PINTU Incubator Bawa Wastra Nusantara ke Premiere Classe Paris
15 October 2025 |
18:00 WIB
Lakon Indonesia melalui PINTU Incubator kembali membawa wastra Nusantara ke panggung mode global lewat ajang Premiere Classe Paris, salah satu pameran mode paling bergengsi di dunia. Partisipasi ini tidak sekadar menjadi ajang promosi, tetapi juga wujud nyata dari upaya memperkenalkan keindahan dan keunikan tekstil tradisional Indonesia kepada pasar internasional.
Langkah ini menandai babak penting dalam memperkuat dialog budaya antara Indonesia dan Prancis, sekaligus menunjukkan bagaimana warisan wastra dapat bertransformasi dan berevolusi di tengah dinamika mode kontemporer global tanpa kehilangan identitas aslinya.
Adapun PINTU Incubator merupakan hasil kolaborasi antara Lakon Indonesia, JF3 Fashion Festival, serta Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut Français d'Indonésie (IFI). Sejak berdiri, lembaga ini berfokus pada pengembangan desainer muda Indonesia agar mampu menembus pasar global melalui pendampingan, akses industri, serta eksposur internasional.
Baca juga: Koleksi Modest Fashion di IN2MOTIONFEST 2025, KHANAAN sampai Batik Widayati
“PINTU Incubator lahir dari keyakinan bahwa warisan budaya Indonesia tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga diberi ruang untuk bertransformasi dan bersaing di tingkat internasional,” ujar Thresia Mareta, Founder Lakon Indonesia sekaligus Co-initiator PINTU Incubator.
Pada edisi kali ini, mereka menampilkan hasil Residency Program, sebuah program pertukaran kreatif yang mempertemukan desainer muda Prancis dengan perajin lokal Indonesia. Kolaborasi ini menghasilkan koleksi kapsul yang tidak hanya menonjolkan nilai artistik, tetapi juga siap secara komersial untuk pasar internasional.
Desainer Priscille Berthaud, lulusan École Duperré Paris, bekerja sama dengan penenun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menciptakan busana dengan struktur tenun tradisional yang diterjemahkan ke dalam siluet elegan bernuansa arsitektural.
Sementara itu, Kozue Sullerot dari Enamoma (École Nationale de Mode et Matière – PSL Paris) berkolaborasi dengan pembatik Tegal, Jawa Tengah, melahirkan motif dan teknik baru yang memberikan semangat segar pada batik klasik.
Selain koleksi Residency, dua brand fesyen lokal juga turut tampil di Paris, yakni Denim It Up dan Lil Public. Kedua label tersebut merupakan hasil pengembangan intensif selama tujuh bulan dalam program PINTU, meliputi mentoring kreatif, pendampingan bisnis, dan persiapan koleksi agar mampu bersaing di pasar internasional.
Dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI serta Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta turut memperkuat misi ini, sekaligus menegaskan komitmen untuk membawa brand Indonesia yang menjanjikan ke kancah global.
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, PINTU Incubator juga menghadirkan sejumlah mentor dari industri mode internasional. Salah satunya adalah Alain Soreil, Direktur École Duperré Paris, yang baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan mereka untuk memperkuat kerja sama pendidikan dan pertukaran desainer.
“Kolaborasi ini memungkinkan desainer Indonesia mengakses perspektif internasional, sementara kami di Prancis juga belajar dari kekayaan tradisi tekstil Indonesia. Ini adalah pertukaran yang saling memperkaya,” ujar Soreil.
Dengan demikian, partisipasi di Premiere Classe Paris tidak hanya menegaskan posisi mode Indonesia di kancah dunia, tetapi juga memperkuat hubungan budaya dan ekonomi antara Indonesia dan Prancis. Melalui PINTU Incubator, Lakon Indonesia membuktikan bahwa mode menjadi bahasa universal yang menjembatani dua budaya sekaligus membuka peluang baru bagi generasi desainer berikutnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Langkah ini menandai babak penting dalam memperkuat dialog budaya antara Indonesia dan Prancis, sekaligus menunjukkan bagaimana warisan wastra dapat bertransformasi dan berevolusi di tengah dinamika mode kontemporer global tanpa kehilangan identitas aslinya.
Adapun PINTU Incubator merupakan hasil kolaborasi antara Lakon Indonesia, JF3 Fashion Festival, serta Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut Français d'Indonésie (IFI). Sejak berdiri, lembaga ini berfokus pada pengembangan desainer muda Indonesia agar mampu menembus pasar global melalui pendampingan, akses industri, serta eksposur internasional.
Baca juga: Koleksi Modest Fashion di IN2MOTIONFEST 2025, KHANAAN sampai Batik Widayati
“PINTU Incubator lahir dari keyakinan bahwa warisan budaya Indonesia tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga diberi ruang untuk bertransformasi dan bersaing di tingkat internasional,” ujar Thresia Mareta, Founder Lakon Indonesia sekaligus Co-initiator PINTU Incubator.
Pada edisi kali ini, mereka menampilkan hasil Residency Program, sebuah program pertukaran kreatif yang mempertemukan desainer muda Prancis dengan perajin lokal Indonesia. Kolaborasi ini menghasilkan koleksi kapsul yang tidak hanya menonjolkan nilai artistik, tetapi juga siap secara komersial untuk pasar internasional.

Koleksi busana dengan wastra nusantara di Paris (Sumber Foto: PINTU Incubator)
Desainer Priscille Berthaud, lulusan École Duperré Paris, bekerja sama dengan penenun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menciptakan busana dengan struktur tenun tradisional yang diterjemahkan ke dalam siluet elegan bernuansa arsitektural.
Sementara itu, Kozue Sullerot dari Enamoma (École Nationale de Mode et Matière – PSL Paris) berkolaborasi dengan pembatik Tegal, Jawa Tengah, melahirkan motif dan teknik baru yang memberikan semangat segar pada batik klasik.
Selain koleksi Residency, dua brand fesyen lokal juga turut tampil di Paris, yakni Denim It Up dan Lil Public. Kedua label tersebut merupakan hasil pengembangan intensif selama tujuh bulan dalam program PINTU, meliputi mentoring kreatif, pendampingan bisnis, dan persiapan koleksi agar mampu bersaing di pasar internasional.
Dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI serta Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta turut memperkuat misi ini, sekaligus menegaskan komitmen untuk membawa brand Indonesia yang menjanjikan ke kancah global.
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, PINTU Incubator juga menghadirkan sejumlah mentor dari industri mode internasional. Salah satunya adalah Alain Soreil, Direktur École Duperré Paris, yang baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan mereka untuk memperkuat kerja sama pendidikan dan pertukaran desainer.
“Kolaborasi ini memungkinkan desainer Indonesia mengakses perspektif internasional, sementara kami di Prancis juga belajar dari kekayaan tradisi tekstil Indonesia. Ini adalah pertukaran yang saling memperkaya,” ujar Soreil.
Dengan demikian, partisipasi di Premiere Classe Paris tidak hanya menegaskan posisi mode Indonesia di kancah dunia, tetapi juga memperkuat hubungan budaya dan ekonomi antara Indonesia dan Prancis. Melalui PINTU Incubator, Lakon Indonesia membuktikan bahwa mode menjadi bahasa universal yang menjembatani dua budaya sekaligus membuka peluang baru bagi generasi desainer berikutnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.