Desainer aksesori Rinaldy Yunardi (Sumber gambar: dok. Rinaldy Yunardi)

Eksklusif Rinaldy Yunardi, Tiga Dekade Perjalanan Sang Maestro Aksesori

20 October 2025   |   07:06 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Selama tiga dekade berkarya, Rinaldy Yunardi telah menorehkan jejak sebagai maestro aksesori yang dikenal dengan karya megah, penuh detail, dan sarat makna budaya. Bermula dari potongan akrilik yang didesain menjadi tiara, namanya menjelma menjadi desainer aksesori berpengaruh dengan kiprah level internasional. 

Dalam wawancara bersama Hypeabis.id, pria kelahiran 13 Desember 1970 tersebut menuturkan perjalanan panjangnya, titik balik menuju panggung global, serta filosofi yang selalu dia pegang dalam karyanya. Seperti apa cerita tersebut? Berikut petikan obrolannya. 

Baca juga: Desainer Indonesia Rinaldy Yunardi Ciptakan Mahkota Khusus untuk Kampanye Kylie Jenner

Bagaimana Anda melihat perjalanan karier dan posisi desainer Indonesia di panggung mode global saat ini?

Kalau saya lihat, sekarang posisi desainer Indonesia sudah semakin diperhitungkan. Saya sendiri sejak awal berjuang sendirian dengan membawa nama dan karya sendiri ke luar negeri. Menariknya, banyak desainer luar justru mengambil inspirasi dari budaya kita. Dari situ saja sudah terlihat bahwa Indonesia punya potensi besar.

Jadi mengapa kita sendiri tidak mengangkat kekayaan itu? Sekarang semakin banyak desainer Tanah Air yang tampil di ajang internasional, ikut fashion week, berkolaborasi, dan mempromosikan karya anak bangsa. Indonesia kini semakin dilirik, semakin diminta, dan keberadaannya makin diakui. Saya pribadi selalu berusaha menunjukkan bahwa kita ada, kita kaya, dan kita kreatif. 

Kalau boleh mundur sedikit, seperti apa awal mula Anda terjun ke dunia desain, khususnya aksesori?

Ceritanya cukup Panjang. Saya sebenarnya hanya lulusan SMA dari keluarga sederhana, dan waktu itu dunia mode di Indonesia belum semaju sekarang. Tidak ada media sosial, internet pun belum mudah diakses. Setelah lulus, saya sempat bekerja sebagai marketing di Perusahaan ban mobil.

Hingga suatu hari saya bertemu almarhum Kim Tong, salah satu perancang busana terkenal saat itu. Beliau bilang saya tidak cocok kerja kantoran, lalu memperkenalkan saya pada dunia tiara. Awalnya saya hanya membantu menjual, belum memahami desain. Waktu itu saya belum ada ketertarikan pada tiara, akhirnya setengah tahun bekerja saya merasa tidak cocok lalu keluar.

Kemudian, saya bekerja di perusahaan elektronik milik kakak.  Suatu siang, tangan saya iseng memotong akrilik, menggabungkannya dengan lem dan kawat. Ternyata hasilnya mirip crown dengan ornamen bergaya Victorian, yang saya kenal.

Dari situ saya mulai bereksperimen, membuat tiara sendiri, lalu menjualnya ke teman-teman. Ternyata disukai. Akhirnya saya teruskan, bekerja dan memproduksi sendiri. Dari situ saya sadar, saya benar-benar mencintai dunia ini. Semua ini, saya anggap sebagai anugerah dari Tuhan karena semua benar-benar saya pelajari secara otodidak.

Jadi, bisa dibilang tahun berapa awal karier profesional Anda dimulai? 

Sekitar tahun 1995–1996 saya mantapkan sebagai awal menekuni dunia aksesori secara profesional. Namun eksperimen kecilnya sudah saya mulai sejak 1993–1994.

Bagaimana respons orang pada karya Anda di masa awal? 

Luar biasa, justru diterima dengan baik. Padahal saya hanya menggunakan bahan sederhana seperti akrilik, kawat, dan lem.

Namun, hasilnya dianggap unik dan berbeda. Seiring berjalannya waktu berkembanglah visit Indonesia, dari situ, saya sering berkolaborasi dengan teman-teman desainer untuk membuatkan aksesoris sehingga mereka tidak usah membeli aksesoris dari luar negeri. Sampai akhirnya sekitar tahun 1999–2000 saya menggelar peragaan tunggal pertama. Dari situlah nama saya mulai dikenal luas di Indonesia.

Titi DJ sempat menjadi salah satu yang pertama memakai karya Anda, ya? 

Betul. Saat itu Titi DJ datang meminta dibuatkan sayap untuk konser dan video klip lagu "Sang Dewi". Dari situ semakin banyak artis yang datang, dan nama saya makin dikenal di dunia hiburan. Semua bergulir karena kerja keras, perjuangan, dan konsistensi di dunia desain aksesori. 

Kapan titik balik yang membawa karya Anda ke panggung internasional? 

Sekitar delapan atau sembilan tahun lalu. Waktu itu saya dikenalkan oleh seorang teman di Hong Kong. Dia punya teman seorang artis yang sedang menyiapkan video klip. Dari situ, karya saya mulai digunakan di Hong Kong dan China.

Karena pangsa pasarnya besar, banyak pihak dari Amerika dan Eropa yang memperhatikannya dan mencari tahu siapa desainer yang membuat karya tersebut. Ternyata itu hasil karya seorang Rinaldy. Dari situ mulailah. Semuanya terjadi begitu alami, seperti sudah diarahkan oleh Tuhan. 

Baca juga: Fajar Ramadhan, Desainer Jersey Persija dan Timnas, Luncurkan Koleksi 10 Tahun Berkarya

Kalau boleh didefinisikan, apa ciri khas gaya seorang Rinaldy Yunardi? 

Saya semakin mencintai budaya Indonesia. Jadi, selalu ingin ada unsur budaya dalam setiap karya. Misalnya, teknik dodokan atau filigree, itu khas Indonesia sekali, dan saya ingin mempertahankannya.

Banyak yang bilang saya “gila,” karena detailnya, karena perfeksionis, karena glamornya. Namun bagi saya, karya yang indah itu harus hidup. Tanpa kristal pun, tetap harus terlihat mewah dan elegan.

Selama perjalanan panjang ini, apa tantangan terbesar yang pernah Anda hadapi? 

Banyak sekali. Mulai dari situasi politik, pandemi, sampai soal kepercayaan pasar. Tapi yang terpenting adalah konsistensi dan kepercayaan dari klien.

Saya bekerja dengan hati, bukan pabrik. Setiap karya dibuat dengan tangan, dengan tenaga dan perasaan. Setiap detail punya makna. Karena itu, setiap tantangan justru jadi pelajaran. Saya tidak pernah menyerah. Justru semakin penasaran untuk terus berkembang.

Apa yang biasanya membuat klien, termasuk artis internasional, tertarik dengan karya Anda? 

Banyak yang bilang, “Aksesori kamu hidup.” Mereka bilang ketika memakai karya saya, mereka merasa bahagia, merasa cantik, dan merasa cocok dengan jiwanya. Karena saya dan tim memang membuatnya dengan hati. Jadi karya itu bisa bicara sendiri. 

Dari semua karya yang sudah dibuat, adakah yang paling berkesan? 

Sulit memilih, karena bagi saya semua karya itu seperti anak-anak sendiri. Masing-masing punya cerita dan tantangan. Saya tidak pernah memberi nama, hanya kode, karena saya ingin semuanya setara.

Kadang saat melihat karya lama, saya sendiri heran, “Kok dulu bisa bikin seperti ini, ya?” Tapi justru dari situ saya belajar untuk terus berkembang dan membuat karya yang lebih baik lagi.

Tahun depan Anda genap tiga dekade berkarya. Apa mimpi atau proyek berikutnya? 

Saya tidak punya mimpi yang terlalu besar, karena saya lebih ingin fokus berkarya dan menikmati proses. Namun saya punya harapan besar semoga Indonesia punya museum mode, bukan hanya untuk saya, tapi untuk menyimpan karya para desainer hebat negeri ini. Banyak sekali karya indah yang layak diabadikan.

Terakhir, apa pesan Anda untuk para desainer muda Indonesia? 

Yang paling penting adalah jujur pada diri sendiri. Kenali diri, pahami kemampuan, dan cintai bidang yang dipilih. Jangan ikut-ikutan tren, dan jangan menjadikan desain sebagai permainan. Kalau kamu benar-benar tulus dan konsisten, hasilnya akan berbicara sendiri. 

Baca juga: 4 Desainer Indonesia Raih Beasiswa di Arsutoria School Milan, Angkat Sentra Kerajinan Kulit Garut

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Kisah TikTokers Ello MG Sulap Kuliner Gerobakan Jadi Restoran Kekinian dengan Menu Oseng Endok

BERIKUTNYA

Tingkatkan Kolaborasi, The Commons 3.0: The Circle Ajak Para Pemilik Merek Bertukar Pikiran

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga