Wisata Ramah Muslim di Indonesia, Dari Lombok hingga Aceh Jadi Magnet Wisatawan
29 September 2025 |
18:30 WIB
Pariwisata halal bukan lagi sekadar niche, melainkan motor baru ekonomi global dengan proyeksi pasar US$410,9 miliar pada 2032. Dengan populasi Muslim terbesar, destinasi beragam, dan dukungan ekosistem digital, Indonesia punya peluang besar memimpin wisata ramah Muslim dunia.
Pariwisata halal atau wisata ramah Muslim kini menjadi salah satu sektor yang paling cepat tumbuh di industri pariwisata global. Menariknya, pasar ini tidak hanya datang dari wisatawan Muslim, tetapi juga wisatawan non-muslim yang mencari layanan dengan standar kenyamanan, kebersihan, hingga kualitas makanan dan akomodasi yang lebih terjamin.
Indonesia, dengan status sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, memiliki modal kuat untuk menjelma sebagai pusat pariwisata halal global. Pertumbuhan sektor ini bukan sekadar soal budaya dan agama, tetapi juga peluang ekonomi yang bernilai ratusan miliar dolar.
Baca Juga: Dari Desa Wisata hingga Diplomasi Budaya, Ini Fokus Perubahan dalam Revisi UU Kepariwisataan
Berikut sejumlah fakta penting yang menggambarkan pesatnya perkembangan pariwisata halal:
Pemerintah menargetkan Indonesia bisa kembali ke posisi puncak lewat berbagai langkah, termasuk percepatan sertifikasi halal, penyusunan data destinasi ramah muslim yang mudah diakses, hingga menghadirkan program ikonik berskala global.
Hariyanto, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, menegaskan bahwa wisata ramah Muslim bukan hanya soal label halal. “Sertifikasi pada restoran maupun hotel, serta fasilitas ibadah yang terjamin, akan membuat wisatawan merasa aman,” jelasnya.
Selain F&B, sektor wellness dan hospitality juga semakin penting, terutama akomodasi ramah keluarga, fasilitas ibadah, dan layanan sesuai kebutuhan wisatawan muslim.
Di sisi lain, peluang besar juga terbuka bagi pelaku usaha kreatif melalui aplikasi digital. Aplikasi yang dapat memetakan restoran halal, mushola terdekat, atau menampilkan sertifikat halal digital bisa menjadi solusi praktis untuk wisatawan.
Shinichi Hosokawa, Global CEO GMO-Z.com Research, menekankan pentingnya pendekatan yang autentik. “Brand dan destinasi yang tidak hanya memenuhi aturan, tetapi juga memberikan komunikasi yang jelas, sertifikasi transparan, serta kepedulian pada gaya hidup Muslim akan lebih mudah meraih loyalitas,” ujarnya.
Diah Andrini Dewi, Executive Director Vero Indonesia mengatakan bahwa traveler muslim mencari pengalaman yang selaras dengan nilai mereka. Meski motivasi perjalanan sama dengan wisatawan lain, ada nilai yang harus dijaga. Kolaborasi adalah kunci agar destinasi bisa lebih terkomunikasikan dan membuka pasar baru.”
Baca Juga: 8 Destinasi Wisata Favorit Dunia 2025 dengan Spot Foto Terbaik
Pariwisata halal atau wisata ramah Muslim kini menjadi salah satu sektor yang paling cepat tumbuh di industri pariwisata global. Menariknya, pasar ini tidak hanya datang dari wisatawan Muslim, tetapi juga wisatawan non-muslim yang mencari layanan dengan standar kenyamanan, kebersihan, hingga kualitas makanan dan akomodasi yang lebih terjamin.
Indonesia, dengan status sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, memiliki modal kuat untuk menjelma sebagai pusat pariwisata halal global. Pertumbuhan sektor ini bukan sekadar soal budaya dan agama, tetapi juga peluang ekonomi yang bernilai ratusan miliar dolar.
Baca Juga: Dari Desa Wisata hingga Diplomasi Budaya, Ini Fokus Perubahan dalam Revisi UU Kepariwisataan
Berikut sejumlah fakta penting yang menggambarkan pesatnya perkembangan pariwisata halal:
1. Pasar Pariwisata Halal Tumbuh Pesat Secara Global
Industri wisata halal terus mencatat tren pertumbuhan positif. Dari nilai US$256,5 miliar pada 2023, diproyeksikan melonjak menjadi US$410,9 miliar pada 2032. Angka ini menegaskan peran wisata halal sebagai mesin pertumbuhan baru ekonomi global.2. Indonesia Punya Modal Besar dan Target Jadi Pemimpin
Dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki basis pasar domestik yang kuat sekaligus daya tarik internasional. Saat ini, Indonesia berada di peringkat kelima dalam Global Muslim Travel Index (GMTI).Pemerintah menargetkan Indonesia bisa kembali ke posisi puncak lewat berbagai langkah, termasuk percepatan sertifikasi halal, penyusunan data destinasi ramah muslim yang mudah diakses, hingga menghadirkan program ikonik berskala global.
3. Destinasi Ramah Muslim Terus Berkembang
Beberapa wilayah di Indonesia sudah dikenal sebagai destinasi wisata ramah muslim, seperti Aceh, Lombok, Jakarta, Yogyakarta, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat. Destinasi ini menawarkan fasilitas lengkap mulai dari restoran bersertifikasi halal, hotel syariah, hingga tempat ibadah yang mudah dijangkau wisatawan.Hariyanto, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, menegaskan bahwa wisata ramah Muslim bukan hanya soal label halal. “Sertifikasi pada restoran maupun hotel, serta fasilitas ibadah yang terjamin, akan membuat wisatawan merasa aman,” jelasnya.
4. F&B Jadi Prioritas Utama Wisatawan Muslim
Studi Vero dan GMO-Z.com Research menunjukkan 89% Muslim Indonesia menempatkan makanan halal sebagai prioritas utama saat bepergian. Ini menjadikan sektor F&B sebagai peluang emas. Restoran, kafe, hingga coffee shop yang mengantongi sertifikat halal berpotensi besar menjadi pilihan pertama wisatawan.Selain F&B, sektor wellness dan hospitality juga semakin penting, terutama akomodasi ramah keluarga, fasilitas ibadah, dan layanan sesuai kebutuhan wisatawan muslim.
5. Peluang Bisnis di Transportasi, Teknologi, hingga Aplikasi Halal
Tidak hanya F&B dan akomodasi, aspek transportasi juga menjadi faktor penting. Sejumlah maskapai asing mulai menawarkan paket wisata ramah muslim ke Indonesia.Di sisi lain, peluang besar juga terbuka bagi pelaku usaha kreatif melalui aplikasi digital. Aplikasi yang dapat memetakan restoran halal, mushola terdekat, atau menampilkan sertifikat halal digital bisa menjadi solusi praktis untuk wisatawan.
Shinichi Hosokawa, Global CEO GMO-Z.com Research, menekankan pentingnya pendekatan yang autentik. “Brand dan destinasi yang tidak hanya memenuhi aturan, tetapi juga memberikan komunikasi yang jelas, sertifikasi transparan, serta kepedulian pada gaya hidup Muslim akan lebih mudah meraih loyalitas,” ujarnya.
6. Kolaborasi dan Digitalisasi Jadi Kunci Pertumbuhan
Transformasi digital mendorong wisatawan muslim mencari rekomendasi lewat media sosial atau bahkan memanfaatkan AI untuk merencanakan perjalanan. Hal ini disadari oleh banyak UMKM pariwisata yang kini aktif di Instagram, menggandeng konten kreator, hingga melibatkan media untuk publikasi.Diah Andrini Dewi, Executive Director Vero Indonesia mengatakan bahwa traveler muslim mencari pengalaman yang selaras dengan nilai mereka. Meski motivasi perjalanan sama dengan wisatawan lain, ada nilai yang harus dijaga. Kolaborasi adalah kunci agar destinasi bisa lebih terkomunikasikan dan membuka pasar baru.”
Baca Juga: 8 Destinasi Wisata Favorit Dunia 2025 dengan Spot Foto Terbaik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.