Antara Mikroba dan Ledakan: Refleksi Manusia & Alam di ICAD 15
14 October 2025 |
09:00 WIB
Empat sketsel kayu tampak berpendar lembut di balik lapisan akrilik transparan. Warna merah, hijau, biru, kuning, dan abu-abu menciptakan suasana tenang sekaligus misterius. Cahaya itu berasal dari cawan petri berisi agar-agar dan mikroba yang membentuk pola menyerupai awan dan lumut.
Namun, sumber cahaya tersebut bukanlah lampu, melainkan kehidupan mikroba dalam berbagai tahap pertumbuhan. Dia terus berubah, menampilkan pergeseran bentuk dari lanskap alami menuju struktur urban, yang merefleksikan dunia yang semakin menjauh dari alam.
Baca juga: Resmi Dibuka, ICAD 2025 Hadirkan Dialog Seni & Alam dalam Tema Earth Society
Karya ini merupakan instalasi dari MOTE, kolektif asal Bandung yang menggabungkan praktik laboratorium dengan eksplorasi visual. Mereka menyebut pendekatan ini sebagai petri dish art, yakni seni berbasis mikroorganisme yang menjadikan kehidupan mikroskopis sebagai medium sekaligus subjek.
Setiap warna yang tampak bukan berasal dari pigmen sintetis, tetapi muncul secara alami dari metabolisme mikroba yang bereaksi terhadap cahaya dan suhu. Dalam ruang temaram, koloni ini memancarkan pendar halus, seolah makhluk hidup bercahaya di dalam ruang seni.
Berjudul Seeing Co-Existence, instalasi ini menjadi salah satu karya paling memikat di Indonesia Contemporary Art & Design (ICAD) 15 yang berlangsung hingga 10 November 2025. MOTE berhasil meneroka tema Earth Society melalui eksperimen yang mempertemukan sains, seni, dan alam dalam satu ekosistem visual yang saling bergantung.
“Lewat karya ini kita ingin melihat kehidupan di sekeliling, khususnya di level mikroskopis. Karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, makanya kami bikin eksperimen di sini,” kata Rifki Adriarshad, perwakilan MOTE.
Menurut Rifki, karya ini mengajak pengunjung merenungkan hubungan manusia dengan alam dari sudut pandang paling dasar. Penggunaan sketsel menjadi metafora tentang batas-batas yang memisahkan manusia dari lingkungannya, padahal sesungguhnya semua hidup dalam satu ruang bernama alam semesta.
“Dari awal kami memang mendesain sketsel sebagai pembatas. Namun dari situ kita bisa melihat bahwa batasan itu bukan sekadar pemisah, melainkan juga jembatan hubungan antar-kehidupan,” imbuhnya.
Di sudut lain, seniman Awan Simatupang juga berpartisipasi dalam ICAD 2025 lewat karya Entah Kapan (2025), yang memanfaatkan film seluloid 35 mm dalam bentuk kolase visual terinspirasi dari ledakan bom atom di Hiroshima.
Karya ini terdiri dari lima panel besar yang disusun menyerupai kolase. Sebelum membuat versi final, Awan lebih dulu menciptakan studi kecil untuk menyesuaikan proporsi. Setiap panel terdiri atas lapisan film seluloid, akrilik tebal, dan lembar bening yang dipadukan dengan pencahayaan menyerupai neon box.
“Saya punya tiga karung film seluloid yang mau dibuang oleh teman saya. Daripada dibuang, saya simpan. Karya ini saya buat sekitar tiga bulan,” katanya.
Lewat karya tersebut, Awan tidak sekadar mengulang narasi sejarah. Dia menyoroti kekhawatiran universal terhadap potensi kehancuran masa kini, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga ancaman perang global.
Jika MOTE menyoroti kehidupan mikro yang tumbuh, maka Awan mengingatkan pada sisi gelap peradaban. Di balik kemajuan manusia, selalu ada potensi kehancuran yang membayangi. Keduanya menjadi dua kutub refleksi yang sama-sama menyoal relasi manusia dengan alam, antara mencipta dan merusak, antara kehidupan dan kebinasaan.
Sejak dimulai pada 2009, ICAD (Indonesia Contemporary Art & Design) menjadi ajang yang menjembatani berbagai disiplin, mulai dari fesyen, film, perhotelan, teknologi, hingga kuliner. Tujuannya sederhana, yaitu membawa seni dan desain lebih dekat ke masyarakat melalui pengalaman kontekstual dan interaktif.
Festival Director ICAD 15, Edwin Nazir, mengatakan tema Earth Society dipilih untuk menggali hubungan seni dan desain dengan lingkungan sosial serta komunitas. “Tahun ini banyak karya yang merespons isu sosial dan ekologi melalui pendekatan artistik. Salah satunya seniman Thailand Wishulada Panthanuvong, yang menggunakan kain buangan untuk menciptakan karya fesyen berkelanjutan,” ujarnya.
Tidak hanya lewat eksperimen sains seperti MOTE, refleksi tentang alam juga hadir melalui pendekatan personal dari Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia menafsirkan tema Earth Society lewat lukisan-lukisan panorama alam yang merekam keindahan sekaligus kerentanan lingkungan.
Salah satunya karya berjudul Stop Forest Fire (91,4 x 60,9 cm, 2025), lukisan akrilik di atas kanvas yang menampilkan lanskap hutan terbakar dengan warna merah kekuningan. Tema serupa muncul dalam Small Forest in Cisarua (2025), yang memperlihatkan keseimbangan antara kehijauan dan ancaman kehancuran.
Kurator Prananda L. Malasan menambahkan, tahun ini ICAD menghadirkan lebih banyak program interaktif agar pengunjung tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari pengalaman pameran. “Kami ingin audiens bisa menikmati dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan di ICAD,” tuturnya.
Baca juga: Daftar Seni Instalasi di ICAD 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, sumber cahaya tersebut bukanlah lampu, melainkan kehidupan mikroba dalam berbagai tahap pertumbuhan. Dia terus berubah, menampilkan pergeseran bentuk dari lanskap alami menuju struktur urban, yang merefleksikan dunia yang semakin menjauh dari alam.
Baca juga: Resmi Dibuka, ICAD 2025 Hadirkan Dialog Seni & Alam dalam Tema Earth Society
Karya ini merupakan instalasi dari MOTE, kolektif asal Bandung yang menggabungkan praktik laboratorium dengan eksplorasi visual. Mereka menyebut pendekatan ini sebagai petri dish art, yakni seni berbasis mikroorganisme yang menjadikan kehidupan mikroskopis sebagai medium sekaligus subjek.
Setiap warna yang tampak bukan berasal dari pigmen sintetis, tetapi muncul secara alami dari metabolisme mikroba yang bereaksi terhadap cahaya dan suhu. Dalam ruang temaram, koloni ini memancarkan pendar halus, seolah makhluk hidup bercahaya di dalam ruang seni.

Instalasi berjudul Seeing Co-Existence karya kolektf MOTE, dalam ajang ICAD 2025, di hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Berjudul Seeing Co-Existence, instalasi ini menjadi salah satu karya paling memikat di Indonesia Contemporary Art & Design (ICAD) 15 yang berlangsung hingga 10 November 2025. MOTE berhasil meneroka tema Earth Society melalui eksperimen yang mempertemukan sains, seni, dan alam dalam satu ekosistem visual yang saling bergantung.
“Lewat karya ini kita ingin melihat kehidupan di sekeliling, khususnya di level mikroskopis. Karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, makanya kami bikin eksperimen di sini,” kata Rifki Adriarshad, perwakilan MOTE.
Menurut Rifki, karya ini mengajak pengunjung merenungkan hubungan manusia dengan alam dari sudut pandang paling dasar. Penggunaan sketsel menjadi metafora tentang batas-batas yang memisahkan manusia dari lingkungannya, padahal sesungguhnya semua hidup dalam satu ruang bernama alam semesta.
“Dari awal kami memang mendesain sketsel sebagai pembatas. Namun dari situ kita bisa melihat bahwa batasan itu bukan sekadar pemisah, melainkan juga jembatan hubungan antar-kehidupan,” imbuhnya.
Di sudut lain, seniman Awan Simatupang juga berpartisipasi dalam ICAD 2025 lewat karya Entah Kapan (2025), yang memanfaatkan film seluloid 35 mm dalam bentuk kolase visual terinspirasi dari ledakan bom atom di Hiroshima.
Karya ini terdiri dari lima panel besar yang disusun menyerupai kolase. Sebelum membuat versi final, Awan lebih dulu menciptakan studi kecil untuk menyesuaikan proporsi. Setiap panel terdiri atas lapisan film seluloid, akrilik tebal, dan lembar bening yang dipadukan dengan pencahayaan menyerupai neon box.
“Saya punya tiga karung film seluloid yang mau dibuang oleh teman saya. Daripada dibuang, saya simpan. Karya ini saya buat sekitar tiga bulan,” katanya.
Lewat karya tersebut, Awan tidak sekadar mengulang narasi sejarah. Dia menyoroti kekhawatiran universal terhadap potensi kehancuran masa kini, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga ancaman perang global.
Jika MOTE menyoroti kehidupan mikro yang tumbuh, maka Awan mengingatkan pada sisi gelap peradaban. Di balik kemajuan manusia, selalu ada potensi kehancuran yang membayangi. Keduanya menjadi dua kutub refleksi yang sama-sama menyoal relasi manusia dengan alam, antara mencipta dan merusak, antara kehidupan dan kebinasaan.

Karya Awan Simatupang berjudul Entah Kapan, dalam ajang ICAD 2025, di hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Festival Director ICAD 15, Edwin Nazir, mengatakan tema Earth Society dipilih untuk menggali hubungan seni dan desain dengan lingkungan sosial serta komunitas. “Tahun ini banyak karya yang merespons isu sosial dan ekologi melalui pendekatan artistik. Salah satunya seniman Thailand Wishulada Panthanuvong, yang menggunakan kain buangan untuk menciptakan karya fesyen berkelanjutan,” ujarnya.
Tidak hanya lewat eksperimen sains seperti MOTE, refleksi tentang alam juga hadir melalui pendekatan personal dari Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia menafsirkan tema Earth Society lewat lukisan-lukisan panorama alam yang merekam keindahan sekaligus kerentanan lingkungan.
Salah satunya karya berjudul Stop Forest Fire (91,4 x 60,9 cm, 2025), lukisan akrilik di atas kanvas yang menampilkan lanskap hutan terbakar dengan warna merah kekuningan. Tema serupa muncul dalam Small Forest in Cisarua (2025), yang memperlihatkan keseimbangan antara kehijauan dan ancaman kehancuran.
Kurator Prananda L. Malasan menambahkan, tahun ini ICAD menghadirkan lebih banyak program interaktif agar pengunjung tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari pengalaman pameran. “Kami ingin audiens bisa menikmati dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan di ICAD,” tuturnya.
Baca juga: Daftar Seni Instalasi di ICAD 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.