Deteksi Dini & Terapi Modern Jadi Kunci Tangani Kanker Hati
24 October 2025 |
22:22 WIB
Kanker hati karsinoma hepatoseluler (HCC) merupakan salah satu jenis kanker paling mematikan di dunia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, penyakit ini menempati peringkat keenam sebagai kanker paling umum dan menjadi penyebab kematian akibat kanker ketiga tertinggi secara global.
Setiap tahun, tercatat sekitar 866 ribu kasus baru dan lebih dari 758 ribu kematian akibat kanker hati. Di Indonesia, kanker hati juga menjadi ancaman serius. Penyakit ini berada di posisi keenam dengan lebih dari 23.800 kasus baru dan 23.383 kematian per tahun. Angka tersebut menjadikannya penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua setelah kanker paru.
Selain itu, tingkat kelangsungan hidup lima tahun pasien kanker hati di Indonesia pun masih sangat rendah, hanya sekitar 1,7 persen. Kondisi ini menegaskan pentingnya deteksi dini agar penyakit bisa dicegah sejak awal.
Baca juga: Waspadai Kanker Hati, Penyakit Mematikan yang Bisa Dicegah dengan Gaya Hidup Sehat
Dokter spesialis penyakit dalam, Jeffry Beta Tenggara, menjelaskan bahwa hati merupakan organ vital yang berperan penting dalam metabolisme, detoksifikasi, dan penyimpanan energi tubuh. Ketika fungsi hati terganggu karena kanker, dampaknya bisa sangat signifikan, mulai dari penurunan daya tahan tubuh hingga gangguan metabolisme yang mengancam nyawa.
“Karena itu, menjaga kesehatan hati bukan hanya penting, tapi krusial. Ketika hati terus-menerus terluka, jaringan parut terbentuk dan bisa berkembang menjadi kanker,” ungkapnya dalam acara bertajuk “Kenali dan Pahami: Kanker Hati Tipe Hepatocellular Carcinoma (HCC)” oleh AstraZeneca Indonesia di Jakarta.
Menurut dr. Jeffry, sebagian besar kasus kanker hati baru diketahui ketika sudah berada pada stadium berat. Hal inilah yang membuat penanganannya menjadi lebih sulit dan peluang kesembuhan pasien pun semakin kecil.
Dalam praktik klinis, kanker hati dibagi ke dalam tiga stadium utama. Stadium awal biasanya tidak menunjukkan gejala, sehingga sulit terdeteksi. Padahal, pada tahap ini peluang hidup lima tahun bisa mencapai lebih dari 93 persen. "Oleh karena itu, jika terdeteksi pada tahap ini, tingkat kesembuhannya pun lebih tinggi," imbuhnya.
Namun, jika tak tertangani, ini akan berlanjut dan masuk ke stadium menengah. Pasa fase ini, katanya sekitar 30 persen pasien baru terdiagnosis. Akan tetapi, kanker sudah mulai menyebar, meski masih bisa dikendalikan.
Umumnya, terapi yang bisa dilakukan antara lain embolisasi, ablasi, dan radioterapi untuk menekan pertumbuhan sel kanker. Sementara pada stadium akhir, kondisi pasien sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi.
Pada tahap ini, terapi sistemik menjadi satu-satunya pilihan pengobatan yang tersedia, termasuk penggunaan imunoterapi kombinasi. Dr. Jeffry menambahkan, terapi sistemik kini menjadi terobosan penting dalam penanganan kanker hati.
Studi global menunjukkan bahwa kombinasi imunoterapi dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup secara signifikan dibandingkan terapi tunggal. Dalam salah satu penelitian yang menggabungkan dua jenis imunoterapi dengan mekanisme berbeda, satu dari lima pasien masih bertahan hidup hingga lima tahun setelah pengobatan.
"Hasil ini menjadi salah satu kemajuan terbesar dalam tata laksana kanker hati di tingkat global," jelasnya.
Sejalan dengan berbagai bukti ilmiah tersebut, panduan klinis internasional seperti NCCN, EASL, dan PAN-ESMO, dunia medis kini memang telah merekomendasikan pendekatan multidisipliner serta penggunaan kombinasi imunoterapi sebagai terapi lini pertama bagi pasien dengan kanker hati stadium lanjut.
Meski begitu, langkah pencegahan tetap menjadi kunci utama. Menjalani gaya hidup sehat, mengatur pola makan yang seimbang, menjaga berat badan ideal, serta melakukan vaksinasi Hepatitis B menjadi upaya penting yang ditekankan sebagai cara nyata untuk menurunkan risiko kanker hati di masa mendatang.
Baca juga: Waspada, Diet Tinggi Serat Picu Kanker Hati pada Orang dengan Kondisi Ini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Setiap tahun, tercatat sekitar 866 ribu kasus baru dan lebih dari 758 ribu kematian akibat kanker hati. Di Indonesia, kanker hati juga menjadi ancaman serius. Penyakit ini berada di posisi keenam dengan lebih dari 23.800 kasus baru dan 23.383 kematian per tahun. Angka tersebut menjadikannya penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua setelah kanker paru.
Selain itu, tingkat kelangsungan hidup lima tahun pasien kanker hati di Indonesia pun masih sangat rendah, hanya sekitar 1,7 persen. Kondisi ini menegaskan pentingnya deteksi dini agar penyakit bisa dicegah sejak awal.
Baca juga: Waspadai Kanker Hati, Penyakit Mematikan yang Bisa Dicegah dengan Gaya Hidup Sehat
Dokter spesialis penyakit dalam, Jeffry Beta Tenggara, menjelaskan bahwa hati merupakan organ vital yang berperan penting dalam metabolisme, detoksifikasi, dan penyimpanan energi tubuh. Ketika fungsi hati terganggu karena kanker, dampaknya bisa sangat signifikan, mulai dari penurunan daya tahan tubuh hingga gangguan metabolisme yang mengancam nyawa.
“Karena itu, menjaga kesehatan hati bukan hanya penting, tapi krusial. Ketika hati terus-menerus terluka, jaringan parut terbentuk dan bisa berkembang menjadi kanker,” ungkapnya dalam acara bertajuk “Kenali dan Pahami: Kanker Hati Tipe Hepatocellular Carcinoma (HCC)” oleh AstraZeneca Indonesia di Jakarta.
Menurut dr. Jeffry, sebagian besar kasus kanker hati baru diketahui ketika sudah berada pada stadium berat. Hal inilah yang membuat penanganannya menjadi lebih sulit dan peluang kesembuhan pasien pun semakin kecil.
Dalam praktik klinis, kanker hati dibagi ke dalam tiga stadium utama. Stadium awal biasanya tidak menunjukkan gejala, sehingga sulit terdeteksi. Padahal, pada tahap ini peluang hidup lima tahun bisa mencapai lebih dari 93 persen. "Oleh karena itu, jika terdeteksi pada tahap ini, tingkat kesembuhannya pun lebih tinggi," imbuhnya.

Dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, Spesialis Penyakit Dalam Sub Spesialis Hematologi Onkologi Medik dan Dr. Feddy – Medical Director, AstraZeneca Indonesia (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Umumnya, terapi yang bisa dilakukan antara lain embolisasi, ablasi, dan radioterapi untuk menekan pertumbuhan sel kanker. Sementara pada stadium akhir, kondisi pasien sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi.
Pada tahap ini, terapi sistemik menjadi satu-satunya pilihan pengobatan yang tersedia, termasuk penggunaan imunoterapi kombinasi. Dr. Jeffry menambahkan, terapi sistemik kini menjadi terobosan penting dalam penanganan kanker hati.
Studi global menunjukkan bahwa kombinasi imunoterapi dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup secara signifikan dibandingkan terapi tunggal. Dalam salah satu penelitian yang menggabungkan dua jenis imunoterapi dengan mekanisme berbeda, satu dari lima pasien masih bertahan hidup hingga lima tahun setelah pengobatan.
"Hasil ini menjadi salah satu kemajuan terbesar dalam tata laksana kanker hati di tingkat global," jelasnya.
Sejalan dengan berbagai bukti ilmiah tersebut, panduan klinis internasional seperti NCCN, EASL, dan PAN-ESMO, dunia medis kini memang telah merekomendasikan pendekatan multidisipliner serta penggunaan kombinasi imunoterapi sebagai terapi lini pertama bagi pasien dengan kanker hati stadium lanjut.
Meski begitu, langkah pencegahan tetap menjadi kunci utama. Menjalani gaya hidup sehat, mengatur pola makan yang seimbang, menjaga berat badan ideal, serta melakukan vaksinasi Hepatitis B menjadi upaya penting yang ditekankan sebagai cara nyata untuk menurunkan risiko kanker hati di masa mendatang.
Baca juga: Waspada, Diet Tinggi Serat Picu Kanker Hati pada Orang dengan Kondisi Ini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.