Karana Global Bangun Ekosistem Kopi dengan Berdayakan Masyarakat
03 October 2025 |
16:30 WIB
Di dataran tinggi Kintamani, Bali, ribuan petani kopi menggantungkan hidup pada lahan subur yang mereka kelola. Namun, menjaga mutu kopi agar mampu bersaing di pasar global bukanlah tugas ringan, sebab persaingan kualitas dan standar internasional semakin ketat dari tahun ke tahun.
Meski produksi tahunan mencapai 2.500–3.000 ton, para petani masih bergulat dengan persoalan regenerasi generasi muda yang enggan turun ke kebun, menyusutnya lahan produktif akibat alih fungsi, serta kebutuhan sertifikasi internasional demi memastikan akses ekspor tetap terbuka dan nama kopi Kintamani tetap harum di pasar dunia.
Karana Global hadir sebagai perusahaan pengolah sekaligus pemasok biji kopi yang menaungi petani, khususnya di Kintamani. Saat ini, sekitar 400 anggota bergabung dalam tiga subak—timur, tengah, dan barat. Subak, yang berfungsi sebagai kelompok tani, menjadi tulang punggung penting dalam pengelolaan dan keberlanjutan produksi kopi di kawasan ini.
Baca juga: Begini Cara Kopi Kenangan Menjaga Keberlanjutan Kopi Kintamani
“Kami sangat bersyukur, makin banyak yang mau belajar. Anak-anak juga semakin antusias. Harapannya, jumlah anak muda yang ingin bergabung akan terus meningkat,” ujar I Kadek Edi, Direktur Utama Karana Global ditemui disela kunjungan media di Gudang penyoritiran kopi di Singaraja, Bali.
Karana Global tidak hanya membina petani laki-laki, tetapi juga melibatkan ibu-ibu dan keluarga mereka. Ibu rumah tangga diberi kesempatan untuk bekerja sambil tetap bisa mengurus anak.
Ni Luh Ramiati, salah satu anggota, bercerita bagaimana keterlibatannya dalam proses penyortiran biji kopi dapat membantu menambah penghasilan keluarga.
"Saya bisa menyortir bijikopi sekitar 50 kilogram per hari. Kalau ada mesin, bisa sampai 100 kilogram. Pendapatan pun naik dua kali lipat, bisa Rp100.000 sehari. Itu sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya.
Untuk membantu mempermudah proses penyortiran biji kopi oleh para Mitra, Kopi Kenangan memberikan dukungan nyata dalam bentuk bantuan alat produksi berupa mesin sutton untuk menyortir biji kopi agar sesuai standar internasional.
Pendekatan ini menjadi salah satu alasan Kopi Kenangan memilih Karana sebagai mitra strategis. Program keberlanjutan tidak hanya dilihat dari sisi kualitas dan lingkungan, tetapi juga dampak sosial.
“Karana tidak hanya memberdayakan petani laki-laki, tapi juga perempuan dan anak-anak mereka. Ini sejalan dengan prinsip gender mainstreaming yang juga menjadi syarat penting dalam sertifikasi,” ujar Ineke Lestari, Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands.
Sertifikasi menjadi pintu masuk penting untuk memperkuat daya saing kopi Kintamani di pasar global. Kopi yang telah melalui proses grading bisa dibedakan menjadi berbagai kelas, mulai dari grade 1 yang berstandar premium hingga grade 5 yang masih punya pasar tersendiri.
Namun, untuk bisa diekspor ke negara-negara seperti Jepang, sertifikasi internasional seperti Rainforest Alliance sebagai syarat mutlak.
“Sertifikasi itu bukan hanya soal kualitas biji, tapi juga menyangkut dampak lingkungan dan sosial. Karena itu, kami mulai menyiapkan kelompok tani agar siap menghadapi standar global,” jelas I Kadek Edi.
Penolakan ekspor ke Jepang pada 2024 akibat residu pestisida menjadi pelajaran berharga. Kini, petani Kintamani didorong beralih ke praktik ramah lingkungan, didukung pelatihan dan mesin sortir modern untuk meningkatkan kualitas.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Meski produksi tahunan mencapai 2.500–3.000 ton, para petani masih bergulat dengan persoalan regenerasi generasi muda yang enggan turun ke kebun, menyusutnya lahan produktif akibat alih fungsi, serta kebutuhan sertifikasi internasional demi memastikan akses ekspor tetap terbuka dan nama kopi Kintamani tetap harum di pasar dunia.
Karana Global hadir sebagai perusahaan pengolah sekaligus pemasok biji kopi yang menaungi petani, khususnya di Kintamani. Saat ini, sekitar 400 anggota bergabung dalam tiga subak—timur, tengah, dan barat. Subak, yang berfungsi sebagai kelompok tani, menjadi tulang punggung penting dalam pengelolaan dan keberlanjutan produksi kopi di kawasan ini.
Baca juga: Begini Cara Kopi Kenangan Menjaga Keberlanjutan Kopi Kintamani
“Kami sangat bersyukur, makin banyak yang mau belajar. Anak-anak juga semakin antusias. Harapannya, jumlah anak muda yang ingin bergabung akan terus meningkat,” ujar I Kadek Edi, Direktur Utama Karana Global ditemui disela kunjungan media di Gudang penyoritiran kopi di Singaraja, Bali.
Karana Global tidak hanya membina petani laki-laki, tetapi juga melibatkan ibu-ibu dan keluarga mereka. Ibu rumah tangga diberi kesempatan untuk bekerja sambil tetap bisa mengurus anak.
Ni Luh Ramiati, salah satu anggota, bercerita bagaimana keterlibatannya dalam proses penyortiran biji kopi dapat membantu menambah penghasilan keluarga.
"Saya bisa menyortir bijikopi sekitar 50 kilogram per hari. Kalau ada mesin, bisa sampai 100 kilogram. Pendapatan pun naik dua kali lipat, bisa Rp100.000 sehari. Itu sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Ni Luh Ramiati sedang menyortit biji kopi secara manual bersama media (sumber : Kopi Kenangan)
Untuk membantu mempermudah proses penyortiran biji kopi oleh para Mitra, Kopi Kenangan memberikan dukungan nyata dalam bentuk bantuan alat produksi berupa mesin sutton untuk menyortir biji kopi agar sesuai standar internasional.
Pendekatan ini menjadi salah satu alasan Kopi Kenangan memilih Karana sebagai mitra strategis. Program keberlanjutan tidak hanya dilihat dari sisi kualitas dan lingkungan, tetapi juga dampak sosial.
“Karana tidak hanya memberdayakan petani laki-laki, tapi juga perempuan dan anak-anak mereka. Ini sejalan dengan prinsip gender mainstreaming yang juga menjadi syarat penting dalam sertifikasi,” ujar Ineke Lestari, Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands.
Sertifikasi menjadi pintu masuk penting untuk memperkuat daya saing kopi Kintamani di pasar global. Kopi yang telah melalui proses grading bisa dibedakan menjadi berbagai kelas, mulai dari grade 1 yang berstandar premium hingga grade 5 yang masih punya pasar tersendiri.
Namun, untuk bisa diekspor ke negara-negara seperti Jepang, sertifikasi internasional seperti Rainforest Alliance sebagai syarat mutlak.
“Sertifikasi itu bukan hanya soal kualitas biji, tapi juga menyangkut dampak lingkungan dan sosial. Karena itu, kami mulai menyiapkan kelompok tani agar siap menghadapi standar global,” jelas I Kadek Edi.
Penolakan ekspor ke Jepang pada 2024 akibat residu pestisida menjadi pelajaran berharga. Kini, petani Kintamani didorong beralih ke praktik ramah lingkungan, didukung pelatihan dan mesin sortir modern untuk meningkatkan kualitas.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.