Begini Upaya Pemerintah Dorong Karya Sastra Indonesia Tembus Pasar Global
26 September 2025 |
08:00 WIB
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperluas jangkauan karya sastra Indonesia di pasar global. Hal itu disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (24/9/2025).
“IIBF adalah bagian penting dalam pemajuan literasi, bahasa, dan sastra, sekaligus memperkenalkan cerita-cerita Indonesia yang dibutuhkan dunia,” kata Fadli.
Baca juga: Festival Buku Terbesar Tanah Air, IIBF 2025 Suguhkan 150 Acara Literasi
Ia menambahkan, penyelenggaraan IIBF 2025 mendapatkan sambutan positif berkat partisipasi sejumlah penerbit internasional. Kehadiran mereka diharapkan semakin membuka peluang keterlibatan global pada tahun-tahun mendatang.
Lebih lanjut, Fadli menekankan bahwa buku memiliki peran mendasar sebagai wujud ekspresi budaya sekaligus pembentuk karakter bangsa. Untuk itu, pemerintah mendorong generasi muda agar kembali mencintai buku, baik versi cetak maupun digital.
“Kalau saya pribadi tetap memilih buku fisik, karena buku adalah bagian dari budaya material yang penting,” ujarnya.
Salah satu langkah strategis Kementerian Kebudayaan diwujudkan melalui kolaborasi antara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya—program prioritas di bawah kementerian tersebut—dengan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).
MTN Seni Budaya dirancang untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara berkelanjutan, termasuk di bidang sastra. Inisiatif ini diwujudkan lewat dua program utama, yakni Indonesia Rights Fair (IRF) Fellowship, yang mempertemukan penerbit Indonesia dengan mitra internasional.
Dalam penyelenggaraan IIBF kali ini, puluhan penerbit dan mitra naskah dari berbagai negara, mulai Malaysia, Thailand, Mesir, hingga Turki, telah menjajaki kerja sama hak cipta karya sastra Indonesia.
“Dari fellowship itu kita tidak hanya menjual karya, tetapi juga membangun jejaring, berbagi ide, dan praktik terbaik untuk memperkuat posisi sastra Indonesia,” jelas Fadli.
Selain itu, pemerintah juga menghadirkan MTN Translation Funding Program (TFP) yang memberikan dukungan finansial bagi penerbit internasional yang menerjemahkan karya penulis Indonesia ke berbagai bahasa, baik klasik maupun kontemporer.
Saat ini terdapat enam karya klasik dan 15 karya penulis modern yang sedang dalam proses penerjemahan ke berbagai bahasa asing. “Semakin banyak karya yang diterjemahkan, semakin besar peluang sastra kita dikenal luas oleh pembaca dunia sehingga dapat membangun apresiasi global terhadap warisan sastra nusantara,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kolaborasi erat antara penulis, penerbit, dan pemerintah merupakan kunci agar sastra Indonesia memperoleh ruang yang lebih luas di hati pembaca internasional. “Kami ingin mendukung para penulis muda, penulis baru, agar terus tumbuh, mengangkat budaya kita, dan menjadikan literasi sebagai kekuatan diplomasi budaya Indonesia,” tutur Fadli.
Hasil konkret dari sinergi ini sudah terlihat pada pembukaan IIBF 2025, di mana lebih dari 25 karya sastra Indonesia berhasil terjual hak ciptanya kepada penerbit internasional. Beberapa di antaranya adalah Welcoming Feelings & Blooming Gracefully karya Rara Noormega terbitan Gramedia Pustaka Utama yang akan diterjemahkan ke bahasa Malaysia melalui kerja sama dengan PTS Malaysia.
Selain itu, karya Tak Ada Asu di Antara Kita karya Joko Pinurbo dari Gramedia Pustaka Utama juga akan dialihbahasakan ke Malaysia lewat kolaborasi dengan Legasi Oakheart, Malaysia. Ada pula buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya Andreas Kurniawan hasil kerja sama Gramedia Pustaka Utama dan Biblio Press, Malaysia.
Tidak ketinggalan novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi dari Borobudur Agency yang akan diterjemahkan ke bahasa Arab Mesir oleh penerbit Sefsafa, Mesir, serta empat seri buku anak Indonesia yang diproduksi bersama penerbit asal Ghana.
Kerja sama internasional tersebut semakin diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antar penerbit lintas negara. Fakta ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa sastra Indonesia kian diminati oleh dunia.
Fadli menegaskan bahwa dukungan pemerintah tidak berhenti pada pelaksanaan IIBF 2025 saja. “Kami ingin mendukung penulis muda dan baru agar terus tumbuh, mengangkat budaya kita, dan menjadikan literasi sebagai kekuatan diplomasi budaya Indonesia,” katanya.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap perkembangan sastra Indonesia tidak hanya bertambah dari sisi kuantitas, tetapi juga mampu bersaing secara kualitas di ranah internasional.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
“IIBF adalah bagian penting dalam pemajuan literasi, bahasa, dan sastra, sekaligus memperkenalkan cerita-cerita Indonesia yang dibutuhkan dunia,” kata Fadli.
Baca juga: Festival Buku Terbesar Tanah Air, IIBF 2025 Suguhkan 150 Acara Literasi
Ia menambahkan, penyelenggaraan IIBF 2025 mendapatkan sambutan positif berkat partisipasi sejumlah penerbit internasional. Kehadiran mereka diharapkan semakin membuka peluang keterlibatan global pada tahun-tahun mendatang.
Lebih lanjut, Fadli menekankan bahwa buku memiliki peran mendasar sebagai wujud ekspresi budaya sekaligus pembentuk karakter bangsa. Untuk itu, pemerintah mendorong generasi muda agar kembali mencintai buku, baik versi cetak maupun digital.
“Kalau saya pribadi tetap memilih buku fisik, karena buku adalah bagian dari budaya material yang penting,” ujarnya.
Salah satu langkah strategis Kementerian Kebudayaan diwujudkan melalui kolaborasi antara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya—program prioritas di bawah kementerian tersebut—dengan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).
MTN Seni Budaya dirancang untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara berkelanjutan, termasuk di bidang sastra. Inisiatif ini diwujudkan lewat dua program utama, yakni Indonesia Rights Fair (IRF) Fellowship, yang mempertemukan penerbit Indonesia dengan mitra internasional.
Dalam penyelenggaraan IIBF kali ini, puluhan penerbit dan mitra naskah dari berbagai negara, mulai Malaysia, Thailand, Mesir, hingga Turki, telah menjajaki kerja sama hak cipta karya sastra Indonesia.
“Dari fellowship itu kita tidak hanya menjual karya, tetapi juga membangun jejaring, berbagi ide, dan praktik terbaik untuk memperkuat posisi sastra Indonesia,” jelas Fadli.
Selain itu, pemerintah juga menghadirkan MTN Translation Funding Program (TFP) yang memberikan dukungan finansial bagi penerbit internasional yang menerjemahkan karya penulis Indonesia ke berbagai bahasa, baik klasik maupun kontemporer.
Saat ini terdapat enam karya klasik dan 15 karya penulis modern yang sedang dalam proses penerjemahan ke berbagai bahasa asing. “Semakin banyak karya yang diterjemahkan, semakin besar peluang sastra kita dikenal luas oleh pembaca dunia sehingga dapat membangun apresiasi global terhadap warisan sastra nusantara,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kolaborasi erat antara penulis, penerbit, dan pemerintah merupakan kunci agar sastra Indonesia memperoleh ruang yang lebih luas di hati pembaca internasional. “Kami ingin mendukung para penulis muda, penulis baru, agar terus tumbuh, mengangkat budaya kita, dan menjadikan literasi sebagai kekuatan diplomasi budaya Indonesia,” tutur Fadli.
Hasil konkret dari sinergi ini sudah terlihat pada pembukaan IIBF 2025, di mana lebih dari 25 karya sastra Indonesia berhasil terjual hak ciptanya kepada penerbit internasional. Beberapa di antaranya adalah Welcoming Feelings & Blooming Gracefully karya Rara Noormega terbitan Gramedia Pustaka Utama yang akan diterjemahkan ke bahasa Malaysia melalui kerja sama dengan PTS Malaysia.
Selain itu, karya Tak Ada Asu di Antara Kita karya Joko Pinurbo dari Gramedia Pustaka Utama juga akan dialihbahasakan ke Malaysia lewat kolaborasi dengan Legasi Oakheart, Malaysia. Ada pula buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya Andreas Kurniawan hasil kerja sama Gramedia Pustaka Utama dan Biblio Press, Malaysia.
Tidak ketinggalan novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi dari Borobudur Agency yang akan diterjemahkan ke bahasa Arab Mesir oleh penerbit Sefsafa, Mesir, serta empat seri buku anak Indonesia yang diproduksi bersama penerbit asal Ghana.
Kerja sama internasional tersebut semakin diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antar penerbit lintas negara. Fakta ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa sastra Indonesia kian diminati oleh dunia.
Fadli menegaskan bahwa dukungan pemerintah tidak berhenti pada pelaksanaan IIBF 2025 saja. “Kami ingin mendukung penulis muda dan baru agar terus tumbuh, mengangkat budaya kita, dan menjadikan literasi sebagai kekuatan diplomasi budaya Indonesia,” katanya.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap perkembangan sastra Indonesia tidak hanya bertambah dari sisi kuantitas, tetapi juga mampu bersaing secara kualitas di ranah internasional.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.