Johannes “Joe” Taslim menjadi salah satu, dari sedikit aktor Indonesia, yang berhasil menembus panggung Hollywood. Sejak kemunculannya di Fast & Furious 6 (2013), namanya terus hadir secara konsisten di berbagai film internasional lebih dari satu dekade setelahnya, termasuk yang terbaru adalah Mortal Kombat 2 (2026).
Pencapaiannya jelas bukan merupakan aji mumpung atas film laga fenomenal yang pernah dibintanginya, The Raid (2011). Kerja keras dan kemampuan akting yang mumpuni membuat namanya terus bergaung dan diakui industri global.
Perjalanan karier Joe Taslim bisa dibilang cukup unik. Sebelum dikenal luas sebagai aktor laga, ia terlebih dahulu meniti jalan sebagai seorang atlet. Pria kelahiran Palembang ini sejak kecil sudah akrab dengan berbagai cabang bela diri, mulai dari wushu, taekwondo, pencak silat, hingga judo.
Aktor Joe Taslim (Sumber gambar: Instagram/Joe Taslim)
Ketertarikan Joe pada judo semakin besar seiring berjalannya waktu hingga akhirnya ia memutuskan menekuninya secara profesional. Sejak 1997, ia tergabung dalam tim nasional judo Indonesia. Prestasinya pun cukup gemilang, dengan raihan beberapa medali emas di kejuaraan nasional, satu emas di Kejuaraan Judo Asia Tenggara 1999, dan perak di ajang SEA Games 2007.
Namun, cedera pada 2009 membuat Joe harus gantung gi untuk selamanya. Meski begitu, pengalaman sesekali menjadi model di sela aktivitas atletiknya memberi bekal baginya untuk mencoba jalur karier baru. Dari situlah muncul keinginan untuk menekuni dunia akting.
Joe kemudian mengikuti berbagai casting hingga akhirnya mendapatkan peran pertamanya di film The Raid: Redemption pada 2010. Kesuksesan film tersebut membawanya semakin dikenal, lalu berlanjut dengan keterlibatannya di Dead Mine (2012), film laga horor produksi HBO Asia yang tayang di sejumlah negara Asia.
Meski begitu, dunia akting sejatinya bukan hal yang benar-benar asing bagi Joe. Sejak remaja, ia sudah terinspirasi oleh sosok Al Pacino dalam film klasik The Godfather II. Ada satu adegan ketika Al Pacino berbicara dengan istrinya yang begitu membekas di benak Joe, hingga membuatnya berpikir, “Sepertinya aku ingin jadi seorang aktor.”
Hingga kini, Joe masih menyimpan harapan untuk bisa tampil dalam satu film bersama Al Pacino. Namun, ia juga menyadari peluang itu kian kecil, mengingat sang aktor legendaris sudah tidak lagi berada di usia prima untuk aktif membintangi layar lebar.
"Aku dulu kecil itu ada kata tercetus dalam hati pengen jadi seorang aktor, itu boleh dibilang karena aktor legendaris Al Pacino di Godfather 2. Dia mungkin aktor yang melahirkan semangat aku pengen jadi seorang aktor." katanya.
Takdir rupanya mengantar Joe ke dunia yang lebih jauh. Tak hanya menjadi aktor Indonesia, tetapi internasional. Setelah penampilannya yang memukai di The Raid dan Dead Mine, kesempatan menembus kancah internasional pun terbuka lebar ketika dia mendapat tawaran dari Universal Pictures.
Pada 2013, dia resmi ikut membintangi Fast & Furious 6, sebuah film blockbuster yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan kariernya di dunia perfilman global.
Pada 2016, Joe Taslim kembali tampil di layar lebar Hollywood lewat film Star Trek Beyond. Meski namanya sudah dikenal luas secara internasional, ia tetap konsisten membintangi film-film produksi tanah air, salah satunya Hit & Run pada 2019.
Dua tahun kemudian, ia kembali mencuri perhatian dunia setelah membintangi Mortal Kombat (2021), yang sempat tertunda penayangannya akibat pandemi Covid-19. Kini, perjalanan karier internasionalnya berlanjut dengan kehadiran Mortal Kombat 2 yang dijadwalkan tayang tahun depan. Film tersebut menjadi penanda konsistensi Joe dalam menjaga eksistensinya di kancah perfilman global.
Membangun Mimpi Hollywood dari Negeri Sendiri
Aktor Joe Taslim (Sumber gambar: Instagram/Joe Taslim)
Meski telah lama berkecimpung dalam film-film produksi Amerika, Joe memiliki sudut pandang berbeda tentang Hollywood. Dirinya menyadari banyak sineas dan aktor, termasuk dari Indonesia, menjadikan industri itu sebagai tujuan dari mimpi mereka di dunia film.
Namun, baginya, Hollywood bukanlah titik akhir perjalanan. Dia melihatnya sebagai panggung pembuktian bahwa talenta perfilman bisa lahir dari berbagai penjuru dunia, tidak terbatas hanya dari Amerika Serikat.
"Aku enggak memulai karierku dari luar negeri. Aku memulai karier di film Indonesia, lewat The Raid, yang syutingnya di Senen," kata Joe Taslim.
Aktor berusia 44 tahun itu menegaskan bahwa jalan menuju Hollywood tidak selalu harus dimulai dengan pergi ke Amerika Serikat untuk mengejar mimpi. Di era sekarang, peluang bisa datang dari mana saja, termasuk Indonesia.
Menurut Joe, portofolio menjadi kunci utama sebelum melangkah ke produksi film besar. Oleh karena itu, alih-alih berusah payah membuat film di negeri orang, sineas maupun aktor mestinya berlomba memproduksi film di negeri sendiri terlebih dahulu.
Toh, katanya, dengan produksi yang serius dan hasil yang menjanjikan, sebuah film akan berbicara dengan bahasa universal yang bisa dipahami audiens global. Joe mencontohkan The Raid, film yang dibuat dengan dedikasi penuh sehingga memiliki daya tarik kuat di mata penonton dunia.
Film tersebut berhasil diputar perdana di Festival Film Internasional Toronto (TIFF) 2011 pada kategori Midnight Madness dan meraih The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award. Setelahnya, The Raid terus berkeliling ke festival bergengsi lainnya seperti Sundance 2012, Busan, Glasgow, hingga Dublin Jameson, membuka jalan bagi para pemainnya untuk dikenal di kancah internasional.
"The Raid kan fenomena Indonesia gitu. Jadi, dimulai dari film Indonesia yang dibuat dengan luar biasa passionate, lalu film itu akan dihargai di seluruh dunia," tegasnya.
Menurut Joe, film garapan sutradara Gareth Evans tersebut telah menjadi acuan penting bagi banyak film laga modern di berbagai belahan dunia. Kesuksesan besar yang diraih tidak hanya membuka pintu bagi dirinya, tetapi juga memberikan kesempatan internasional bagi Iko Uwais dan Yayan Ruhian.
Ia menegaskan bahwa cara paling efektif untuk menembus panggung global justru dimulai dengan fokus berkarya di tanah air. Dari karya yang lahir di Indonesia, peluang menuju industri film dunia bisa terbuka lebar.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.