Ponpes Al Khoziny Ambruk, Kenali Perbedaan Struktur Bangunan Satu Lantai & Bertingkat
07 October 2025 |
16:31 WIB
Bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur tengah menjadi sorotan setelah ambruk pada Senin (29/9/2025) lalu. Berdasarkan data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) per Selasa (7/10/2025), total korban akibat peristiwa tersebut mencapai 171 orang, terdiri dari 104 korban selamat dan 67 meninggal dunia.
Ambruknya bangunan Ponpes yang berlokasi di Jalan KH Khamdani No 25 Buduran Sidoarjo itu diduga lantaran mengalami kegagalan konstruksi. Dugaan itu mencuat lantaran bangunan ambruk tak lama setelah proses pengecoran lantai tiga. Namun hingga kini penyebab pasti ambruknya bangunan di Ponpes Al Khoziny masih dalam penyelidikan.
Diketahui, awalnya Ponpes Al Khoziny hanya memiliki dua bangunan utama, masing-masing setinggi tiga dan empat lantai dengan fasad yang didominasi warna hijau. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, bangunannya ditinggikan menjadi tiga lantai menjulang ke atas.
Baca Juga: CIJAGO, Catatan Sejarah Pembangunan Jalan Tol dari Pinggiran Jakarta
Hal yang menjadi sorotan ialah tidak sejajarnya ukuran luas bangunan pada lantai dua dan tiga. Bahkan, teras lantai tiga terlihat lebih panjang dibandingkan lantai dua, menimbulkan sorotan dari masyarakat terkait kontruksi bangunan ponpes yang diketahui telah berdiri sejak tahun 1920-an itu.
Guru Besar Teknik Sipil sekaligus Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mochamad Solikin, mengatakan dalam mendesain bangunan bertingkat perlu memiliki perencanaan yang matang, mulai dari pondasi, dimensi struktur, ukuran balok dan kolom, hingga jumlah serta kualitas baja tulangan.
Faktor material pun menjadi kunci penting. Solikin menuturkan material yang digunakan dalam membuat bangunan bertingkat harus sesuai standar, bahkan diuji dulu sebelum digunakan. Dengan kata lain, label SNI saja tidak cukup untuk memastikan kualitas material tanpa adanya uji kelayakan.
Selain itu, tahap pelaksanaan di lapangan juga harus mengikuti standar. Solikin menegaskan bahwa beton yang baru dicor tidak bisa langsung dibebani atau dibuka bekistingnya. "Umumnya beton plat dan balok baru boleh dibuka setelah 21 hari. Kalau lebih cepat, risikonya sangat tinggi,” jelasnya dikutip dari laman resmi UMS.
Solikin juga menekankan pentingnya melibatkan pihak profesional dalam proses pembangunan. Dia menyebut setidaknya ada tiga pihak yang wajib terlibat yakni perencana, kontraktor, dan pengawas. Kontraktor tidak boleh mengawasi dirinya sendiri, melainkan harus ada konsultan pengawas resmi yang kompeten sehingga kualitas dan keselamatan proses pembangunan terjamin.
Namun, dia mengakui bahwa masyarakat seringkali mengabaikan prosedur tersebut, terutama ketika membangun fasilitas umum dengan biaya terbatas. Padahal, menurutnya, meskipun frekuensi kegagalan bangunan tidak sering, dampaknya bisa sangat fatal.
Dia pun mengingatkan bahwa pembuatan bangunan harus selalu melibatkan tenaga ahli. Menurutnya, menyerahkan urusan bukan pada ahlinya hanya akan membawa bencana. “Kegagalan bangunan bukan sekadar kerugian material, tapi juga bisa merenggut nyawa. Karena itu, mari taat standar dan libatkan tenaga ahli sejak awal,” ujarnya.
Bangunan satu lantai merupakan bangunan yang hanya memiliki satu tingkat atau lantai, dan strukturnya cenderung lebih sederhana dibandingkan dengan bangunan bertingkat. Sementara bangunan bertingkat adalah bangunan yang memiliki lebih dari satu lantai. Struktur bangunannya lebih kompleks karena harus menanggung beban dari lantai-lantai di atasnya.
Memahami perbedaan struktur antara keduanya pun penting untuk menentukan desain yang tepat dan efisien. Dilansir dari laman resmi Universitas Stekom, berikut adalah perbedaan struktur bangunan bertingkat dan satu lantai.
Sementara pada bangunan bertingkat menggunakan pondasi dalam seperti pondasi tiang pancang atau bored pile. Kedalaman pondasi bisa mencapai lebih dari 2 meter, tergantung pada jumlah lantai dan kondisi tanah.
Perbedaan struktur antara bangunan satu lantai dan bertingkat terletak pada kompleksitas desain, jenis pondasi, beban yang ditanggung, serta biaya konstruksi. Pemilihan jenis struktur harus disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan kondisi lingkungan sekitar. Dengan memahami karakteristik masing-masing bangunan, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pun dapat dilakukan secara efisien dan efektif.
Baca Juga: 5 Pohon yang Tidak Merusak Bangunan dan Aman Ditanam di Pekarangan Rumah
Ambruknya bangunan Ponpes yang berlokasi di Jalan KH Khamdani No 25 Buduran Sidoarjo itu diduga lantaran mengalami kegagalan konstruksi. Dugaan itu mencuat lantaran bangunan ambruk tak lama setelah proses pengecoran lantai tiga. Namun hingga kini penyebab pasti ambruknya bangunan di Ponpes Al Khoziny masih dalam penyelidikan.
Diketahui, awalnya Ponpes Al Khoziny hanya memiliki dua bangunan utama, masing-masing setinggi tiga dan empat lantai dengan fasad yang didominasi warna hijau. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, bangunannya ditinggikan menjadi tiga lantai menjulang ke atas.
Baca Juga: CIJAGO, Catatan Sejarah Pembangunan Jalan Tol dari Pinggiran Jakarta
Hal yang menjadi sorotan ialah tidak sejajarnya ukuran luas bangunan pada lantai dua dan tiga. Bahkan, teras lantai tiga terlihat lebih panjang dibandingkan lantai dua, menimbulkan sorotan dari masyarakat terkait kontruksi bangunan ponpes yang diketahui telah berdiri sejak tahun 1920-an itu.
Guru Besar Teknik Sipil sekaligus Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mochamad Solikin, mengatakan dalam mendesain bangunan bertingkat perlu memiliki perencanaan yang matang, mulai dari pondasi, dimensi struktur, ukuran balok dan kolom, hingga jumlah serta kualitas baja tulangan.
Faktor material pun menjadi kunci penting. Solikin menuturkan material yang digunakan dalam membuat bangunan bertingkat harus sesuai standar, bahkan diuji dulu sebelum digunakan. Dengan kata lain, label SNI saja tidak cukup untuk memastikan kualitas material tanpa adanya uji kelayakan.
Selain itu, tahap pelaksanaan di lapangan juga harus mengikuti standar. Solikin menegaskan bahwa beton yang baru dicor tidak bisa langsung dibebani atau dibuka bekistingnya. "Umumnya beton plat dan balok baru boleh dibuka setelah 21 hari. Kalau lebih cepat, risikonya sangat tinggi,” jelasnya dikutip dari laman resmi UMS.
Solikin juga menekankan pentingnya melibatkan pihak profesional dalam proses pembangunan. Dia menyebut setidaknya ada tiga pihak yang wajib terlibat yakni perencana, kontraktor, dan pengawas. Kontraktor tidak boleh mengawasi dirinya sendiri, melainkan harus ada konsultan pengawas resmi yang kompeten sehingga kualitas dan keselamatan proses pembangunan terjamin.
Namun, dia mengakui bahwa masyarakat seringkali mengabaikan prosedur tersebut, terutama ketika membangun fasilitas umum dengan biaya terbatas. Padahal, menurutnya, meskipun frekuensi kegagalan bangunan tidak sering, dampaknya bisa sangat fatal.
Dia pun mengingatkan bahwa pembuatan bangunan harus selalu melibatkan tenaga ahli. Menurutnya, menyerahkan urusan bukan pada ahlinya hanya akan membawa bencana. “Kegagalan bangunan bukan sekadar kerugian material, tapi juga bisa merenggut nyawa. Karena itu, mari taat standar dan libatkan tenaga ahli sejak awal,” ujarnya.
Perbedaan Struktur Bangunan Satu Lantai & Bertingkat
Dalam dunia konstruksi secara umum terdapat dua jenis bangunan yakni bangunan satu lantai dan bangunan bertingkat. Keduanya masing-masing memiliki karakteristik dan struktur yang berbeda, disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan penggunaannya.Bangunan satu lantai merupakan bangunan yang hanya memiliki satu tingkat atau lantai, dan strukturnya cenderung lebih sederhana dibandingkan dengan bangunan bertingkat. Sementara bangunan bertingkat adalah bangunan yang memiliki lebih dari satu lantai. Struktur bangunannya lebih kompleks karena harus menanggung beban dari lantai-lantai di atasnya.
Memahami perbedaan struktur antara keduanya pun penting untuk menentukan desain yang tepat dan efisien. Dilansir dari laman resmi Universitas Stekom, berikut adalah perbedaan struktur bangunan bertingkat dan satu lantai.
1. Pondasi
Struktur bangunan satu lantai umumnya menggunakan pondasi dangkal seperti pondasi batu kali atau pondasi lajur. Kedalaman pondasi biasanya berkisar antara 1 hingga 1,5 meter, tergantung pada kondisi tanah dan beban bangunan.Sementara pada bangunan bertingkat menggunakan pondasi dalam seperti pondasi tiang pancang atau bored pile. Kedalaman pondasi bisa mencapai lebih dari 2 meter, tergantung pada jumlah lantai dan kondisi tanah.
2. Kolom & Balok
Jumlah kolom dan balok pada bangunan satu lantai umumnya lebih sedikit dengan dimensi yang lebih kecil, karena beban yang ditanggung tidak terlalu besar. Sementara jumlah dan dimensi kolom serta balok pada bangunan bertingkat lebih banyak dan besar untuk menahan beban vertikal dan horizontal.3. Dinding
Pada bangunan satu lantai, dinding berfungsi sebagai penopang atap dan pembatas ruangan. Material yang digunakan bisa berupa batu bata, batako, atau bahan ringan lainnya. Sementara pada bangunan bertingkat, dinding berfungsi sebagai pembatas ruangan dan pelindung dari cuaca, serta tidak berfungsi sebagai penopang utama struktur.4. Atap
Bangunan satu lantai biasanya penggunaan atap langsung ditopang oleh dinding atau menggunakan kuda-kuda sederhana, dengan material dan desain yang lebih variatif. Sementara atap pada bangunan bertingkat harus dirancang dengan matang salah satunya penggunaan material penyusun atap. Hal ini dikarenakan kecepatan angin di daerah yang lebih tinggi jauh lebih kencang dibandingkan dengan permukaan tanah.5. Plat Lantai & Sistem Vertikal
Khusus untuk bangunan bertingkat, strukturnya juga umumnya memiliki plat lantai yang digunakan untuk memisahkan antar lantai. Biasanya plat lantai terbuat dari beton bertulang yang didukung oleh balok dan kolom. Selain itu, bangunan bertingkat juga dibangun dengan sistem vertikal yang dilengkapi dengan tangga, lift, dan eskalator untuk mobilitas antar lantai.Perbedaan struktur antara bangunan satu lantai dan bertingkat terletak pada kompleksitas desain, jenis pondasi, beban yang ditanggung, serta biaya konstruksi. Pemilihan jenis struktur harus disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan kondisi lingkungan sekitar. Dengan memahami karakteristik masing-masing bangunan, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pun dapat dilakukan secara efisien dan efektif.
Baca Juga: 5 Pohon yang Tidak Merusak Bangunan dan Aman Ditanam di Pekarangan Rumah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.