Gempa Bumi megathrust di pesisir selatan Jawa berpotensi memicu tsunami (Sumber gambar/ilustrasi: Pexels/ 정규송 Nui MALAMA)

Ada Potensi Gempa Bumi Megathrust di Pesisir Selatan Jawa, BMKG Ingatkan Pentingnya Kesiapsiagaan Masyarakat

25 September 2025   |   13:11 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta – khususnya daerah pesisir selatan, memiliki potensi gempa bumi megathrust. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami sangat penting, sehingga perlu diperkuat.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia menunjukkan potensi gempa bumi megathrust di selatan Jawa bisa mencapai magnitudo M8,8, dan berpotensi memicu tsunami besar.

Baca juga: Mengenal Skema 20-20-20 dalam Mitigasi Gempa Megathrust di Indonesia

“Ancaman ini nyata dan bisa terjadi tiba-tiba. Karena itu, kesiapsiagaan harus terus diperkuat,” katanya dalam siaran pers BMKG yang dikutip Hypeabis.id pada Kamis, 25 September 2025.

Dia menuturkan, Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya wilayah pesisir selatan memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi. Pada sepuluh tahun terakhir, BMKG mencatat ada 114 kejadian gempa bumi dengan magnitudo di atas 5, 2 kali gempa bumi merusak, dan 44 guncangan yang dirasakan oleh masyarakat.

Terkait dengan kondisi gempa bumi tersebut, Dwikorta mengungkapkan bahwa pemerintah membangun Bandara Yogyakarta International Airport dengan rancangan tahan terhadap ancaman gempa bumi megathrust dan tsunami.

“Keberadaan YIA adalah simbol kesiapsiagaan bencana. Dengan desain khusus tersebut, Kulon Progo memiliki peluang menjadi contoh daerah tangguh bencana. Ketangguhan inilah yang akan menjaga rasa aman masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan wisatawan dan investor,” ujarnya.

Sebagai langkah nyata, BMKG menggencarkan sejumlah program mitigasi, seperti Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG), Masyarakat Siaga Tsunami, hingga BMKG Goes To School. Hingga kini, enam desa di DIY telah diakui sebagai Masyarakat Siaga Tsunami, sementara program edukasi di sekolah sudah menjangkau 166 sekolah dengan lebih dari 20 ribu peserta.

Dwikorita menjelaskan, program-program ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran serta kemampuan masyarakat dalam merespons tanda bahaya dan memahami peringatan dini. Dia juga menekankan pentingnya implementasi 12 Indikator Tsunami Ready yang ditetapkan UNESCO-IOC, seperti rambu evakuasi, peta bahaya tsunami, dan rencana kontinjensi, agar benar-benar diwujudkan di daerah-daerah pesisir.

“Jika indikator tersebut dipenuhi, target zero victim bukan mustahil tercapai. Kuncinya adalah sinergi pemerintah daerah, masyarakat, dan swasta dalam membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dwikorita juga berharap SLG di Kulon Progo bisa menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan daerah menghadapi bencana. Ia menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menyebarkan ilmu dari program ini. Bencana tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa dikurangi.

Dengan kesiapsiagaan, lanjutnya, nyawa dapat diselamatkan dari bencana yang datang sekaligus menjaga pembangunan dan pariwisata tetap berkelanjutan. 

Baca juga:  Indonesia Rawan Gempa, Ini Barang yang Wajib Ada di Tas Siaga Bencana

SEBELUMNYA

Kumpulan Prompt AI Ubah Foto dengan Gemini AI agar Terlihat Main Biliar

BERIKUTNYA

Jadwal Kualifikasi AFC Futsal Asian Cup 2026

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga