Film (Sumber gambar: Unsplash/ Denise Jans)

Profil Tokoh-tokoh Penting Perfilman Nasional, Asrul Sani sampai Usmar Ismail

10 March 2025   |   10:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Setiap tanggal 10 Maret, insan perfilman Indonesia memperingati Hari Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI). Perayaan tahunan ini menjadi momentum penting untuk menghargai kontribusi para aktor, aktris, serta pekerja seni lainnya yang telah berdedikasi dalam mengembangkan industri perfilman.

PARFI didirikan pada 10 Maret 1956 sebagai organisasi profesi yang menaungi para pekerja seni di dunia perfilman Indonesia. Pembentukan organisasi ini bertujuan untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan para aktor serta mendorong pertumbuhan industri film nasional.

Peringatan Hari PARFI setiap 10 Maret bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi waktu untuk merenungkan perkembangan dunia perfilman Indonesia. Dalam fase awal, perjalanan industri film Indonesia tidak lepas dari peran para tokoh legendaris yang menjadi pionir dalam perkembangan sinema nasional. Siapa saja mereka? Berikut adalah ulasannya:. 

Baca juga: 12 Film Indonesia Tayang Maret 2025 di Bioskop, Didominasi Horor


1. Usmar Ismail 

Usmar Ismail dikenal sebagai perintis drama modern di Indonesia sekaligus Bapak Film Indonesia. Kariernya bermula dari dunia teater sebelum akhirnya lebih banyak berkarya di industri film. Sebagai sutradara, namanya melekat erat dalam sejarah perfilman nasional.

Salah satu momen penting dalam perjalanan sinema Indonesia terjadi pada 30 Maret 1950, ketika Usmar memulai pengambilan gambar Darah dan Doa. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.

Film tersebut meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Film Asia Pasifik tahun 1954. Film yang mencoba menggambarkan ketegangan dan ancaman serangan Belanda saat proses kepulangan pasukan ini kemudian menjadi tonggak perfilman nasional Indonesia yang sangat penting. Pada 2013, Darah dan Doa berhasil direstorasi oleh Kemendikbud untuk melestarikan warisan sinematiknya.


2. Djamaluddin Malik

Djamaluddin Malik dikenal sebagai Bapak Industri Film Indonesia dan merupakan pelopor dalam dunia perfilman nasional. Dia juga berperan sebagai salah satu penggagas Festival Film Indonesia (FFI), ajang penghargaan bergengsi bagi insan perfilman di Tanah Air.

Lahir di Padang, Djamaluddin Malik menempuh pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) sebelum melanjutkan ke Algemene Middelbare School (AMS) di Jakarta. Selama di AMS, ia bertemu dengan Usmar Ismail, yang kemudian menjadi rekannya dalam membangun industri perfilman nasional. Keduanya dikenal sebagai dwi tunggal perfilman Indonesia.

Di kancah internasional, pada tahun 1954, Djamaluddin Malik berusaha membawa film Indonesia ke Festival Film Asia I (FFA) di Jepang, meskipun upayanya saat itu belum berhasil. Akan tetapi, pada tahun berikutnya, dia sukses mengikutsertakan film Indonesia dalam FFA II di Singapura.


3. Asrul Sani 

Sebagai seorang sastrawan, Asrul Sani dikenal tidak hanya sebagai penulis puisi, tetapi juga cerpen dan drama. Akan tetapi, sejak era 1950-an, dia lebih banyak berkecimpung di dunia teater dan mulai merambah industri film. Dia berperan sebagai penulis skenario, sutradara, serta tokoh seni dan budaya yang memberikan kontribusi besar dalam perfilman Indonesia.

Asrul Sani menulis skenario untuk film Djam Malam (1959) dan juga menjadi penulis sekaligus sutradara film Apa yang Kau Cari Palupi? (1971), yang berhasil meraih penghargaan Best Film Awards dalam Asian Film Festival. Selain itu, pada 1975, dia turut berperan dalam pendirian arsip film Indonesia melalui Sinematek Indonesia. 


4. Ratna Asmara 

Ratna Asmara memiliki peran signifikan dalam perkembangan sinema Indonesia pada era 1950-an. Lahir pada 1913 dan wafat pada 1968, dia dikenal sebagai sutradara perempuan pertama di Indonesia.

Memulai kariernya di dunia teater, Ratna kemudian beralih ke perfilman dan pada 1950 menyutradarai Sedap Malam, menjadikannya perempuan pertama yang mengarahkan sebuah film di Indonesia. 

Sebagai sosok berbakat, Ratna Asmara dikenal dengan pendekatannya yang eksploratif dalam setiap karyanya. Dia sering menghadirkan alur cerita yang diperkaya dengan visual memukau serta narasi yang mendalam. Tak hanya unggul dalam aspek teknis, film-filmnya juga merepresentasikan kekayaan budaya, menjadikannya bagian penting dalam sejarah perfilman Indonesia.


5. Suryo Sumanto 

Suryo Sumanto merupakan sosok berpengaruh dalam perfilman Indonesia yang berperan dalam mendirikan Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI). Dedikasinya dalam organisasi artis serta kontribusinya dalam membangun fondasi perfilman nasional, ditambah dengan berbagai pencapaiannya, membuatnya mendapat julukan Bapak Artis Film Indonesia dari para insan perfilman.

Bersama Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik, langkah awal mereka dalam mendirikan PARFI sudah dimulai sejak 1940, jauh sebelum masa pendudukan Jepang serta periode vakum menjelang kemerdekaan. Secara formal PARFI diresmikan oleh Ibu Negara Fatmawati Soekarno pada 10 Maret 1956 dengan cita-cita awal ingin memberikan sumbangan pada revolusi Indonesia.

Baca juga: 7 Film Religi Indonesia yang Cocok Ditonton saat Ramadan 2025

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

Editor: Syaiful Millah 
Editor:

SEBELUMNYA

Hanoi Philharmonic Orchestra Tampil di Acara 70 Tahun Hubungan Diplomatik Vietnam dan Indonesia

BERIKUTNYA

G-Dragon Rilis Lightstick Resmi Berbentuk Bunga Daisy

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: