László Krasznahorkai (Sumber gambar: krasznahorkai.hu)

Profil László Krasznahorkai, Pemenang Penghargaan Nobel 2025 di Bidang Sastra

10 October 2025   |   11:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

László Krasznahorkai, seorang penulis asal Hungaria, dianugerahi Hadiah Nobel Sastra 2025 atas karya-karyanya yang visioner dan penuh daya pikat yang, di tengah teror apokaliptik, menegaskan kembali kekuatan seni, menurut dewan juri Nobel.

“Saya benar-benar terkejut,” kata Krasznahorkai melalui sambungan telepon ketika komite Nobel menghubunginya. “Dan saya sangat bangga bisa berada dalam deretan penulis dan penyair besar.”

Dalam panggilan tersebut, ia mengatakan bahwa kepahitan adalah dorongan kreatif terbesarnya. “Saya sangat sedih ketika memikirkan kondisi dunia saat ini, dan itulah inspirasi terdalam saya,” tambahnya. Namun, ia juga menekankan betapa pentingnya menggunakan fantasi.

“Tanpa fantasi, hidup menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Membaca buku memberi kita lebih banyak kekuatan untuk bertahan menghadapi masa-masa sulit di Bumi.”

Baca juga: Penulis Korea Selatan Han Kang Sabet Hadiah Nobel Sastra 2024

Krasznahorkai menghabiskan banyak waktunya di sebuah bukit sunyi di Szentlászló, Hungaria. Dengan kompleksitas sastra di kepalanya, dia memang membangun reputasi sebagai sosok yang memilih hidup jauh dari sorotan publik.

Perbukitan Szentlászló sendiri dipilihnya sebagai tempat menepi dan menjalani kehidupan yang tenang sembari terus menulis. Dari kesunyian itu, lahir kalimat-kalimat panjang yang menjadi ciri khasnya yang padat, berputar, dan menolak kesimpulan sederhana.

Citra lelaki berusia 71 tahun itu memang lekat dengan menulis dalam keheningan. Meski jarang muncul ke muka publik, kalimat-kalimatnya sukses bergema jauh melampaui perbukitan tempat dia bersembunyi. Karya sastranya identik dengan penulisan yang menjulur panjang, gelap, dan nyaris mistik.

Lahir di kota kecil Gyula pada 5 Januari 1954, Krasznahorkai memang tumbuh di lingkungan yang memupuk rasa ingin tahu terhadap dunia. Ayahnya adalah seorang pengacara, dan ibunya adalah pegawai jaminan sosial. Dengan profesi tersebut, dia seolah disendoki pengajaran soal nilai-nilai rasionalitas dan keteraturan.

Namun di balik itu, anak muda ini menyimpan kegelisahan yang kelak menjadi napas dalam seluruh karyanya. Dia mencoba membongkar dan mencari makna di tengah kekacauan modern.

Krasznahorkai menempuh pendidikan hukum di Universitas József Attila di Szeged sebelum pindah ke Universitas Eötvös Loránd di Budapest untuk mempelajari sastra Hungaria. Di sinilah, lewat karya-karya penulis seperti Sándor Márai dan Dostoevsky, serta minatnya terhadap kompleksitas moral dan penderitaan manusia tumbuh.

Selepas kuliah, Krasznahorkai bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan di Budapest hingga akhirnya pada 1984 memutuskan untuk menjadi penulis penuh waktu.

Ketenarannya dimulai lewat Satantango (1985), sebuah novel debut yang segera menempatkannya dalam jajaran sastrawan Eropa paling orisinal. Novel itu bercerita tentang kehancuran moral di sebuah desa terpencil, ditulis dengan gaya naratif berliku tanpa jeda, serta menciptakan sensasi keterperangkap­an yang luar biasa.

Karya tersebut kemudian difilmkan oleh sineas Béla Tarr menjadi film berdurasi 7 jam. Tayangan itu pun menjelma menjadi sebuah mahakarya sinema lambat yang memantapkan reputasi Krasznahorkai sebagai penulis dengan visi sinematik.


Menulis dari Kesunyian

 

László Krasznahorkai (Sumber gambar:

László Krasznahorkai (Sumber gambar: krasznahorkai.hu)

Dari sunyi, obsesi Krasznahorkai melahirkan novel-novel berikutnya seperti The Melancholy of Resistance (1989), War & War (1999), Seiobo There Below (2008), dan Baron Wenckheim’s Homecoming (2016). Antusiasmenya tentang makna kehancuran, iman, dan absurditas manusia makin tajam dan luas. Melalui kalimat panjang panjang, dia menelusuri batas antara rasionalitas dan kegilaan antara keputusasaan dan kemungkinan keindahan di balik absurditas. 

Meski dikenal tertutup, sebetulnya dia sering berpindah tempat selama hidupnya. Pria yang lahir dari pasangan Gyorgy Krasznahorkai dan Julia Palinkasari ini pernah menetap di Berlin, New York, hingga Kyoto. Pengembaraan ini sepertinya juga membentuk kepekaannya terhadap pertemuan Timur dan Barat yang acap kali ditabrakan dalam dunia sastra dan budaya.

Misalnya saja, pengaruh Buddhisme dan seni rupa Asia terlihat dalam buku seperti Seiobo There Below yang secara garis besar menelusuri makna keabadian dalam kesempurnaan seni.

Reputasinya sebagai penulis kultus bahkan makin menguat seiring berbagai penghargaan yang dia terima. Dia memenangkan Best Book of the Year Award di Jerman (1993) untuk The Melancholy of Resistance, Best Translated Book Award (2013) untuk Satantango, Man Booker International Prize (2015), dan National Book Award for Translated Literature (2019).

Di tanah kelahirannya, dia menerima penghargaan tertinggi di bidang seni Hungaria yang dinamai Kossuth Prize pada 2004. Dan tentu saja, terbaru, Krasznahorkai menerima penghargaan nobel di bidang sastra pada 2025.

Krasznahorkai masih tetap khas dengan gaya menulisnya yang bersumber dari kesunyian, jauh dari hiruk pikuk literasi modern, dan memilih berbicara lewat karya yang membentang panjang. Seolah-olah, karya-karyanya menantang pembaca untuk bertahan dalam kesabaran, mengajak menelusuri keputusasaan untuk menemukan keindahan di dalamnya. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

6 Promo 10.10 Makanan & Minuman, Dari Chatime, Wingstop, hingga Marugame Udon

BERIKUTNYA

Agenda Weekend 10-12 Oktober 2025: Dari Cosmobeaute, Color Run, sampai Dog Parade

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga