Eksklusif Martin Suryajaya: Melihat Relevansi dan Cara Kerja Filsafat & Sastra Hari Ini
22 October 2025 |
14:30 WIB
Bicara soal filsafat, Martin Suryajaya menjadi salah satu nama yang cukup menyala. Dia dikenal sebagai sosok yang kerap menyiarkan pandangan-pandangan tentang filsafat, sastra dan isu-isu kebudayaan dengan penyampaian yang populer, baik itu secara tulisan maupun media lainnya seperti konten podcast di media sosial.
Pria kelahiran Semarang ini meraih gelar doktor di bidang filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sehari-hari dia bekerja sebagai pengajar di Sekolah Pascasarjana, Institut Kesenian Jakarta dan pernah juga menjadi konsultan kebijakan di Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Martin dikenal sebagai penulis yang produktif baik untuk buku-buku nonfiksi maupun fiksi. Di samping menulis buku-buku filsafat, dia juga kerap menulis buku-buku sastra yang memadukannya dengan rentang keilmuannya, termasuk filsafat hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Henry Manampiring & Praktik Mendekatkan Filsafat ke Anak Muda Lewat Stoa
Beberapa buku Martin yang telah terbit antara lain Sejarah Estetika (2016) yang memenangkan penghargaan Best Art Publication dari Art Stage 2017, dan novel Kiat Sukses Hancur Lebur (2016) yang memenangkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018 serta menjadi Novel Pilihan Majalah Tempo 2016. Buku esainya, Kesusastraan, Kehancuran (2024) juga mendapatkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2024.
Karya-karya lainnya termasuk Principia Logica (2022), Penyair sebagai Mesin: Sebuah Eksperimen dalam Pembacaan Jauh dan Sejarah Lain Puisi Indonesia (2022), Meta-Estetika: Kajian tentang Morfologi Kritik (2024), Sebelum Hancur Lebur (2024), serta Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika (2025).
Terbaru, Martin meluncurkan buku berjudul Apa Rakyat Bisa Salah? yang diterbitkan Penerbit Gang Kabel. Dalam buku setebal 100 halaman itu, Martin merefleksikan situasi yang terjadi ketika rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam sistem demokrasi justru bisa salah di dalam membuat keputusan politiknya. Hal itu akhirnya menciptakan sebuah tatanan yang keos dan kacau.
Di dalam buku bersampul hijau neon itu ditunjukkan bahwa rakyat bisa salah karena pengetahuan dirinya tidak selalu benar. Sehingga, untuk mencapai kebenaran bersama dibutuhkan perspektif omniparsial, melihat dari sudut pandang semua agen, alih-alih imparsial atau memihak kepentingan pihak tertentu. Tantangannya adalah mencari desain kelembagaan yang dapat mewujudkan omniparsialitas itu.
Di tengah diskursus tersebut, Martin lewat bukunya menawarkan tiga opsi untuk mencapai kebenaran bersama yang berlaku dalam politik yakni datakrasi, lotokrasi trans-spesies, dan infrakrasi. Ketiganya tercipta hasil dari pembacaan dirinya terhadap tiga pemikir yakni Karl Marx, Gottlob Frege, dan Ibnu Rusyd.
Opsi-opsi tersebut dibuat untuk menciptakan sebuah konsep yang disebut oleh Martin sebagai general intellect, suatu lumbung pengetahuan ekososial dari seluruh agen yang pernah hidup. Hal ini penting ditempuh demi menghasilkan sebuah sudut pandang yang lebih berkeadilan, berpihak pada semua sudut pandang yang berbeda.
"Banyak masalah politik bisa dipecahkan seandainya setiap orang pernah mengalami apa rasanya menjadi semua orang. Jadi itu premis dasarnya yang kemudian membimbing buku ini masuk ke dalam diskursus tentang datakrasi, lotokrasi trans-spesies, dan infrakrasi. Semua itu adalah metode-metode implementasi untuk bisa mendekati kondisi general intellect," kata Martin.
Dari ketiganya, Martin lebih menyoroti infrakrasi sebagai model yang mendekati ideal, yakni menjadikan kelompok sosial yang mengalami penindasan dari segi ras, kelas dan gender sebagai suara yang paling merepresentasikan kebenaran bersama.
Pendekatan tersebut dianggap bisa menjadi alternatif upaya untuk memperdalam demokrasi. Sebab, di dalam demokrasi, semua orang dihitung setara suaranya. Hal ini yang disebut Martin sebagai epistemic injustice, yakni orang yang lebih dalam pengalaman ketertindasannya diperlakukan sama suaranya dengan orang yang tidak pernah mengalami ketertindasan sama sekali karena privilese dan sebagainya.
Kepada Hypeabis.id, Martin bercerita soal proses penulisan buku terbarunya, pandangannya soal relevansi belajar filsafat dewasa ini, hingga bocoran buku yang tengah digarapnya soal sejarah sastra Indonesia yang dibuat menggunakan teknologi mesin.
Berikut petikan obrolan kami.
Jadi, semuanya itu bersumber dari pilihan-pilihan politik kita yang kita ambil waktu Pemilu kemarin. Refleksinya awalnya dari situ sih. Artinya, selama ini kan kita mengasumsikan pilihan kita itu benar tuh. Nah, tapi gimana kalau ternyata pilihannya itu salah, dan gimana demokrasi mengatasi kesalahan pengetahuan rakyat itu. Pengetahuan yang saya maksudkan ini bukan kaya kepakaran teknis kaya S3 di bidang politik, ekonomi, bukan itu ya. Tapi pengetahuan tentang kepentingan diri.
Jadi artinya seluruh bukunya ditulis dalam bentuk kaya proposisi gitu. Artinya satu kalimat, terus ada poin selanjutnya adalah penjabaran dari proposisi itu. Jadi keseluruhannya hanya ada delapan kalimat yang dipecah ke dalam kumpulan sub-proposisi.
Nah bagaimana membuat satu mekanisme kelembagaan yang bisa mendekati itulah yang kemudian dijawab dalam buku ini. Jadi kaya misalnya tadi ya infrakrasi gitu ya. Tatanan dimana politik melihat suara atau kebenaran bersama itu ditentukan bukan oleh voting atau penjumlahan semua suara lewat pemungutan suara.
Tapi justru oleh pengalaman dari kelompok-kelompok yang paling termarjinalisasi gitu. Karena mereka lah yang paling mencerminkan kebenaran bersama, perspektifnya paling lengkap tentang ketidakadilan.
Karena kalau artikel itu sangat pendek. Sistematika berpikirnya itu belum terlalu bisa tergambar semua, sedangkan dalam buku itu sangat mungkin. Nah maka saya memilih bentuk buku. Jadi memang itu kebiasaan dari sejak kuliah S1 sih. Artinya setiap semester bikin satu manuskrip buku. Jadi riset sendiri di perpustakaan, saya mau ngeriset ini saya tulis. Nah itu mulai dari semester S1 di kuliah dulu. Walaupun gak diterbitkan ya. Tapi paling enggak latihan menulisnya itu dari kuliah awal.
Jadi spesifik banget untuk fokus ke persoalan proses penciptaan. Jadi saya bayangkan buku itu dibaca oleh penyair gitu, bukan oleh pembaca umum. Jadi beda-beda, tergantung target pembacanya sih. Kalau dia adalah untuk pembaca umum, ya otomatis saya akan cenderung memilih pendekatan sejarah. Karena dengan diceritakan asal-usulnya, proses terjadinya sesuatu, itu akan membuat orang jauh lebih mudah paham daripada langsung secara tematik membahas satu topik lalu definisinya apa, lalu kemudian menjelaskan posisi pemikirannya apa saja, itu akan lebih abstrak. Akan lebih enak kalau sejarahnya yang diceritakan.
Hal kedua adalah karena filsafat sifatnya abstrak jadi artinya dia enggak membicarakan kasus empiris tertentu di desa mana atau di kampung ini ada kejadian apa, enggak. Tapi dia membicarakan tentang hal-hal secara umum misalnya tentang apa itu kebaikan, apa definisinya, caranya kita mendefinisikan kebaikan itu gimana sih, apakah definisi itu netral ataukah ada biasnya dan sebagainya. Jadi mempertanyakan cara kita berpikir sebetulnya. Itu yang membuat orang kesulitan seringkali. Karena kita sering dilatih untuk berpikir tentang sesuatu tapi jarang dilatih untuk berpikir tentang proses berpikir itu sendiri.
Di era sekarang dimana informasi sudah banyak banget kecakapan filsafat itu malah semakin perlu karena dia kan menyediakan kita peranti untuk menganalisis mana sih informasi yang bisa dipercaya, mana yang enggak. Jadi kesadaran kritis untuk memilah-milah cara berpikir kita itu, yang dilatih dalam filsafat itu yang sekarang terpakai banget sebetulnya. Filsafat dan sejarah sebetulnya. Kritik sumber juga sangat perlu sekarang ya. Memilah mana sumber yang autentik mana yang enggak, mana yang bisa diandalkan, mana yang enggak.
Walaupun kalau kita ngelihat dari segi pembaca juga semakin beragam kan sekarang. Pembaca sastra kita itu yang sifatnya pop pun udah beranekaragam, tersekat-sekat ke dalam genre yang spesifik gitu ya. Ada yang lebih suka cerita horor, science-fiction dan seterusnya. Yang sastra yang dikatakan serius pun juga sudah terbelah-belah. Ada yang modelnya dibagi berdasarkan kawasan gitu ya. Hanya membaca buku-buku atau sastra yang ada muncul dalam satu kawasan, jarang membaca di luar itu dan sebagainya. Jadi karena situasi kaya gitu membuat kesulitan kita memberikan asesmen tentang sastra Indonesia secara keseluruhan.
Makanya saya sendiri belakangan ini lebih tertarik digital humanities kan. Jadi karya sastra di-scan semuanya, didigitalisasi lalu kemudian dibaca oleh mesin. Untuk di-cluster berdasarkan kemiripan gaya dan seterusnya.
Mungkin cara membaca itu yang bisa berhadapan dengan kompleksitas perkembangan kesusastraan Indonesia sekarang.
Terus novel-novel yang berkembang tentang misalnya romantisisme abad 19 awal, Frankenstein dan seterusnya itu kan bisa mungkin ada karena ada perkembangan teknologi, ketika sains teknologi berkembang besar muncul lah responsnya dalam bentuk ketakutan orang terhadap sains. Ketika muncul sains yang ternyata bisa mengubah jiwa manusia dan seterusnya. Jadi perkembangan sastra dan pemikiran itu selalu adalah respons terhadap teknologi.
Jadi bukan hanya berlaku dalam konteks genre tertentu seperti science fiction, tapi semuanya berkaitan langsung dengan teknologi dan maka pilihan kita bukanlah menolak teknologi, tapi bagaimana merespons itu. Makanya dalam konteks AI pun saya posisinya lebih pada tidak memusuhi AI, tapi bagaimana membuat AI itu bisa menjadi co-creator dalam proses penciptaan sastra misalnya.
Mengajak AI itu terlibat masuk ke dalam penciptaan sastra, tapi proses pelibatannya itu harus kritis ya artinya gak sekedar pakai ChatGPT untuk bikin novel atau puisi atau apa, tapi misalnya dengan melatih mesin sendiri dengan menentukan arsip apa yang diinputkan ke dalamnya, jadi berpikir dengan cara itu. Jadi bukan sekedar menerima saja AI hasil latihan industri seperti ChatGPT lalu kita terapkan dalam sastra, itu enggak.
Karena menurut saya solusi gampangan semacam itu tuh banyak biasnya ya, terlalu naif memperlakukan teknologi seolah-olah dia netral. Maka itu kita harus bener-bener hands on terhadap teknologinya, mempelajari caranya bikin AI itu gimana, caranya dia dimasukkan itu pilihan arsip yang dipelajarinya tuh apa sehingga berdampak pada karyanya. Itu yang menurutku pola relasi kita dengan teknologi itu yang lebih tepat.
Caranya berhadapan dengan era sekarang menurutku itu salah satunya, mengembangkan atau merawat keragu-raguan diri. Orang yang enggak pernah ragu-ragu, orang yang terlalu yakin itu akan mudah terombang-ombing dalam situasi yang seperti ini.
Kemudian dari situ saya lihat, misalnya buah-buahan apa saja sih yang sering muncul dalam puisi Indonesia tahun 50-an, tahun 60-an, tahun 70-an, dan seterusnya. Terus laut itu dibahas seperti apa sih dalam novel Indonesia tahun 50-an, 60-an, 70-an, dan seterusnya. Jadi melihat motif-motif tertentu yang berulang dalam Sastra Indonesia yang pendekatannya dengan mesin. Metode itu disebutnya distant reading, pembacaan jauh. Dari situ nanti tercermin gagasannya. Jadi pintu masuknya lewat keyword, dari situ saya masuk ke gagasan. Output-nya nanti lebih kaya buku esai panjang tentang sejarah Sastra Indonesia dan rencananya akan terbit tahun 2026.
Baca Juga: Resensi Novel Sebelum Hancur Lebur: Olok-olok & Kiamat Sastra Indonesia di Mata Martin Suryajaya
Pria kelahiran Semarang ini meraih gelar doktor di bidang filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sehari-hari dia bekerja sebagai pengajar di Sekolah Pascasarjana, Institut Kesenian Jakarta dan pernah juga menjadi konsultan kebijakan di Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Martin dikenal sebagai penulis yang produktif baik untuk buku-buku nonfiksi maupun fiksi. Di samping menulis buku-buku filsafat, dia juga kerap menulis buku-buku sastra yang memadukannya dengan rentang keilmuannya, termasuk filsafat hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Henry Manampiring & Praktik Mendekatkan Filsafat ke Anak Muda Lewat Stoa
Beberapa buku Martin yang telah terbit antara lain Sejarah Estetika (2016) yang memenangkan penghargaan Best Art Publication dari Art Stage 2017, dan novel Kiat Sukses Hancur Lebur (2016) yang memenangkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018 serta menjadi Novel Pilihan Majalah Tempo 2016. Buku esainya, Kesusastraan, Kehancuran (2024) juga mendapatkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2024.
Karya-karya lainnya termasuk Principia Logica (2022), Penyair sebagai Mesin: Sebuah Eksperimen dalam Pembacaan Jauh dan Sejarah Lain Puisi Indonesia (2022), Meta-Estetika: Kajian tentang Morfologi Kritik (2024), Sebelum Hancur Lebur (2024), serta Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika (2025).
Terbaru, Martin meluncurkan buku berjudul Apa Rakyat Bisa Salah? yang diterbitkan Penerbit Gang Kabel. Dalam buku setebal 100 halaman itu, Martin merefleksikan situasi yang terjadi ketika rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam sistem demokrasi justru bisa salah di dalam membuat keputusan politiknya. Hal itu akhirnya menciptakan sebuah tatanan yang keos dan kacau.
Di dalam buku bersampul hijau neon itu ditunjukkan bahwa rakyat bisa salah karena pengetahuan dirinya tidak selalu benar. Sehingga, untuk mencapai kebenaran bersama dibutuhkan perspektif omniparsial, melihat dari sudut pandang semua agen, alih-alih imparsial atau memihak kepentingan pihak tertentu. Tantangannya adalah mencari desain kelembagaan yang dapat mewujudkan omniparsialitas itu.
Di tengah diskursus tersebut, Martin lewat bukunya menawarkan tiga opsi untuk mencapai kebenaran bersama yang berlaku dalam politik yakni datakrasi, lotokrasi trans-spesies, dan infrakrasi. Ketiganya tercipta hasil dari pembacaan dirinya terhadap tiga pemikir yakni Karl Marx, Gottlob Frege, dan Ibnu Rusyd.
Opsi-opsi tersebut dibuat untuk menciptakan sebuah konsep yang disebut oleh Martin sebagai general intellect, suatu lumbung pengetahuan ekososial dari seluruh agen yang pernah hidup. Hal ini penting ditempuh demi menghasilkan sebuah sudut pandang yang lebih berkeadilan, berpihak pada semua sudut pandang yang berbeda.
"Banyak masalah politik bisa dipecahkan seandainya setiap orang pernah mengalami apa rasanya menjadi semua orang. Jadi itu premis dasarnya yang kemudian membimbing buku ini masuk ke dalam diskursus tentang datakrasi, lotokrasi trans-spesies, dan infrakrasi. Semua itu adalah metode-metode implementasi untuk bisa mendekati kondisi general intellect," kata Martin.
Dari ketiganya, Martin lebih menyoroti infrakrasi sebagai model yang mendekati ideal, yakni menjadikan kelompok sosial yang mengalami penindasan dari segi ras, kelas dan gender sebagai suara yang paling merepresentasikan kebenaran bersama.
Pendekatan tersebut dianggap bisa menjadi alternatif upaya untuk memperdalam demokrasi. Sebab, di dalam demokrasi, semua orang dihitung setara suaranya. Hal ini yang disebut Martin sebagai epistemic injustice, yakni orang yang lebih dalam pengalaman ketertindasannya diperlakukan sama suaranya dengan orang yang tidak pernah mengalami ketertindasan sama sekali karena privilese dan sebagainya.
Kepada Hypeabis.id, Martin bercerita soal proses penulisan buku terbarunya, pandangannya soal relevansi belajar filsafat dewasa ini, hingga bocoran buku yang tengah digarapnya soal sejarah sastra Indonesia yang dibuat menggunakan teknologi mesin.
Berikut petikan obrolan kami.
Sebenarnya keresahan apa yang ingin Anda sampaikan lewat buku Apa Rakyat Bisa Salah?
Buku ini jadi refleksi situasi di mana pilihan-pilihan kita mulai kita ragukan kembali. Artinya, pilihan tentang kaya dulu kan kita bisa bicara makan bergizi gratis itu dilihat sebagai hal yang positif ya. Tapi, sekarang kita tahu akibat dari makan siang gratis itu misalnya Kementerian Keuangan memperketat penganggaran, sehingga membuat dana transfer ke daerah dikurangi yang akhirnya berdampak pada naiknya pajak di mana-mana.Jadi, semuanya itu bersumber dari pilihan-pilihan politik kita yang kita ambil waktu Pemilu kemarin. Refleksinya awalnya dari situ sih. Artinya, selama ini kan kita mengasumsikan pilihan kita itu benar tuh. Nah, tapi gimana kalau ternyata pilihannya itu salah, dan gimana demokrasi mengatasi kesalahan pengetahuan rakyat itu. Pengetahuan yang saya maksudkan ini bukan kaya kepakaran teknis kaya S3 di bidang politik, ekonomi, bukan itu ya. Tapi pengetahuan tentang kepentingan diri.
Buku Apa Rakyat Bisa Salah? hadir dengan jumlah halaman yang cukup tipis dibanding buku-buku sebelumnya, mengapa?
Ini satu genre penulisan yang saya sebut sketsa ya. Sketsa itu adalah satu tulisan pendek yang langsung argumentatif. Jadi kalau dalam buku biasanya kita menjelaskan perkaranya lama tuh, menjelaskan sejarahnya, pemikirnya siapa aja gitu, memperkenalkan semacam tokoh-tokohnya gitu ya, baru kemudian masuk ke isu utamanya. Nah, di dalam buku ini enggak. Jadi langsung masuk ke argumen utamanya. Jadi enggak menerangkan lagi sejarah diskusinya sehingga bisa singkat sekali dan memang padat.Jadi artinya seluruh bukunya ditulis dalam bentuk kaya proposisi gitu. Artinya satu kalimat, terus ada poin selanjutnya adalah penjabaran dari proposisi itu. Jadi keseluruhannya hanya ada delapan kalimat yang dipecah ke dalam kumpulan sub-proposisi.
Dengan konsep seperti itu, apakah pembaca harus punya tabungan pengetahuan terlebih dahulu?
Ya, sedikit ya. Artinya orang sudah diasumsikan mengerti sedikit tentang politik dan seterusnya. Jadi ini bukan buku pengantar menuju ke filsafat politik. Karena akan susah kalau orang belum pernah baca buku-buku tentang politik atau apa, pasti akan susah. Karena memang itu ya, yang mau dikejar adalah menyaring informasi. Informasi kan sekarang sudah terlalu banyak. Yang penting adalah bagaimana mengkurasi informasi kan. Menyaring mana yang perlu disampaikan, mana yang enggak perlu. Jadi semua informasi yang berlebih itu dibuang, fokus aja pada argumen utamanya apa, dan itu dari situ diikuti sampai akhir.Di tengah situasi sosial-politik yang bergejolak saat ini, apa yang ditawarkan buku ini untuk pembaca?
Buku ini tentang filsafat politik. Artinya yang diberikan adalah semacam cara melihat paradigmanya. Jadi bagaimana sih caranya kita melihat persoalan kebenaran bersama dalam politik itu. Cara nyampe kesananya itu gimana. Nah di buku ini saya mau perkenalkan satu pendekatan yang saya sebut sebagai omniparsialitas. Jadi sebelum ini kan orang bicara selalu dalam rangka imparsialitas ya. Padahal imparsialitas itu menegasi banyak aspek dari identitas kita. Nah maka untuk bisa mengatasi problem dari imparsialitas saya mengajukan omniparsialitas itu. Jadi melihat dari semua perspektif yang sehingga pilihan politik itu didasarkan pada pengalaman semua orang gitu.Nah bagaimana membuat satu mekanisme kelembagaan yang bisa mendekati itulah yang kemudian dijawab dalam buku ini. Jadi kaya misalnya tadi ya infrakrasi gitu ya. Tatanan dimana politik melihat suara atau kebenaran bersama itu ditentukan bukan oleh voting atau penjumlahan semua suara lewat pemungutan suara.
Tapi justru oleh pengalaman dari kelompok-kelompok yang paling termarjinalisasi gitu. Karena mereka lah yang paling mencerminkan kebenaran bersama, perspektifnya paling lengkap tentang ketidakadilan.
Anda dikenal sebagai penulis yang cukup produktif, setuju?
Oh ya, karena memang fokus utama saya itu menulis buku ya. Sebagai dosen, biasanya rata-rata dosen lain kan output yang paling banyak berupa artikel jurnal. Ya saya nulis itu, tapi enggak seseru menulis buku. Karena menulis buku itu kan artinya kita bisa mengembangkan argumen secara utuh. Sedangkan artikel itu pendek sekali. Cuman 7.000-10.000 kata. Kalau buku kan bisa semaunya kita ngembangin argumentasinya. Oleh karena itu saya merasa medium buku itu yang paling tepat untuk mengekspresikan pikiran yang sistematis.Karena kalau artikel itu sangat pendek. Sistematika berpikirnya itu belum terlalu bisa tergambar semua, sedangkan dalam buku itu sangat mungkin. Nah maka saya memilih bentuk buku. Jadi memang itu kebiasaan dari sejak kuliah S1 sih. Artinya setiap semester bikin satu manuskrip buku. Jadi riset sendiri di perpustakaan, saya mau ngeriset ini saya tulis. Nah itu mulai dari semester S1 di kuliah dulu. Walaupun gak diterbitkan ya. Tapi paling enggak latihan menulisnya itu dari kuliah awal.
Sebagai seseorang yang kritis, bagaimana cara Anda memutuskan satu keresahan atau refleksi tertentu yang ingin dituangkan secara serius dalam bentuk buku?
Kuncinya dikurasi ya. Kita mengkurasi informasi. Di era sekarang tuh kita gak lagi punya isu dengan kekurangan informasi. Isu kita justru sebaliknya kan. Informasi terlalu banyak. Oleh karena itu kita harus memilih apa yang memang relevan bagi apa yang mau kita bicarakan. Artinya kalau kita bicara politik, apanya dari politik yang mau kita fokuskan gitu. Nah dengan menetapkan fokus itu semua hal yang lain bisa disarikan.Anda sering disebut sebagai sosok yang mempopulerkan gagasan-gagasan filsafat, sejarah, dan sastra, bagaimana tanggapan Anda?
Enggak sih, mungkin karena saya dulu waktu zaman pandemi sering bikin podcast filsafat. Saya menggambarkan berbagai macam problem filsafat yang menurut saya menarik, saya sharing di internet. Gitu aja sih sebetulnya. Jadi mungkin karena itu lalu kemudian ketika era pandemi memang lagi ada animo tinggi untuk filsafat. Jadi kelompok-kelompok diskusi online tuh banyak sekali ngomongin filsafat. Nah, mungkin karena itu kemudian kontennya naik ya, cukup populer gitu. Tapi belakangan saya udah berhenti sih karena bosan juga ya bikin podcast.Bagaimana proses kreatif Anda menuangkan hasil gagasan filsafat dan lain-lain untuk menjadi bacaan yang bisa dibaca oleh semua orang?
Tergantung kita nulis bukunya ya. Kadang-kadang kan kita nulis buku dengan target pembaca tertentu kan. Ada yang memang target pembacanya itu relatif yang memang sudah lama menggeluti isu itu. Ada juga yang untuk pemula gitu ya. Misalnya kayak buku saya, Sejarah Estetika itu memang untuk umum ya, masyarakat umum yang suka seni tapi gak pernah belajar filsafat. Maka saya tuliskan dalam bentuk yang populer mungkin, artinya banyak gambar, saya jelaskan sejarahnya. Ada juga yang sifatnya hanya untuk orang yang memang mendalami isunya. Misalnya kaya buku Penyair Sebagai Mesin itu saya ngomongin tentang puisi tapi bikinan AI.Jadi spesifik banget untuk fokus ke persoalan proses penciptaan. Jadi saya bayangkan buku itu dibaca oleh penyair gitu, bukan oleh pembaca umum. Jadi beda-beda, tergantung target pembacanya sih. Kalau dia adalah untuk pembaca umum, ya otomatis saya akan cenderung memilih pendekatan sejarah. Karena dengan diceritakan asal-usulnya, proses terjadinya sesuatu, itu akan membuat orang jauh lebih mudah paham daripada langsung secara tematik membahas satu topik lalu definisinya apa, lalu kemudian menjelaskan posisi pemikirannya apa saja, itu akan lebih abstrak. Akan lebih enak kalau sejarahnya yang diceritakan.
Dari dulu selalu ada anggapan kalau filsafat itu sulit dipahami. Di tengah era keterbukaan informasi sekarang, apakah anggapan itu masih relevan?
Sebenarnya filsafat itu jadi sulit karena dia punya peristilahan yang khusus. Seringkali karena muncul banyak istilah-istilah, kemudian orang jadi kesulitan. Padahal sebetulnya itu soal pembiasaan saja. Sama kaya kita belajar ilmu apapun, begitu kita spesialisasi di sana kan kita akan ketemu istilah khusus, kaya semacam linggo yang khas di bidang itu.Hal kedua adalah karena filsafat sifatnya abstrak jadi artinya dia enggak membicarakan kasus empiris tertentu di desa mana atau di kampung ini ada kejadian apa, enggak. Tapi dia membicarakan tentang hal-hal secara umum misalnya tentang apa itu kebaikan, apa definisinya, caranya kita mendefinisikan kebaikan itu gimana sih, apakah definisi itu netral ataukah ada biasnya dan sebagainya. Jadi mempertanyakan cara kita berpikir sebetulnya. Itu yang membuat orang kesulitan seringkali. Karena kita sering dilatih untuk berpikir tentang sesuatu tapi jarang dilatih untuk berpikir tentang proses berpikir itu sendiri.
Di era sekarang dimana informasi sudah banyak banget kecakapan filsafat itu malah semakin perlu karena dia kan menyediakan kita peranti untuk menganalisis mana sih informasi yang bisa dipercaya, mana yang enggak. Jadi kesadaran kritis untuk memilah-milah cara berpikir kita itu, yang dilatih dalam filsafat itu yang sekarang terpakai banget sebetulnya. Filsafat dan sejarah sebetulnya. Kritik sumber juga sangat perlu sekarang ya. Memilah mana sumber yang autentik mana yang enggak, mana yang bisa diandalkan, mana yang enggak.
Lantas, untuk menjadi kritis apakah kita harus membaca atau belajar filsafat?
Ya enggak harus filsafat sih. Sebenarnya bisa juga membaca ilmu-ilmu lain atau mempelajari ilmu lain tapi filsafat memang secara khusus memfokuskan diri untuk menumbuhkan sikap kritis itu. Jadi kalau mau yang paling cepat menumbuhkan sikap kritis emang filsafat sih.Selain filsafat, Anda juga sering menulis seputar sastra. Bagaimana Anda melihat dunia kesusastraan di Indonesia saat ini?
Sastra Indonesia hari ini kan udah beragam banget ya artinya beda banget sama kesusastraan yang dihadapi era sebelum tahun 2000 ya. Pada masa itu banyak tuh buku bisa membuat periodisasi kan. Angkatan 45, 66, dan seterusnya. Sekarang udah gak ada yang bisa tuh. Gak ada satupun yang bisa menerbitkan buku yang ngasih periodisasi jelas setelah 2000. Terakhir tuh Korrie Layun Rampan menulis buku Angkatan 2000. Setelah itu enggak ada, karena terlalu chaotic ya. Terlalu banyak banget variasinya sehingga gak bisa dikelompokkan. Hampir gak bisa.Walaupun kalau kita ngelihat dari segi pembaca juga semakin beragam kan sekarang. Pembaca sastra kita itu yang sifatnya pop pun udah beranekaragam, tersekat-sekat ke dalam genre yang spesifik gitu ya. Ada yang lebih suka cerita horor, science-fiction dan seterusnya. Yang sastra yang dikatakan serius pun juga sudah terbelah-belah. Ada yang modelnya dibagi berdasarkan kawasan gitu ya. Hanya membaca buku-buku atau sastra yang ada muncul dalam satu kawasan, jarang membaca di luar itu dan sebagainya. Jadi karena situasi kaya gitu membuat kesulitan kita memberikan asesmen tentang sastra Indonesia secara keseluruhan.
Tidak adanya periodisasi di kesusastraan Indonesia hari ini bisa dilihat sebagai tanda yang positif atau bagaimana?
Ya menarik sih. Artinya dia menjadi satu fenomena yang menarik, tapi menurut saya perlu juga sih untuk melihat retrospeksi sejarah gitu, ngelihat periodisasi semacam apa yang dimungkinkan dalam kondisi yang chaos seperti sekarang. Periodisasi kan sebenarnya hanya menyediakan cara kita melihat persoalan, sehingga metode kritiknya harus beda.Makanya saya sendiri belakangan ini lebih tertarik digital humanities kan. Jadi karya sastra di-scan semuanya, didigitalisasi lalu kemudian dibaca oleh mesin. Untuk di-cluster berdasarkan kemiripan gaya dan seterusnya.
Mungkin cara membaca itu yang bisa berhadapan dengan kompleksitas perkembangan kesusastraan Indonesia sekarang.
Anda kerap menyinggung pengaruh AI atau teknologi terhadap filsafat, sastra dan bahasa. Menurut Anda, sejauh mana elemen-elemen itu mempengaruhi ruang refleksi kritis kita?
Ya kalau teknologi kan kayanya memang gak tergantikan ya. Di dalam sastra itu, perkembangan sastra kalau kita perhatikan itu dibentuk oleh teknologi. Misalnya kaya kemunculan genre tertentu, misalnya novel tentang eksplorasi kayak Robinson Crusoe dan seterusnya itu hanya mungkin ada karena ada teknologi navigasi kan yang memungkinkan orang bepergian ke luar dari Eropa menjelajah negara-negara lain.Terus novel-novel yang berkembang tentang misalnya romantisisme abad 19 awal, Frankenstein dan seterusnya itu kan bisa mungkin ada karena ada perkembangan teknologi, ketika sains teknologi berkembang besar muncul lah responsnya dalam bentuk ketakutan orang terhadap sains. Ketika muncul sains yang ternyata bisa mengubah jiwa manusia dan seterusnya. Jadi perkembangan sastra dan pemikiran itu selalu adalah respons terhadap teknologi.
Jadi bukan hanya berlaku dalam konteks genre tertentu seperti science fiction, tapi semuanya berkaitan langsung dengan teknologi dan maka pilihan kita bukanlah menolak teknologi, tapi bagaimana merespons itu. Makanya dalam konteks AI pun saya posisinya lebih pada tidak memusuhi AI, tapi bagaimana membuat AI itu bisa menjadi co-creator dalam proses penciptaan sastra misalnya.
Mengajak AI itu terlibat masuk ke dalam penciptaan sastra, tapi proses pelibatannya itu harus kritis ya artinya gak sekedar pakai ChatGPT untuk bikin novel atau puisi atau apa, tapi misalnya dengan melatih mesin sendiri dengan menentukan arsip apa yang diinputkan ke dalamnya, jadi berpikir dengan cara itu. Jadi bukan sekedar menerima saja AI hasil latihan industri seperti ChatGPT lalu kita terapkan dalam sastra, itu enggak.
Karena menurut saya solusi gampangan semacam itu tuh banyak biasnya ya, terlalu naif memperlakukan teknologi seolah-olah dia netral. Maka itu kita harus bener-bener hands on terhadap teknologinya, mempelajari caranya bikin AI itu gimana, caranya dia dimasukkan itu pilihan arsip yang dipelajarinya tuh apa sehingga berdampak pada karyanya. Itu yang menurutku pola relasi kita dengan teknologi itu yang lebih tepat.
Di tengah riuhnya internet dan media sosial, bagaimana cara agar kita tetap bisa menjaga akal sehat, sikap kritis dan autentik diri kita?
Kalau menurut saya lebih pada buat ruang self doubt atau keragu-raguan diri. Orang itu kalau enggak pernah ragu-ragu ya itu akan menerima apapun secara membuta, mudah sekali terpengaruh, mudah sekali menerima informasi dan selalu tidak pernah berjarak terhadap keyakinannya sendiri. Bahwa dia sudah yakin bahwa si A ini pasti benar atau si B ini salah, karena dia enggak pernah punya self doubt itu. Sedangkan dalam filsafat, self doubt itu penting. Cara filsafat maju itu karena orang ragu terhadap keyakinan dirinya yang lama, bertanya ulang apa betul begitu, asumsinya apa. Jadi pemikiran kritis dimulai dari sana.Caranya berhadapan dengan era sekarang menurutku itu salah satunya, mengembangkan atau merawat keragu-raguan diri. Orang yang enggak pernah ragu-ragu, orang yang terlalu yakin itu akan mudah terombang-ombing dalam situasi yang seperti ini.
Ke depan, Anda akan menerbitkan buku apa?
Ada satu sih, tapi mungkin masih agak lama, yaitu riset saya tentang Sastra Indonesia. Saya mendigitalisasi ratusan novel, puisi, dan cerpen yang menang penghargaan atau paling tidak sering disebut-sebut oleh banyak kritikus, untuk membaca 100 tahun terakhir Sastra Indonesia itu perkembangannya kaya gimana. Jadi membuat pemetaan terhadap pola-pola gaya, pola pilihan kata dan sebagainya yang paling dominan dalam 100 tahun terakhir. Saya bagi ke dalam per 10 tahun, kaya semacam periodisasi tapi bukan periodisasi politik ya. Tahun 45, 65 itu kan politik ya. Kalau saya lebih pada periodisasi yang sifatnya statis aja, per 10 tahun atau per 5 tahun dibagi dalam 100 tahun terakhir mulai dari 1920 sampai 2020.Kemudian dari situ saya lihat, misalnya buah-buahan apa saja sih yang sering muncul dalam puisi Indonesia tahun 50-an, tahun 60-an, tahun 70-an, dan seterusnya. Terus laut itu dibahas seperti apa sih dalam novel Indonesia tahun 50-an, 60-an, 70-an, dan seterusnya. Jadi melihat motif-motif tertentu yang berulang dalam Sastra Indonesia yang pendekatannya dengan mesin. Metode itu disebutnya distant reading, pembacaan jauh. Dari situ nanti tercermin gagasannya. Jadi pintu masuknya lewat keyword, dari situ saya masuk ke gagasan. Output-nya nanti lebih kaya buku esai panjang tentang sejarah Sastra Indonesia dan rencananya akan terbit tahun 2026.
Baca Juga: Resensi Novel Sebelum Hancur Lebur: Olok-olok & Kiamat Sastra Indonesia di Mata Martin Suryajaya
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.