Menteri Kebudayaan Fadli Zon Optimistis Ekonomi Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Nasional
03 October 2025 |
18:58 WIB
1
Like
Like
Like
Pertumbuhan ekonomi sekarang tak lagi hanya ditentukan oleh sektor industri konvensional, tetapi juga oleh kekuatan budaya yang dimiliki sebuah bangsa. Di era globalisasi, The Cultural and Creative Industry menjadi salah satu penggerak utama perekonomian dunia.
Indonesia, dengan kekayaan seni dan warisan budayanya, dianggap memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sektor ini. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan optimisme Indonesia untuk turut andil dalam sistem ekonomi baru tersebut. Menurutnya, ekonomi kebudayaan adalah masa depan penting yang perlu untuk segera dibuat peta jalannya.
Baca juga: Art Jakarta 2025 Resmi Dibuka, Perkuat The Cultural and Creative Industry Indonesia
“Di dunia, The Cultural and Creative Industry sedang tumbuh subur, tapi di Indonesia kita sedang terus mendata sampai sejauh mana posisi kita sekarang. Karena kan, data kita kan sporadis," ungkap Fadli Zon.
Namun, yang pasti, katanya, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor ini. Jika diperhatikan dari berbagai kegiatan seni yang berlangsung, ada banyak implementasi budaya ke dalam sektor ekonomi yang makin punya arah yang cerah.
Dari seni rupa, Indonesia punya beberapa bursa seni bergengsi, termasuk di antaranya Art Jakarta. Kemudian, di sektor musik, banyak festival besar internasional yang setiap tahunnya mengundang artis-artis global.
Belum lagi, dalam waktu dekat, Kemenbud juga akan menggelar konferensi musik Nasional sebagai bagian menemukan peta jalan industri musik ke depan. Di luar itu, film juga makin menunjukkan perkembangan yang menarik dengan capaian jumlah penonton maupun artistik yang makin diakui.
Namun, Fadli menekankan bahwa sektor ekonomi budaya bukan hanya soal karya seni semata, melainkan juga mencakup manajemen, kurasi, produksi, hingga distribusi konten digital. Film, musik, seni rupa, dan berbagai ekspresi budaya lainnya diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja secara luas, mulai dari seniman, artis, kurator, hingga profesional di bidang manajemen dan teknologi informasi.
Selain itu, Fadli Zon menyoroti potensi pengembangan aset intelektual (IP) dan digital. Ekonomi budaya modern tidak hanya bergantung pada pertunjukan fisik, tetapi juga pada hak cipta, lisensi, merchandise, serta platform digital yang mampu memperluas jangkauan konsumen. Dengan strategi ini, nilai ekonomi dari budaya Indonesia dapat lebih optimal.
Sektor pariwisata budaya juga menjadi fokus pengembangan. Museum, cagar budaya, dan destinasi wisata seni memiliki peran ganda, yakni sebagai wadah pelestarian warisan budaya sekaligus sebagai sumber pendapatan ekonomi.
Pengunjung yang datang ke museum atau situs budaya tidak hanya menikmati pengalaman estetika, tetapi juga berkontribusi terhadap ekonomi lokal melalui konsumsi, merchandise, dan layanan pendukung.
Sayangnya, Menbud menyebut hingga sekarang perkembangan industri kreatif dan budaya ini belum sepenuhnya tercermin dalam data resmi. Banyak kegiatan seni dan budaya yang saat ini berlangsung di tingkat lokal maupun nasional belum terhitung secara formal, meski sebenarnya turut berkontribusi signifikan terhadap perekonomian. Pihaknya pun mengaku tengah menyusun sistem pencatatan dan analisis yang lebih komprehensif.
“Mengenai persentase kita masih hitung. Kita dalam proses, bagaimana kontribusinya. Misalnya, heritage kita, museum-musium, itu juga belum dihitung. Bagaimana orang masuk ke museum, bagaimana di museum ada merchandise, orang datang ke tempat-tempat wisata budaya, itu belum dihitung. Bagaimana asetnya sendiri. Itu kan harus ada appraisal, kekayaan budaya. Itu harus ada angkanya ke depan,” tegasnya
Menteri penyuka keris ini menyebut tanpa data yang tepat, sulit bagi pemerintah maupun pelaku industri untuk merumuskan kebijakan, strategi investasi, dan program pendukung yang efektif. Oleh karena itu, pencatatan dan penghitungan ini menjadi sangat krusial untuk menatap The Cultural and Creative Industry.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Indonesia, dengan kekayaan seni dan warisan budayanya, dianggap memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sektor ini. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan optimisme Indonesia untuk turut andil dalam sistem ekonomi baru tersebut. Menurutnya, ekonomi kebudayaan adalah masa depan penting yang perlu untuk segera dibuat peta jalannya.
Baca juga: Art Jakarta 2025 Resmi Dibuka, Perkuat The Cultural and Creative Industry Indonesia
“Di dunia, The Cultural and Creative Industry sedang tumbuh subur, tapi di Indonesia kita sedang terus mendata sampai sejauh mana posisi kita sekarang. Karena kan, data kita kan sporadis," ungkap Fadli Zon.
Namun, yang pasti, katanya, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor ini. Jika diperhatikan dari berbagai kegiatan seni yang berlangsung, ada banyak implementasi budaya ke dalam sektor ekonomi yang makin punya arah yang cerah.
Dari seni rupa, Indonesia punya beberapa bursa seni bergengsi, termasuk di antaranya Art Jakarta. Kemudian, di sektor musik, banyak festival besar internasional yang setiap tahunnya mengundang artis-artis global.
Belum lagi, dalam waktu dekat, Kemenbud juga akan menggelar konferensi musik Nasional sebagai bagian menemukan peta jalan industri musik ke depan. Di luar itu, film juga makin menunjukkan perkembangan yang menarik dengan capaian jumlah penonton maupun artistik yang makin diakui.
Namun, Fadli menekankan bahwa sektor ekonomi budaya bukan hanya soal karya seni semata, melainkan juga mencakup manajemen, kurasi, produksi, hingga distribusi konten digital. Film, musik, seni rupa, dan berbagai ekspresi budaya lainnya diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja secara luas, mulai dari seniman, artis, kurator, hingga profesional di bidang manajemen dan teknologi informasi.
Selain itu, Fadli Zon menyoroti potensi pengembangan aset intelektual (IP) dan digital. Ekonomi budaya modern tidak hanya bergantung pada pertunjukan fisik, tetapi juga pada hak cipta, lisensi, merchandise, serta platform digital yang mampu memperluas jangkauan konsumen. Dengan strategi ini, nilai ekonomi dari budaya Indonesia dapat lebih optimal.
Sektor pariwisata budaya juga menjadi fokus pengembangan. Museum, cagar budaya, dan destinasi wisata seni memiliki peran ganda, yakni sebagai wadah pelestarian warisan budaya sekaligus sebagai sumber pendapatan ekonomi.
Pengunjung yang datang ke museum atau situs budaya tidak hanya menikmati pengalaman estetika, tetapi juga berkontribusi terhadap ekonomi lokal melalui konsumsi, merchandise, dan layanan pendukung.
Sayangnya, Menbud menyebut hingga sekarang perkembangan industri kreatif dan budaya ini belum sepenuhnya tercermin dalam data resmi. Banyak kegiatan seni dan budaya yang saat ini berlangsung di tingkat lokal maupun nasional belum terhitung secara formal, meski sebenarnya turut berkontribusi signifikan terhadap perekonomian. Pihaknya pun mengaku tengah menyusun sistem pencatatan dan analisis yang lebih komprehensif.
“Mengenai persentase kita masih hitung. Kita dalam proses, bagaimana kontribusinya. Misalnya, heritage kita, museum-musium, itu juga belum dihitung. Bagaimana orang masuk ke museum, bagaimana di museum ada merchandise, orang datang ke tempat-tempat wisata budaya, itu belum dihitung. Bagaimana asetnya sendiri. Itu kan harus ada appraisal, kekayaan budaya. Itu harus ada angkanya ke depan,” tegasnya
Menteri penyuka keris ini menyebut tanpa data yang tepat, sulit bagi pemerintah maupun pelaku industri untuk merumuskan kebijakan, strategi investasi, dan program pendukung yang efektif. Oleh karena itu, pencatatan dan penghitungan ini menjadi sangat krusial untuk menatap The Cultural and Creative Industry.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.