Kenali Gejala Stres Kerja yang Mengintai Karyawan di Balik Rutinitas Harian
22 October 2025 |
18:36 WIB
Stres kerja kini makin sering dialami pekerja di berbagai sektor. Laporan State of Global Workplace 2025 mencatat 15 persen pekerja Indonesia mengalami stres di tempat kerja, naik dari data Riskesdas 2018 yang mencatat 6,3 persen pegawai swasta dan 3,9 persen ASN mengalami gangguan mental akibat tekanan pekerjaan.
Dokter RS Kramat 128 Muhammad Fatcurrahman Azami mengatakan stres di tempat kerja kerap kali jadi hal yang tak bisa dihindari. Namun, yang perlu diperhatikan adalah apakah stres tersebut masih dalam kondisi yang masih bisa dikendalikan atau justru sudah memengaruhi keseharian dan produktivitas seseorang. Oleh karena itu, mengenali gejala stres jadi hal yang penting.
Baca juga: Pekerja Bisa Alami Luka Psikologis di Kantor, Apa Tandanya?
"Gejala-gejala stres dapat dikelompokkan dalam beberapa aspek, yaitu perilaku, fisiologis, kognitif, dan emosional. Setiap aspek menunjukkan perubahan tertentu yang sebenarnya dapat dikenali sebagai tanda seseorang sedang stres kerja," ungkap dokter Fatcurrahman dalam sesi Health Talk & Mini MCU bertajuk Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja yang digelar Bisnis Indonesia Group bersama BRI Life dan RS Kramat 128 di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Dari sisi perilaku, kata Fatcurrahman, individu yang mengalami stres biasanya menunjukkan perubahan pola tidur, seperti insomnia atau justru tidur berlebihan. Selain itu, pola makan juga dapat berubah, baik menjadi makan berlebihan maupun kehilangan nafsu makan sama sekali.
Perubahan perilaku lain yang bisa dikenali ialah adanya kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial dan pertemanan karena merasa tidak nyaman berinteraksi dengan orang lain. Pada tingkat tertentu, seseorang juga cenderung mencari pelarian yang negatif, seperti konsumsi alkohol, rokok, atau zat adiktif lain sebagai 'jalan keluar' semu.
Padahal, hal itu sama sekali tak menyelesaikan masalah. Efeknya, katanya, justru akan makin membuat orang terjerumus yang pada akhirnya membuat penurunan kualitas dan produktivitas kerja.
"Pekerjaan menjadi tertunda, hasil kerja menurun, dan motivasi dalam menjalankan tugas pun berkurang drastis," imbuhnya.
Stres juga memengaruhi fungsi fisiologis. Beberapa tanda yang umum terjadi antara lain sakit kepala atau migrain, ketegangan otot di leher, bahu, dan punggung, serta masalah pencernaan seperti sakit perut, diare, atau sembelit. Tak jarang, jantung terasa berdebar lebih cepat dan napas menjadi pendek, yang menandakan adanya respons tubuh terhadap tekanan psikologis.
Selain itu, sistem kekebalan tubuh seseorang yang mengalami stres juga umumnya akan menjadi melemah. Tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit seperti flu atau demam ringan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan secara keseluruhan jika tidak segera ditangani dengan baik.
Sementara itu, dari sisi kognitif, dokter Fatcurrahman menyebut stres juga dapat membuat seseorang kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan. Mereka juga sering mengalami masalah memori atau mudah lupa terhadap hal-hal sederhana. Dalam pengambilan keputusan, katanya, individu yang tengah stres juga akan menjadi ragu-ragu dan menunjukkan pola pikir negatif serta overthinking yang terus berulang.
Selanjutnya, gejala stres juga bisa dilihat dari aspek emosional. Umumnya, katanya, seseorang yang mengalami stres dapat membuat seseorang menjadi mudah marah, tersinggung, atau frustrasi. Rasa cemas berlebihan yang muncul secara terus-menerus juga sering kali membuat mereka sulit untuk merasa tenang.
Dalam beberapa kasus, katanya, stres berkepanjangan juga dapat memunculkan perasaan sedih atau putus asa, yang jika dibiarkan bisa berkembang menjadi depresi. Akhirnya, individu merasa tidak mampu mengatasi tuntutan pekerjaan, sehingga lingkaran stres terus berulang tanpa henti.
Dokter Fatchurrahman mengatakan jika mulai mengalami tanda-tanda tersebut, seseorang mesti mulai mencari coping mechanism atau mekanisme koping/penanganan. Ini adalah “taktik” yang digunakan seseorang untuk menghadapi situasi yang menyebabkan stres.
Coping mechanism seseorang bisa berbeda-beda. Ada yang dengan berolahraga untuk memberi jeda pada rutinitas, berlibur, bertemu dengan teman, membaca buku, atau sekadar mengubah mindset menjadi lebih bersyukur dan menerima kondisi. Menurutnya, semuanya sama-sama dapat dilakukan asalkan membuat tubuh menjadi lebih baik.
Kendati demikian, jika tingkat stres sudah makin parah dan membuat keseharian dan rutinitas pekerjaan terganggu, tak ada salahnya juga bagi seseorang untuk meminta bantuan medis. Sebab, sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental juga perlu untuk disembuhkan atau diatasi menjadi lebih baik.
Baca juga: 15% Orang Dewasa Usia Pekerja Alami Gangguan Kesehatan Mental, Begini Saran Psikiater
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dokter RS Kramat 128 Muhammad Fatcurrahman Azami mengatakan stres di tempat kerja kerap kali jadi hal yang tak bisa dihindari. Namun, yang perlu diperhatikan adalah apakah stres tersebut masih dalam kondisi yang masih bisa dikendalikan atau justru sudah memengaruhi keseharian dan produktivitas seseorang. Oleh karena itu, mengenali gejala stres jadi hal yang penting.
Baca juga: Pekerja Bisa Alami Luka Psikologis di Kantor, Apa Tandanya?
"Gejala-gejala stres dapat dikelompokkan dalam beberapa aspek, yaitu perilaku, fisiologis, kognitif, dan emosional. Setiap aspek menunjukkan perubahan tertentu yang sebenarnya dapat dikenali sebagai tanda seseorang sedang stres kerja," ungkap dokter Fatcurrahman dalam sesi Health Talk & Mini MCU bertajuk Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja yang digelar Bisnis Indonesia Group bersama BRI Life dan RS Kramat 128 di Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Dokter RS Kramat 128 Muhammad Fatcurrahman Azami menyampaikan pemaparan saat acara Health Talk & Mini MCU di Jakarta, Rabu (22/10/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)
Perubahan perilaku lain yang bisa dikenali ialah adanya kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial dan pertemanan karena merasa tidak nyaman berinteraksi dengan orang lain. Pada tingkat tertentu, seseorang juga cenderung mencari pelarian yang negatif, seperti konsumsi alkohol, rokok, atau zat adiktif lain sebagai 'jalan keluar' semu.
Padahal, hal itu sama sekali tak menyelesaikan masalah. Efeknya, katanya, justru akan makin membuat orang terjerumus yang pada akhirnya membuat penurunan kualitas dan produktivitas kerja.
"Pekerjaan menjadi tertunda, hasil kerja menurun, dan motivasi dalam menjalankan tugas pun berkurang drastis," imbuhnya.
Dampak Stres Secara Fisik
Stres juga memengaruhi fungsi fisiologis. Beberapa tanda yang umum terjadi antara lain sakit kepala atau migrain, ketegangan otot di leher, bahu, dan punggung, serta masalah pencernaan seperti sakit perut, diare, atau sembelit. Tak jarang, jantung terasa berdebar lebih cepat dan napas menjadi pendek, yang menandakan adanya respons tubuh terhadap tekanan psikologis.Selain itu, sistem kekebalan tubuh seseorang yang mengalami stres juga umumnya akan menjadi melemah. Tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit seperti flu atau demam ringan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan secara keseluruhan jika tidak segera ditangani dengan baik.

Dokter RS Kramat 128 Muhammad Fatcurrahman Azami menyampaikan pemaparan saat acara Health Talk & Mini MCU di Jakarta, Rabu (22/10/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)
Sementara itu, dari sisi kognitif, dokter Fatcurrahman menyebut stres juga dapat membuat seseorang kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan. Mereka juga sering mengalami masalah memori atau mudah lupa terhadap hal-hal sederhana. Dalam pengambilan keputusan, katanya, individu yang tengah stres juga akan menjadi ragu-ragu dan menunjukkan pola pikir negatif serta overthinking yang terus berulang.
Selanjutnya, gejala stres juga bisa dilihat dari aspek emosional. Umumnya, katanya, seseorang yang mengalami stres dapat membuat seseorang menjadi mudah marah, tersinggung, atau frustrasi. Rasa cemas berlebihan yang muncul secara terus-menerus juga sering kali membuat mereka sulit untuk merasa tenang.
Dalam beberapa kasus, katanya, stres berkepanjangan juga dapat memunculkan perasaan sedih atau putus asa, yang jika dibiarkan bisa berkembang menjadi depresi. Akhirnya, individu merasa tidak mampu mengatasi tuntutan pekerjaan, sehingga lingkaran stres terus berulang tanpa henti.
Dokter Fatchurrahman mengatakan jika mulai mengalami tanda-tanda tersebut, seseorang mesti mulai mencari coping mechanism atau mekanisme koping/penanganan. Ini adalah “taktik” yang digunakan seseorang untuk menghadapi situasi yang menyebabkan stres.
Coping mechanism seseorang bisa berbeda-beda. Ada yang dengan berolahraga untuk memberi jeda pada rutinitas, berlibur, bertemu dengan teman, membaca buku, atau sekadar mengubah mindset menjadi lebih bersyukur dan menerima kondisi. Menurutnya, semuanya sama-sama dapat dilakukan asalkan membuat tubuh menjadi lebih baik.
Kendati demikian, jika tingkat stres sudah makin parah dan membuat keseharian dan rutinitas pekerjaan terganggu, tak ada salahnya juga bagi seseorang untuk meminta bantuan medis. Sebab, sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental juga perlu untuk disembuhkan atau diatasi menjadi lebih baik.
Baca juga: 15% Orang Dewasa Usia Pekerja Alami Gangguan Kesehatan Mental, Begini Saran Psikiater
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.