llustrasi kalori pada makanan. (Sumber foto: Freepik)

Tak Hanya Soal Defisit Kalori, Begini Cara Turunkan Berat Badan yang Efektif

10 October 2025   |   06:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Bagi banyak orang, diet identik dengan menahan lapar atau mengurangi porsi makan. Namun dalam praktiknya, menurunkan berat badan tidak sesederhana menghitung kalori masuk dan keluar. Ada berbagai yang berperan besar dalam keberhasilan seseorang menjaga berat badan ideal.

dr. Guadelupe Maria Melissa, Certified Obesity & Weight Management Consultant mengatakan obesitas erat kaitannya dengan kesehatan metabolik, energi, dan kualitas hidup.

Baca juga: Menu Diet Defisit Kalori Ini Bisa Turunkan Berat Badan dalam Sepekan

Banyak pasien gagal diet karena metode yang mereka ikuti tidak sesuai dengan kebutuhan personal, sehingga hasilnya tidak bertahan lama. Pasalnya, setiap tubuh memiliki kondisi yang berbeda. Karena itulah, mengapa program diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif bagi orang lain.

Misalnya saja ketika seseorang menderita PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), akan terjadi ketidakseimbangan hormon yang membuat tubuhnya resisten terhadap insulin sehingga terjadi penumpukan lemak dan peningkatan nafsu makan.

“Sebelum mengubah pola makan, penting untuk memahami kondisi medis terlebih dahulu. Misalnya, apakah ada gangguan hormon, PCOS, atau masalah metabolisme lainnya. Karena jika penyebab utamanya tidak diatasi, penurunan berat badan bisa sulit dicapai dan hasilnya tidak bertahan lama,” jelasnya dalam press conference Lightweight Challenge (LWC) 2025 yang diselenggarakan LightHouse.

Bahkan menurutnya, tak sedikit orang yang kemudian terjebak pada metode diet ekstrem demi untuk mendapatkan hasil penurunan badan yang signifikan. Padahal, saat melakukan diet yang terpenting adalah kemampuanj menjaga keseimbangan.

“Diet yang baik itu bukan menghukum diri sendiri. Kita tetap bisa menikmati makanan, asal tahu kapan, bagaimana, dan seberapa banyak,” jelasnya.

Untuk mengetahui pola makan yang sesuai saat sedang diet, perlu melakukan konsultasi gizi. Veronica, Nutritionist Program Manager LIGHT Group mengatakan, setiap orang memiliki kondisi tubuh, metabolisme, dan kebutuhan gizi yang berbeda, sehingga personalisasi pola makan saat akan diet atau personalized diet menjadi penting.

“Kebutuhan setiap orang berbeda, tergantung usia, aktivitas, dan kondisi medisnya. Karena itu, kami tidak memberi menu yang sama untuk semua pasien. Kami menekankan prinsip diet rendah kalori dengan gizi seimbang sehingga memberikan hasil penurunan berat badan yang bertahan dan maksimal,” jelasnya.

Selain masalah medis dan gizi, keberhasilan dalam menjalankan diet juga berkaitan erat dengan faktor psikologis. Naomi Tobing, Psikolog Klinis, menuturkan bahwa aspek emosi dan motivasi sangat mempengaruhi keberhasilan diet seseorang.

“Banyak orang yang makan bukan karena lapar, tapi karena stres, bosan, atau kecewa. Pola emotional eating ini sering tidak disadari, tapi bisa menghambat progres diet,” katanya.

Karena itulah, kemampuan untuk meregulasi emosi menjadi bagian yang penting dalam proses diet meskipun hal ini pun sering kali diabaikan. Menurutnya, tanpa kemampuan mengelola stres dan motivasi yang realistis, seseorang mudah kembali pada kebiasaan lama.

“Diet bukan tentang seberapa cepat hasilnya, tapi bagaimana mengubah pola pikir. Saat kita berdamai dengan makanan dan diri sendiri, hasilnya akan lebih bertahan lama,” tambahnya.

Keseimbangan tiga aspek tersebut mulai dari medis, psikologis, hingga gizi terbukti membantu banyak orang mengubah hidup mereka, salah satunya Febrina Elissa, pemenang Lightweight Challenge 2016. Dalam 12 minggu, dia berhasil menurunkan berat badan hampir 25 kilogram.

“Awalnya sulit banget karena harus mengubah kebiasaan lama. Tapi setelah paham pola makan yang benar dan belajar mengelola stres, hasilnya bukan cuma di timbangan, tapi juga di energi dan rasa percaya diri,” ujarnya.

Febrina mengaku, keberhasilan itu tidak hanya datang dari disiplin, tetapi juga karena pendampingan dari para profesional yang membuatnya memahami tubuhnya sendiri. Dia pun berhasil mempertahankan berat badan idealnya hingga bertahun-tahun kemudian.

“Yang aku dapat bukan cuma turun berat badan, tapi ilmu dan kebiasaan baru yang bisa dipakai seumur hidup,” katanya.

Pendekatan multidisiplin tersebut diterapkan dalam Lightweight Challenge (LWC), sebuah program yang dikembangkan oleh Lighthouse Mind & Body Wellness, di mana peserta mendapatkan pendampingan dari dokter, ahli gizi, dan psikolog selama 12 minggu.

Anna Yesito Wibowo, Chief Marketing Officer LIGHT Group, menjelaskan bahwa LWC bukan sekadar kompetisi menurunkan berat badan, tetapi ruang belajar untuk memahami tubuh dan membentuk gaya hidup yang lebih sehat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa isu berat badan itu bukan hanya soal obesitas. Ada juga mereka yang ingin mencapai berat badan sehat, punya energi lebih baik, atau ingin mengenal tubuhnya dengan lebih positif,” jelas Anna.

Baca juga: Hypereport: Ancaman Sunyi Penyakit Obesitas, Urgensi Pencegahan & Pengobatan di Indonesia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Poco M7 Meluncur, Ini Harga dan Spesifikasinya

BERIKUTNYA

Jakarta Doodle Fest 2025 Soroti Tren Seni dalam Dunia Home Decor

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga