art & Industry, kolaborasi IDS | BTEC dan Teguh Ostenrik Indonesian Contemporary Art & Design 2025 di grandkemang, Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Saat memprotes keputusan itu, sang profesor menjawab, "Kalau kamu mau menjadi maestro, kamu harus bisa bertanya.”
Kalimat itu, kata Teguh, menjadi fondasi pemikirannya tentang seni. Di Jerman, dia belajar bahwa pendidikan seni bukan soal menemukan jawaban yang benar, tetapi membangun pertanyaan yang tepat. “Kalau saya bisa membuat dan bisa mempertanyakan sesuatu, berarti saya menguasai hal itu,” ujarnya.
Baginya, di sinilah letak perbedaan besar antara sistem pendidikan seni di Indonesia dan di Eropa. Di sana, mahasiswa dituntut menjadi observer, bukan sekadar maker (pembuat).
Bagi Teguh, menjadi seniman berarti melatih seluruh pancaindra untuk memahami dunia. Seniman, menurut pandangannya, harus mampu melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Baginya, kepekaan visual dan sosial adalah senjata utama seorang kreator di zaman di mana informasi berserakan tapi makna makin langka.
Idealisme Hanya Ego Seniman

Seniman kontemporer Teguh Ostenrik di Indonesian Contemporary Art & Design 2025 di grandkemang, Jakarta, Jumat (24/10/2025). (Sumber gambar: Robby Fathan/Hypeabis.id)
Bagi Teguh, istilah idealis sering disalahartikan sebagai pembenaran untuk menolak masukan atau revisi. Padahal, menurutnya, proses kreatif sejati justru terjadi ketika seniman bersedia membuka diri terhadap kritik dan kebutuhan publik.
Dia menyebut revisi dalam dunia seni seharusnya bukan dimaknai sebagai ancaman, tapi dialog yang memperkaya gagasan. Dalam dunia commission work, karya pesanan Teguh telah bekerja dengan berbagai pihak, dari kolektor pribadi hingga proyek sosial. Di situ, dia belajar bahwa seni yang hidup adalah seni yang bisa berinteraksi dengan manusia lain, bukan yang hanya mengagumi dirinya sendiri saja.
Pandangan itu sejalan dengan pendekatannya terhadap kolaborasi lintas disiplin. Dia percaya, karya yang kuat lahir dari keberanian mempertemukan pandangan berbeda. “Jadi, tidak ada istilah ide dicolong. Justru ide harus dibicarakan, di-brainstorm, supaya tumbuh dan menemukan bentuk terbaiknya," katanya.
Dalam refleksi panjangnya sebagai pendidik, Teguh sering menegaskan bahwa seni kontemporer seharusnya tidak terjebak pada estetika semata. Dia lebih tertarik pada bagaimana seni menantang publik untuk berpikir ulang. “Kita bukan memberikan solusi atas masalah, tapi menunjukkan masalahnya lebih jelas kepada publik,” katanya.
Baginya, itulah tugas seniman masa kini. Seniman harus mau mengguncang kenyamanan, menyingkap paradoks, dan menyalakan percakapan yang baru.
Baca Juga: Teguh Ostenrik, Seniman Kawakan Terjun ke Ranah Aset Kripto
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.