Ilustrasi kanker (Sumber gambar: Pexels)

Pendampingan Psikososial Jadi Kunci Peningkatan Kualitas Hidup Penyintas Kanker

29 September 2025   |   17:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Tidak hanya terapi medis, dukungan emosional juga menjadi fondasi besar perjalanan pasien dan penyintas kanker. Studi Journal of Clinical Oncology (Lepore & Revenson, 2007) menegaskan bahwa keterlibatan keluarga dan jaringan sosial mampu menurunkan tingkat stres sekaligus mendorong kepatuhan pasien terhadap terapi.

Sementara itu, penelitian lain di Psycho-Oncology menemukan bahwa pasien yang mendapatkan dukungan psikososial konsisten memiliki kualitas hidup lebih baik serta motivasi lebih tinggi untuk menjalani pengobatan jangka panjang.
 
Menurut Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Sudoyo, di luar dari aspek medis, kanker juga memang harus dipahami secara lebih luas.

Baca juga: Ilmuwan Rusia Umumkan Vaksin Kanker, Mampu Perkecil Ukuran Tumor

“Kanker bukan hanya soal pengobatan terhadap penyakitnya, tetapi juga tentang komunikasi yang bermakna antara pasien dan keluarganya,” kata Aru. Baginya, perjuangan melawan kanker adalah peperangan tiada henti yang melibatkan bukan hanya dokter dan pasien, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas.
 
Ini memperlihatkan bahwa penderita kanker tidak hanya menghadapi tantangan medis, tetapi juga pergulatan emosional dan sosial. Aru menyebut, komunikasi yang tulus antara pasien dan lingkungannya dapat menjadi penopang dalam situasi sulit sekaligus memperkuat semangat untuk terus berjuang.
 
Sebagaimana diketahui, pasien dan penyintas kanker melewati tantangan yang kompleks. Tantangan itu bersifat multidimensional. Selain fisik, emosional dan sosial juga perlu dijaga dan diperhatikan dengan baik. Komunikasi yang hangat, konsisten, dan penuh empati dapat menjadi sumber kekuatan yang sangat berarti.

Menurutnya, ini juga tak lepas dari pendampingan yang menyentuh aspek kemanusiaan yang merupakan kunci untuk membangun harapan dan ketahanan.
 
Dalam konteks kanker, dukungan psikososial tidak lagi dapat dianggap sebagai pelengkap. Justru aspek ini merupakan kebutuhan dasar dalam memastikan kualitas hidup penyintas tetap terjaga di tengah kerasnya proses pengobatan.
 

Pandangan Psiko-Onkologi

 

Ilustrasi kanker (Sumber gambar: Pexels)

Ilustrasi kanker (Sumber gambar: Pexels)

Perspektif medis juga makin menegaskan pentingnya dukungan non-medis. Psikiater & Praktisi Psiko-onkologi Brawijaya Hospital Saharjo Sylvia Detri Elvira menjelaskan, pasien memerlukan dukungan fisik, emosional, dan sosial secara utuh untuk bisa pulih di seluruh aspek tersebut juga.

“Terapi kanker yang panjang seperti kemoterapi, radiasi, dan operasi membutuhkan dukungan keluarga dan orang-orang terdekat,” katanya.
 
Artinya, perawatan medis yang melelahkan harus dibarengi dengan kehadiran orang-orang terdekat yang setia mendampingi. Tanpa kehadiran dukungan ini, proses pemulihan bisa menjadi lebih berat dan berpotensi memperburuk kondisi psikologis pasien.
 
Penyintas kanker yang tidak mendapatkan dukungan psikososial kerap menghadapi tantangan berat yang melampaui sisi medis. Kurangnya dukungan ini bisa memicu penurunan motivasi untuk melanjutkan pengobatan, rasa terisolasi dari lingkungan sosial, hingga munculnya gangguan psikologis. Semua kondisi tersebut pada akhirnya berujung pada penurunan kualitas hidup, membuat perjalanan penyintas terasa makin sepi dan penuh tekanan.
 
Dampak dari kondisi ini pun berlapis. Terapi medis bisa menjadi kurang optimal ketika pasien merasa tidak dimengerti, karena beban emosional yang makin besar bisa memperparah depresi dan kecemasan. Tanpa adanya dukungan emosional, penyintas tidak hanya berjuang melawan kanker itu sendiri, tetapi juga menghadapi kesepian batin yang menggerogoti.

Hal ini menunjukkan bahwa peran dukungan psikososial sama pentingnya dengan pengobatan medis untuk membantu pasien bertahan dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.
 
Perlu digaris bawahi, dukungan juga bisa diawali dari komunikasi. Komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi. Komunikasi juga tentang menghadirkan rasa agar dimengerti, diterima, dan didukung. Komunikasi empatik terbukti memberikan dampak positif pada kondisi psikologis dan kualitas hidup pasien.
 
Lebih jauh lagi, komunikasi yang tidak tepat dapat memperbesar beban mental yang dirasakan pasien. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi proses penyembuhan, tetapi juga memperbesar beban emosional yang harus ditanggung oleh pasien dan keluarganya.
 
Menyadari pentingnya ke seluruh aspek tersebut, Aru menjelaskan bahwa YKI telah berupaya menghadirkan pendekatan yang menyentuh dimensi medis sekaligus kemanusiaan dalam hal pendampingan pasien. Strateginya mencakup edukasi masyarakat tentang deteksi dini dan gaya hidup sehat, layanan konseling serta dukungan psikososial, pelatihan komunikasi empatik untuk relawan maupun keluarga pasien, serta kerja sama lintas sektor.
 
Oleh karena itu, meski memang dukungan tenaga medis sangat vital, perjalanan penyintas kanker sejatinya membutuhkan partisipasi lebih luas. “Dukungan tidak harus datang dari tenaga medis saja, setiap individu, keluarga, komunitas, dan institusi dapat menjadi bagian dari ekosistem penyembuhan,” tegasnya.
 
Ajakan ini memperlihatkan bahwa kepedulian kepada pasien dan penyintas kanker bisa tampak sederhana seperti mendengarkan, memberi semangat, atau sekadar hadir di sisi pasien. Lebih jauh, ini bahkan bisa menjadi bagian dari terapi yang tidak kalah penting dibandingkan intervensi medis.
 
Menurutnya, kanker adalah tentang perjalanan yang menuntut keseimbangan antara aspek medis dan non-medis. Terapi pengobatan hanya akan optimal bila dibarengi dengan dukungan emosional, sosial, dan spiritual yang hangat. Maka komunikasi empatik, pendampingan keluarga, serta kepedulian masyarakat bisa menjadi pilar utama yang menopang ketahanan pasien dan penyintas kanker.

Baca juga: Telekonsultasi Dinilai Efektif Jadi Solusi Awal Retas Kanker Payudara

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Film Rangga & Cinta Tuai Sambutan Hangat di Busan International Film Festival

BERIKUTNYA

Konsumen Indonesia Makin Selektif, Ini Strategi Brand Sambut Harbolnas 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga