Ilustrasi (sumber gambar/ilustrasi: Freepik)

Kenapa Generasi Muda Menganggap Asuransi Jiwa Bukan Prioritas?

19 September 2025   |   19:44 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Bagi banyak milenial dan gen z, menjalani hidup di tengah derasnya perubahan zaman terasa seperti berlari maraton tanpa garis akhir yang jelas. Jika generasi sebelumnya sibuk menata hidup dengan pola klasik—menikah muda, membeli rumah, lalu mengamankan masa depan dengan asuransi—maka pola tersebut kini tidak lagi menjadi pakem utama.

Generasi masa kini justru memilih jalur berbeda. Alih-alih terikat pada komitmen jangka panjang, mereka lebih menekankan pentingnya pengalaman, fleksibilitas, dan kebebasan dalam menjalani hidup. Bagi mereka, kepastian tidak selalu datang dari memiliki, melainkan dari kesempatan untuk merasakan dan mencoba hal-hal baru.

Baca juga: Dorong Data Terpadu & Digitalisasi Asuransi, Pemerintah Berencana Kembangkan Health Index

Fenomena ini juga tergambar dalam laporan yang dilansir dari Fortune, disebutkan bahwa generasi muda menunda berbagai pencapaian hidup tradisional, seperti menikah dan memiliki anak. Dengan tujuan yang makin bergeser, asuransi jiwa pun ikut terpinggirkan dari daftar prioritas. Bagi sebagian besar dari mereka, membeli polis asuransi terdengar seperti langkah yang masih jauh di depan.

Menariknya, sikap ini bukan hanya tentang faktor finansial. Dilansir dari WebProNews, tak sedikit milenial dan gen z merasa asuransi jiwa tidak begitu relevan dengan gaya hidup mereka saat ini. Mereka lebih memilih mengalokasikan uang untuk hal-hal yang lebih nyata dalam keseharian seperti wisata, investasi jangka pendek, hingga kesehatan mental.

Bagi mereka, hidup sehat dan produktif saat ini terasa lebih mendesak dibanding memikirkan risiko masa depan yang belum tentu terjadi dalam waktu dekat.

Namun, ada sisi lain yang patut diperhatikan. Ketika hidup semakin penuh ketidakpastian, perlindungan finansial sebenarnya bisa menjadi bentuk “peace of mind” yang sering diabaikan. Generasi muda terbiasa mengandalkan tabungan darurat atau asuransi kesehatan, tapi jarang menyadari bahwa asuransi jiwa bisa melindungi keluarga dari beban finansial yang berat. Inilah kesenjangan yang mulai disorot oleh para pakar keuangan.

Tren ini juga mencerminkan perubahan cara pandang terhadap konsep stabilitas. Dulu, stabilitas identik dengan rumah tetap, keluarga kecil, dan tabungan masa depan. Kini, stabilitas lebih banyak diartikan sebagai kebebasan memilih: bisa pindah kerja kapan saja, bisa kuliah lagi, atau bahkan mencoba karier baru di luar negeri. Dalam kerangka pikir seperti ini, asuransi jiwa masih dianggap produk untuk orang tua.

Meski begitu, perusahaan asuransi perlahan mulai beradaptasi. Produk digital dengan premi fleksibel, aplikasi yang mudah diakses, hingga paket perlindungan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan personal, mulai ditawarkan untuk menarik minat generasi muda. Jika pendekatan ini konsisten, bukan tidak mungkin citra asuransi jiwa berubah menjadi sesuatu yang lebih relate dengan kehidupan mereka.

Pada akhirnya, pilihan tetap kembali ke masing-masing individu. Generasi muda memang punya alasan kuat untuk menunda mulai dari beban biaya hidup, cicilan pendidikan, hingga kebutuhan gaya hidup yang terus berkembang. Tetapi, di balik itu, ada pertanyaan sederhana yang patut direnungkan: kalau bukan sekarang, kapan lagi mulai memikirkan perlindungan masa depan?

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Tren Staycation Masih Jadi Harapan Baru di Tengah Lesunya Industri Hotel

BERIKUTNYA

Perilaku Gamer Indonesia Kian Tak Bersekat, Streamer Punya Peran Kunci Gawangi Komunitas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga