Indonesia Bicara Keberlanjutan di Forum BRICS+ Fashion Summit
24 September 2025 |
13:32 WIB
Asia tak lagi sekadar pemain pinggiran di industri mode global. Dengan warisan budaya yang kaya, keberanian berinovasi, dan visi keberlanjutan, kawasan ini menjadi magnet perhatian dunia. Energi itu terasa dalam BRICS+ Fashion Summit di Moskow, ketika delegasi Asia hadir membawa narasi tentang bagaimana masa depan industri mode.
Summit ini menjelma menjadi panggung prestisius yang memperlihatkan bagaimana negara-negara Global South mengguncang lanskap mode. Moskow, Rusia pun berubah menjadi ibu kota mode dunia sementara yang diisi para pemikir kreatif dari Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa dan Amerika Serikat.
Perubahan besar tengah terjadi dengan arus mode global kini bergerak dari barat menuju timur, dari pasar-pasar maju menuju negara berkembang. Asia juga kini berdiri di garis depan dari segi pasar, sumber ide, inovasi, dan identitas baru.
Baca juga: London Fashion Week Spring/Summer 2026: Tren Fringe & Crochet sampai Warna Neon
Di antara bintang Asia, Indonesia tampil menonjol. Tiga nama besar hadir sebagai wakil dengan nama yang mentereng dalam industri fesyen adalah Ali Charisma, Liliek Setiawan, dan Rizal Rakhman. Mereka menjadi representasi dari kekayaan ekosistem mode Indonesia yang kini juga mulai diperhitungkan.
“Ajang seperti BRICS+ Fashion Summit memiliki peran penting dalam memfasilitasi pertukaran lintas budaya dengan menyediakan wadah di mana para desainer, brand, dan pemangku kepentingan mode dari berbagai negara dapat berbagi warisan, kreativitas, dan nilai-nilai mereka,” tutur Advisory Board Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma.
Baginya, setiap peragaan busana, pameran, dan diskusi adalah medium untuk mematahkan stereotip serta memperkuat apresiasi dunia terhadap keberagaman.
Tak hanya soal estetika, Asia juga bicara masa depan. Sustainability dan circular fashion menjadi pusat perbincangan. Ini juga menjadi tema yang kian relevan di tengah perubahan iklim dan tuntutan konsumen modern. Apalagi, pasar konsumen muda juga mulai memperhatikan konsep keberlanjutan sebagai kriteria pembelian busana.
Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Liliek Setiawan berpandangan, Indonesia memiliki semua serat alami yang dibutuhkan fesyen berkelanjutan mulai dari daun pisang, bambu, serat kelapa, hingga rami. Akan tetapi, dia mengingatkan bahwa potensi besar ini masih terhambat oleh biaya tinggi dan minimnya permintaan.
“Untuk membuat produksi serat ramah lingkungan dapat berkembang skala besar, dibutuhkan permintaan pasar yang kuat. Karena itu saya mengajak kita semua untuk mulai mengenakan pakaian yang hanya terbuat dari serat alami," kata Liliek.
Adapun dalam 3 tahun penyelenggaraannya, BRICS+ Fashion Summit sudah menghubungkan lebih dari 100 negara atau lebih dari separuh negara-negara di dunia. Di dalam forum lintas benua itu, Indonesia berkontribusi nyata menularkan ide-ide segar, kreativitas, dan visi yang melampaui sekadar tren, termasuk juga penegasan tentang pentingnya ekosistem keberlanjutan dalam dunia fesyen.
Baca juga: Tiga Maestro Mode Indonesia Tampilkan Adibusana Megah di Fashion Nation XIX
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Summit ini menjelma menjadi panggung prestisius yang memperlihatkan bagaimana negara-negara Global South mengguncang lanskap mode. Moskow, Rusia pun berubah menjadi ibu kota mode dunia sementara yang diisi para pemikir kreatif dari Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa dan Amerika Serikat.
Perubahan besar tengah terjadi dengan arus mode global kini bergerak dari barat menuju timur, dari pasar-pasar maju menuju negara berkembang. Asia juga kini berdiri di garis depan dari segi pasar, sumber ide, inovasi, dan identitas baru.
Baca juga: London Fashion Week Spring/Summer 2026: Tren Fringe & Crochet sampai Warna Neon
Di antara bintang Asia, Indonesia tampil menonjol. Tiga nama besar hadir sebagai wakil dengan nama yang mentereng dalam industri fesyen adalah Ali Charisma, Liliek Setiawan, dan Rizal Rakhman. Mereka menjadi representasi dari kekayaan ekosistem mode Indonesia yang kini juga mulai diperhitungkan.
“Ajang seperti BRICS+ Fashion Summit memiliki peran penting dalam memfasilitasi pertukaran lintas budaya dengan menyediakan wadah di mana para desainer, brand, dan pemangku kepentingan mode dari berbagai negara dapat berbagi warisan, kreativitas, dan nilai-nilai mereka,” tutur Advisory Board Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma.
Baginya, setiap peragaan busana, pameran, dan diskusi adalah medium untuk mematahkan stereotip serta memperkuat apresiasi dunia terhadap keberagaman.

BRICS+ Fashion Summit (Sumber gambar: Dok. Moscow Fashion Week)
Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Liliek Setiawan berpandangan, Indonesia memiliki semua serat alami yang dibutuhkan fesyen berkelanjutan mulai dari daun pisang, bambu, serat kelapa, hingga rami. Akan tetapi, dia mengingatkan bahwa potensi besar ini masih terhambat oleh biaya tinggi dan minimnya permintaan.
“Untuk membuat produksi serat ramah lingkungan dapat berkembang skala besar, dibutuhkan permintaan pasar yang kuat. Karena itu saya mengajak kita semua untuk mulai mengenakan pakaian yang hanya terbuat dari serat alami," kata Liliek.
Adapun dalam 3 tahun penyelenggaraannya, BRICS+ Fashion Summit sudah menghubungkan lebih dari 100 negara atau lebih dari separuh negara-negara di dunia. Di dalam forum lintas benua itu, Indonesia berkontribusi nyata menularkan ide-ide segar, kreativitas, dan visi yang melampaui sekadar tren, termasuk juga penegasan tentang pentingnya ekosistem keberlanjutan dalam dunia fesyen.
Baca juga: Tiga Maestro Mode Indonesia Tampilkan Adibusana Megah di Fashion Nation XIX
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.