Cendekiawan Budhy Munawar Rachman saat memaparkan pidato kebudayaan mengenang Cak Nur, di Aula PDS HB. Jassin, Jakarta, Kamis, 10/10/25. (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Madani Fest 2025 Refleksikan Pemikiran Cak Nur di Tengah Kegelapan Zaman

11 October 2025   |   09:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Nurcholish Madjid atau Cak Nur selalu menjadi cahaya dalam perjalanan intelektual bangsa. Saat banyak pemikir bicara agama dalam ruang doktrin yang sempit, Cak Nur hadir membawa pandangan Islam yang terbuka, rasional, dan menyejukkan. Dia mengajarkan bahwa agama tak sekadar ritual, tapi menjadi sumber nilai moral dan kemanusiaan. 

Dalam suasana bangsa yang tengah limbung secara moral dan intelektual, pemikiran itu kembali disuarakan. Melalui Pidato Kebudayaan bertajuk Menemukan Kembali Cak Nur, yang menjadi bagian dari rangkaian Madani Fest “Misykat” 2025 di Aula PDS HB. Jassin, Jakarta, Budhy Munawar Rachman mengajak publik menengok ulang warisan intelektual sang guru bangsa.

“Bangsa ini sedang hidup dalam kegelapan yang aneh,” papar Budhy dalam pidatonya, Jumat (11/10/25). “Kita religius tapi kehilangan kejujuran, kita demokratis tapi miskin nalar.” Kalimat itu menjadi pembuka yang menggugah sekaligus menyentak kesadaran. 

Baca juga: Asrul Sani dan Tafsir Baru Spiritualitas Haji dalam Sinema Indonesia 1960-an 

Budhy menegaskan, krisis yang melanda bangsa hari ini bukan hanya krisis ekonomi atau politik, melainkan juga krisis moral dan intelektual. Agama yang seharusnya menjadi sumber kejujuran justru sering dijadikan alat kepentingan. Demokrasi yang semestinya menjunjung nalar publik kini dirusak oleh emosi dan kebencian.

Dalam konteks itulah, Budhy mengingatkan kembali pemikiran Cak Nur sebagai jalan keluar. Baginya, Cak Nur adalah sosok yang mampu menjadikan Islam sebagai kekuatan moral dan intelektual, bukan sekadar simbol identitas. “Cak Nur ingin menegaskan bahwa Islam bukanlah milik satu golongan politik, tetapi milik semua manusia yang mencari kebenaran,” ujarnya.

Lewat gagasan-gagasannya yang lahir sejak 1970-an, Cak Nur membuka wacana tentang pentingnya rasionalitas dalam beragama. Dia menolak pandangan yang memisahkan iman dari akal. Dalam pandangan itu, berpikir menjadi bagian dari ibadah, di mana akal adalah jalan untuk memahami kehendak Tuhan secara lebih dalam. 

Budhy mengingatkan bahwa pandangan semacam ini bukan sekadar gagasan akademik, tetapi panggilan moral. Di tengah kebekuan berpikir alias kejumudan, dan fanatisme yang mengeras, pemikiran Cak Nur justru mengajarkan keberanian untuk berpikir jernih tanpa kehilangan iman.

Dia juga menyinggung bagaimana Cak Nur menolak segala bentuk politisasi agama. “Agama, bagi Cak Nur, harus menjadi sumber nilai universal, bukan alat untuk menaklukkan orang lain,” ujar Budhy. Pernyataan itu terasa relevan di masa ketika politik identitas kembali merebak dan kebenaran sering dikaburkan oleh kepentingan.

Lebih jauh, Budhy menilai bahwa masyarakat kini tengah kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Banyak yang mengaku religius, tetapi menolak berdialog. “Padahal, berpikir dan berdialog adalah inti dari tradisi keagamaan itu sendiri,” katanya menegaskan. 
 

Budhy juga menyoroti bagaimana gagasan Cak Nur tentang masyarakat madani tetap relevan. Dia menggambarkan masyarakat madani sebagai ruang di mana kebebasan, rasionalitas, dan keadilan berjalan seiring. “Tanpa nalar publik dan kejujuran, demokrasi hanya akan menjadi formalitas,” ujarnya.

Melalui refleksinya, Budhy mengajak generasi muda untuk tidak berhenti belajar dari Cak Nur. Bagi dia, yang paling berharga dari pemikiran Cak Nur bukan hanya konsep-konsepnya, melainkan keberanian intelektualnya, keberanian untuk berpikir di luar arus dan mengutamakan kemanusiaan.

Kegelapan yang disebut Budhy bukan hanya metafora, melainkan potret sosial hari ini. Ketika agama sering dijadikan alat polarisasi, dan kebenaran dikalahkan oleh narasi populer, cahaya pemikiran Cak Nur terasa semakin diperlukan.

Pidato itu ditutup dengan nada reflektif. Budhy mengajak publik menyalakan kembali obor pemikiran Cak Nur. "Bagi Cak Nur, agama yang benar adalah agama yang bersinar, bukan yang menyilaukan. Artinya, dia memberi arah tanpa menindas, dia memandu tanpa memaksa, dan ia menyatukan tanpa menghapuskan perbedaan," katanya. 

Baca juga: Madani Fest 2025 Dimulai, Tampilkan Film-Film yang Soroti Isu Kemanusiaan Global 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Pacific Coatings Show 2025 Dorong Inovasi Cat Ramah Lingkungan dan Teknologi Berkelanjutan

BERIKUTNYA

Buttonscarves Bawa Indonesia ke Jantung Kota Mode Dunia di Paris

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga