Pengunjung menyaksikan senarai karya dalam pameran Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu, di Galeri Salihara (sumber gambar: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)

Dari Soenarto hingga Danarto: Sanggarbambu dan Seni yang Menolak Diam di Pusat Arus

22 October 2025   |   06:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sorot lampu jatuh di atas kanvas tua di ruang Galeri Salihara. Dari balik bingkai kaca, tatapan Soenarto Prawirohardjono alias Soenarto Pr menembus waktu. Wajahnya tegas, rambut tersisir rapi, menatap seolah mengingatkan kita bahwa sejarah seni rupa Indonesia tidak pernah berjalan di garis lurus.

Lukisan potret diri Soenarto Pr (1931–2018) itu dibuat pada 1972. Cat minyak di atas kanvas itu menggambarkan sosok pelukis yang masih gagah pada usia 41 tahun. Di sebelahnya tergantung Potret Gadis (1972), karya anonim, keduanya kini menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia.

Dua karya ini menjadi gerbang untuk menelusuri jejak Sanggarbambu dalam pameran Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu. Judul pameran tersebut diambil dari bait himne sanggar karya penyair Kirdjomulyo (1930–2000), yang terasa seperti sapaan lembut dari masa lalu kepada generasi masa kini.

Baca Juga: Karya Pablo Picasso berjudul Still Life With Guitar Hilang dalam Perjalanan menuju Pameran

Pameran yang berlangsung hingga 7 Desember 2025 itu memamerkan ratusan karya dari 13 anggota sanggar. Nama-nama seperti Danarto, Darmadji, Irsam, Mulyadi W., Soeharto Pr, hingga Titis Jabaruddin menandai keberagaman ekspresi yang tumbuh dari satu akar yang sama, yakni semangat kebersamaan dan pencarian bentuk.

Di ruang utama, pengunjung bisa menelusuri empat kecenderungan estetik yang membentuk identitas Sanggarbambu. Figur menjadi tema pertama, dengan menghadirkan potret diri, model, dan suasana keseharian yang sering disalin dari kehidupan sekitar. Tubuh manusia menjadi bahasa untuk memahami zaman.

Namun, figur di tangan seniman Sanggarbambu tak selalu tampil realistis. Beberapa justru memelintir bentuk menjadi datar, terpiuh, bahkan surealis. Di sinilah jejak-jejak goresan tangan Mulyadi W (1938–2024) terasa paling kuat.

Karyanya, Duduk Santai (1960), menggambarkan seorang perempuan yang termenung dalam warna-warna lembut. Sosoknya terdistorsi, tetapi tetap hidup oleh tarikan garis yang halus. Mulyadi tampak memadukan spontanitas ekspresionisme dengan imajinasi yang tenang.

Kecenderungan berikutnya muncul dari keinginan para anggota mencari akar kebangsaan. Bentuk-bentuk ornamental, motif hias, hingga pengulangan pola menjadi cara mereka menelusuri identitas visual Indonesia. Dalam bagian ini, karya Irsam (1942–2006) Anak Gembala (1981) menonjol dengan gaya dekoratif yang kuat.

Pohon-pohon berjejer rapi, jalan setapak penuh hiasan, bahkan langit pun tak luput dari ornamen. Semuanya seolah menolak spontanitas demi menghadirkan keseimbangan yang tenang. Irsam berbicara tentang keteraturan, bukan dengan garis-garis menghiasi seluruh kanvas.
 

Pengunjung menyaksikan senarai karya dalam pameran   Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu, di Galeri Salihara (sumber gambar: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)

Senarai karya Danarto dalam pameran Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu, di Galeri Salihara (sumber gambar: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)


Sementara itu, kecenderungan terakir memperlihatkan keinginan bercerita lewat mitologi dan naskah kuno. Para seniman menyalin gambar candi, kisah pewayangan, hingga relief kuno untuk dijadikan bacaan baru. Di tangan mereka, legenda menjadi bahan penciptaan ulang, bukan sekadar tiruan.

Danarto (1941–2018) menjadi tokoh paling menonjol di jalur ini. Dia memadukan mitologi Jawa dengan dunia mimpi yang surealis. Dalam Rahasia Niwatakawaca (2011), Dewi Supraba tampak menari dengan lembut bersama sang raksasa, diwarnai garis-garis halus dan warna cerah yang menyalakan imajinasi.

Dari karya-karya ini, publik bisa membaca satu hal, bahwa Sanggarbambu tidak sekadar meniru kehidupan, tetapi menafsirkan ulang realitas dengan caranya sendiri. Mereka menciptakan jarak yang cukup antara dunia dan kanvas, sekaligus menjadi ruang refleksi yang membuat karyanya tetap hidup hingga kini.

 

Jejak di Tepian Arus


Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan bahwa pameran ini mencoba menelusuri “sepotong waktu” saat Sanggarbambu berdiri pada 1 April 1959. Kala itu, para pendirinya masih muda, bahkan sebagian besar belum berusia 30 tahun. Namun mereka berani membangun ruang alternatif di tengah turbulensi politik.

Pendiri utamanya adalah pelukis Soenarto Pr, penyair Kirdjomulyo, dan teaterawan Heru Sutopo dari Akademi Seni Drama dan Film. Mereka hidup pada masa ketika kebudayaan ditarik oleh ideologi antara “politik sebagai panglima” di masa Demokrasi Terpimpin dan “stabilitas” di bawah Orde Baru.

Di tengah arus besar itu, Sanggarbambu memilih untuk tidak hanyut. Mereka menggelar pameran keliling, pertunjukan teater, dan kegiatan sastra di kota-kota kecil seperti Brebes, Tegal, Purwokerto, hingga Sumenep. Mereka menepi dari pusat, dan di tepian itulah justru tumbuh kehidupan.

“Sanggarbambu adalah satu-satunya sanggar yang masih menyatakan hidup sampai hari ini,” ujar Suwarno berseloroh. “Saya menyebutnya sanggar yang hidup entah mati kapan. Ini bukan ledekan, melainkan penghormatan dengan guyon ala Jogja.”
 

Pengunjung menyaksikan senarai karya dalam pameran   Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu, di Galeri Salihara (sumber gambar: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)

Senarai karya dalam pameran Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu, di Galeri Salihara (sumber gambar: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)


Seniman Butet Kartaredjasa yang sempat berinteraksi dengan para anggotanya menyebut Sanggarbambu sebagai inspirasi penting. Garis-garis visual dan semangat kebersamaan yang dia pelajari dari mereka juga membentuk dasar dalam proses kreatifnya, yakni lewat Wirid Visual.

Namun, Butet juga tak menutup mata terhadap sisi lain perjalanan sanggar ini. Dia menilai, pada masa keemasan 1960-an, sebagian anggota Sanggarbambu mulai terjebak dalam romantisme masa lalu. “Mereka lebih sering mengelus-elus peradaban silam ketimbang menanggapi perubahan zaman,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan kebudayaan hari ini seharusnya mendorong seniman untuk mencari bentuk baru. “Kultur manual sudah berganti menjadi digital. Ini perubahan yang nyata. Tapi yang diomongkan masih kesuksesan pameran keliling,” katanya.

Bagi Butet, seni tidak boleh berhenti pada nostalgia. Dia harus terus bergerak, menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan akar. Refleksi itu menjadi pengingat bahwa setiap generasi punya tugasnya sendiri untuk menafsir ulang masa lalu.

Di ruang pamer, waktu seolah berhenti. Dari balik kaca, figur-figur tua Sanggarbambu menatap dengan tenang, seakan tahu bahwa dunia di luar sedang berubah cepat. Dalam warna pastel dan relief candi itu, ada pesan yang lebih lembut dari sekadar sejarah.

Sanggarbambu mungkin tidak berada di pusat arus seni rupa, tetapi dari tepian itulah mereka menanamkan makna. Seperti bambu yang lentur, mereka bertahan dengan caranya sendiri, yakni merekam, merenung, dan sesekali berbisik pada masa depan.

Baca Juga: Pasar Seni ITB 2025 Gaet 200.000 Pengunjung, Ditutup Pameran Adicitra Ganesha

SEBELUMNYA

Wisata Kebugaran Kian Diminati, Wisman Korea Selatan Serbu Yogyakarta dan Surakarta

BERIKUTNYA

Studi Kantar & Samsung Ungkap Setiap Generasi Punya Cara Unik Pakai AI

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga