Ilustrasi karyawan. (Sumber gambar: Shvetsa/Pexels)

Fenomena Job Hugging, Saat Karyawan Bertahan untuk Cari Aman

22 September 2025   |   16:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Satu istilah baru muncul di dunia kerja profesional dan menjadi perbincangan yakni "job hugging". Istilah ini muncul untuk menggambarkan banyaknya karyawan yang kini bertahan pada pekerjaannya, untuk mengamankan diri di tengah ketidakpastian ekonomi dan krisis yang terjadi di pasar kerja. 
 
Dikutip dari situs firma konsultan organisasi Korn Ferry, fenomena job hugging muncul lantaran banyak pekerja yang kini menganggap pasar kerja sedang dalam kondisi bahaya. Optimisme pekerja untuk bisa mengembangkan karier di perusahaan lain terus anjlok ke level terendah sejak tahun 2023.
 
Di tengah gelombang PHK besar-besaran, melonjaknya harga, dan ketidakpastian ekonomi, kekhawatiran dan kecemasan di tempat kerja mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Akhirnya, para pekerja memutuskan untuk bertahan di pekerjaannya sekalipun sudah tidak memiliki minat dan motivasi dalam posisinya saat ini.
 
Para pekerja terutama kalangan Gen Z, mempertahankan pekerjaan mereka semata demi menyelamatkan finansial dan karier mereka. Bukan karena mereka berkembang pesat di tempat kerja saat ini, melainkan karena mereka tidak yakin akan masa depan. 

Baca juga: 7 Kiat Terhindar dari Job Scam, Penipuan Lowongan Kerja yang Merugikan 
 
Akhirnya, semakin banyak pekerja yang merasa bahwa mempertahankan pekerjaan dan tetap bertahan lebih aman daripada mengambil risiko tak terduga untuk meraih peluang baru. Menurut Indeks Retensi Eagle Hill, sebagian besar karyawan berencana untuk tetap berada di pekerjaan saat ini setidaknya selama enam bulan ke depan, sambil menunggu momen yang tepat untuk mencari peluang yang lebih baik.
 
Pasar kerja dilaporkan telah mengalami stagnasi secara konsisten selama beberapa dekade. Kondisi itu semakin menantang lantaran adanya berbagai gejolak global yang tidak dapat diprediksi dan belum pernah terjadi sebelumnya plus ancaman disrupsi AI, membuat para pekerja semakin tidak yakin untuk mengembangkan keterampilan dan karier mereka di tempat kerja lain.
 
"Kelesuan itu pada gilirannya menghambat karyawan yang sedang berkembang. Itulah bahaya pasar kerja ini," ujar pakar teknologi Matt Bohn, mitra klien senior di Korn Ferry.
 
Angka pertumbuhan lapangan kerja di AS dilaporkan melambat secara substansial dalam beberapa bulan terakhir pada 2025. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, tercatat hanya 73.000 lapangan kerja yang bertambah pada Juli 2025, turun dari rata-rata bulanan 111.000 di awal tahun ini.
 
Para perekrut melihat dinamika ini terjadi di kalangan eksekutif, karena karyawan dengan posisi tinggi cenderung bertahan kecuali mereka tidak sreg dengan manfaat kompensasi dari opsi eksternal. Hal ini pun membuat proses rekrutmen menjadi sulit. "Saat ini, karyawan berkinerja tinggi hanya akan keluar jika mereka tidak puas dengan peran mereka," kata pakar penjualan dan pemasaran Stacy DeCesaro.
 
Jennifer Schielke, CEO dan salah satu pendiri Summit Group Solutions, mengatakan fenomena job hugging menciptakan ilusi loyalitas di kalangan pekerja. Alih-alih tampak seperti loyal dengan pekerjaan, hal ini justru menunjukkan kondisi stagnasi.
 
Kondisi stagnasi ini pun dinilai tidak baik bagi karyawan maupun pemberi kerja atau perusahaan. Bagi pekerja, kondisi ini berarti menutup peluang mereka untuk mendapatkan kenaikan jenjang karier dan gaji, sedangkan bagi pemberi kerja, ini menjadi penanda kondisi melambatnya kontribusi dan ide baru dari karyawan.
 
"Jika para pemimpin [perusahaan] menganggap rendahnya pergantian karyawan ini [job hugging] sebagai sebuah kesuksesan, mereka akan menghadapi hilangnya talenta ketika pasar kerja mulai membaik," katanya dilansir dari Forbes.
 
Sementara itu, Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Tadjuddin Noer Effendi, mengatakan job hugging bukanlah fenomena baru melainkan sudah ada sejak dahulu. Menurutnya, situasi pasar kerja yang cukup sulit menjadi salah satu faktor masyarakat cenderung bertahan pada pekerjaannya. 
 
"Mencari pekerjaan baru memiliki resiko yang tinggi, maka mereka cenderung memilih bertahan,” katanya dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada.
 
Selain itu, faktor keamanan finansial dan stabilitas menjadi alasan paling dominan dalam job hugging meskipun situasi kerja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Akhirnya, pekerja lebih memilih bertahan dengan pekerjaan yang ada saat ini daripada mengambil keputusan yang cukup beresiko dan belum pasti untuk kedepannya.
 
Menurut Tadjuddin, situasi pasar kerja dalam lima tahun belakangan ini memang tidak menentu, ditandai dengan angka pengangguran tinggi, daya beli rendah, dan laju ekonomi melambat. Permasalahan ini, lanjutnya, memiliki efek domino terhadap serapan tenaga kerja baru terutama untuk fresh graduate.
 
“Nah, inilah yang menyebabkan tingginya angka pengangguran. Saat ini mencapai 7,4 persen dan tertinggi di Asia Tenggara. Mayoritas dari pengangguran adalah usia pencari kerja antara usia 15 – 24 tahun,” ungkapnya.
 
Dia melihat di tengah kondisi itu, akhirnya masyarakat mengambil jalan pintas dengan menambah pekerjaan di samping melakoni pekerjaan utama. Hal itu dilakukan daripada harus mengambil risiko dengan melepaskan pekerjaan lama untuk mencari pekerjaan baru yang belum pasti.

“Masyarakat lebih memilih untuk menambah pemasukan dari pekerjaan sampingan seperti freelance atau bisnis kecil-kecilan,” imbuhnya. 

Baca juga: 4 Rekomendasi Side Job untuk Mahasiswa, Dapat Cuan Dari Mana Saja 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Daftar 10 HP dengan Kamera Terbaik, Huawei Pura 80 Ultra Kalahkan iPhone 17 Pro

BERIKUTNYA

4 Bulan Terjebak di Laut, Perjalanan Tak Terduga Koki Italia di Kapal Kayu Avontuur

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga