Mengenal Influenza A yang Bukan Sekadar Flu Biasa, Cek Gejala dan Penanganannya
23 October 2025 |
21:35 WIB
Perubahan cuaca yang tak menentu belakangan ini mampu meningkatkan peluang penyebaran penyakit, terutama ketika daya tahan tubuh sedang menurun. Salah satu penyakit yang umum terjadi adalah flu. Meski terlihat seperti batuk pilek biasa, flu atau influenza sebenarnya merupakan penyakit pernapasan yang lebih serius, bahkan influenza A memiliki risiko komplikasi yang cukup berat.
Hastomo Prabowo, dokter umum dari RS Pondok Indah – Pondok Indah, menjelaskan bahwa flu atau influenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Influenza. Virus ini menyerang sistem pernapasan dan menimbulkan gejala yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Kasus Influenza A di Indonesia Sedang Tinggi, Cek Penyebab dan Cara Pencegahannya
"Terdapat tiga tipe utama virus influenza yang dapat menyerang manusia, yaitu A, B, dan C. Dari ketiga tipe tersebut, virus influenza A cenderung menyebabkan penyakit flu yang gejalanya lebih berat dan kerap menjadi penyebab wabah flu musiman, bahkan pandemi global," ujarnya.
Berbeda dengan virus influenza B yang hanya menular dari manusia ke manusia, virus influenza A bisa menular dari hewan ke manusia. Virus ini juga tergolong berbahaya karena dapat bermutasi dengan cepat, sehingga lebih mudah menyebar dan sulit dilawan oleh sistem kekebalan tubuh. Inilah yang membuat virus influenza A berpotensi menyebabkan wabah besar bahkan pandemi.
Penularannya bisa terjadi melalui percikan air liur atau droplet saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara, lalu terhirup oleh orang lain. Selain itu, virus juga bisa berpindah ketika seseorang menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi virus influenza A, kemudian tanpa sadar menyentuh mata, hidung, atau mulutnya.
Karena penularannya sangat mudah, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah terinfeksi hingga gejalanya muncul tiba-tiba, biasanya dalam waktu 1-4 hari setelah terpapar virus.
Gejala influenza A cenderung lebih berat dibandingkan flu biasa (common cold). Beberapa tanda umum yang kerap muncul antara lain batuk kering atau berdahak disertai sakit tenggorokan, pilek, atau hidung tersumbat, demam tinggi yang bisa mencapai 39-40 derajat Celcius, menggigil atau meriang; sakit kepala; nyeri otot dan sendi, tubuh terasa lemas; serta mual atau muntah, kadang disertai diare.
"Baik influenza A maupun B menunjukkan gejala klasik flu yang sama, sehingga terkadang sulit bagi dokter untuk membedakannya tanpa melakukan pemeriksaan khusus," ujar dokter Hastomo.
Banyak orang beranggapan, influenza bisa cepat sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan khusus, sehingga pasien enggan untuk memeriksakan diri ke dokter. Padahal jika diabaikan, influenza A dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, atau bahkan menyebabkan komplikasi serius berupa pneumonia.
Karena itu, pemeriksaan untuk mengetahui jenis influenza sangat penting dilakukan. Dengan demikian, dokter dapat memberikan penanganan yang tepat sejak awal, memastikan diagnosis yang benar, membedakan flu dari penyakit pernapasan lain, menentukan pengobatan yang sesuai, serta mengurangi risiko terjadinya komplikasi.
Dokter biasanya akan melakukan anamnesis atau wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Untuk memastikan secara akurat, pasien disarankan untuk melakukan Respiratory Syndromic Testing (RST). RST merupakan pemeriksaan berbasis PCR yang dapat mengidentifikasi hingga 19 virus dan 4 bakteri, termasuk influenza A, human metapneumovirus (HMPV) dan respiratory syncytial virus (RSV), dalam satu pemeriksaan komprehensif.
"Lewat hasil pemeriksaan ini, pasien akan mendapatkan diagnosis yang cepat dan akurat untuk pengobatan efektif sesuai dengan identifikasi patogen," ujar dokter Hastomo.
Setelah mendapatkan diagnosis, dokter akan memberikan terapi pengobatan yang sesuai, seperti pereda demam dan nyeri serta obat antivirus untuk mencegah komplikasi. Kasus influenza A yang masih tergolong ringan biasanya dapat sembuh dalam 5-7 hari.
Dokter juga akan menyarankan beberapa hal untuk meredakan gejala dan mempercepat pemulihan, seperti istirahat yang cukup dan makan tinggi kalori tinggi protein agar tubuh dapat melawan infeksi secara optimal dan mencukupi asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
Meski begitu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Melihat tingginya kasus penularan influenza dan perubahan cuaca yang tidak dapat dihindari, pencegahan paling optimal adalah dengan melakukan vaksinasi influenza tahunan. Vaksinasi menjadi cara yang optimal, mengingat virus influenza terus bermutasi.
Selain itu, jagalah kebersihan diri dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, hindari menyentuh wajah (mata, hidung, dan mulut), dan menutup mulut/hidung saat batuk atau bersin menggunakan tisu atau siku bagian dalam. Juga tidak lupa menggunakan masker, terutama di tempat dan transportasi umum.
Di samping itu, terapkan gaya hidup sehat dengan melakukan olahraga rutin, melengkapi suplementasi dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang berupa karbohidrat, protein, dan lemak untuk menjaga daya tahan tubuh. Tidak lupa juga konsumsi makanan dan minuman yang kaya akan vitamin dan mineral seperti sayur dan buah, juga tidur yang cukup agar dapat menunjang imunitas tubuh.
Baca juga: WHO Ungkap Tren Influenza Global Musiman Akibat Patogen Saluran Pernapasan
Hastomo Prabowo, dokter umum dari RS Pondok Indah – Pondok Indah, menjelaskan bahwa flu atau influenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Influenza. Virus ini menyerang sistem pernapasan dan menimbulkan gejala yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Kasus Influenza A di Indonesia Sedang Tinggi, Cek Penyebab dan Cara Pencegahannya
"Terdapat tiga tipe utama virus influenza yang dapat menyerang manusia, yaitu A, B, dan C. Dari ketiga tipe tersebut, virus influenza A cenderung menyebabkan penyakit flu yang gejalanya lebih berat dan kerap menjadi penyebab wabah flu musiman, bahkan pandemi global," ujarnya.
Berbeda dengan virus influenza B yang hanya menular dari manusia ke manusia, virus influenza A bisa menular dari hewan ke manusia. Virus ini juga tergolong berbahaya karena dapat bermutasi dengan cepat, sehingga lebih mudah menyebar dan sulit dilawan oleh sistem kekebalan tubuh. Inilah yang membuat virus influenza A berpotensi menyebabkan wabah besar bahkan pandemi.
Penularannya bisa terjadi melalui percikan air liur atau droplet saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara, lalu terhirup oleh orang lain. Selain itu, virus juga bisa berpindah ketika seseorang menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi virus influenza A, kemudian tanpa sadar menyentuh mata, hidung, atau mulutnya.
Karena penularannya sangat mudah, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah terinfeksi hingga gejalanya muncul tiba-tiba, biasanya dalam waktu 1-4 hari setelah terpapar virus.
Gejala influenza A cenderung lebih berat dibandingkan flu biasa (common cold). Beberapa tanda umum yang kerap muncul antara lain batuk kering atau berdahak disertai sakit tenggorokan, pilek, atau hidung tersumbat, demam tinggi yang bisa mencapai 39-40 derajat Celcius, menggigil atau meriang; sakit kepala; nyeri otot dan sendi, tubuh terasa lemas; serta mual atau muntah, kadang disertai diare.
"Baik influenza A maupun B menunjukkan gejala klasik flu yang sama, sehingga terkadang sulit bagi dokter untuk membedakannya tanpa melakukan pemeriksaan khusus," ujar dokter Hastomo.
Banyak orang beranggapan, influenza bisa cepat sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan khusus, sehingga pasien enggan untuk memeriksakan diri ke dokter. Padahal jika diabaikan, influenza A dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, atau bahkan menyebabkan komplikasi serius berupa pneumonia.
Karena itu, pemeriksaan untuk mengetahui jenis influenza sangat penting dilakukan. Dengan demikian, dokter dapat memberikan penanganan yang tepat sejak awal, memastikan diagnosis yang benar, membedakan flu dari penyakit pernapasan lain, menentukan pengobatan yang sesuai, serta mengurangi risiko terjadinya komplikasi.
Dokter biasanya akan melakukan anamnesis atau wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Untuk memastikan secara akurat, pasien disarankan untuk melakukan Respiratory Syndromic Testing (RST). RST merupakan pemeriksaan berbasis PCR yang dapat mengidentifikasi hingga 19 virus dan 4 bakteri, termasuk influenza A, human metapneumovirus (HMPV) dan respiratory syncytial virus (RSV), dalam satu pemeriksaan komprehensif.
"Lewat hasil pemeriksaan ini, pasien akan mendapatkan diagnosis yang cepat dan akurat untuk pengobatan efektif sesuai dengan identifikasi patogen," ujar dokter Hastomo.
Setelah mendapatkan diagnosis, dokter akan memberikan terapi pengobatan yang sesuai, seperti pereda demam dan nyeri serta obat antivirus untuk mencegah komplikasi. Kasus influenza A yang masih tergolong ringan biasanya dapat sembuh dalam 5-7 hari.
Dokter juga akan menyarankan beberapa hal untuk meredakan gejala dan mempercepat pemulihan, seperti istirahat yang cukup dan makan tinggi kalori tinggi protein agar tubuh dapat melawan infeksi secara optimal dan mencukupi asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
Meski begitu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Melihat tingginya kasus penularan influenza dan perubahan cuaca yang tidak dapat dihindari, pencegahan paling optimal adalah dengan melakukan vaksinasi influenza tahunan. Vaksinasi menjadi cara yang optimal, mengingat virus influenza terus bermutasi.
Selain itu, jagalah kebersihan diri dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, hindari menyentuh wajah (mata, hidung, dan mulut), dan menutup mulut/hidung saat batuk atau bersin menggunakan tisu atau siku bagian dalam. Juga tidak lupa menggunakan masker, terutama di tempat dan transportasi umum.
Di samping itu, terapkan gaya hidup sehat dengan melakukan olahraga rutin, melengkapi suplementasi dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang berupa karbohidrat, protein, dan lemak untuk menjaga daya tahan tubuh. Tidak lupa juga konsumsi makanan dan minuman yang kaya akan vitamin dan mineral seperti sayur dan buah, juga tidur yang cukup agar dapat menunjang imunitas tubuh.
Baca juga: WHO Ungkap Tren Influenza Global Musiman Akibat Patogen Saluran Pernapasan
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.