Riset Ungkap Hubungan Trauma Masa Kecil dan Perubahan Metabolisme Tubuh
15 October 2025 |
13:08 WIB
Trauma masa kecil meninggalkan jejak mendalam tidak hanya secara psikologis tetapi juga biologis. Sebuah studi baru yang dibahas dalam PsyPost mengungkap bahwa orang dewasa yang mengalami trauma semasa kecil menunjukkan pola perubahan kimia darah yang konsisten bertahun-tahun kemudian.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “tanda metabolik” yang tahan lama akibat pengalaman masa lalu. Studi ini meneliti metaboloma, yakni kumpulan molekul kecil dalam tubuh yang disebut metabolit — seperti gula, asam amino, lipid, dan senyawa lain yang dihasilkan dari proses pencernaan, pemulihan jaringan, pengaturan stres, dan fungsi tubuh lain. Metabolit memberikan gambaran tentang bagaimana tubuh bekerja pada tingkat molekuler.
Para peneliti menggunakan data dari hampir 3.000 orang dewasa yang menjadi bagian dari penelitian jangka panjang di Belanda. Partisipan memberikan sampel darah pada dua waktu: awal penelitian dan enam tahun kemudian. Analisis dilakukan terhadap lebih dari 800 metabolit dalam darah mereka.
Trauma masa kecil diukur melalui wawancara mengenai pengalaman seperti pelecehan emosional, fisik, seksual, atau pengabaian sebelum usia 16 tahun. Setiap peserta mendapat skor berdasarkan jenis trauma dan frekuensi pengalaman itu.
Baca juga: Kenali Trauma, Ciri-ciri & Langkah untuk Mengatasinya Menurut Psikiater
Hasil temuan menunjukkan 18 metabolit yang memiliki kaitan signifikan dengan pengalaman trauma masa kecil. Sembilan metabolit berada pada kadar yang lebih tinggi pada peserta dengan sejarah trauma, sementara sembilan lainnya berada di kadar yang lebih rendah.
Perubahan ini tampak lebih kuat pada mereka yang mengalami trauma dengan tingkat keparahan lebih tinggi. Hal ini menunjukkan adanya hubungan dosis-respons. Semakin banyak trauma, makin signifikan perubahan metabolik.
Beberapa metabolit yang meningkat terkait dengan pemecahan asam lemak dan asam amino tertentu seperti methylbutyrylcarnitine dan propionylcarnitine. Peningkatan kadar ini mungkin mencerminkan adanya gangguan dalam cara tubuh mengelola lemak dan protein, atau stres metabolik pada mitokondria.
Selain itu, hormon stres seperti kortisol dan kortison ditemukan berada pada kadar lebih rendah pada individu yang memiliki sejarah trauma masa kecil. Karena hormon ini berperan dalam sumbu HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal) yang mengatur respons tubuh terhadap stres, penurunan ini bisa menandakan perubahan jangka panjang di sistem pengaturan stres tubuh.
Beberapa metabolit yang terkait dengan trauma, seperti stachydrine dan 1-stearoyl-GPC, sebelumnya telah dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular atau depresi.
Namun, 6 dari 18 metabolit tersebut tidak memiliki keterkaitan yang jelas dengan depresi dalam penelitian ini, menyiratkan bahwa dampak trauma mungkin bekerja melalui jalur biologis yang tidak sepenuhnya terhubung dengan kondisi mental yang sudah dikenal.
Untuk memastikan hasilnya bukan efek dari kondisi kesehatan lain atau perilaku gaya hidup yang berbeda (seperti berat badan atau obat pengurang kolesterol), peneliti melakukan penyesuaian analisis terhadap variabel itu. Setelah disesuaikan, pola perubahan metabolit tetap muncul. Ini memperkuat kemungkinan bahwa hasil tersebut bukan hanya refleksi dari faktor medis atau gaya hidup.
Peneliti juga memeriksa data metabolik menggunakan kuesioner trauma yang berbeda empat tahun kemudian dan menggunakan kelompok terpisah (308 orang) yang memiliki hubungan darah dengan peserta utama. Hasilnya relatif konsisten, meskipun replikasi pada kelompok kedua tidak sekuat pada kelompok utama.
Penelitian ini memiliki kelebihan seperti ukuran sampel besar, penggunaan waktu pengambilan data berulang, dan replikasi menggunakan metode berbeda.
Namun terdapat pula keterbatasan. Sebagian besar peserta berasal dari keturunan utara Eropa, sehingga kesesuaian temuan bagi populasi lain bisa terbatas. Selain itu, trauma diukur sebagai skor kumulatif dari berbagai jenis, sehingga pengaruh jenis trauma tertentu tidak bisa dibedakan secara spesifik. Peneliti juga tidak mengontrol kebiasaan makan peserta, yang bisa memengaruhi kadar metabolit. Karena trauma bisa memengaruhi pola makan, efek ini mungkin turut berkontribusi.
Walau demikian, hasil penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa trauma masa kecil dapat meninggalkan jejak biologis yang bertahan lama pada metabolisme tubuh. Dampak metabolik ini bisa menjadi salah satu jembatan yang menjelaskan mengapa individu yang mengalami trauma sejak kecil memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit fisik dan mental di kemudian hari.
Ke depan, penelitian bisa berfokus pada apakah pola metabolit ini bisa digunakan untuk mendeteksi individu berisiko atau apakah intervensi seperti diet, olahraga, atau pengelolaan stres bisa mengubah jejak metabolik tersebut.
Baca juga: Mengenal Trauma Dumping, Ketika Curhat jadi Beban bagi Orang Lain
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “tanda metabolik” yang tahan lama akibat pengalaman masa lalu. Studi ini meneliti metaboloma, yakni kumpulan molekul kecil dalam tubuh yang disebut metabolit — seperti gula, asam amino, lipid, dan senyawa lain yang dihasilkan dari proses pencernaan, pemulihan jaringan, pengaturan stres, dan fungsi tubuh lain. Metabolit memberikan gambaran tentang bagaimana tubuh bekerja pada tingkat molekuler.
Para peneliti menggunakan data dari hampir 3.000 orang dewasa yang menjadi bagian dari penelitian jangka panjang di Belanda. Partisipan memberikan sampel darah pada dua waktu: awal penelitian dan enam tahun kemudian. Analisis dilakukan terhadap lebih dari 800 metabolit dalam darah mereka.
Trauma masa kecil diukur melalui wawancara mengenai pengalaman seperti pelecehan emosional, fisik, seksual, atau pengabaian sebelum usia 16 tahun. Setiap peserta mendapat skor berdasarkan jenis trauma dan frekuensi pengalaman itu.
Baca juga: Kenali Trauma, Ciri-ciri & Langkah untuk Mengatasinya Menurut Psikiater
Hasil temuan menunjukkan 18 metabolit yang memiliki kaitan signifikan dengan pengalaman trauma masa kecil. Sembilan metabolit berada pada kadar yang lebih tinggi pada peserta dengan sejarah trauma, sementara sembilan lainnya berada di kadar yang lebih rendah.
Perubahan ini tampak lebih kuat pada mereka yang mengalami trauma dengan tingkat keparahan lebih tinggi. Hal ini menunjukkan adanya hubungan dosis-respons. Semakin banyak trauma, makin signifikan perubahan metabolik.
Beberapa metabolit yang meningkat terkait dengan pemecahan asam lemak dan asam amino tertentu seperti methylbutyrylcarnitine dan propionylcarnitine. Peningkatan kadar ini mungkin mencerminkan adanya gangguan dalam cara tubuh mengelola lemak dan protein, atau stres metabolik pada mitokondria.
Selain itu, hormon stres seperti kortisol dan kortison ditemukan berada pada kadar lebih rendah pada individu yang memiliki sejarah trauma masa kecil. Karena hormon ini berperan dalam sumbu HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal) yang mengatur respons tubuh terhadap stres, penurunan ini bisa menandakan perubahan jangka panjang di sistem pengaturan stres tubuh.
Beberapa metabolit yang terkait dengan trauma, seperti stachydrine dan 1-stearoyl-GPC, sebelumnya telah dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular atau depresi.
Namun, 6 dari 18 metabolit tersebut tidak memiliki keterkaitan yang jelas dengan depresi dalam penelitian ini, menyiratkan bahwa dampak trauma mungkin bekerja melalui jalur biologis yang tidak sepenuhnya terhubung dengan kondisi mental yang sudah dikenal.
Untuk memastikan hasilnya bukan efek dari kondisi kesehatan lain atau perilaku gaya hidup yang berbeda (seperti berat badan atau obat pengurang kolesterol), peneliti melakukan penyesuaian analisis terhadap variabel itu. Setelah disesuaikan, pola perubahan metabolit tetap muncul. Ini memperkuat kemungkinan bahwa hasil tersebut bukan hanya refleksi dari faktor medis atau gaya hidup.
Peneliti juga memeriksa data metabolik menggunakan kuesioner trauma yang berbeda empat tahun kemudian dan menggunakan kelompok terpisah (308 orang) yang memiliki hubungan darah dengan peserta utama. Hasilnya relatif konsisten, meskipun replikasi pada kelompok kedua tidak sekuat pada kelompok utama.
Penelitian ini memiliki kelebihan seperti ukuran sampel besar, penggunaan waktu pengambilan data berulang, dan replikasi menggunakan metode berbeda.
Namun terdapat pula keterbatasan. Sebagian besar peserta berasal dari keturunan utara Eropa, sehingga kesesuaian temuan bagi populasi lain bisa terbatas. Selain itu, trauma diukur sebagai skor kumulatif dari berbagai jenis, sehingga pengaruh jenis trauma tertentu tidak bisa dibedakan secara spesifik. Peneliti juga tidak mengontrol kebiasaan makan peserta, yang bisa memengaruhi kadar metabolit. Karena trauma bisa memengaruhi pola makan, efek ini mungkin turut berkontribusi.
Walau demikian, hasil penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa trauma masa kecil dapat meninggalkan jejak biologis yang bertahan lama pada metabolisme tubuh. Dampak metabolik ini bisa menjadi salah satu jembatan yang menjelaskan mengapa individu yang mengalami trauma sejak kecil memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit fisik dan mental di kemudian hari.
Ke depan, penelitian bisa berfokus pada apakah pola metabolit ini bisa digunakan untuk mendeteksi individu berisiko atau apakah intervensi seperti diet, olahraga, atau pengelolaan stres bisa mengubah jejak metabolik tersebut.
Baca juga: Mengenal Trauma Dumping, Ketika Curhat jadi Beban bagi Orang Lain
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.