Ilustrasi makanan (Sumber gambar: Pexels/ Julia M Cameron)

Menkes Budi Gunadi Ungkap Penyebab dan Skema Pencegahan Keracunan MBG

01 October 2025   |   19:03 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan penyebab keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di sejumlah sekolah di berbagai daerah di Indonesia. Temuan ini diperoleh setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi secara menyeluruh di lokasi-lokasi terjadinya keracunan.

Dia menyebut begitu kasus mencuat, protokol penanganan dari Kementerian Kesehatan langsung dijalankan. Seluruh dinas kesehatan di kabupaten dan kota turun tangan melakukan penelitian epidemiologis serta mengirimkan hasil pemeriksaan ke laboratorium kesehatan masyarakat di daerah masing-masing.

Penelusuran penyebab dilakukan dengan memecah kasus berdasarkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Salah satu contoh adalah SPPG Makmur Jaya yang memproduksi 3.463 porsi makanan, dengan 380 anak mengalami keracunan atau setara 11 persen dari total distribusi.

Menu yang disediakan kala itu terdiri dari nasi, ayam kecap, tahu, selada, timun, tomat, dan buah melon. Masa inkubasi gejala bervariasi antara 1,5 jam hingga 19 jam. Data ini kemudian menjadi faktor penting untuk menentukan apakah penyebab berasal dari bakteri, virus, atau zat kimia. 

Baca juga: Hypereport: Keracunan Massal Bayangi Program MBG, 9.000 Korban di 28 Provinsi per September 

Berdasarkan catatan gejala, mayoritas siswa mengalami mual sebesar 69,8 persen. Gejala lain yang muncul meliputi pusing pada 64,3 persen anak, sesak 25 persen, muntah 22,3 persen, serta keluhan tambahan seperti sakit perut, lemas, demam, sakit kepala, dan diare dengan jumlah yang lebih kecil. Selain itu, penelitian juga dilakukan serupa di SPPG di wilayah lain, termasuk yang terbaru di Cihampelas.

"Dari hasil penyelidikan epidemiologi di seluruh SPPG, keracunan disebabkan oleh tiga hal, yakni ada yang bakteri, virus, dan kimia," ungkapnya dalam rapat kerja bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dan Komisi IX DPR RI, Rabu, (01/10/2025).

Untuk kontaminasi bakteri, penyebabnya ialah karena munculnya Salmonella, Escherichia Coli, Bacillus Cereus, Staphylococcus Aureus, Clostridium Perfringens, Listeria monocytogenes, Campylobacter jejuni, dan Shigella.

Kemudian, infeksi virus dominasi Norovirus, Rotavirus, hingga Hepatitis A Virus. Ketiga, terdapat penyebab karena unsur kimia yang ditemukan, yakni Nitrit serta Scombrotoxin (Histamine), yang kedua bahan ini memang dapat menimbulkan reaksi serius pada tubuh. 

“Penyebab ini penting diketahui di awal karena nanti akan menentukan treatment-nya akan seperti apa kalau dia kena. Kemudian, kita juga bisa melacak kira-kira sumbernya kejadian seperti apa, karena masing-masing bakteri atau virus timbulnya beda-beda,” imbuhnya. 

Dia menegaskan saat ini perlu pengawasan lebih ketat terhadap seluruh SPPG. Pihaknya pun menyebut Kemenkes berkomitmen memastikan keberlangsungan program MBG agar lebih baik ke depannya dengan bekerja sama dengan BGN. Sebab, program ini penting karena sangat terkait dengan kesehatan anak-anak Indonesia.

Budi mengatakan pihaknya sudah menginstruksikan kepada Dinas Kesehatan daerah untuk turut membantu kerja-kerja BGN. Dinkes dapat berkontribusi dalam hal pengecekan bahan masakan, pemeriksaan orang-orang yang mengolah makanan, hingga menilai kondisi fisik dapur. 

Kemudian, dengan melihat kondisi yang ada, pengujian cepat mikrobiologi juga diperlukan agar jika ada kandungan yang dicurigai, seperti Nitrit, bisa terdeteksi lebih awal. Menurutnya, upaya ini kini melibatkan 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia. 

Dari sisi infrastruktur, kesiapan upaya pengawasan ini juga dianggapnya bisa berjalan optimal. Sebab, 92,63 persen puskesmas telah memiliki tenaga nutrisionis dan 88,82 persen dilengkapi dengan sanitarian lingkungan.

Tak berhenti di situ, Budi mengatakan koordinasi juga dilakukan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mendorong keterlibatan sekolah serta orang tua murid. Langkah pencegahan antara lain mengecek kondisi makanan sebelum dibagikan, menjaga kebersihan sekolah, serta membiasakan siswa mencuci tangan sebelum makan.

“Sekolah kan punya UKS. Selama ini UKS hanya untuk pendidikan dan pembinaan, nantinya akan digerakkan untuk pelayanan kesehatan dalam porsi yang sedikit tentunya. Misalnya, kalau terima makanan itu mereka bisa dilihat dulu, ada warna aneh tidak atau ada bau tidak sedap tidak. Harapannya ini bisa dicegah tidak dimakan dulu,” jelas Budi. 

Baca juga: Hypereport: Ancaman Sunyi Penyakit Obesitas, Urgensi Pencegahan & Pengobatan di Indonesia 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Song Kang Selesai Wajib Militer Hari Ini Usai Bertugas 18 Bulan

BERIKUTNYA

Hypereport: Ancaman Malnutrisi di Tengah Godaan Makanan Ultraproses bagi Gen Z dan Milenial

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga