Dari Cecil Mariani hingga Nasirun, Cek 5 Karya Pilihan di Continuum Can’s Gallery
Pameran ini menampilkan karya dari 33 seniman Indonesia lintas generasi dari total 50 perupa. Sisanya nanti akan dipamerkan di Menara Bentara Budaya Kompas. Pameran ini juga menghadirkan program diskusi, artist talk dengan seniman dan kolektor, hingga performance art.
Nama-nama besar ikut hadir, mulai dari Agus Suwage, Eddie Hara, Ay Tjoe Christine, hingga Entang Wiharso. Ada juga generasi lebih muda seperti Muklay, Suvi Wahyudianto, dan Oki Rey Montha. Keseluruhan karya menawarkan lanskap beragam tema, medium, dan bahasa visual.
Baca Juga: Rayakan Seperempat Abad, Can’s Gallery Gelar Pameran Continuum
Direktur Can's Gallery, Inge Santoso, mengatakan judul Continuum dipilih bukan hanya sebagai pandangan ke depan, tetapi juga refleksi atas perjalanan masa lalu. "Setelah 25 tahun, kami berharap tetap bisa membuat pameran-pameran yang baik, yang bisa diterima publik," katanya.
Lantas, seperti apa citraan visual yang dapat dinikmati Genhype dalam pameran ini? Berikut lima karya yang dihimpun Hypeabis.id selama sesi media preview dan bisa menjadi alasan untuk segera mengunjungi pameran ini.
1. Dragon Clan Monalisa – Cecil Mariani

Karya Cecil Mariani bertajuk Dragon Clan Monalisa dalam pameran Continuum di Can's Gallery, Jumat (19/9/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Lewat dua lapisan film print dalam neon box, Cecil Mariani merefleksikan figur dewa-dewi di klenteng Tionghoa. Dia juga menyoroti ketegangan antara idealisasi dan beban peran kultural yang melekat pada sosok-sosok tersebut.
Teknik cetak gumoil yang dipadukan dengan coretan arang dan graphite cair menghasilkan cetakan yang tidak pernah seragam. Justru dalam perbedaan dan ‘cacat’ itu, Cecil menemukan keunikan dengan menegaskan bahwa figur yang diagungkan selalu berada di antara kuasa dan kerentanan.
Karya ini seolah menjadi semacam refleksi personal Cecil tentang bagaimana kebudayaan bekerja. Di satu sisi, dia membentuk identitas kolektif, tetapi di sisi lain selalu menyisakan ruang rapuh yang rawan diganggu, direvisi, bahkan ditafsir ulang.
2. Flower Power – Angki Purbandono

Karya Angki Purbandono bertajuk Flower Power dalam pameran Continuum di Can's Gallery, Jumat (19/9/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Menggunakan scanner alih-alih kamera, Angki mendigitalisasikan bunga-bunga dengan detail yang tajam. Sembilan bunga dia pilih sebagai penghormatan untuk usia 25 tahun Can’s Gallery, simbol perjalanan dan pertumbuhan.
Karya ini juga menunjukkan kekagumannya pada energi bunga yang rapuh tapi penuh makna. Lewat proses ini, bunga yang fana seakan “dirayu” untuk dibekukan daam sebuah potret untuk menjadi arsip personal yang juga persembahan bagi publik.
Bagi Angki, proses ini bukan hanya dokumentasi visual, tetapi juga bentuk meditasi sehari-hari. Setiap bunga yang dipindai menjadi pengingat tentang siklus hidup, tumbuh, layu, dan hadir kembali, sebuah refleksi tentang keberlanjutan yang sederhana namun mendalam.
3. Morning Glory – Eddi Prabandono

Perupa Eddi Prabandono berdiri di samping karyanya yang berjudul Morining Glory dalam pameran Continuum di Can's Gallery, Jumat (19/9/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Instalasi media campuran dari pintu bagasi mobil ini merupakan kritik sang seniman terhadap tren mobil listrik di dunia. Kendati sering dianggap sebagai bentuk keberlanjutan karena mengurangi emisi gas buang, mobil listrik juga menyimpan kontradiksi.
Morning Glory adalah salah satu seri dari total sembilan karya dengan judul sama yang dibuat oleh seniman asal Pati tersebut. Keunikan dari karya ini adalah ditulisnya judul karya di kaca belakang dengan cat semprot, tapi perlahan tersapu oleh pembersih kaca.
"Ini aku bikin sembilan karya. Judulnya kalau diterjemahkan ke Indonesia artinya kemuliaan pagi. Seri lainnya nanti akan digantung menggunakan sling. Tulisan judul di kaca mobil, lama-lama juga akan kehapus," kata Eddi Prabandono.
4. Dear Holly – Melati Suryodarmo

Pengunjung memotret karya Melati Suryodarmo bertajuk Dear Holly dalam pameran Continuum di Can's Gallery, Jumat (19/9/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Adalah video pertunjukan yang diciptakan sebagai respons terhadap Second Breath (2005) karya Holly Zausner, film Super 16 mm berdurasi 11 menit di mana Zausner membawa patung tubuhnya sendiri—berukuran asli dan terbuat dari silikon—dari satu tempat ke tempat lain.
Lewat karya ini, Melati merespons melalui rangkaian aksi pertunjukan tanpa kata, menerjemahkan bahasa visual dan emosional ke dalam konsep rasa dalam budaya Jawa—sebuah kepekaan tubuh, cara meresapi suasana yang tak terungkapkan oleh kata-kata.
Berdurasi 13 menit, karya ini menjadi perenungan tentang beban, rapuhnya tubuh, dan keteguhan. Gestur seniman membangkitkan ingatan publik akan momen-momen ketika keheningan menyimpan ketegangan yang tak terduga, sekaligus keteguhan yang hening.
5. Maka Lahirlah Tjoekoep Angkatan Perupa Gorengan – Nasirun

Perupa Nasirun berpose dengan karyanya berjudul Maka Lahirlah Tjoekoep Angkatan Perupa Gorengan dalam pameran Continuum di Can's Gallery, Jumat (19/9/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Dari semua karya dalam pameran, karya Nasirun inilah yang mungkin terlihat paling filosofis dalam mengkritik pasar. Pasalnya, sang seniman merespons kemenangannya sebagai salah satu peraih 10 besar Philip Morris Indonesia Art Awards 1997, dengan menggambarkannya sebagai "perupa gorengan."
Karya bertarikh 2024 bermedium media campuran di atas kanvas ini juga menampilkan sang pelukis yang memegang sapu lidi dan wajan penggorengan. Kakinya yang tanpa alas menyeruak dengan jari-jari yang njebeber seolah menjadi simbol tetap menapak di tanah atau membumi.
"Kalau melihat ke masa lalu ada banyak seniman yang ingin punya karakter bangsa. Mereka juga punya sandaran kemanusiaan, ada yang dibela. Mungkin hari ini mutlak kemenangan kapitalis. Tapi saya tidak mengkritik publik. Yang gorengan itu saya," kata Nasirun sambil tertawa.
Baca Juga: Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.