4 Desainer Indonesia Raih Beasiswa di Arsutoria School Milan, Angkat Sentra Kerajinan Kulit Garut
30 August 2025 |
17:00 WIB
Empat desainer muda Indonesia resmi diberangkatkan ke Arsutoria School, Milan, salah satu pusat pendidikan desain sepatu dan tas terkemuka dunia. Program beasiswa ini tidak hanya membuka peluang pengembangan kapasitas kreatif bagi talenta muda Tanah Air, tetapi juga menjadi jembatan diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional.
Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi Kedutaan Besar Italia, Italian Trade Agency (ITA), Indonesia Fashion Week (IFW), Koperasi Artisan Kulit Indonesia, dan Spinindo atau Piazza Firenze Garut. Melalui program ini, desainer muda Indonesia diharapkan dapat memperkaya keterampilan desain sekaligus membawa identitas budaya Nusantara untuk diperkenalkan dan dihargai di ranah global.
Baca juga: 5 Strategi Sukses Daftar Beasiswa, Perhatikan Riset hingga Wawancara
Empat penerima beasiswa yang terpilih dalam program ini adalah Hadisti Mardhiya (LaSalle College Jakarta, BA Fashion Design), Mujib Titian (Prabu Shoes, Footwear Design & Development), Mohammad Jordy Mozza Servia (Graphic Designer, IFW & Piazza Firenze Garut), dan Shafwa Kamilia Zahira Azzahra (Fashion Designer, Piazza Firenze Garut).
Keempat desainer ini akan menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan di Arsutoria School. Program ini mencakup berbagai materi, mulai dari desain, pembuatan pola, pemilihan material, hingga pembuatan prototipe yang sesuai dengan standar internasional.
Presiden IFW sekaligus Ketua Koperasi Artisan Kulit Indonesia, Poppy Dharsono, menyoroti pentingnya pendidikan ini untuk mengubah potensi Garut menjadi kekuatan global.
“Garut punya potensi luar biasa, tapi produk yang dihasilkan dari tahun ke tahun itu-itu saja. Kurangnya panduan membuat para pengrajin sulit berkembang. Dengan pengalaman saya 45 tahun di industri dan jaringan yang kuat di Italia, saya ingin menghadirkan sentuhan baru agar produk Garut bisa naik kelas," ujarnya dalam keterangan resminya.
Melalui Piazza Firenze, Poppy berharap ada resonansi dari rekan-rekan di Italia bahwa pihaknya serius menciptakan produk Garut dengan sentuhan global. Menurutnya, hal ini bukan hanya soal industri, tetapi juga bagian dari globalisasi budaya, di mana Asia Pasifik akan menjadi pusat pertumbuhan.
Adapun Piazza Firenze adalah sentra kerajinan kulit di Garut, Jawa Barat, dengan misi mengembangkan industri kulit lokal. Tempat ini menjadi pusat branding, pelatihan, dan kolaborasi bagi pengrajin untuk meningkatkan kualitas produk agar berdaya saing global.
Direktur Utama Piazza Firenze Garut, Anto Sudaryanto, menegaskan bahwa keikutsertaan talenta muda ini di Milan merupakan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan struktural industri kulit Garut.
“Kami butuh desainer yang bisa menjembatani pekerja kulit dengan pelaku usaha, sekaligus menghadirkan tren dunia dan menerjemahkannya ke dalam karya nyata. Dengan begitu, artisan kulit Garut bisa berkembang menjadi artisan sejati bukan sekadar pengrajin teknis, tetapi kreator yang mampu menempatkan produk Garut di peta fashion global,” terangnya.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, menegaskan bahwa pendidikan di luar negeri harus dimaknai sebagai investasi bagi bangsa.
“Saya menyampaikan rasa bangga kepada para penerima beasiswa Arsutoria School Milan. Kesempatan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah dan investasi untuk masa depan bangsa," katanya.
Lebih lanjut, dia menitipkan tiga pesan. Pertama agar para penerima beasiswa berani berinovasi dengan menguasai ilmu global sekaligus mengangkat kearifan lokal, menjadi mata dan telinga bangsa untuk menangkap tren serta peluang, dan membangun jejaring strategis yang dapat membuka jalan bagi desainer Indonesia lainnya.
"Pergilah dengan membawa nama Indonesia ke dunia, dan kembalilah sebagai kebanggaan negeri,” ujar Budi.
Dari sisi diplomasi budaya, Duta Besar Italia untuk Indonesia, Roberto Colamine, menekankan peran pendidikan sebagai bentuk pertukaran budaya. Program ini bertujuan membantu desainer muda Indonesia mengembangkan bakat mereka dengan membawa inspirasi serta tradisi lokal ke Italia, lalu mengolahnya menjadi produk industri kreatif.
"Kami bisa berbagi metode, agar ide dan inspirasi para desainer muda dapat diwujudkan menjadi produk nyata yang siap masuk ke industri global,” ungkapnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi Kedutaan Besar Italia, Italian Trade Agency (ITA), Indonesia Fashion Week (IFW), Koperasi Artisan Kulit Indonesia, dan Spinindo atau Piazza Firenze Garut. Melalui program ini, desainer muda Indonesia diharapkan dapat memperkaya keterampilan desain sekaligus membawa identitas budaya Nusantara untuk diperkenalkan dan dihargai di ranah global.
Baca juga: 5 Strategi Sukses Daftar Beasiswa, Perhatikan Riset hingga Wawancara
Empat penerima beasiswa yang terpilih dalam program ini adalah Hadisti Mardhiya (LaSalle College Jakarta, BA Fashion Design), Mujib Titian (Prabu Shoes, Footwear Design & Development), Mohammad Jordy Mozza Servia (Graphic Designer, IFW & Piazza Firenze Garut), dan Shafwa Kamilia Zahira Azzahra (Fashion Designer, Piazza Firenze Garut).
Keempat desainer ini akan menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan di Arsutoria School. Program ini mencakup berbagai materi, mulai dari desain, pembuatan pola, pemilihan material, hingga pembuatan prototipe yang sesuai dengan standar internasional.
Presiden IFW sekaligus Ketua Koperasi Artisan Kulit Indonesia, Poppy Dharsono, menyoroti pentingnya pendidikan ini untuk mengubah potensi Garut menjadi kekuatan global.
“Garut punya potensi luar biasa, tapi produk yang dihasilkan dari tahun ke tahun itu-itu saja. Kurangnya panduan membuat para pengrajin sulit berkembang. Dengan pengalaman saya 45 tahun di industri dan jaringan yang kuat di Italia, saya ingin menghadirkan sentuhan baru agar produk Garut bisa naik kelas," ujarnya dalam keterangan resminya.
Melalui Piazza Firenze, Poppy berharap ada resonansi dari rekan-rekan di Italia bahwa pihaknya serius menciptakan produk Garut dengan sentuhan global. Menurutnya, hal ini bukan hanya soal industri, tetapi juga bagian dari globalisasi budaya, di mana Asia Pasifik akan menjadi pusat pertumbuhan.
Adapun Piazza Firenze adalah sentra kerajinan kulit di Garut, Jawa Barat, dengan misi mengembangkan industri kulit lokal. Tempat ini menjadi pusat branding, pelatihan, dan kolaborasi bagi pengrajin untuk meningkatkan kualitas produk agar berdaya saing global.
Direktur Utama Piazza Firenze Garut, Anto Sudaryanto, menegaskan bahwa keikutsertaan talenta muda ini di Milan merupakan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan struktural industri kulit Garut.
“Kami butuh desainer yang bisa menjembatani pekerja kulit dengan pelaku usaha, sekaligus menghadirkan tren dunia dan menerjemahkannya ke dalam karya nyata. Dengan begitu, artisan kulit Garut bisa berkembang menjadi artisan sejati bukan sekadar pengrajin teknis, tetapi kreator yang mampu menempatkan produk Garut di peta fashion global,” terangnya.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, menegaskan bahwa pendidikan di luar negeri harus dimaknai sebagai investasi bagi bangsa.
“Saya menyampaikan rasa bangga kepada para penerima beasiswa Arsutoria School Milan. Kesempatan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah dan investasi untuk masa depan bangsa," katanya.
Lebih lanjut, dia menitipkan tiga pesan. Pertama agar para penerima beasiswa berani berinovasi dengan menguasai ilmu global sekaligus mengangkat kearifan lokal, menjadi mata dan telinga bangsa untuk menangkap tren serta peluang, dan membangun jejaring strategis yang dapat membuka jalan bagi desainer Indonesia lainnya.
"Pergilah dengan membawa nama Indonesia ke dunia, dan kembalilah sebagai kebanggaan negeri,” ujar Budi.
Dari sisi diplomasi budaya, Duta Besar Italia untuk Indonesia, Roberto Colamine, menekankan peran pendidikan sebagai bentuk pertukaran budaya. Program ini bertujuan membantu desainer muda Indonesia mengembangkan bakat mereka dengan membawa inspirasi serta tradisi lokal ke Italia, lalu mengolahnya menjadi produk industri kreatif.
"Kami bisa berbagi metode, agar ide dan inspirasi para desainer muda dapat diwujudkan menjadi produk nyata yang siap masuk ke industri global,” ungkapnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.