Seniman Teguh Ostenrik (dok: YouTube/Teguh Ostenrik)

Teguh Ostenrik, Seniman Kawakan Terjun ke Ranah Aset Kripto

29 September 2021   |   07:53 WIB
Image
Rezha Hadyan Hypeabis.id

Mungkin istilah Non-Fungible Token (NFT) masih asing di telinga banyak seniman di Tanah Air. Padahal, aset digital berbasis ekosistem blockchain itu disebut-sebut mampu memberikan keuntungan bagi mereka yang membuat karya seni bernilai tinggi dengan akses lebih terbuka di pasar global.
 
Sebagai catatan, Non Fungible Token (NFT) merupakan sebuah token yang mewakili kepemilikan atas suatu karya atau benda koleksi digital. Secara singkat, NFT mengubah karya atau benda koleksi digital menjadi sebuah aset digital yang dapat diverifikasi dan diperdagangkan dengan memanfaatkan ekosistem blockchain.
 

Jumlah seniman yang memanfaatkan NFT di Tanah Air boleh dikatakan sangat terbatas dan didominasi oleh seniman muda dengan karya kontemporernya. Dari sekian banyaknya seniman muda, Teguh Ostenrik merupakan satu-satunya seniman kawakan yang memutuskan untuk minting atau mencatatkan karyanya di ekosistem blockchain.
 
“Mungkin saya satu-satunya seniman kawakan yang terjun ke dunia kripto atau NFT ini. [Seniman] lain-lainnya usianya seperti cucu-cucu saya, 30 tahunan ke bawah. Saya terjun ke dunia ini karena memang saya selalu terbuka dengan hal-hal baru. Karena saya percaya sekadar menjadi seniman tidak bisa menghidupi sepenuhnya,” katanya kepada Hypeabis baru-baru ini.
 
Berangkat dari prinsip tersebut Teguh akhirnya memutuskan untuk terjun ke instrumen aset kripto. Dia memulainya dengan melakukan jual beli (trading) mata uang kripto Bitcoin. Seiring berjalannya waktu barulah dia mencoba membuat karya berbasis NFT.
 
Sejauh ini, Teguh sudah menghasilkan enam karya berupa gambar atau lukisan yang berbasis NFT. Lukisan tersebut dia buat menggunakan tablet lengkap dengan pena pintarnya (stylus pen).

Salah satu karya Teguh Ostenrik yang dijadikan NFT (dok: Twitter/Teguh Ostenrik)

Salah satu karya Teguh Ostenrik yang dijadikan NFT (dok: Twitter/Teguh Ostenrik)

“Sejauh ini sudah ada enam karya dan satu karya saya buat bisa dibeli NFT-nya dengan jumlah masing-masing berbeda. Sebagian sudah berhasil terjual ke dalam maupun luar negeri. Pembelinya semuanya ya masih muda-muda,” ungkapnya.
 
Lebih lanjut, menurut Teguh kehadiran NFT memberikan manfaat yang sangat besar bagi dirinya sebagai seorang seniman. Transparansi yang tidak dimiliki sistem lainnya membuat NFT menghadirkan keadilan bagi seorang seniman.
 
Oleh karena itu, dirinya berharap ke depannya akan lebih banyak seniman yang membuat karya-karya berbasis NFT. Tentu saja, hal itu berlaku untuk seniman dari berbagai bidang seni, tidak hanya yang berbasis visual seperti Teguh.
 
“Transparansi ini menghadirkan keadilan bagi seniman karena karya kita menjadi terlacak atau diketahui siapapun. Seniman juga mendapatkan bagian ketika karyanya terjual atau berpindah tangan karena ada semacam royalti atau pembagian persentase lewat smart contract,” ujarnya.

Salah satu karya Teguh Ostenrik yang sudah dijadikan NFT (dok: Twitter/Teguh Ostenrik)

Salah satu karya Teguh Ostenrik yang sudah dijadikan NFT (dok: Twitter/Teguh Ostenrik)

Tentu saja, lewat NFT karya-karya Teguh bisa dikenal luas ke seluruh dunia tanpa perlu repot-repot melakukan pameran seperti sebelumnya. Dengan kata lain, NFT membuat seniman dapat dengan mudah memperluas akses pasarnya atau mempromosikan dirinya ke ruang lingkup yang lebih luas dari sebelumnya.
 
Namun, menurut Teguh, hal yang paling penting dari kehadiran NFT adalah mengurangi jejak karbon dari berbagai aktivitas seni. Seperti diketahui, jejak karbon yang semakin tinggi berpotensi membuat suhu bumi semakin meningkat yang berakibat pada perubahan iklim.
 
“Yang lebih penting sebenarnya ini. Mengurangi jejak karbon, dari pembuatannya saja yang menggunakan tablet saja sudah berkurang jejak karbonnya. Belum lagi kalau karya fisik dibeli, kemudian dikirimkan, jejak karbonnya yang ditinggalkan tentu saja tak sedikit. Apalagi kalau membuat pameran,” tuturnya.
 
Teguh juga memberikan saran kepada seniman yang berencana terjun ke dunia aset kripto atau membuat karya berbasis NFT. Selain menciptakan karya yang otentik dan unik, seniman juga diminta untuk aktif dalam komunitas-komunitas seniman atau kreator NFT, kolektor NFT, maupun investor aset kripto.
 
“Kolaborasi itu penting, bergabung ke komunitas-komunitas agar pengetahuan dan jejaring bertambah. Saat ini, sudah tidak bisa lagi kita berjalan sendiri-sendiri lagi. Walaupun ya saya yang akhirnya paling tua sendiri di sana,” selorohnya.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Blackpink Jisoo Tampil dengan Gaya Glamor di Dior SS22 Show

BERIKUTNYA

Hati-hati! 4 Makanan Ini Bisa Tingkatkan Risiko Hipertensi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: