Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha (kedua kiri) bersama Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia Maya Rizano (kanan), Finance and Corporate Services Director, UOB Indonesia Teh Han Yi (kiri) dan Pemenang UOB POY 2025 Eddy Susanto, saat pembukaan seremoni UOB Painting Of The Year 2025 di Jakarta, Rabu (14/10/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Perupa Eddy Susanto Raih Penghargaan UOB Painting of the Year Indonesia 2025

15 October 2025   |   19:55 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Kompetisi lukis UOB Indonesia kembali memberikan penghargaan dalam ajang UOB Painting of the Year (POY) Indonesia 2025. Memasuki tahun ke-15 penyelenggaraan, penghargaan utama tahun ini diberikan kepada Eddy Susanto atas karyanya berjudul Kuasa dalam Setara, pada Rabu (15/10/2025).

Karya perupa asal Yogyakarta itu berhasil mengesankan para juri yang terdiri atas pekerja kreatif dan kurator profesional Indonesia, di antaranya Alia Swastika, Agung Hujatnika, serta Venus Lau, Direktur Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN).

Baca juga: Antara Mikroba dan Ledakan: Refleksi Manusia & Alam di ICAD 15

Ketua dewan juri UOB Painting of the Year 2025, Agung Hujatnika, mengatakan karya Eddy menghadirkan kedalaman konsep dan ketepatan teknis yang kuat. Sang perupa juga dinilai berhasil menunjukkan keterampilan matang dalam teknik pelapisan, kolase, dan gambar detail, serta mengintegrasikan aksara Jawa yang memunculkan refleksi kosmologis.

Terinspirasi oleh ukiran vanitas karya Willem Isaacsz van Swanenburg (1608) dan teks filsafat Jawa Serat Sastrajendra Hayuningrat, karya seni ini, ujar Agung, memadukan alegori visual Eropa dengan kosmologi Jawa untuk menelaah bagaimana kekuasaan, kesetaraan, dan identitas saling berkelindan melalui lensa budaya dan sejarah.

“Karya ini mencerminkan kematangan dan pemikiran mendalam sang perupa terhadap sejarah dunia, sekaligus kedekatannya dengan budaya lokal Indonesia melalui penggunaan kulit lembu yang secara tradisional menjadi materi utama seni wayang kulit,” kata Agung.

Selaras dengan hal itu, Eddy menjelaskan bahwa Kuasa dalam Setara lahir dari refleksinya terhadap relasi antara kuasa dan cara manusia memahami dirinya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Sejarah, ujar Eddy, juga menunjukkan bahwa relasi tersebut tidak pernah lepas dari campur tangan kekuasaan.

Dengan meleburkan tradisi vanitas, yang merefleksikan kerapuhan hidup, dengan filosofi Jawa, karya ini mengajak masyarakat memaknai bagaimana konsep kekuasaan dan kesetaraan terus didefinisikan ulang dalam kesadaran budaya. Ia membentuk dialog berkelanjutan yang melampaui perbedaan budaya dan konteks filosofi.

“Saya mengajak penonton untuk melihat kembali bagaimana kuasa membentuk pemahaman tentang peran manusia, sekaligus menyadari bahwa konsep setara tidak pernah hadir dalam ruang hampa, melainkan selalu dinegosiasikan dalam pusaran sejarah, budaya, dan kosmologi,” ujar Eddy.
 

Pemenang UOB POY 2025 Eddy Susanto bersama karyanya bertajuk Kuasa dalam Setara

Pemenang UOB POY 2025 Eddy Susanto berpose bersama karyanya bertajuk Kuasa dalam Setara di ASTHA Distrik 8, Jakarta Rabu (15/10/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Sementara itu, President Director UOB Indonesia, Hendra Gunawan, mengatakan ajang UOB Painting of the Year memang dirancang untuk menyediakan wadah bagi para perupa menunjukkan kreativitas mereka. Melalui ajang ini, pihaknya berharap dapat mengundang para seniman untuk berdialog secara bermakna dan merayakan ekspresi budaya.

Kuasa dalam Setara merefleksikan kualitas dan kedalaman karya yang lahir dari kompetisi ini, serta menunjukkan bagaimana seni dapat menantang perspektif, menghubungkan tradisi, dan memperkaya pemahaman kita tentang masyarakat,” ujarnya.

Giring Ganesha Djumaryo, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia mengatakan, Kompetisi UOB POY telah menunjukkan kontribusi konsisten terhadap kemajuan seni di Indonesia yang melampaui batasan geografis. Sebagai platform bagi perupa baru, ajang ini, paparnya, turut memperkuat ekosistem seni dan mendorong apresiasi masyarakat terhadap seni.

"Saya mengucapkan selamat kepada para pemenang dan finalis UOB POY yang terus menampilkan kekayaan warisan budaya Indonesia kepada dunia. Kami berharap karya-karya yang dihasilkan dapat membangkitkan semangat kolektif untuk diapresiasi di tingkat regional dan global," katanya.

Sebagai pemenang utama kompetisi UOB POY (Indonesia) ke-15, Eddy Susanto berhak menerima hadiah uang tunai sebesar Rp250 juta. Karya seninya akan bersaing dengan karya para pemenang dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam dalam UOB Southeast Asian POY, yang akan diumumkan pada 12 November 2025 di Singapura.

Untuk kategori UOB Most Promising Artist of the Year, penghargaan diraih oleh Muhammad Shodik lewat karya bertajuk i am here. Perupa berusia 24 tahun asal Probolinggo, Jawa Timur, itu menciptakan karya yang terinspirasi dari hubungan rapuh antara dirinya dan sang ayah yang tidak terdokumentasi.

Dengan memanfaatkan foto, pesan, dan arsip-arsip yang disusun di balik bingkai kanvas, sang seniman mencoba mengingat kembali kenangan, ketidakhadiran, serta koneksi lintas batas. Tulisan berulang i am here dan sapuan lembutnya seolah membangkitkan ruang liminal antara kepergian dan kepulangan.

UOB Indonesia menampilkan 48 karya finalis kompetisi 15th UOB POY (Indonesia), termasuk delapan karya pemenang, di Melting Pot, ASHTA District 8, Jakarta (lantai GF). Bermitra dengan Art Jakarta, pameran ini dapat dikunjungi pada 15–30 Oktober 2025, dan terbuka untuk umum pukul 10.00–22.00 WIB.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Ketika Hidup Diuji oleh Uang, Potret Dilema Moral dalam Trailer Film Dopamin

BERIKUTNYA

BMKG Ungkap Faktor Suhu Panas di Indonesia, Prediksi Berlanjut hingga November

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga