Suasana pameran ruru25: Poros Lumbung di Hall D2 JIExpo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Ruang Rupa Hadirkan Pameran Seni Rayakan 25 Tahun Berkarya di Synchronize Fest 2025

04 October 2025   |   15:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Ada persembahan berbeda di Synchronize Fest 2025. Tak hanya menggelar deretan pertunjukan musik terkurasi, hajatan musik tahunan itu juga kali ini menghadirkan pameran seni bertajuk "ruru25: Poros Lumbung". Pameran ini dibuat sebagai bentuk perayaan kolektif seni kontemporer Ruang Rupa yang memasuki usia 25 tahun.

Gelaran Synchronize Fest 2025 memang kental dengan kolaborasi antara demajors dan ruang rupa, dua entitas yang penting dalam perjalanan dan perkembangan gagasan seni budaya kontemporer negeri ini. Keduanya sama-sama merayakan usia 25 tahun di perhelatan Synchronize Fest 2025, melahirkan konsep spesial yakni “music & art festival”.

Baca Juga: 6 Agenda Akhir Pekan 4-5 Oktober 2025, Synchronize Fest sampai Art Jakarta 2025

Label musik demajors berdiri sejak 2000 dan merupakan penggagas utama dari Synchronize Fest. demajors hadir sebagai wadah bagi para musisi Indonesia dengan keberagaman corak musiknya sekaligus benteng identitas musik Nusantara. Hingga kini, demajors telah merilis lebih dari 800 katalog musik sebagai tanda dukungan dan kepercayaan terhadap musik Indonesia.

Sementara itu, ruangrupa adalah organisasi seni rupa yang didirikan di Jakarta pada 2000, yang aktif mendorong gagasan kritis dalam konteks urban dan cakupan budaya secara luas melalui pameran, festival, laboratorium seni rupa, lokakarya, riset, serta penerbitan dan jurnal online.

Kolaborasi keduanya dapat pengunjung saksikan dalam sebuah pameran seni dan ruang kreatif yang tersaji di Hall D2 JIExpo Kemayoran. Di area tersebut, ruangrupa dan demajors tidak sekadar memajang karya, melainkan membuka portal di mana musik dan seni rupa berpadu menjadi sebuah 'kosmos' baru.
 

Suasana pameran ruru25: Poros Lumbung di Hall D2 JIExpo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Suasana pameran ruru25: Poros Lumbung di Hall D2 JIExpo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Hypeabis.id berkesempatan untuk mengunjungi langsung pameran ruru25: Poros Lumbung. Dalam sebuah ruangan sekitar 5.000 meter persegi, tersaji sejumlah pameran seni yang berangkat dari berbagai isu sosial masyarakat di Indonesia akhir-akhir ini, serta berbagai ruang kreatif dan artistik yang bisa diakses pengunjung.
 
Di tengah festival yang riuh dengan sederet penampilan musik, ruang pameran ini menjadi wahana seru yang bisa dinikmati pengunjung untuk bisa ikut merayakan seni dan musik ala demajors dan ruang rupa.
 
Pameran ini juga menghadirkan studio kreatif dari Grafis Huru Hara yang menunjukkan proses dalam menghasilkan berbagai karya seni grafis. Ruang ini juga mengajak publik untuk bisa ikut mencetak, bermain dengan visual, hingga mengakses arsip, menjadikan studio ini sebagai ruang bermain visual dan pengalaman kolektif yang sejalan dengan semangat 25 tahun ruangrupa.
 
Selain itu, digelar juga sejumlah acara interaktif lainnya seperti pemutaran film-film terkurasi di panggung layar tancap, berbagai diskusi seputar musik, seni, dan budaya, hingga acara perilisan beberapa buku.
 

Suasana pameran ruru25: Poros Lumbung di Hall D2 JIExpo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Suasana pameran ruru25: Poros Lumbung di Hall D2 JIExpo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Pendiri ruangrupa, Ade Darmawan, mengatakan ruru25: Poros Lumbung bukan pesta ulang tahun, melainkan sebuah wadah yang merangkum karya, percakapan, dan jejak yang dibangun bersama. Semua itu dihadirkan melalui daya kritis, praktik artisik, kolaborasi lintas disiplin, dan komitmen keberlanjutan.

Dia menjelaskan dalam pameran kali ini, ada 8 karya spesial yang ditampilkan yang kebanyakan belum pernah dipamerkan di Indonesia dan ditafsir ulang agar hidup dalam hari ini. Di antaranya, Kaos Project
(Istanbul Biennale 2005), Hanya Memberi Tak Harap Kembali (2010), The Singapore Fiction / Indonesiana (Singapore Biennale 2011), Gerobak Bioskop (Biennale Jogja 2011), dan SIASAT (2011).

Selain itu, ada juga The Kuda: The Untold Story of Indonesian Music Underground in the 70’s (Asia Pacific Triennale, Brisbane, 2012), hingga ruru gakko / Perguruan Tamanruru (Aichi Triennale, Nagoya, 2016; dan ArtJog 2025).

Gerakan “pulang kampung” ini juga menghadirkan kembali beberapa platform ruangrupa yang sudah dikenal publik, seperti ArtLab (wadah penelitian artistik dan ruang kota sejak 2007), OK. Video (festival seni media internasional dua tahunan sejak 2003), dan Jakarta 32°C (forum seni mahasiswa Jakarta dua tahunan sejak 2004).

Selain itu, ada juga rurukids (inisiatif seni dan anak-anak sejak 2010), RURUradio (stasiun radio daring tanpa gelombang, berdiri pada 2008), dan Rumah ruru—yang tampil lewat kompilasi karya pilihan dan aktivasinya masing-masing. Publik juga bisa menikmati pemutaran film, ruang musik, dan pertemuan komunitas melalui RURU Radio Lounge dan Layar Tancap.  
 

Suasana pameran ruru25: Poros Lumbung di Hall D2 JIExpo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Suasana pameran ruru25: Poros Lumbung di Hall D2 JIExpo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Ade memaparkan selama seperempat abad, ruangrupa bukan hanya menghasilkan karya-karya seni, tetapi juga membangun ekosistem. Mulai dari melahirkan OK. Video Festival, Jakarta 32°C hingga mendirikan Gudskul bersama Serrum dan Grafis Huru Hara, sebuah ruang belajar bersama bagi praktik kolektif dan ekosistem seni rupa kontemporer.
 
Semangat kolaborasi ini pun terus berlanjut dalam pameran kali ini, dengan mengundang jejaring inisiatif/kolektif seni untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan dari praktik kolektif masing-masing yang beragam, di antaranya, Forum Sudutpandang (Palu), Komunitas Gubuak Kopi (Solok), Komunitas KAHE (Maumere), Non Blok Ekosistem (Pekanbaru), Simpasio (Larantuka), Pasirputih (Lombok), Indonesia Art Movement (Jayapura), dan Taring Padi (Yogyakarta).
 
"ruru25: Poros Lumbung bukan hanya soal mengingat dan belajar dari masa lalu, tapi juga tentang bersiasat ke depan. Ini tentang saling belajar dan bertukar ragam siasat bagaimana seni, musik, dan kehidupan sehari-hari dapat terus bertahan dan relevan secara sosial, ekonomi, lingkungan, dan budaya melalui imajinasi dan tindakan kolektif," ujar Ade.

Dia menyampaikan terinspirasi dari praktik berbagi sumber daya di desa dan kampung kota, lumbung bukan hanya metafora, tetapi cara mengelola apa yang dimiliki bersama yakni waktu, ruang, pengetahuan, jaringan, hingga ekonomi.
 
Menurutnya, fenomena kolektif artistik di Indonesia sendiri sudah sangat kaya dan beragam. Banyak kelompok seni di berbagai tempat menjalankan praktik serupa—saling berbagi sumber daya, mengupayakan semi-kemandirian, dan belajar dari satu sama lain.
 
"Dalam konteks ini, sadar tidak sadar lumbung adalah praktik yang secara alami hadir dari budaya komunal di Indonesia, dan telah menjadi salah satu cara untuk bertahan bersama," imbuhnya.
 
Dalam ruru25: Poros Lumbung, ruangrupa juag semakin menegaskan komitmennya pada keberlanjutan. Selama lebih dari dua dekade, kolektif ini konsisten mengolah material bekas dari kayu, besi, spanduk, hingga tutup botol, dan barang jadi lainnya, menjadi sumber daya kreatif, sebuah praktik yang kini menjadi ciri khasnya. Menjadi laboratorium terbuka yang memperlihatkan bagaimana siklus material dengan pola produksi ‘memulung’ mampu melahirkan kemungkinan baru bagi seni dan komunitas.
 
"Synchronize Festival dan ruru25 tidak hanya menjadi peristiwa seni rupa dan panggung musik, tetapi juga wadah pertukaran ide, imajinasi, dan solidaritas," kata Ade.

Baca Juga: Cek Deretan Penampilan Seru & Langka Tampil di Hari ke-2 Synchronize Fest 2025

SEBELUMNYA

6 Agenda Akhir Pekan 4-5 Oktober 2025, Synchronize Fest sampai Art Jakarta 2025

BERIKUTNYA

7 Gaya Idol K-Pop di Paris Fashion Week S/S 2026, Ada Jimin BTS dan Jisoo BLACKPINK

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga