Kritikus film Eric Sasono, Ketua Lesbumi PBNU, Muhammad Jadul Maula, Heidy Hermia Ismail (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Asrul Sani dan Tafsir Baru Spiritualitas Haji dalam Sinema Indonesia 1960-an

11 October 2025   |   07:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Film Tauhid (Panggilan Tanah Sutji) merupakan salah satu karya langka yang hampir terlupakan dalam sejarah perfilman nasional. Setelah lebih dari setengah abad tenggelam, film ini kembali menjadi bahan perbincangan di kalangan sinefil (sebutan pencinta film). 

Berbagai pemutaran khusus digelar untuk merayakan kembali film karya Asrul Sani ini, termasuk yang terjadi di Madani International Film Festival 2025. Upaya-upaya pemutaran tersebut menjadi langkah baru untuk menghidupkan kembali warisan penting dari masa awal film-film religi di Indonesia mulai terbentuk.

Tauhid yang digarap pada 1964 ini lahir di tengah berbagai dinamika sosial dan keagamaan di dalam negeri. Karya ini menjadi tonggak penting karena tercatat sebagai film pertama yang mengangkat tema ibadah haji di layar lebar. 

Lebih dari itu, film ini diproduksi oleh Lesbumi, lembaga kebudayaan di bawah Nahdlatul Ulama. Padahal, saat itu komunitas-komunitas agama di Indonesia masih cukup konservatif dan dikenal berhati-hati terhadap dunia seni peran dan perfilman. 

Baca juga: Profil Tokoh-tokoh Penting Perfilman Nasional, Asrul Sani sampai Usmar Ismail 

Namun, Tauhid seolah jadi tawaran pembacaan baru dalam memandang perkembangan sinema madani di Indonesia. Didukung oleh tokoh-tokoh penting, seperti Djamaluddin Malik dan Misbach Yusa Biran, film ini juga dibintangi sejumlah aktor ternama, yakni Ismed M. Noor, Nurbani Yusuf, Aedy Moward, dan M.E. Zainuddin. 

Kritikus film Eric Sasono menjelaskan bahwa terdapat beberapa versi mengenai asal mula project film ini. Menurut satu versi, film ini muncul dari gurauan Djamaluddin Malik yang mengatakan kepada seseorang bahwa sineas bisa naik haji tanpa mengeluarkan biaya. 

Caranya ialah dengan membuat film tentang haji. Dirinya bersama Asrul Sani kemudian menawarkan ide ini ke pemerintah dan mendapat dukungan dari Presiden Sukarno. Akan tetapi, versi lain datang dari mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri. Dia menyebutkan bahwa ide tersebut berasal darinya, lalu kemudian dia meminta Asrul Sani untuk memproduksinya. 

Namun, apa pun itu, film ini tetap menjadi satu bagian penting dalam perjalanan sinema Indonesia. Terlebih, dalam proses produksinya, juga ada banyak kisah menarik. Eric menyebut Asrul Sani sempat mengaku bahwa pada awal produksi dia belum memiliki naskah yang utuh. 

Dalam sebuah konferensi pers sebelum syuting dimulai, dia menyatakan belum tahu pasti arah cerita filmnya. Dia pun menyebut satu narasi yang aman, yakni film akan menampilkan tata cara berhaji, sesuatu yang bersifat dokumenter edukatif, jauh dari kata film drama.

Namun, hasil akhir film ini kemudian memang berubah. Alih-alih jadi film 'panduan berhaji', karya ini menawarkan sisi drama yang begitu menarik. Eric mengatakan di tengah proses produksi, Asrul memang mendapatkan ide baru yang tak terduga.

"Jadi, ketika sedang menuju Mekah, di atas kapal, Asrul itu bertemu dengan seorang dokter bernama Bambang. Dia masuk ke dalam rombongan yang berangkat haji dan bertugas jadi dokter. Menariknya, dia melakukan itu karena bayaran jadi dokter yang mendampingi orang berhaji lebih mahal," katanya.

Cerita sederhana itulah yang menginspirasi Asrul untuk menulis naskah film secara spontan selama perjalanan. Bagi Asrul, pengalaman tersebut menggugah. Di masa itu, ibadah haji merupakan sesuatu yang istimewa dan cenderung sulit dijangkau.

Seseorang yang berangkat haji bahkan biasanya akan dirayakan dan diantar satu kampung penuh. Namun, di tengah fenomena tersebut, dia justru menemukan seseorang yang berangkat haji tanpa motivasi spiritual. Paradoks inilah yang kemudian dia olah menjadi inti drama film Tauhid.

Dalam beberapa catatan, termasuk dalam buku Kenang-Kenangan Orang Bandel: Naik Haji Tahun 1964, disebutkan bahwa sebagian besar skenario Tauhid disusun di kapal. Cerita tentang dokter itu menjadi fondasi utama film, mengubahnya dari sekadar panduan ibadah menjadi kisah reflektif yang menggali hubungan antara sains, agama, dan pencarian makna hidup. 

Tokoh utamanya, dr. Halim, menjadi representasi kegelisahan manusia modern dalam menghadapi spiritualitas. Eric menyebut secara struktur, film Tauhid juga membangun perjalanan batin tokohnya dengan intensitas yang panjang. 

Dr. Halim digambarkan sebagai sosok yang tersesat, baik secara fisik maupun spiritual. Sejak di kapal, dia tampak menyendiri dan terasing, hingga akhirnya di Tanah Suci dia kembali mengalami kebingungan eksistensial. Pertemuannya dengan seorang musafir menjadi titik balik yang memunculkan refleksi mendalam tentang makna iman dan pengabdian.

"Hal menarik lain, film ini menampilkan penggambaran Islam yang modern dan rasional. Tokoh-tokoh agamanya tidak digambarkan dalam citra tradisional dengan bersarung misalnya, melainkan mengenakan jas dan peci," imbuhnya.

Aspek visual film ini pun menarik untuk dicermati. Salah satu lokasi syutingnya adalah Hotel Indonesia, gedung bertingkat pertama di Indonesia yang baru diresmikan pada 1962. Pemilihan lokasi tersebut mempertegas gagasan Asrul Sani tentang modernitas di dunia muslim.

Dengan latar modern itu, Asrul seolah ingin menunjukkan bahwa Islam dapat hadir dalam konteks modernitas tanpa kehilangan jati diri. Dengan demikian, Tauhid tidak hanya mencatat sejarah sebagai film religi pertama tentang haji di Indonesia, tetapi juga sebagai karya yang berani menempatkan spiritualitas dalam dialog dengan eksistensialisme modern. Baginya, film ini melampaui zamannya, menawarkan perenungan filosofis tentang iman, manusia, dan zaman yang terus berubah. 

Baca juga: Madani Fest 2025 Dimulai, Tampilkan Film-Film yang Soroti Isu Kemanusiaan Global 
 

Kritikus film Eric Sasono, Ketua Lesbumi PBNU, Muhammad Jadul Maula, Heidy Hermia Ismail (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Kritikus film Eric Sasono, Ketua Lesbumi PBNU, Muhammad Jadul Maula, Heidy Hermia Ismail (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Sudut Pandang Baru Berhaji

Film Tauhid mengisahkan perjalanan sekelompok jamaah haji menuju Tanah Suci. Dalam rombongan itu terdapat Mayor Udara Mursyid (Ismed M. Noor), seorang guru agama muda (Nurbani Yusuf), dan seorang pengarang (M.E. Zainuddin). 

Di kapal, mereka berkenalan dengan dr. Halim (Aedy Moward), seorang dokter kapal yang telah berulang kali bertugas mengantar jamaah haji, tetapi tidak pernah memiliki niat untuk melaksanakan ibadah itu sendiri. Berkat dorongan Mursyid dan rekan-rekannya, Halim akhirnya tergerak untuk menunaikan ibadah haji.  

Ketua Lesbumi PBNU, Muhammad Jadul Maula, menyebut bahwa film ini menawarkan perjalanan spiritual seorang individu yang perlahan menemukan kembali makna Islam secara personal dalam balutan kisah yang kreatif. Dalam perjalanan ke Mekkah, sang tokoh utama menemukan bahwa Islam bukan sekadar kumpulan aturan atau hafalan, melainkan agama yang menginspirasi penciptaan dan peradaban. 

Perjalanan tersebut menjadi momen transformasi bagi tokoh utama. Jika sebelumnya dia hanya mengenal Islam yang bersifat mengekang, Islam yang menuntut ketaatan tanpa pemahaman, maka di sepanjang perjalanan 'tugas berhaji' itu dia menyaksikan Islam yang hidup dan mencipta.

"Secara umum, perjalanan haji sering dimaknai sebagai puncak kehidupan spiritual. Dalam pandangan banyak orang, ibadah ini menjadi simbol pelepasan diri dari urusan duniawi, seolah-olah seseorang yang berhaji sedang bersiap menutup perjalanan hidupnya. Haji dianggap sebagai bentuk penyempurnaan iman setelah seseorang mencapai titik akhir dari pencariannya di dunia," katanya.

Namun, Asrul Sani dalam film ini justru menghadirkan tafsir yang berbeda. Melalui Tauhid, dia menempatkan perjalanan haji bukan sebagai akhir, melainkan sebagai awal dari perenungan baru. Perjalanan spiritual itu menjadi ruang untuk menilai ulang hubungan manusia dengan keyakinannya, sekaligus menguji sejauh mana iman mampu berdialog dengan keraguan dan pengalaman eksistensial.

Dirinya pun menilai film ini melampaui batas film religi pada zamannya. Tauhid bukan sekadar cerita tentang tata cara ibadah, melainkan refleksi filosofis mengenai keimanan, kesadaran, dan eksistensi manusia modern. 

Baginya, Asrul Sani di film ini tidak menghadirkan haji sekadar ritual keagamaan, tetapi sebagai proses pencarian diri, suatu perjalanan batin yang menegaskan bahwa spiritualitas sejati justru lahir dari dialog antara iman, nalar, dan pengalaman hidup.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Perusahaan Lebih Pilih Solusi AI, Gen Z Hadapi Krisis Lapangan Kerja

BERIKUTNYA

Scarlett Johansson Dilaporkan Terlibat di Proyek Live-Action Tangled

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga