Tren Staycation Masih Jadi Harapan Baru di Tengah Lesunya Industri Hotel
19 September 2025 |
17:45 WIB
Industri perhotelan Indonesia tengah menghadapi masa penuh tantangan akibat tekanan ekonomi global dan kebijakan dalam negeri. Pengetatan anggaran perjalanan pemerintah yang dimulai setelah keputusan Presiden Prabowo Subianto pada akhir 2024 memberi dampak signifikan terhadap sektor ini.
Dari situ, pola kunjungan, tingkat okupansi, hingga arah investasi hotel ikut terpengaruh, meski sejumlah pelaku usaha tetap memandang optimistis potensi pemulihan di paruh kedua 2025.
Baca juga: Hotel di Lombok & Bali Panen Pesanan Jelang MotoGP Mandalika
Sejak November 2024, hotel-hotel mulai mengambil langkah antisipasi menghadapi berkurangnya permintaan dari segmen pemerintah. Efek nyata terlihat pada awal 2025 ketika okupansi menurun hingga 24%. Namun, penyesuaian strategi dianggap mampu menjaga stabilitas bisnis.
“Kami sudah memprediksi pengetatan anggaran sejak akhir tahun lalu, sehingga strategi pivot ke segmen corporate dan Free Independent Traveler (FIT) sudah dilakukan lebih awal,” jelas Executive Director JHL Collection Satria Wei.
Selain mengalihkan fokus pasar, berbagai langkah efisiensi operasional juga dilakukan. Beberapa hotel menekan biaya dengan pembelian kebutuhan dalam jumlah besar untuk jangka panjang. Kolaborasi dengan korporasi hingga hotel lain pun dibangun untuk menjaga arus tamu dan mempertahankan tingkat hunian.
Meski strategi ini cukup membantu, kinerja okupansi masih menunjukkan tekanan. Berdasarkan data Smith Travel Research (STR), industri perhotelan Indonesia pada awal 2025 mencatat penurunan sebesar 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan paling terasa di Pulau Jawa termasuk Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya yang masing-masing merosot hingga 5%. Sebaliknya, Bali menjadi satu-satunya wilayah yang mencatatkan pertumbuhan dengan kenaikan sekitar 2,4%.
“Secara nasional masih terjadi penurunan, tetapi outlook paruh kedua tahun ini diyakini akan lebih baik terutama dengan meningkatnya minat masyarakat untuk staycation,” ujar Satria.
“Namun, sejarah membuktikan bahwa sektor ini selalu mampu rebound,” tegasnya.
Dengan modal pengalaman krisis sebelumnya, pelaku usaha saat ini mengandalkan strategi efisiensi, diversifikasi pasar, serta menjaga kepercayaan investor. Optimisme tumbuh seiring meningkatnya potensi pertumbuhan domestik dan tren perjalanan masyarakat yang secara perlahan kembali normal.
Harapan besar tertuju pada semester kedua 2025 yang hasilnya akan terlihat di akhir tahun nanti. Industri ini diharapkan bisa menapaki jalur pemulihan lebih stabil.
Ke depan, menurutnya, tantangan global dan domestik tetap menjadi variabel utama yang harus diantisipasi. Namun kembali lagi, kecepatan adaptasi, inovasi dalam layanan, serta kolaborasi lintas sektor diyakini akan menjadi kunci keberhasilan hotel agar tetap eksis di tengah gempuran ini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dari situ, pola kunjungan, tingkat okupansi, hingga arah investasi hotel ikut terpengaruh, meski sejumlah pelaku usaha tetap memandang optimistis potensi pemulihan di paruh kedua 2025.
Baca juga: Hotel di Lombok & Bali Panen Pesanan Jelang MotoGP Mandalika
Sejak November 2024, hotel-hotel mulai mengambil langkah antisipasi menghadapi berkurangnya permintaan dari segmen pemerintah. Efek nyata terlihat pada awal 2025 ketika okupansi menurun hingga 24%. Namun, penyesuaian strategi dianggap mampu menjaga stabilitas bisnis.
“Kami sudah memprediksi pengetatan anggaran sejak akhir tahun lalu, sehingga strategi pivot ke segmen corporate dan Free Independent Traveler (FIT) sudah dilakukan lebih awal,” jelas Executive Director JHL Collection Satria Wei.
Selain mengalihkan fokus pasar, berbagai langkah efisiensi operasional juga dilakukan. Beberapa hotel menekan biaya dengan pembelian kebutuhan dalam jumlah besar untuk jangka panjang. Kolaborasi dengan korporasi hingga hotel lain pun dibangun untuk menjaga arus tamu dan mempertahankan tingkat hunian.
Meski strategi ini cukup membantu, kinerja okupansi masih menunjukkan tekanan. Berdasarkan data Smith Travel Research (STR), industri perhotelan Indonesia pada awal 2025 mencatat penurunan sebesar 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan paling terasa di Pulau Jawa termasuk Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya yang masing-masing merosot hingga 5%. Sebaliknya, Bali menjadi satu-satunya wilayah yang mencatatkan pertumbuhan dengan kenaikan sekitar 2,4%.
“Secara nasional masih terjadi penurunan, tetapi outlook paruh kedua tahun ini diyakini akan lebih baik terutama dengan meningkatnya minat masyarakat untuk staycation,” ujar Satria.
Melibas Masa Krisis
Meski demikian, dalam pandangan Satria, industri hotel di Indonesia sejatinya tidak asing dengan fase krisis. Sejarah menunjukkan pada periode 1998, 2004, 2008, hingga pasca tragedi Bom Bali memperlihatkan bahwa pemulihan biasanya membutuhkan waktu rata-rata 2 tahun. Menurut Satria, kondisi saat ini pun masuk dalam fase krisis atau serupa meski tidak diumumkan secara resmi.“Namun, sejarah membuktikan bahwa sektor ini selalu mampu rebound,” tegasnya.
Dengan modal pengalaman krisis sebelumnya, pelaku usaha saat ini mengandalkan strategi efisiensi, diversifikasi pasar, serta menjaga kepercayaan investor. Optimisme tumbuh seiring meningkatnya potensi pertumbuhan domestik dan tren perjalanan masyarakat yang secara perlahan kembali normal.
Harapan besar tertuju pada semester kedua 2025 yang hasilnya akan terlihat di akhir tahun nanti. Industri ini diharapkan bisa menapaki jalur pemulihan lebih stabil.
Ke depan, menurutnya, tantangan global dan domestik tetap menjadi variabel utama yang harus diantisipasi. Namun kembali lagi, kecepatan adaptasi, inovasi dalam layanan, serta kolaborasi lintas sektor diyakini akan menjadi kunci keberhasilan hotel agar tetap eksis di tengah gempuran ini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.