Gizi seimbang penting bagi individu (Sumber gambar/ilustrasi: Pexels/Jane T D)

Hypereport: Ancaman Malnutrisi di Tengah Godaan Makanan Ultraproses bagi Gen Z dan Milenial

01 October 2025   |   22:12 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah kondisi saat Generasi milenial dan Z menghadapi tantangan serius menjaga asupan gizi, derasnya godaan makanan ultraproses tinggi gula, garam, dan lemak menjadi perhatian. Makanan seperti ini berdampak buruk bagi kesehatan, yang pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap produktivitas.

Kini, aneka makanan ultraproses dengan kandungan tinggi garam, gula, dan lemak begitu mudah ditemukan. Cukup lihat di berbagai toko ritel besar maupun kecil yang menjamur, beragam makanan dan minuman manis serta gurih hadir menggoda konsumen. 

Pakar Gizi Ali Khomsan menegaskan, makanan ultraproses dengan kadar garam, gula, dan lemak tinggi patut diwaspadai generasi milenial dan Z, terutama terkait pola makan. Alasannya, konsumsi berlebihan bisa memicu masalah kesehatan seperti anemia, stunting, hingga obesitas. 

Baca juga laporan terkait:  Terkait produk tinggi lemak, garam, dan gula, pemerintah baru 2 tahun lagi berencana memberi tanda seperti lampu lalu lintas: hijau, kuning, dan merah. Dengan demikian, generasi muda akan lebih mudah memilih makanan sehat.

Adapun soal anemia, pemerintah sebenarnya sudah mengantisipasi melalui program tablet tambah darah untuk remaja putri yang diminum setiap minggu sekali atau 52 kali setahun. 

Dalam pelaksanaannya, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) mengunjungi sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) secara berkala guna membagikan tablet tersebut. “Guru-guru diminta untuk menganjurkan atau memberi penguatan agar tablet itu diminum rutin oleh para siswi,” ujarnya.

Masalah lain yang masih muncul adalah stunting pada anak usia pertumbuhan, termasuk remaja sekolah. Stunting berawal sejak balita dan akan terbawa hingga pertumbuhan berhenti pada usia 18 tahun bila tak tertangani dengan baik. Oleh sebab itu, stunting perlu menjadi perhatian serius pemerintah. 

Dia berharap, langkah pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu mengejar pertumbuhan anak-anak stunting, yang jumlahnya berkisar 18-23 persen di kalangan pelajar. Apalagi, program tersebut telah mengeluarkan biaya besar. 

Selain stunting, obesitas juga menjadi masalah gizi generasi muda saat ini. Kondisi tersebut mendorong perlunya aktivitas fisik guna menurunkan berat badan. Lebih jauh, malnutrisi seperti kekurangan zat besi juga berpengaruh terhadap produktivitas generasi muda. 

Dalam kesempatan berbeda, Dokter Spesialis Gizi Klinis Mayapada Hospital Kuningan, Jakarta Selatan, Oki Yonatan Oentiono menuturkan, malnutrisi—baik kekurangan maupun kelebihan zat gizi—dapat menurunkan produktivitas.

Kekurangan energi dan protein bisa membuat tubuh cepat lelah, sulit fokus, hingga menurunkan daya tahan. Sementara itu, kelebihan kalori dan gula meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit kronis, bahkan sejak usia muda. “Nah, semua ini tentu akan mengganggu daya saing, kreativitas, serta performa kerja maupun akademik kita semua,” katanya. 

Malnutrisi berdampak pada produktivitas karena sangat bergantung pada kondisi fisik dan mental, terutama otak yang memerlukan glukosa, lemak sehat, vitamin, serta mineral agar bekerja optimal. 

Sebagai contoh, kekurangan zat besi dapat menurunkan konsentrasi. Kekurangan vitamin D dan omega-3 dapat memengaruhi mood serta kesehatan mental. Sebaliknya, pola makan berlebih, khususnya tinggi gula, bisa memicu sugar rush yang membuat energi cepat turun. 

“Jadi, gizi yang tidak seimbang langsung memengaruhi energi, fokus, dan daya pikir generasi muda,” tegasnya. 
 

Langkah-langkah Pencegahan dan Penangan Malnutrisi 

Untuk menjaga asupan gizi, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan generasi milenial dan Z. Pertama, pola makan seimbang. Pastikan piring berisi karbohidrat kompleks seperti nasi atau kentang, bukan sekadar tepung.

Selain itu, sertakan protein berkualitas, seperti daging tanpa lemak, ikan, telur, atau tempe. Lalu, sayur dan buah juga harus hadir dalam menu sehari-hari. “Kemudian, pilih lemak yang sehat,” imbuhnya. 

Kedua, kurangi konsumsi makanan ultraproses atau ultraprocessed food. Generasi muda sebaiknya membatasi fast food, minuman manis, sereal, serta camilan tinggi gula, garam, atau natrium.

Ketiga, atur jadwal makan. Jangan biasakan melewatkan makan, misalnya tidak sarapan lalu menggantinya dengan minuman kekinian manis atau boba. “Lalu, yang terakhir, edukasi gizi sangat penting,” lanjutnya.

Dia menekankan, setiap orang kini memiliki akses ke informasi digital. Dengan itu, individu bisa belajar pola makan benar, bukan sekadar mengikuti tren atau terjebak rasa takut ketinggalan (Fear of Missing Out).

Aktivitas fisik rutin juga menjadi langkah penting bagi generasi milenial dan Z. Olahraga membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga fungsi tubuh lebih optimal. 

Baca juga: Hypereport: Keracunan Massal Bayangi Program MBG, 9.000 Korban di 28 Provinsi per September 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Menkes Budi Gunadi Ungkap Penyebab dan Skema Pencegahan Keracunan MBG

BERIKUTNYA

6 Rekomendasi Film di Prime Video Oktober 2025, dari Play Dirty hingga Host

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga