Sejumlah pengunjung menyaksikan diorama Homo erectus dalam pameran Indonesia, The Oldest Civilization on Earth? 130 Years After Pithecanthropus Erectus, di MNI. (Sumber gambar: IHA)

Belanda Kembalikan 28.000 Koleksi Artefak Eugene Dubois Ke Indonesia

29 September 2025   |   12:37 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Kabar baik kembali datang bagi bangsa Indonesia. Sebanyak 28.000 objek warisan budaya Indonesia koleksi Dubois akan direpatriasi dari Belanda ke Tanah Air. Ini merupakan proses repatriasi batch pertama pada 2025 setelah Desember lalu sebanyak 272 objek warisan budaya Indonesia berhasil direpatriasi dari Belanda. 

Koleksi Dubois mencakup temuan Eugène Dubois di Trinil, Jawa Timur, pada 1891–1892. Salah satunya adalah fosil manusia purba Pithecanthropus erectus yang kini diklasifikasikan sebagai Homo erectus. Temuan itu selama lebih dari satu abad tersimpan di Belanda dan menjadi rujukan penting dalam studi evolusi manusia.

Pemulangan koleksi bersejarah tersebut bertepatan dengan kunjungan kerja Presiden RI Prabowo Subianto ke Belanda. Momentum ini menandai babak baru dalam hubungan diplomasi budaya kedua negara yang sebelumnya kerap diwarnai isu warisan kolonial. 

Baca juga: 272 Benda Bersejarah Hasil Repatriasi Tiba di Indonesia, Didominasi Koleksi Puputan Badung 

Serah terima repatriasi ini berlangsung di Museum Naturalis, Leiden, dan dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Gouke Moes pada Jumat, 26 September 2025 waktu setempat. 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam taklimat resmi menyebut pemulangan Koleksi Dubois sebagai langkah strategis. Dia menekankan bahwa Indonesia akhirnya memulihkan kedaulatan pengetahuan yang selama ini terpisah dari tanah kelahirannya. 

“Hari ini kita menutup jurang sejarah dan memulihkan martabat pengetahuan yang lahir dari Trinil. Kepulangan Koleksi Dubois adalah bukti diplomasi budaya Indonesia bekerja, kepemilikan sah NKRI diakui, dan akses riset dunia tetap terjaga,” ujarnya.
 
 

Setali tiga uang, Menteri Gouke Moes menambahkan, pengembalian koleksi ini juga menjadi bagian dari komitmen Belanda melaksanakan repatriasi artefak kolonial secara bertanggung jawab. Dia menilai pemulangan tersebut tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga memperkaya kerja sama ilmu pengetahuan antara kedua negara. 

Fadli Zon menegaskan bahwa kepulangan koleksi ini sekaligus mengubah posisi Indonesia dalam dunia akademik. Menurutnya, Indonesia kini berdiri sebagai subjek pengetahuan, bukan sekadar lokasi temuan arkeologis yang diteliti dari luar negeri.

“Koleksi Dubois kini kembali pulang ke rumahnya, namun pintu ilmu pengetahuan dunia tetap terbuka. Indonesia berdiri sebagai bagian aktif dalam percakapan global mengenai asal-usul manusia,” katanya. 

Proses pemulangan koleksi ini merupakan hasil kerja panjang Tim Repatriasi Kementerian Kebudayaan. Sejak awal 2025, tim melakukan riset mendalam mengenai asal-usul koleksi sekaligus perundingan intensif dengan Colonial Collections Committee (CCC) Belanda.

Kementerian Kebudayaan juga menyiapkan rencana teknis pemindahan koleksi yang akhirnya disepakati bersama. Kedua belah pihak berkoordinasi melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Belanda agar proses berlangsung aman dan sesuai standar ilmiah.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia dan Belanda membentuk tim gabungan. Tim ini bertugas memastikan tahapan pemulangan berjalan lancar, sekaligus memperkuat kerja sama riset pasca-repatriasi.

Kerja sama tersebut meliputi inventarisasi, konservasi, publikasi ilmiah, pameran, digitalisasi, serta peningkatan kapasitas peneliti dan pengelola koleksi di Indonesia. Dengan begitu, Koleksi Dubois tidak hanya kembali secara fisik, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Menurut Fadli Zon, keberhasilan ini menjadi preseden penting bagi upaya repatriasi koleksi budaya Indonesia lainnya di masa depan. Dia menyebut pemerintah akan terus mendorong pemulangan artefak penting agar kembali ke akarnya.

“Setelah Dubois, kita akan melanjutkan kerja pemulangan koleksi penting lainnya. Ilmu pengetahuan harus tumbuh dari sumbernya dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia,” katanya.

Pemulangan Koleksi Dubois menegaskan pentingnya diplomasi budaya sebagai instrumen pemulihan sejarah dan kedaulatan. Lebih dari itu, kepulangan koleksi ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu peradaban tertua di dunia. 

Baca juga: Menteri Kebudayaan Fadli Zon Ingin Repatriasi Minto Stone Warisan Mataram Kuno 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Profil Dzawin Nur, dari Panggung Stand Up Comedy hingga Kreator Multitalenta

BERIKUTNYA

Daftar 10 Negara Terbersih di Asia 2025, Jepang hingga Sri Lanka

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga