Dari Hulu ke Hilir, Kopi Kintamani Berjuang Jaga Kualitas dan Keberlanjutan
04 October 2025 |
14:28 WIB
Dari dataran tinggi Bali, Kopi Arabika Kintamani tumbuh dengan cita rasa yang khas dan aroma citrus segar hasil tumpangsari dengan pohon jeruk yang sekaligus menjadi pelindungnya. Reputasi kopi ini bukan hanya memikat lidah para penikmat di dalam negeri, melainkan juga menarik perhatian pasar global sebagai salah satu kopi terbaik Indonesia.
Sejak 2008, kopi Kintamani telah memperoleh indikasi geografis. Saat ini tercatat sekitar 6.791 petani menggarap hampir 6.000 hektar lahan dengan produksi mencapai 3.000 ton per tahun. Namun, upaya untuk benar-benar menembus pasar ekspor tidak selalu berjalan mulus karena berbagai tantangan masih dihadapi di lapangan.
Baca juga: Karana Global Bangun Ekosistem Kopi dengan Berdayakan Masyarakat
Salah satu persoalan mendasar adalah pola pikir petani dalam membudidayakan kopi. Banyak yang masih terjebak pada orientasi keuntungan cepat sehingga memilih memanen lebih awal. I Made Sarjana, Wakil Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kintamani Bali, menegaskan bahwa sistem panen cepat atau tebasan merupakan hambatan terbesar.
“Harga petik merah dan petik hijau sering kali tidak berbeda jauh. Kopi petik hijau masih dipakai sebagai campuran sehingga petani enggan menunggu hingga benar-benar matang,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan I Kadek Edi, Direktur Utama Karana Global, yang menyebut kebiasaan petani memanen kopi hijau berimbas pada kualitas.
“Mereka banyak yang masih memilih untuk memanen lebih awal, padahal kopi yang dihasilkan belum matang, tidak keluar aroma kopi khas Indonesianya,” ujarnya.
Padahal, ketika biji kopi dipanen saat berwarna merah, kualitasnya jauh lebih premium dan memiliki peluang dihargai lebih tinggi di pasar dunia. “Kualitasnya premium, sudah dikenal dunia sebagai biji arabika yang juara,” tambah Edi.
Selain persoalan panen, penggunaan bahan kimia juga menjadi tantangan serius. Demi hasil cepat, petani kerap mengandalkan pestisida kimia meski berpotensi menurunkan kualitas dan merusak lingkungan dalam jangka panjang.
I Putu Sudiarta, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, menegaskan bahwa dominasi penggunaan pestisida kimia masih tinggi. Bahkan, residu kimia yang melebihi ambang batas pernah membuat ekspor kopi arabika Kintamani ke Jepang ditolak pada akhir 2024.
“Kalau pertanian tidak diberdayakan dan diberi pelatihan untuk menghasilkan kopi yang berkualitas maka ke depan petani akan kesulitan bersaing di pasar global. Karena itu penting mengurangi kimia dan beralih ke biopestisida,” tegasnya.
Untuk memperkuat daya saing, sertifikasi menjadi salah satu langkah kunci. Salah satunya adalah sertifikasi Rainforest Alliance (RA) yang mencakup aspek manajemen, keterlacakan (traceability), harga premium, praktik pertanian berkelanjutan, hingga perlindungan lingkungan. Produk yang lolos sertifikasi akan memperoleh nilai tambah berupa harga premium di pasar ekspor.
“Konsumen yang membeli kopi bersertifikasi RA mendapat jaminan bahwa produk itu benar-benar berkelanjutan bahkan bisa dilacak awal mula dari biji kopi hingga menjadi secangkir kopi,” jelas Elpido Soplantila, Senior Manager Product Support Rainforest Alliance.
Dukungan terhadap rantai pasok kopi berkelanjutan juga datang dari pelaku industri. Kopi Kenangan, salah satu jaringan kopi terbesar di Asia Tenggara, meluncurkan program CSR bertajuk Sip for Sustainability bertepatan dengan peringatan Hari Kopi Sedunia 2025.
Program ini secara langsung menyasar petani kopi arabika Kintamani yang menjadi pemasok seri Beans of the Champion. Melalui inisiatif tersebut, Kopi Kenangan berupaya memperkuat ekosistem kopi dari hulu hingga hilir sekaligus memastikan masa depan industri kopi Indonesia tetap berkelanjutan.
“Sebagian penjualan Beans of the Champion dialokasikan untuk mendukung program ini. Setiap cangkir yang dinikmati konsumen tidak hanya menghadirkan kualitas terbaik, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi kesejahteraan petani Kintamani,” ujar Inneke Lestari, Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands.
Inisiatif ini dibangun di atas tiga pilar utama Kenangan BAIK, yaitu Kenangan Berdaya, Kenangan PinTer, dan Kenangan Sirkular. Melalui Kenangan Berdaya, Kopi Kenangan memberikan bantuan berupa alat produksi kepada petani binaan Karana Global. Bantuan tersebut meliputi mesin sutton untuk memilah biji kopi dan mesin potong rumput agar panen berlangsung lebih efisien sekaligus sesuai dengan standar internasional.
Adapun Pilar Kenangan PinTer diwujudkan dengan menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Udayana guna memberikan pelatihan teknologi ramah lingkungan kepada 100 petani binaan serta mendorong regenerasi petani muda. Salah satu contoh nyata adalah pemanfaatan mesin potong rumput sebagai solusi alternatif pengganti pestisida kimia.
“Dengan melibatkan akademisi dan pelaku usaha, diharapkan petani kopi Kintamani dapat meningkatkan kualitas sekaligus mempertahankan daya saing kopi Bali di panggung global,” tuturnya.
Program ini juga menyentuh generasi muda dengan menghadirkan pelatihan inkubasi bisnis bagi anak-anak petani selama tiga bulan. Tujuannya agar mereka tidak hanya mewarisi lahan, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkan usaha kopi secara mandiri.
Sementara itu, Kenangan Sirkular mengajak konsumen turut berpartisipasi melalui gerakan daur ulang, mulai dari penggunaan tumbler, tas spunbond, hingga merchandise berbahan plastik daur ulang. Bahkan, ampas kopi diolah kembali menjadi kompos dan tersedia di beberapa gerai ramah lingkungan Kopi Kenangan.
“Memang saat ini kami tidak merasakan dampaknya secara langsung. Namun, langkah ini kami lakukan untuk memastikan pasokan kopi bisa tetap terjaga. Dan kami percaya keberlanjutan hanya bisa dicapai jika kita tumbuh bersama, dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Dengan kombinasi sertifikasi, dukungan industri, serta pendampingan berkelanjutan, kopi Kintamani memiliki peluang besar untuk semakin memperkuat posisinya di pasar ekspor. Tren global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan membuka jalan bagi kopi Bali untuk naik kelas.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sejak 2008, kopi Kintamani telah memperoleh indikasi geografis. Saat ini tercatat sekitar 6.791 petani menggarap hampir 6.000 hektar lahan dengan produksi mencapai 3.000 ton per tahun. Namun, upaya untuk benar-benar menembus pasar ekspor tidak selalu berjalan mulus karena berbagai tantangan masih dihadapi di lapangan.
Baca juga: Karana Global Bangun Ekosistem Kopi dengan Berdayakan Masyarakat
Salah satu persoalan mendasar adalah pola pikir petani dalam membudidayakan kopi. Banyak yang masih terjebak pada orientasi keuntungan cepat sehingga memilih memanen lebih awal. I Made Sarjana, Wakil Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kintamani Bali, menegaskan bahwa sistem panen cepat atau tebasan merupakan hambatan terbesar.
“Harga petik merah dan petik hijau sering kali tidak berbeda jauh. Kopi petik hijau masih dipakai sebagai campuran sehingga petani enggan menunggu hingga benar-benar matang,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan I Kadek Edi, Direktur Utama Karana Global, yang menyebut kebiasaan petani memanen kopi hijau berimbas pada kualitas.
“Mereka banyak yang masih memilih untuk memanen lebih awal, padahal kopi yang dihasilkan belum matang, tidak keluar aroma kopi khas Indonesianya,” ujarnya.
Padahal, ketika biji kopi dipanen saat berwarna merah, kualitasnya jauh lebih premium dan memiliki peluang dihargai lebih tinggi di pasar dunia. “Kualitasnya premium, sudah dikenal dunia sebagai biji arabika yang juara,” tambah Edi.
Selain persoalan panen, penggunaan bahan kimia juga menjadi tantangan serius. Demi hasil cepat, petani kerap mengandalkan pestisida kimia meski berpotensi menurunkan kualitas dan merusak lingkungan dalam jangka panjang.
I Putu Sudiarta, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, menegaskan bahwa dominasi penggunaan pestisida kimia masih tinggi. Bahkan, residu kimia yang melebihi ambang batas pernah membuat ekspor kopi arabika Kintamani ke Jepang ditolak pada akhir 2024.
“Kalau pertanian tidak diberdayakan dan diberi pelatihan untuk menghasilkan kopi yang berkualitas maka ke depan petani akan kesulitan bersaing di pasar global. Karena itu penting mengurangi kimia dan beralih ke biopestisida,” tegasnya.
Untuk memperkuat daya saing, sertifikasi menjadi salah satu langkah kunci. Salah satunya adalah sertifikasi Rainforest Alliance (RA) yang mencakup aspek manajemen, keterlacakan (traceability), harga premium, praktik pertanian berkelanjutan, hingga perlindungan lingkungan. Produk yang lolos sertifikasi akan memperoleh nilai tambah berupa harga premium di pasar ekspor.
“Konsumen yang membeli kopi bersertifikasi RA mendapat jaminan bahwa produk itu benar-benar berkelanjutan bahkan bisa dilacak awal mula dari biji kopi hingga menjadi secangkir kopi,” jelas Elpido Soplantila, Senior Manager Product Support Rainforest Alliance.
Dukungan terhadap rantai pasok kopi berkelanjutan juga datang dari pelaku industri. Kopi Kenangan, salah satu jaringan kopi terbesar di Asia Tenggara, meluncurkan program CSR bertajuk Sip for Sustainability bertepatan dengan peringatan Hari Kopi Sedunia 2025.

Rombongan media dan Kopi Kenangan saat melakukan media trip ke lokasi penyortiran biji kopi di Singaraja, Bali (sumber foto: Kenangan Brands)
Program ini secara langsung menyasar petani kopi arabika Kintamani yang menjadi pemasok seri Beans of the Champion. Melalui inisiatif tersebut, Kopi Kenangan berupaya memperkuat ekosistem kopi dari hulu hingga hilir sekaligus memastikan masa depan industri kopi Indonesia tetap berkelanjutan.
“Sebagian penjualan Beans of the Champion dialokasikan untuk mendukung program ini. Setiap cangkir yang dinikmati konsumen tidak hanya menghadirkan kualitas terbaik, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi kesejahteraan petani Kintamani,” ujar Inneke Lestari, Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands.
Inisiatif ini dibangun di atas tiga pilar utama Kenangan BAIK, yaitu Kenangan Berdaya, Kenangan PinTer, dan Kenangan Sirkular. Melalui Kenangan Berdaya, Kopi Kenangan memberikan bantuan berupa alat produksi kepada petani binaan Karana Global. Bantuan tersebut meliputi mesin sutton untuk memilah biji kopi dan mesin potong rumput agar panen berlangsung lebih efisien sekaligus sesuai dengan standar internasional.
Adapun Pilar Kenangan PinTer diwujudkan dengan menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Udayana guna memberikan pelatihan teknologi ramah lingkungan kepada 100 petani binaan serta mendorong regenerasi petani muda. Salah satu contoh nyata adalah pemanfaatan mesin potong rumput sebagai solusi alternatif pengganti pestisida kimia.
“Dengan melibatkan akademisi dan pelaku usaha, diharapkan petani kopi Kintamani dapat meningkatkan kualitas sekaligus mempertahankan daya saing kopi Bali di panggung global,” tuturnya.
Program ini juga menyentuh generasi muda dengan menghadirkan pelatihan inkubasi bisnis bagi anak-anak petani selama tiga bulan. Tujuannya agar mereka tidak hanya mewarisi lahan, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkan usaha kopi secara mandiri.
Sementara itu, Kenangan Sirkular mengajak konsumen turut berpartisipasi melalui gerakan daur ulang, mulai dari penggunaan tumbler, tas spunbond, hingga merchandise berbahan plastik daur ulang. Bahkan, ampas kopi diolah kembali menjadi kompos dan tersedia di beberapa gerai ramah lingkungan Kopi Kenangan.
“Memang saat ini kami tidak merasakan dampaknya secara langsung. Namun, langkah ini kami lakukan untuk memastikan pasokan kopi bisa tetap terjaga. Dan kami percaya keberlanjutan hanya bisa dicapai jika kita tumbuh bersama, dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Dengan kombinasi sertifikasi, dukungan industri, serta pendampingan berkelanjutan, kopi Kintamani memiliki peluang besar untuk semakin memperkuat posisinya di pasar ekspor. Tren global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan membuka jalan bagi kopi Bali untuk naik kelas.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.