(Sumber gambar: Pexels/Dana Englich)

Kisah Ranger Taman Nasional Komodo, Menjaga Satwa Purba dari Gempuran Wisata dan Iklim

29 September 2025   |   21:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Hidup sebagai ranger di Taman Nasional Komodo berarti siap menghadapi rutinitas yang berat. Dari mengawasi wisatawan, mencatat populasi satwa, hingga memastikan habitat tidak rusak, semua menjadi bagian dari rutinitas keseharian mereka.

Tugas itu kerap membuat mereka berjalan puluhan kilometer dalam setiap patrolinya, melintasi hutan, lembah, dan pantai. Peran para ranger kian vital karena Taman Nasional Komodo bukan hanya destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga rumah bagi predator purba yang hanya ada di Indonesia. 

Setiap langkah kecil dalam patroli kawasan bisa membawa pengaruh besar terhadap kelangsungan hidup satwa ini. Melalui peran mereka, komodo beserta habitatnya tetap terlindungi meskipun ribuan wisatawan datang dan pergi tanpa henti.

Baca Juga: BTNK Imbau Wisatawan Tidak Paksakan Diri Kunjungi Komodo Saat Cuaca Buruk
 

Komodo (Sumber gambar: Pexels/Jeffry S.S.)

Komodo (Sumber gambar: Pexels/Jeffry S.S.)


Maria Panggur, salah satu ranger di kawasan tersebut, menjelaskan bahwa medan kerja untuk menjaga komodo sebagian besar berupa savana yang harus dilalui dengan naik-turun bukit. Namun, itu bukan bagian akhirnya. Sebab, sebagian lain kawasan ini juga merupakan perairan yang juga perlu dipantau.

Kondisi ini tentu saja menuntut kekuatan fisik. Namun, baginya hal itu bisa dijalani karena lingkungan kerja yang mendukung. Maria menyadari bahwa pekerjaannya kerap dipandang identik dengan kekuatan fisik laki-laki. Namun, pengalaman dipercaya memimpin tim serta dukungan dari rekan-rekan membuatnya yakin bahwa perempuan pun bisa menorehkan peran penting di balik kerja-kerja konservasi ini.

Menurut Maria, sejauh ini populasi komodo secara umum berada dalam kondisi stabil. Namun, dia memberi perhatian khusus pada populasi kecil yang terisolasi di Flores, yang tidak masuk ke dalam Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

“Kalau di Taman Nasional sendiri populasinya cukup stabil. Tapi, kita punya populasi yang kecil dan terisolasi itu di Flores. Jadi, hal pertama memang perlindungan komodo yang ada di pulau lain gitu ya selain dalam Taman Nasional," ungkap perempuan yang meraih Australia Awards Scholarship Indonesia tersebut.

Di Flores, tantangan konservasi jauh berbeda dibanding kawasan inti taman nasional. Perubahan habitat akibat perluasan permukiman dan perkebunan membuat ruang hidup komodo semakin menyempit. Tekanan ini menuntut strategi khusus agar populasi yang sudah kecil, tidak makin terancam.

Sebaliknya, ketika berbicara di dalam taman nasional, interaksi manusia menjadi isu yang paling mencolok. Maria menyebut wisatawan datang dengan rasa penasaran, tetapi di sisi lain komodo juga dituntut tetap hidup sesuai naluri liarnya. Menjaga agar keduanya tidak saling mengganggu adalah tugas harian yang tidak sederhana.

Untuk itu, pengelola kawasan menerapkan sistem zonasi. Dari sekitar 55 lembah yang menjadi habitat komodo, hanya dua yang dibuka untuk kunjungan wisatawan. Dua lembah itu adalah Loh Buaya di Pulau Rinca dan Loh Liang di Pulau Komodo.

"Jadi, sebenarnya selama ini hanya kurang dari satu persen wilayah yang wisatawan diberi kesempatan melihat komodo," imbuhnya.

Dengan menjaga agar sebagian besar habitat tetap steril dari aktivitas wisata, komodo masih bisa mempertahankan perilaku alaminya. Di sisi lain, wisatawan tetap diberi kesempatan melihat satwa purba tersebut dari jarak aman.

Kehati-hatian ini lahir dari kesadaran bahwa kehadiran manusia bisa memicu habituasi. Komodo yang terlalu terbiasa dengan wisatawan cenderung menjadi pasif, bahkan tampak jinak, padahal secara alami mereka cenderung menjauh dari gangguan.

Selain persoalan interaksi, ancaman lain datang dari rantai makanan. Maria menyebut komodo umumnya memakan hewan-hewan liar yang ada di sana, dari rusa, kerbau, babi hutan, dan sebagainya. Masalahnya, di sana masih terdapat juga perburuan liar terhadap rusa, misalnya.

Hal ini membuat rantai makanan di tempat tersebut pun berpotensi terganggu. Oleh karena itu, tugas para ranger dan peneliti, selain memantau komodo, juga mangsanya. Sebab, itu saling berkaitan.

“Kalau misalnya benar-benar menurun drastis, ini akan jadi alarm. Bagaimana intervensi pengelolanya harus dipikirkan dengan serius. Namun, sejauh ini masih ada di batas yang relatif aman," jelasnya.
 

Komodo (Sumber gambar: Pexels/Erika Birdy)

Komodo (Sumber gambar: Pexels/Erika Birdy)


Maria menjelaskan bahwa beberapa masalah konservasi lain yang berpotensi merusak ekosistem ialah terkait lahan yang sebelumnya menjadi habitat komodo beralih fungsi menjadi permukiman dan perkebunan. Pergeseran ini mempersempit ruang gerak satwa yang sudah terbatas, seperti yang terjadi di Flores.

Di luar itu, berbagai penelitian juga telah menyoroti ancaman iklim terhadap keberlangsungan satwa. uhu yang meningkat, perubahan pola hujan, dan dinamika lingkungan lainnya berpotensi menambah tekanan terhadap keberlangsungan komodo di masa depan.

Dengan begitu banyak lapisan tantangan, dari pariwisata hingga perubahan iklim, konservasi komodo tidak bisa berjalan setengah hati. Sebab, perlu berbagai stakeholder yang berjalan beriringan agar komodo tetap lestari.

"Dari penelitian, nenek moyangnya komodo itu kan dari Australia, kemudian migrasi ke Indonesia. Di sana sudah tidak ada, punah, jangan sampai itu juga terjadi di sini," pungkasnya.

Baca Juga: Dari Desa Wisata hingga Diplomasi Budaya, Ini Fokus Perubahan dalam Revisi UU Kepariwisataan

SEBELUMNYA

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa Rilis Teaser Poster, Dibintangi Luna Maya dan Reza Rahadian

BERIKUTNYA

Serba-serbi Aplikasi All Indonesia yang Wajib Digunakan oleh Penumpang Internasional Mulai Oktober

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga