Founder Lentera App Annastasia Puspaningtyas. (Sumber foto: Indah Permata Hati/Hypeabis.id)

Lentera App Dorong Penulis Indonesia Kuasai Hak Cipta dan Tembus Pasar Global

12 October 2025   |   08:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah pesatnya perkembangan dunia literasi digital, profesi penulis kini tidak hanya dituntut untuk menghasilkan karya yang menarik. Kini, mereka juga harus memahami aspek hukum dan ekonomi di baliknya. Buku, naskah, maupun karya fiksi kini berpotensi menjadi fondasi bagi berbagai bentuk konten turunan film, serial, atau bahkan game.

Namun di balik peluang itu, masih banyak penulis yang belum memahami cara melindungi hak cipta dan hak ekonomi mereka sendiri.

Minimnya literasi hukum dalam industri penerbitan membuat penulis sering kali menandatangani kontrak tanpa memahami detail perjanjiannya. Banyak yang tidak tahu batas masa berlaku kontrak, klausul pembatalan, atau siapa yang memiliki hak terhadap adaptasi karya.

Baca juga: Madani Fest 2025 Refleksikan Pemikiran Cak Nur di Tengah Kegelapan Zaman

Akibatnya, tidak sedikit penulis kehilangan kendali atas karya yang mereka ciptakan sendiri. Dalam situasi ini, kesadaran untuk melek kontrak menjadi hal yang mendesak agar ekosistem literasi di Indonesia produktif dan adil.

Founder Lentera App Annastasia Puspaningtyas menilai bahwa persoalan utama dunia kepenulisan di Indonesia bukan hanya soal kualitas karya, melainkan lemahnya pemahaman hukum di kalangan penulis.

“Kontrak itu harus punya masa berlaku dan hak membatalkan perjanjian untuk kedua belah pihak,” ujarnya dalam agenda The IP Journey: From Books To Many Forms di acara Madani International Film Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Sabtu (11/10/2025). 

Dia menambahkan, penulis sebaiknya tidak serta merta menyerahkan seluruh hak cipta kepada penerbit. Sebab, karya tulis memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih luas mulai dari adaptasi film hingga produk turunan seperti merchandise.


Lentera App, Dari Platform Penulis Menuju Jembatan Global

 

Founder Lentera App Annastasia Puspaningtyas dalam agenda The IP Journey: From Books To Many Forms di acara Madani International Film Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Sabtu (11/10/2025). (Sumber gambar: Indah Permata Hati/Hypeabis.id)

Founder Lentera App Annastasia Puspaningtyas dalam agenda The IP Journey: From Books To Many Forms di acara Madani International Film Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Sabtu (11/10/2025). (Sumber gambar: Indah Permata Hati/Hypeabis.id)

Berangkat dari kegelisahan itu, Annastasia membangun Lentera App, sebuah ekosistem digital yang bukan sekadar wadah publikasi, tetapi juga berfungsi sebagai literary marketplace dan over the top (OTT) platform. Melalui Lentera, penulis bisa menerbitkan karyanya dalam bentuk digital, mengatur hak cipta, dan menjangkau pembaca lintas negara tanpa harus melalui penerbit konvensional.

“Kami ingin Lentera menjadi jembatan yang menghubungkan penulis dengan pembaca dunia, tidak lagi terbatas pada pasar lokal,” ujarnya.

Sebagai platform OTT, Lentera tidak hanya menampilkan karya seperti e-book biasa, tetapi juga mengintegrasikan fitur interaktif layaknya platform streaming. Pembaca bisa berlangganan untuk membaca karya pilihan, sementara penulis mendapatkan pembagian royalti secara langsung berdasarkan performa bacaan.

Annastasia menjelaskan bahwa model OTT memungkinkan karya lokal tampil berdampingan dengan karya internasional. Ia menambahkan bahwa hal ini membuka peluang baru bagi penulis Indonesia untuk dikenal di luar negeri tanpa kehilangan hak ekonominya.

Selain itu, Lentera App juga berupaya memperkuat posisi penulis di ranah global dengan menyediakan akses ke penerbit, studio, hingga production house internasional. Beberapa katalog karya Indonesia bahkan telah disiapkan dalam format sinopsis dan pitch deck berbahasa Inggris untuk ditawarkan ke pasar luar negeri.

“Kami sedang membangun sistem yang membuat karya penulis lokal bisa langsung dikurasi oleh pembaca global, termasuk investor konten dan produser film,” tambahnya.

Dengan mengusung konsep OTT literasi, Lentera berupaya meniru keberhasilan model bisnis seperti Netflix atau Spotify, tetapi dalam format buku dan naskah. Setiap karya yang dipublikasikan akan terekam secara digital dan memiliki digital ownership record yang memastikan hak cipta tetap berada di tangan penulis.

Annastasia menegaskan bahwa selama ini banyak penulis kehilangan kendali karena sistem distribusi yang tertutup. Ia menambahkan bahwa Lentera ingin membalik keadaan tersebut agar hak cipta dan potensi ekonomi karya dapat kembali ke tangan para kreatornya.

Meski masih terus berkembang, Lentera App diyakini bisa menjadi model baru distribusi literasi di Indonesia. Annastasia menilai, dengan pemanfaatan teknologi OTT dan sistem royalti digital, karya sastra Indonesia bisa lebih mudah menembus batas geografis dan bahasa.

Dia berharap, dalam waktu dekat, akan makin banyak penulis Indonesia yang memanfaatkan platform seperti Lentera untuk mempublikasikan karya dengan cara yang lebih aman, transparan, dan berkelanjutan.

“Utopianya, ekosistem literasi kita bisa mandiri baik dari penulisnya jadi berdaya, pembaca juga terhubung, dan hak cipta terlindungi,” jelas Annastasia.

Baca juga: Jadwal Lengkap Rangkaian Program & Pemutaran Film Madani Fest 2025

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Koleksi Modest Fashion di IN2MOTIONFEST 2025, KHANAAN sampai Batik Widayati

BERIKUTNYA

Urutan Nonton Film Tron Sebelum Menyaksikan Tron: Ares di Bioskop

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga