Hadapi Beban Ganda, 78% Ibu Akui Tunda Urusan Kesehatan Personal Demi Keluarga
06 October 2025 |
19:28 WIB
Di balik keluarga yang sehat, biasanya ada seorang ibu yang diam-diam menjaga keseimbangan. Dia berjibaku di banyak peran, memastikan anak cukup gizi, suami terhindar dari stres, orang tua terawat, tetapi sering menomorduakan kesehatannya sendiri.
Laporan terbaru dari YouGov dan Halodoc bertajuk Wellness Warriors in Silence: Realita, Tekanan, dan Harapan di Balik Peran Ibu dalam Kesehatan Keluarga menyoroti hal ini dengan gamblang. Hasil laporan tersebut menegaskan bahwa peran ibu berperan ganda sebagai pengasuh sekaligus pengatur ekosistem kesejahteraan dalam rumah tangga.
Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria mengatakan, istilah wellness warrior terinspirasi dari pada ibu dengan multiperan yang setiap harinya menjaga keseimbangan dan kesejahteraan orang-orang di sekitarnya. "Di tengah peran mereka sebagai istri, pengelola rumah tangga, pengasuh orang tua, hingga pekerja, hidup mereka bergerak cepat, penuh tuntutan, dan sering kali tanpa jeda," kata Fibriyani.
Baca Juga: Mengenal Chronic Loneliness, Rasa Sepi yang Pengaruhi Kesehatan Mental & Fisik
Menurut Fibriyani, kesehatan dan ketahanan ibu berbanding lurus dengan kesehatan keluarga dan masyarakat yang mereka jaga. Oleh karena itu, ibu juga wajib memperhatikan kesehatannya sendiri. Sebab, seringkali, di tengah kesibukan merawat orang lain, ibu jarang memiliki kesempatan untuk memulihkan diri. Banyak dari mereka menjalani hari demi hari dalam tekanan yang tinggi dan berpindah dari satu peran ke peran lain tanpa benar-benar berhenti.
Sebagai penyedia riset, YouGov menemukan bahwa peran ibu sebagai caregiver memang dipenuhi tekanan dan tantangan yang kerap tidak terlihat. General Manager YouGov Indonesia & India Edward Hutasoit mengatakan, sebanyak 54% ibu menyebut caregiving sebagai ‘pekerjaan tanpa jeda’. Sedangkan, 53% ibu juga memikul peran ganda sebagai pengambil keputusan layanan kesehatan sekaligus pencari nafkah. Bahkan, 74% ibu mengelola urusan layanan kesehatan untuk tiga atau lebih anggota keluarga.
"Dari total waktu yang tercurah, 80% diantaranya didedikasikan untuk mengelola kesehatan anggota keluarga, 32% digunakan untuk anak, 23% untuk orang tua, dan 21% untuk suami, sementara hanya 17% yang tersisa untuk merawat kesehatan diri sendiri. Data ini menunjukkan betapa berat beban yang harus ditanggung para ibu dalam keseharian mereka,” ujar Edward.
Data tersebut menjelaskan bahwa keseimbangan hidup seorang ibu sering kali tercapai dengan mengorbankan dirinya sendiri. Dalam keseharian pun, dalam konteks anak, ibu menghadapi beragam dinamika yang menuntutnya adaptasi terus-menerus, mulai dari mendampingi balita dalam masa tumbuh kembang, menjaga kesehatan anak yang baru lahir, hingga memastikan anak usia sekolah tidak mudah sakit karena aktivitas sosialnya yang meningkat.
Dari laporan YouGov x Halodoc, ditemui data bahwa konsultasi yang dilakukan ibu melalui Halodoc menunjukkan bagaimana kebutuhan kesehatan keluarga terus berubah. Saat anak masih bayi, sebagian besar ibu mengalami kebingungan memahami kondisi bayi mereka. Lebih dari separuh konsultasi berkisar pada edukasi kesehatan umum dan masalah kulit non-jerawat.
Memasuki masa toddler, fokus bergeser ke masalah imunitas dan pertumbuhan, di mana gangguan pernapasan dan diare menjadi keluhan dominan, serta peningkatan vaksinasi seperti influenza dan pneumonia yang melonjak hingga 6 kali lipat. Saat anak memasuki usia sekolah, perhatian ibu berpindah ke pencegahan penyakit menular seperti flu dan gangguan kulit yang disertai meningkatnya keluhan mata dan demam karena interaksi sosial yang makin luas.
Namun, peran ibu tidak berhenti pada anak. Mereka juga mengelola kesehatan suami, di mana keluhan seperti dispepsia, GERD, gastritis, dan gangguan muskuloskeletal menjadi yang paling sering dikonsultasikan. Di sisi lain, lebih dari separuh ibu juga menjadi caregiver utama bagi orang tuanya sendiri. Keluhan kesehatan seperti nyeri sendi, nyeri punggung, serta penyakit metabolik menambah daftar tanggung jawab yang harus mereka tangani setiap hari.
Di tengah semua itu, kesehatan pribadi ibu kerap menjadi prioritas terakhir. Laporan yang sama mengungkap bahwa 78% ibu menunda janji medis atau perawatan diri dalam 12 bulan terakhir. Bahkan, sebanyak 74% tetap melanjutkan tugas caregiving meski sedang sakit.
Masalah kesehatan yang sering diabaikan meliputi perawatan kulit non-jerawat, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan seksual dan reproduksi, hingga kesehatan mental. Fakta ini menunjukkan betapa seringnya ibu menyingkirkan kebutuhan dasarnya demi memastikan keluarganya tetap sehat.
Meski beban tersebut berat, harapan para ibu ini sebenarnya sederhana. Laporan tersebut mencatat bahwa 37% ibu menilai bentuk apresiasi terbaik adalah diberi kesempatan untuk personal break dimana ibu diberi waktu singkat untuk diri sendiri tanpa merasa bersalah atau terbebani tanggung jawab rumah tangga.
Mereka membutuhkan ruang untuk bernapas, waktu untuk beristirahat, dan sistem dukungan yang memudahkan untuk akses kesehatan. Ketika mereka mendapatkan ruang dan dukungan semacam itu, ibu dapat memulihkan tenaganya sekaligus memperkuat ekosistem keluarga di sekelilingnya.
Baca Juga: Sering Terjebak Macet? Hati-hati dengan Traffic Stress Syndrome
Laporan terbaru dari YouGov dan Halodoc bertajuk Wellness Warriors in Silence: Realita, Tekanan, dan Harapan di Balik Peran Ibu dalam Kesehatan Keluarga menyoroti hal ini dengan gamblang. Hasil laporan tersebut menegaskan bahwa peran ibu berperan ganda sebagai pengasuh sekaligus pengatur ekosistem kesejahteraan dalam rumah tangga.
Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria mengatakan, istilah wellness warrior terinspirasi dari pada ibu dengan multiperan yang setiap harinya menjaga keseimbangan dan kesejahteraan orang-orang di sekitarnya. "Di tengah peran mereka sebagai istri, pengelola rumah tangga, pengasuh orang tua, hingga pekerja, hidup mereka bergerak cepat, penuh tuntutan, dan sering kali tanpa jeda," kata Fibriyani.
Baca Juga: Mengenal Chronic Loneliness, Rasa Sepi yang Pengaruhi Kesehatan Mental & Fisik
Menurut Fibriyani, kesehatan dan ketahanan ibu berbanding lurus dengan kesehatan keluarga dan masyarakat yang mereka jaga. Oleh karena itu, ibu juga wajib memperhatikan kesehatannya sendiri. Sebab, seringkali, di tengah kesibukan merawat orang lain, ibu jarang memiliki kesempatan untuk memulihkan diri. Banyak dari mereka menjalani hari demi hari dalam tekanan yang tinggi dan berpindah dari satu peran ke peran lain tanpa benar-benar berhenti.
Sebagai penyedia riset, YouGov menemukan bahwa peran ibu sebagai caregiver memang dipenuhi tekanan dan tantangan yang kerap tidak terlihat. General Manager YouGov Indonesia & India Edward Hutasoit mengatakan, sebanyak 54% ibu menyebut caregiving sebagai ‘pekerjaan tanpa jeda’. Sedangkan, 53% ibu juga memikul peran ganda sebagai pengambil keputusan layanan kesehatan sekaligus pencari nafkah. Bahkan, 74% ibu mengelola urusan layanan kesehatan untuk tiga atau lebih anggota keluarga.
"Dari total waktu yang tercurah, 80% diantaranya didedikasikan untuk mengelola kesehatan anggota keluarga, 32% digunakan untuk anak, 23% untuk orang tua, dan 21% untuk suami, sementara hanya 17% yang tersisa untuk merawat kesehatan diri sendiri. Data ini menunjukkan betapa berat beban yang harus ditanggung para ibu dalam keseharian mereka,” ujar Edward.
Data tersebut menjelaskan bahwa keseimbangan hidup seorang ibu sering kali tercapai dengan mengorbankan dirinya sendiri. Dalam keseharian pun, dalam konteks anak, ibu menghadapi beragam dinamika yang menuntutnya adaptasi terus-menerus, mulai dari mendampingi balita dalam masa tumbuh kembang, menjaga kesehatan anak yang baru lahir, hingga memastikan anak usia sekolah tidak mudah sakit karena aktivitas sosialnya yang meningkat.
Mengutamakan Keluarga

Ilustrasi ibu (Sumber gambar: Pexels)
Dari laporan YouGov x Halodoc, ditemui data bahwa konsultasi yang dilakukan ibu melalui Halodoc menunjukkan bagaimana kebutuhan kesehatan keluarga terus berubah. Saat anak masih bayi, sebagian besar ibu mengalami kebingungan memahami kondisi bayi mereka. Lebih dari separuh konsultasi berkisar pada edukasi kesehatan umum dan masalah kulit non-jerawat.
Memasuki masa toddler, fokus bergeser ke masalah imunitas dan pertumbuhan, di mana gangguan pernapasan dan diare menjadi keluhan dominan, serta peningkatan vaksinasi seperti influenza dan pneumonia yang melonjak hingga 6 kali lipat. Saat anak memasuki usia sekolah, perhatian ibu berpindah ke pencegahan penyakit menular seperti flu dan gangguan kulit yang disertai meningkatnya keluhan mata dan demam karena interaksi sosial yang makin luas.
Namun, peran ibu tidak berhenti pada anak. Mereka juga mengelola kesehatan suami, di mana keluhan seperti dispepsia, GERD, gastritis, dan gangguan muskuloskeletal menjadi yang paling sering dikonsultasikan. Di sisi lain, lebih dari separuh ibu juga menjadi caregiver utama bagi orang tuanya sendiri. Keluhan kesehatan seperti nyeri sendi, nyeri punggung, serta penyakit metabolik menambah daftar tanggung jawab yang harus mereka tangani setiap hari.
Di tengah semua itu, kesehatan pribadi ibu kerap menjadi prioritas terakhir. Laporan yang sama mengungkap bahwa 78% ibu menunda janji medis atau perawatan diri dalam 12 bulan terakhir. Bahkan, sebanyak 74% tetap melanjutkan tugas caregiving meski sedang sakit.
Masalah kesehatan yang sering diabaikan meliputi perawatan kulit non-jerawat, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan seksual dan reproduksi, hingga kesehatan mental. Fakta ini menunjukkan betapa seringnya ibu menyingkirkan kebutuhan dasarnya demi memastikan keluarganya tetap sehat.
Meski beban tersebut berat, harapan para ibu ini sebenarnya sederhana. Laporan tersebut mencatat bahwa 37% ibu menilai bentuk apresiasi terbaik adalah diberi kesempatan untuk personal break dimana ibu diberi waktu singkat untuk diri sendiri tanpa merasa bersalah atau terbebani tanggung jawab rumah tangga.
Mereka membutuhkan ruang untuk bernapas, waktu untuk beristirahat, dan sistem dukungan yang memudahkan untuk akses kesehatan. Ketika mereka mendapatkan ruang dan dukungan semacam itu, ibu dapat memulihkan tenaganya sekaligus memperkuat ekosistem keluarga di sekelilingnya.
Baca Juga: Sering Terjebak Macet? Hati-hati dengan Traffic Stress Syndrome
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.