London Fashion Week Spring/Summer 2026: Tren Fringe & Crochet sampai Warna Neon
23 September 2025 |
16:11 WIB
London Fashion Week baru saja digelar pada 18 hingga 22 September 2025 dengan mempersembahkan koleksi untuk musim Spring/Summer 2026. Ajang ini tidak hanya menjadi perayaan mode, tetapi juga sebuah momentum penting yang menandai babak baru bagi industri mode Inggris.
Mengutip Vogue, di bawah kepemimpinan CEO British Fashion Council (BFC) yang baru, Laura Weir, London Fashion Week musim ini disebut sebagai musim reset, sebuah penataan ulang yang menyatukan keberanian artistik, keberlanjutan, dan inklusivitas, sekaligus membuka ruang bagi desainer muda untuk tampil sejajar dengan nama-nama besar.
Perubahan paling signifikan terasa pada kebijakan baru BFC yang menghapus sebagian biaya pertunjukan untuk para desainer. Langkah ini membuka peluang lebih luas, terutama bagi perancang baru, untuk masuk ke dalam jadwal resmi (on-schedule).
Baca Juga: Koleksi The Urban Ethnology dari Sparks Fashion Academy, Tradisional & Futuristik dalam Busana
Hasilnya, jumlah desainer yang tampil meningkat hingga 18 persen dibanding musim sebelumnya. Semangat ini memperlihatkan bagaimana London terus memosisikan dirinya sebagai kota mode yang demokratis, progresif, dan penuh kejutan.
Di panggung utama, nama-nama besar tetap mendominasi. Burberry, di bawah arahan Daniel Lee, menampilkan koleksi bernuansa semarak festival musik Inggris dengan sentuhan street culture.
Crochet, fringing, serta palet warna acid mulai dari kuning neon, hijau terang, ungu elektrik, hingga pink mencolok muncul dalam potongan yang menghidupkan suasana pesta musim panas. Trench coat klasik dan motif ikonik Burberry pun diberi napas baru dengan sentuhan kontemporer, membuktikan kemampuan Lee dalam menjaga tradisi sambil menyajikan inovasi.
Sementara itu, jenama Erdem mengusung pendekatan yang lebih teatrikal dengan inspirasi dari Helene Smith, seorang medium abad ke-19 yang percaya bahwa dirinya telah menjalani beberapa kehidupan.
Koleksinya penuh dengan lace antik, korset, dan detail bustle yang dipadukan dengan siluet lebih modern. Karya Erdem kali ini terasa seperti sebuah perenungan tentang sejarah dan identitas, yang dituturkan melalui busana megah namun tetap ringan untuk dikenakan.
Ada juga Simone Rocha yang kembali mengguncang panggung mode dengan konsep disgruntled debutante yang menggabungkan romantisme feminin dengan sentuhan subversif. Pakaian bergaya putri bangsawan lengkap dengan tulle, ruffle, dan siluet besar, dipadukan dengan detail yang memberi kesan memberontak.
Sebaliknya, Chopova Lowena menampilkan kegembiraan dalam koleksi bertajuk Cheerlore. Chopova Lowena, yang menggabungkan cheerleading dengan kostum tradisional Bulgaria, football culture, dan warna-warna cerah. Hasilnya berupa karya busana yang penuh energi dan eksentrik.
Sejumlah desainer dan rumah mode juga bereksperimen dengan budaya, misalnya Ahluwalia yang menghadirkan percampuran estetika Bollywood dan warisan Nigeria lewat kain satin berdrama, tailoring tajam, dan motif yang kaya cerita.
Kehadiran label baru seperti Oscar Ouyang juga menarik perhatian, dengan koleksi knitwear bertajuk Don’t Shoot The Messenger yang memadukan crochet, teknik anyaman, dan storytelling emosional.
Tren besar yang menonjol dari London Fashion Week SS26 adalah perayaan terhadap craftmanship dalam busana. Crochet, fringing, lace, dan teknik bordir manual menjadi aksen utama yang bersanding dengan eksperimen warna-warna cerah.
Palet neon dan acid colors muncul di banyak panggung, menandai kembalinya semangat optimisme dan keberanian dalam berpakaian. Siluet juga bergerak antara dua kutub, di satu sisi romantis penuh detail lembut dan di sisi lain edgy, urban, dan streetwise.
Selain busana, tren kecantikan dari SS26 juga menarik perhatian. Makeup smudged, tampilan messy namun artistik, serta aksesori rambut berani menjadi bagian dari estetika secara keseluruhan.
Kehadiran para selebritas di barisan depan semakin menghidupkan suasana London Fashion Week Spring/Summer 2026. Burberry menjadi salah satu panggung paling bergengsi dengan tamu istimewa seperti Elton John, Naomi Campbell, Vanessa Williams, Raye, Central Cee, hingga Alexa Chung dan Lila Moss.
Baca Juga: Tiga Maestro Mode Indonesia Tampilkan Adibusana Megah di Fashion Nation XIX
Mengutip Vogue, di bawah kepemimpinan CEO British Fashion Council (BFC) yang baru, Laura Weir, London Fashion Week musim ini disebut sebagai musim reset, sebuah penataan ulang yang menyatukan keberanian artistik, keberlanjutan, dan inklusivitas, sekaligus membuka ruang bagi desainer muda untuk tampil sejajar dengan nama-nama besar.
Perubahan paling signifikan terasa pada kebijakan baru BFC yang menghapus sebagian biaya pertunjukan untuk para desainer. Langkah ini membuka peluang lebih luas, terutama bagi perancang baru, untuk masuk ke dalam jadwal resmi (on-schedule).
Baca Juga: Koleksi The Urban Ethnology dari Sparks Fashion Academy, Tradisional & Futuristik dalam Busana
Hasilnya, jumlah desainer yang tampil meningkat hingga 18 persen dibanding musim sebelumnya. Semangat ini memperlihatkan bagaimana London terus memosisikan dirinya sebagai kota mode yang demokratis, progresif, dan penuh kejutan.
Di panggung utama, nama-nama besar tetap mendominasi. Burberry, di bawah arahan Daniel Lee, menampilkan koleksi bernuansa semarak festival musik Inggris dengan sentuhan street culture.

Koleksi Burberry (Sumber Foto: instagram/burberry)
Crochet, fringing, serta palet warna acid mulai dari kuning neon, hijau terang, ungu elektrik, hingga pink mencolok muncul dalam potongan yang menghidupkan suasana pesta musim panas. Trench coat klasik dan motif ikonik Burberry pun diberi napas baru dengan sentuhan kontemporer, membuktikan kemampuan Lee dalam menjaga tradisi sambil menyajikan inovasi.
Sementara itu, jenama Erdem mengusung pendekatan yang lebih teatrikal dengan inspirasi dari Helene Smith, seorang medium abad ke-19 yang percaya bahwa dirinya telah menjalani beberapa kehidupan.
Koleksinya penuh dengan lace antik, korset, dan detail bustle yang dipadukan dengan siluet lebih modern. Karya Erdem kali ini terasa seperti sebuah perenungan tentang sejarah dan identitas, yang dituturkan melalui busana megah namun tetap ringan untuk dikenakan.
Sebaliknya, Chopova Lowena menampilkan kegembiraan dalam koleksi bertajuk Cheerlore. Chopova Lowena, yang menggabungkan cheerleading dengan kostum tradisional Bulgaria, football culture, dan warna-warna cerah. Hasilnya berupa karya busana yang penuh energi dan eksentrik.
Sejumlah desainer dan rumah mode juga bereksperimen dengan budaya, misalnya Ahluwalia yang menghadirkan percampuran estetika Bollywood dan warisan Nigeria lewat kain satin berdrama, tailoring tajam, dan motif yang kaya cerita.
Kehadiran label baru seperti Oscar Ouyang juga menarik perhatian, dengan koleksi knitwear bertajuk Don’t Shoot The Messenger yang memadukan crochet, teknik anyaman, dan storytelling emosional.
Tren besar yang menonjol dari London Fashion Week SS26 adalah perayaan terhadap craftmanship dalam busana. Crochet, fringing, lace, dan teknik bordir manual menjadi aksen utama yang bersanding dengan eksperimen warna-warna cerah.
Palet neon dan acid colors muncul di banyak panggung, menandai kembalinya semangat optimisme dan keberanian dalam berpakaian. Siluet juga bergerak antara dua kutub, di satu sisi romantis penuh detail lembut dan di sisi lain edgy, urban, dan streetwise.
Selain busana, tren kecantikan dari SS26 juga menarik perhatian. Makeup smudged, tampilan messy namun artistik, serta aksesori rambut berani menjadi bagian dari estetika secara keseluruhan.
Kehadiran para selebritas di barisan depan semakin menghidupkan suasana London Fashion Week Spring/Summer 2026. Burberry menjadi salah satu panggung paling bergengsi dengan tamu istimewa seperti Elton John, Naomi Campbell, Vanessa Williams, Raye, Central Cee, hingga Alexa Chung dan Lila Moss.
Baca Juga: Tiga Maestro Mode Indonesia Tampilkan Adibusana Megah di Fashion Nation XIX
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.