Enzy Storia di film Yakin Nikah. (Sumber foto: Adhya Pictures)

Romcom di Tengah Dominasi Horor, Masihkah Punya Tempat di Bioskop?

04 October 2025   |   09:00 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah dominasi horor di layar lebar, genre komedi romantis atau romantic comedy (romcom) tetap memiliki tempat tersendiri di hati penonton Indonesia. Sejak era 3 Dara hingga Asrama Dara, romcom pernah merajai bioskop Tanah Air dan menghadirkan hiburan yang ringan sekaligus akrab dengan keseharian.

Kini, genre ini memang kerap dipandang berisiko, apalagi dengan pergeseran tren menuju platform OTT. Namun, kehadiran film romcom terbaru berjudul Yakin Nikah yang segera tayang di bioskop pada 9 Oktober 2025 menunjukkan bahwa romcom masih berusaha mencari ruangnya sendiri.

Baca juga: Zodiak, Cinta, dan Keresahan Pernikahan di Balik Film Yakin Nikah

Pengamat film Yan Widjaya menilai romcom sebenarnya memiliki pasar yang jelas di Indonesia. Beberapa judul terbukti sukses secara komersial, seperti Home Sweet Loan. “Romcom itu populer karena sifatnya ringan, menghibur, dan dekat dengan realitas sehari-hari. Penonton bisa tertawa sekaligus merasa relate dengan pengalaman hidupnya sendiri,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Jumat (3/10/2025).

Menurut Yan, daya tarik romcom justru ada pada kemampuannya menghadirkan realitas dan solusi yang sederhana namun menyentuh, sehingga bisa memberi pencerahan bagi penonton.

Meski begitu, ia menegaskan tantangan terbesar bagi sineas adalah memahami konteks sosial masyarakat Indonesia, termasuk di daerah. Ia mencontohkan romcom lokal yang berhasil mencuri perhatian, mulai dari Uang Panai (Makassar), Onde Mande! (Padang), hingga Cocote Tonggo (Solo).

“Romcom yang gagal biasanya terlalu dibuat-buat, tidak masuk akal, dan jatuh pada klise. Penonton kita sudah pintar; mereka hanya akan menerima cerita yang terasa nyata dan relevan,” tegasnya.

Sejak era Usmar Ismail, romcom memang telah mendapat tempat khusus di hati penonton. Film-film seperti 3 Dara, Asrama Dara, Kawin Lari, dan Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi terbukti laris manis di masanya.

Namun, kondisi industri saat ini sudah berbeda. Penulis skenario sekaligus aktor film Yakin Nikah, Bene Dion Rajagukguk, menilai romcom belakangan lebih sering tayang langsung di platform over the top (OTT) ketimbang di layar lebar. Situasi ini membuat produksi romcom untuk bioskop terasa semakin berisiko.

“Meskipun begitu, saya berharap film ini tetap mendapat ruang. Romcom dewasa seperti Yakin Nikah ini sangat jarang mendapat tempat karena penuh risiko,” ujarnya.

Bene menambahkan, tren romcom remaja yang sempat ramai juga makin jarang diproduksi sejak maraknya OTT. Karena itu, ia berharap Yakin Nikah bisa menarik perhatian publik sekaligus membuka jalan bagi keberagaman genre di perfilman Indonesia.

Senada, penulis, sutradara, aktor, sekaligus produser Ernest Prakasa mengakui bahwa romcom merupakan genre yang menantang untuk digarap. “Kalau spesifik di romcom, rasanya memang bukan film yang sering berhasil diterima dengan luas. Jadi, ya cukup challenging menurutku romcom itu,” katanya.

Ernest menuturkan, dalam Yakin Nikah, rumah produksi Imajinari mendapat proyek menulis naskah dari cerita yang sebelumnya sudah hadir dalam format web series. Dengan begitu, naskah film ini tidak lahir dari ide baru, melainkan pengembangan dari cerita yang sudah ada.
 

Yakin Nikah mengisahkan perjuangan karakter bernama Niken (Enzy Storia), wanita modern yang pusing dengan tekanan keluarga dan sosial untuk memintanya segera menikah. Niken yang tidak dilamar atau tidak ada pembicaraan tentang pernikahan dengan sang pacar pun mulai memberikan tanda. Sayangnya, sang pacar tidak peka.

Pada momen itu, sang mantan yang hampir menikahinya kembali dalam kehidupannya. Tidak hanya itu, mantan juga kembali mengajak untuk melanjutkan pernikahan yang sempat gagal. Saat masih berpikir, sang kekasih datang untuk melamarnya.

Niken pun menghadapi lamaran dari 2 pria. Kondisi ini membuatnya bingung untuk memilih yang terbaik. Dia meminta bantuan kedua orang tuanya yang ternyata juga tidak menyelesaikan masalah karena mereka memiliki pendapat yang berbeda.

Film yang diperankan oleh Enzy Storia, Maxime Bouttier, Jourdy Pranata, Amanda Rigby, Tora Sudiro, dan Ersa Mayori ini tayang mulai 9 Oktober 2025 di bioskop Indonesia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Ombak yang Belum Tidur: Ipeh Nur, Mitologi, dan Jejak Bencana di Art Jakarta 2025

BERIKUTNYA

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Optimistis Ekonomi Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga