GANEFO, Olimpiade Tandingan yang Lahir dari Sanksi IOC terhadap Indonesia
24 October 2025 |
17:14 WIB
Sanksi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) terhadap Indonesia baru-baru ini, setelah pemerintah Indonesia menolak visa atlet Israel untuk ajang Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta sebagai bagian dari dukungan terhadap Palestina dan alasan keamanan publik, memantik memori enam dekade lalu.
Bagi yang akrab dengan sejarah olahraga nasional, situasi ini bukan hal baru. Enam dekade lalu, Indonesia pernah mengalami hal serupa. Bedanya, waktu itu, Presiden Sukarno memilih untuk tidak tunduk. Ia justru membalasnya dengan menciptakan Olimpiade tandingan.
Baca juga: Klasemen Akhir Medali Olimpiade Paris 2024, Indonesia Peringkat 39
Tahun 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV di Jakarta. Namun, keputusan pemerintah menolak kehadiran atlet dari Israel dan Republik China (Taiwan) menuai teguran keras. IOC menilai langkah itu melanggar prinsip netralitas olahraga, yang menuntut semua negara diterima tanpa diskriminasi. Tak lama kemudian, sanksi dijatuhkan: Indonesia dilarang menggelar kegiatan olahraga resmi di bawah naungan IOC, termasuk Olimpiade.
Alih-alih meredam konflik, Sukarno menjadikannya bahan bakar ideologi. Baginya, olahraga tak bisa dipisahkan dari politik—terutama bagi negara-negara yang baru merdeka dan menolak tunduk pada hegemoni Barat. Dari gagasan itulah lahir Games of the New Emerging Forces (GANEFO) pada 1963.
“Olahraga bukan sekadar adu otot. Ia adalah alat perjuangan,” ujar Sukarno kala itu dalam pidato pembukaan GANEFO di Jakarta. Ia membagi dunia menjadi dua kubu: Old Established Forces (OEFO) yang mewakili kekuatan kolonial lama, dan New Emerging Forces (NEFO) yang diisi negara-negara sosialis, Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang baru lepas dari penjajahan.
GANEFO pertama digelar di Jakarta pada 10–22 November 1963, diikuti sekitar 51 negara dan 2.700 atlet. Suasana perayaannya luar biasa di mana Stadion Gelora Bung Karno penuh warna, bendera-bendera negara baru berkibar, dan media asing menyebutnya “Olimpiade Dunia Ketiga”. China keluar sebagai juara umum, disusul Uni Soviet dan United Arab Republic (Mesir-Suriah).
Meski begitu, banyak kontingen datang bukan sebagai delegasi resmi komite olimpiade untuk menghindari ganjaran IOC, bagian dari politik kehadiran yang membuat GANEFO unik sekaligus kontroversial.
Kontroversinya memuncak jelang Olimpiade Tokyo 1964. Indonesia semula mendapat undangan atau berada dalam posisi untuk ikut Olimpiade Tokyo 1964, tapi akhirnya tidak berpartisipasi karena sejumlah atlet dianggap tidak layak tampil setelah ikut GANEFO 1963, sebuah konsekuensi dari konflik Indonesia-IOC pada Asian Games 1962 dan keikutsertaan dalam event tandingan GANEFO.
Dalam perkembangannya, GANEFO kedua yang awalnya dijadwalkan di Kairo (1967), batal karena tensi politik dan beban penyelenggaraan, juga perubahan politik di Indonesia pasca-1965. Sebagai kompromi, lahirlah GANEFO versi regional, Asian GANEFO, di Phnom Penh, Kamboja, pada 25 November–6 Desember 1966.
Edisi ini terbatas pada negara-negara Asia dan kembali didominasi China. Rencana Asian GANEFO berikutnya (Beijing 1970, sempat dialihkan ke Pyongyang) juga urung terjadi. Secara praktik, GANEFO pun memudar pada akhir dekade 1960-an.
Kini, 60 tahun berselang, gema peristiwa itu terasa lagi. Ketika Indonesia kembali bersinggungan dengan IOC karena alasan politik dan kemanusiaan, bayangan Sukarno dan GANEFO kembali muncul: tentang keberanian melawan arus, tentang keyakinan bahwa olahraga tidak pernah sepenuhnya netral.
Baca juga: 6 Rekomendasi Film yang Mengabadikan Kisah Atlet Olimpiade
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Bagi yang akrab dengan sejarah olahraga nasional, situasi ini bukan hal baru. Enam dekade lalu, Indonesia pernah mengalami hal serupa. Bedanya, waktu itu, Presiden Sukarno memilih untuk tidak tunduk. Ia justru membalasnya dengan menciptakan Olimpiade tandingan.
Baca juga: Klasemen Akhir Medali Olimpiade Paris 2024, Indonesia Peringkat 39
Tahun 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV di Jakarta. Namun, keputusan pemerintah menolak kehadiran atlet dari Israel dan Republik China (Taiwan) menuai teguran keras. IOC menilai langkah itu melanggar prinsip netralitas olahraga, yang menuntut semua negara diterima tanpa diskriminasi. Tak lama kemudian, sanksi dijatuhkan: Indonesia dilarang menggelar kegiatan olahraga resmi di bawah naungan IOC, termasuk Olimpiade.
Alih-alih meredam konflik, Sukarno menjadikannya bahan bakar ideologi. Baginya, olahraga tak bisa dipisahkan dari politik—terutama bagi negara-negara yang baru merdeka dan menolak tunduk pada hegemoni Barat. Dari gagasan itulah lahir Games of the New Emerging Forces (GANEFO) pada 1963.
“Olahraga bukan sekadar adu otot. Ia adalah alat perjuangan,” ujar Sukarno kala itu dalam pidato pembukaan GANEFO di Jakarta. Ia membagi dunia menjadi dua kubu: Old Established Forces (OEFO) yang mewakili kekuatan kolonial lama, dan New Emerging Forces (NEFO) yang diisi negara-negara sosialis, Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang baru lepas dari penjajahan.
Pembukaan Games of the New Emerging Forces (GANEFO) di Jakarta tahun 1963.
— Video Sejarah (@VideoSejarah) October 23, 2025
GANEFO diadakan sebagai respon atas keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang menghukum Indonesia atas penyelenggaraan Asian Games 1962 di Jakarta yang tidak mengikutsertakan Israel dan Taiwan. pic.twitter.com/tJPgSEwBIK
GANEFO pertama digelar di Jakarta pada 10–22 November 1963, diikuti sekitar 51 negara dan 2.700 atlet. Suasana perayaannya luar biasa di mana Stadion Gelora Bung Karno penuh warna, bendera-bendera negara baru berkibar, dan media asing menyebutnya “Olimpiade Dunia Ketiga”. China keluar sebagai juara umum, disusul Uni Soviet dan United Arab Republic (Mesir-Suriah).
Meski begitu, banyak kontingen datang bukan sebagai delegasi resmi komite olimpiade untuk menghindari ganjaran IOC, bagian dari politik kehadiran yang membuat GANEFO unik sekaligus kontroversial.
Kontroversinya memuncak jelang Olimpiade Tokyo 1964. Indonesia semula mendapat undangan atau berada dalam posisi untuk ikut Olimpiade Tokyo 1964, tapi akhirnya tidak berpartisipasi karena sejumlah atlet dianggap tidak layak tampil setelah ikut GANEFO 1963, sebuah konsekuensi dari konflik Indonesia-IOC pada Asian Games 1962 dan keikutsertaan dalam event tandingan GANEFO.
Dalam perkembangannya, GANEFO kedua yang awalnya dijadwalkan di Kairo (1967), batal karena tensi politik dan beban penyelenggaraan, juga perubahan politik di Indonesia pasca-1965. Sebagai kompromi, lahirlah GANEFO versi regional, Asian GANEFO, di Phnom Penh, Kamboja, pada 25 November–6 Desember 1966.
Edisi ini terbatas pada negara-negara Asia dan kembali didominasi China. Rencana Asian GANEFO berikutnya (Beijing 1970, sempat dialihkan ke Pyongyang) juga urung terjadi. Secara praktik, GANEFO pun memudar pada akhir dekade 1960-an.
Kini, 60 tahun berselang, gema peristiwa itu terasa lagi. Ketika Indonesia kembali bersinggungan dengan IOC karena alasan politik dan kemanusiaan, bayangan Sukarno dan GANEFO kembali muncul: tentang keberanian melawan arus, tentang keyakinan bahwa olahraga tidak pernah sepenuhnya netral.
Baca juga: 6 Rekomendasi Film yang Mengabadikan Kisah Atlet Olimpiade
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.