The Life of Violet, Karya Virginia Woolf yang Hilang Selama 80 Tahun Akhirnya Terbit
12 October 2025 |
16:30 WIB
Jauh sebelum menulis A Room of One’s Own, Virginia Woolf yang kala itu berusia 25 tahun, pernah menulis tiga kisah dongeng tentang seorang perempuan bernama Violet, sosok tinggi, sederhana, dan gemar sastra. Dalam kisah tersebut, Violet memiliki taman ajaib dan membangun sebuah pondok miliknya sendiri.
Karya awal Woolf yang bersifat eksperimental ini ditemukan kembali pada tahun 2018 dan kini untuk pertama kalinya akan diterbitkan oleh Princeton University Press dengan judul The Life of Violet. Buku tersebut disunting oleh Urmila Seshagiri, profesor di University of Tennessee, Knoxville, dan resmi dirilis pada Selasa, (7/10/2025).
Baca juga: Saat BookTok Bangkitkan Tren Membaca, Jangan Sampai Salah Pilih Buku
Seshagiri menemukan naskah ini secara tak sengaja saat meneliti untuk edisi baru memoar Woolf yang belum selesai, A Sketch of the Past. Seorang arsiparis di Longleat House, sebuah rumah bersejarah di Wiltshire, Inggris, menyebut bahwa mereka menyimpan naskah asli berjudul Friendship Gallery dengan tulisan tangan Woolf di dalamnya.
Padahal selama ini, para peneliti meyakini bahwa naskah asli karya tersebut berada di Perpustakaan Umum New York (NYPL), tempat koleksi terbesar arsip Woolf disimpan.
Selama ini, Friendship Gallery dianggap sekadar lelucon pribadi yang ditulis Woolf untuk menghibur sahabat-sahabat dekatnya, khususnya Mary Violet Dickinson. Meski tidak ada tanda bahwa Woolf bermaksud menerbitkannya, versi NYPL dari naskah itu diketik dengan tinta ungu, dijilid kulit ungu, dan berisi catatan tulisan tangan dari Woolf serta Dickinson.
Naskah ini sempat dimuat di jurnal akademik pada 1979, tetapi dianggap tidak terlalu penting sehingga tak dimasukkan ke dalam kumpulan cerita pendek Woolf.
Menurut Bryony Randall, profesor dari University of Glasgow, karya pendek Woolf memang kerap luput dari perhatian dibanding novel-novelnya. “Yang satu ini bahkan lebih diabaikan lagi,” tulisnya melalui email, seperti dikutip melalui Independent Online, “karena belum selesai dan bentuknya yang tidak jelas membuat para akademisi berhati-hati membahasnya.”
Violet Dickinson sendiri adalah perempuan bangsawan yang tak menikah, bertinggi badan sekitar 188 cm, dan memiliki kehidupan sosial serta intelektual yang aktif. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat pena Woolf dan bahkan merawat sang penulis saat mengalami gangguan mental pada 1904.
Dickinson juga mendorong karier sastra Woolf, memberinya wadah tinta besar, dan memperkenalkannya pada editor surat kabar pertamanya. Banyak yang menganggap hubungan mereka bersifat keibuan, sementara sebagian lain menilai bahwa Dickinson mungkin merupakan cinta pertama Woolf, mengingat bahasa surat-surat mereka yang sarat emosi dan keintiman.
Seshagiri menyebut kumpulan kisah ini sebagai “sesuatu yang unik” dalam karya Woolf. Gaya bahasanya sangat bergaya Victoria dengan elemen magis seperti monster dan putri terbang, sesuatu yang tak muncul dalam karya Woolf di kemudian hari.
Setelah NYPL mengirim salinan digital naskahnya ke Longleat, terungkap bahwa versi Longleat ternyata berbeda dan berisi revisi yang lebih baru. “Rasanya aku hampir pingsan karena tak sabar menunggu melihatnya,” kenang Seshagiri. Namun karena pandemi dan persoalan hak cipta internasional, ia baru bisa memeriksa langsung naskah tersebut beberapa tahun kemudian.
Saat akhirnya melihatnya, Seshagiri terkejut menemukan betapa halus dan matang prosa Woolf dalam naskah itu. Penulis tampak menaruh perhatian besar pada struktur, tata letak halaman, dan alur bahasa yang kini terasa lebih panjang, liris, serta kadang lucu. Beberapa perubahan tampak kecil — misalnya mengganti kata “shrieked” menjadi “cried” atas saran Dickinson — namun secara keseluruhan memberikan kesan lebih rapi dan kohesif.
“Seperti melihat ruangan berantakan yang tiba-tiba dibereskan, dan semua keindahan aslinya muncul ke permukaan,” kata Seshagiri.
Revisi itu memperlihatkan bagaimana proyek Woolf berkembang menjadi sesuatu dengan makna yang lebih luas: upaya untuk menceritakan kehidupan seorang perempuan dengan cara yang baru. “Itulah pertanyaan utama dalam seluruh karya Woolf — bagaimana kita menceritakan kisah hidup perempuan,” ujar Seshagiri.
“Bentuk-bentuk yang ada terlalu sempit, karena kehidupan yang diizinkan bagi perempuan juga terbatas. Jadi bagaimana kita menulis ulang aturan-aturan itu?”
Baca juga: Resensi Novel Ikhtiar yang Tak Benar-benar, Eksperimen Baru Penulis Nukila Amal
Menurut Jane Goldman, editor edisi Cambridge University Press untuk karya Woolf, penerbitan The Life of Violet sangat penting dan selama ini diabaikan karena pandangan lama yang keliru terhadap sang penulis. “Suaminya, Leonard, dan keponakannya, Quentin Bell, yang menjadi biografernya, sering menonjolkan gambaran Woolf sebagai sosok apolitis, sering sakit jiwa, dan aseksual, semua itu menyesatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Anne Fernald, profesor sastra Inggris di Fordham University, menilai bahwa kisah The Life of Violet menjadi cikal bakal gagasan-gagasan yang kemudian berkembang dalam karya besar Woolf. Dalam cerita ini, Woolf sudah menyinggung konsep “a cottage of one’s own” serta bermain dengan sejarah dan fantasi yang kelak dieksplorasi dalam novel Orlando.
Bagi Seshagiri, kisah-kisah ini bukan sekadar temuan akademis, tetapi juga sesuatu yang bisa dinikmati pembaca umum. “Aku tidak akan mengklaim bahwa ini sebanding dengan To the Lighthouse,” katanya, “tetapi seperti sepotong cokelat hitam, kecil, menggugah, menyenangkan, dan mengejutkan dengan caranya sendiri.”
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Karya awal Woolf yang bersifat eksperimental ini ditemukan kembali pada tahun 2018 dan kini untuk pertama kalinya akan diterbitkan oleh Princeton University Press dengan judul The Life of Violet. Buku tersebut disunting oleh Urmila Seshagiri, profesor di University of Tennessee, Knoxville, dan resmi dirilis pada Selasa, (7/10/2025).
Baca juga: Saat BookTok Bangkitkan Tren Membaca, Jangan Sampai Salah Pilih Buku
Seshagiri menemukan naskah ini secara tak sengaja saat meneliti untuk edisi baru memoar Woolf yang belum selesai, A Sketch of the Past. Seorang arsiparis di Longleat House, sebuah rumah bersejarah di Wiltshire, Inggris, menyebut bahwa mereka menyimpan naskah asli berjudul Friendship Gallery dengan tulisan tangan Woolf di dalamnya.
Padahal selama ini, para peneliti meyakini bahwa naskah asli karya tersebut berada di Perpustakaan Umum New York (NYPL), tempat koleksi terbesar arsip Woolf disimpan.
Selama ini, Friendship Gallery dianggap sekadar lelucon pribadi yang ditulis Woolf untuk menghibur sahabat-sahabat dekatnya, khususnya Mary Violet Dickinson. Meski tidak ada tanda bahwa Woolf bermaksud menerbitkannya, versi NYPL dari naskah itu diketik dengan tinta ungu, dijilid kulit ungu, dan berisi catatan tulisan tangan dari Woolf serta Dickinson.
Naskah ini sempat dimuat di jurnal akademik pada 1979, tetapi dianggap tidak terlalu penting sehingga tak dimasukkan ke dalam kumpulan cerita pendek Woolf.
Menurut Bryony Randall, profesor dari University of Glasgow, karya pendek Woolf memang kerap luput dari perhatian dibanding novel-novelnya. “Yang satu ini bahkan lebih diabaikan lagi,” tulisnya melalui email, seperti dikutip melalui Independent Online, “karena belum selesai dan bentuknya yang tidak jelas membuat para akademisi berhati-hati membahasnya.”
Violet Dickinson sendiri adalah perempuan bangsawan yang tak menikah, bertinggi badan sekitar 188 cm, dan memiliki kehidupan sosial serta intelektual yang aktif. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat pena Woolf dan bahkan merawat sang penulis saat mengalami gangguan mental pada 1904.
Dickinson juga mendorong karier sastra Woolf, memberinya wadah tinta besar, dan memperkenalkannya pada editor surat kabar pertamanya. Banyak yang menganggap hubungan mereka bersifat keibuan, sementara sebagian lain menilai bahwa Dickinson mungkin merupakan cinta pertama Woolf, mengingat bahasa surat-surat mereka yang sarat emosi dan keintiman.
Seshagiri menyebut kumpulan kisah ini sebagai “sesuatu yang unik” dalam karya Woolf. Gaya bahasanya sangat bergaya Victoria dengan elemen magis seperti monster dan putri terbang, sesuatu yang tak muncul dalam karya Woolf di kemudian hari.
Setelah NYPL mengirim salinan digital naskahnya ke Longleat, terungkap bahwa versi Longleat ternyata berbeda dan berisi revisi yang lebih baru. “Rasanya aku hampir pingsan karena tak sabar menunggu melihatnya,” kenang Seshagiri. Namun karena pandemi dan persoalan hak cipta internasional, ia baru bisa memeriksa langsung naskah tersebut beberapa tahun kemudian.
Saat akhirnya melihatnya, Seshagiri terkejut menemukan betapa halus dan matang prosa Woolf dalam naskah itu. Penulis tampak menaruh perhatian besar pada struktur, tata letak halaman, dan alur bahasa yang kini terasa lebih panjang, liris, serta kadang lucu. Beberapa perubahan tampak kecil — misalnya mengganti kata “shrieked” menjadi “cried” atas saran Dickinson — namun secara keseluruhan memberikan kesan lebih rapi dan kohesif.
“Seperti melihat ruangan berantakan yang tiba-tiba dibereskan, dan semua keindahan aslinya muncul ke permukaan,” kata Seshagiri.
Revisi itu memperlihatkan bagaimana proyek Woolf berkembang menjadi sesuatu dengan makna yang lebih luas: upaya untuk menceritakan kehidupan seorang perempuan dengan cara yang baru. “Itulah pertanyaan utama dalam seluruh karya Woolf — bagaimana kita menceritakan kisah hidup perempuan,” ujar Seshagiri.
“Bentuk-bentuk yang ada terlalu sempit, karena kehidupan yang diizinkan bagi perempuan juga terbatas. Jadi bagaimana kita menulis ulang aturan-aturan itu?”
Baca juga: Resensi Novel Ikhtiar yang Tak Benar-benar, Eksperimen Baru Penulis Nukila Amal
Menurut Jane Goldman, editor edisi Cambridge University Press untuk karya Woolf, penerbitan The Life of Violet sangat penting dan selama ini diabaikan karena pandangan lama yang keliru terhadap sang penulis. “Suaminya, Leonard, dan keponakannya, Quentin Bell, yang menjadi biografernya, sering menonjolkan gambaran Woolf sebagai sosok apolitis, sering sakit jiwa, dan aseksual, semua itu menyesatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Anne Fernald, profesor sastra Inggris di Fordham University, menilai bahwa kisah The Life of Violet menjadi cikal bakal gagasan-gagasan yang kemudian berkembang dalam karya besar Woolf. Dalam cerita ini, Woolf sudah menyinggung konsep “a cottage of one’s own” serta bermain dengan sejarah dan fantasi yang kelak dieksplorasi dalam novel Orlando.
Bagi Seshagiri, kisah-kisah ini bukan sekadar temuan akademis, tetapi juga sesuatu yang bisa dinikmati pembaca umum. “Aku tidak akan mengklaim bahwa ini sebanding dengan To the Lighthouse,” katanya, “tetapi seperti sepotong cokelat hitam, kecil, menggugah, menyenangkan, dan mengejutkan dengan caranya sendiri.”
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.