Industri Mode Eropa Bersatu Melawan Ultra-Fast Fashion, Bagaimana Nasib Shein dan Temu?
17 September 2025 |
21:30 WIB
Industri mode Eropa bergabung untuk menghadapi tekanan ultra-fast fashion. Pada 16 September 2025, sekitar 20 perwakilan sektor tekstil dan pakaian bertemu di Paris dan menandatangani deklarasi bersama, menandai langkah penting dalam upaya melindungi keberlanjutan industri lokal.
Melalui dokumen tersebut, mereka menegaskan komitmen kolektif melawan dominasi platform ritel asal China seperti Shein dan Temu, serta mendesak Uni Eropa dan otoritas nasional segera mengambil langkah nyata menghadapi ancaman ini.
Baca juga: Fenomena Fast Fashion dan Upaya Merajut Industri Mode Berkelanjutan
Menurut estimasi Euratex, sekitar 4,5 miliar paket dari platform murah asal China masuk ke Eropa pada tahun lalu. Jumlah tersebut kini mencakup 5 persen penjualan pakaian di Eropa dan 20 persen dari total penjualan pakaian daring.
Para penandatangan deklarasi itu memperingatkan dampak serius dari fenomena ini, antara lain lonjakan limbah tekstil akibat produksi berlebihan barang dengan usia pakai yang sangat singkat. Tekanan berat pada UMKM Eropa yang selama ini taat pada standar sosial dan lingkungan yang ketat.
Selain itu, ancaman langsung bagi peritel lokal, yang mempercepat kemunduran pusat-pusat kota. Belum lagi, praktik ultra-fast fashion yang melanggar aturan Eropa, termasuk penggelapan PPN, pemalsuan, dan persaingan tidak sehat.
Adapun acara penandatanganan berlangsung di Villepinte, Prancis, bertepatan dengan pameran dagang internasional Première Vision Paris yang digelar pada 16-18 September 2025. Meski suasana hangat antarsesama pelaku industri terlihat, ketegangan tetap terasa.
Para peserta sepakat bahwa persaingan dari produk ultra-murah China yang kerap lolos pengawasan, bahkan bea cukai, telah menciptakan kondisi darurat bagi industri mode Eropa.
Situasi semakin menegangkan ketika pada hari yang sama, Shein Prancis mengumumkan kerja sama dengan merek Prancis pertama mereka. Ini memperlihatkan betapa agresifnya strategi mereka mendominasi pasar mode.
Dalam isi deklarasi, federasi industri menyerukan agar Uni Eropa segera mencabut pembebasan bea masuk bagi paket non-UE bernilai di bawah 150 euro. Mereka juga mengusulkan adanya pungutan tambahan untuk mendanai inspeksi serta kewajiban pemungutan PPN.
Selain itu, para penandatangan menuntut percepatan investigasi dan pemberian sanksi melalui Digital Services Act dan Digital Markets Act, serta menjalin dialog dengan otoritas China yang dinilai memiliki tujuan berbeda dengan praktik platform ultra-fast fashion.
“Industri mode tidak bisa dan tidak akan menunggu,” tegas Pierre-Francois Le Louet, Presiden UFIMH (Union Francaise des Industries Mode & Habillement), yang menggagas inisiatif ini.
Dia menekankan bahwa perjuangan harus dilakukan di tingkat nasional maupun Uni Eropa agar legislator dan Komisi Eropa segera bertindak lebih cepat.
Mario Jorge Machado, Presiden Euratex, konfederasi industri tekstil Eropa, menilai pertemuan ini penting agar suara industri lebih terdengar di tingkat Komisi Eropa. Dia mengingatkan bahwa pelaku ultra-fast fashion memanfaatkan kelemahan regulasi dan merugikan merek serta konsumen Eropa.
“Anda tidak bisa menghancurkan kreativitas dan hak kekayaan intelektual dengan cara seperti itu. Industri kita dikenal dengan inovasi, kualitas, dan desain, dan itu harus kita pertahankan,” ujarnya.
Seiring desakan regulasi baru yang menargetkan praktik ultra-fast fashion, produk-produk Shein dan Temu berpotensi menghadapi tekanan besar di Eropa. Jika aturan penghapusan pembebasan bea masuk untuk paket murah diberlakukan, harga produk Shein bisa naik dan mengurangi daya tariknya di kalangan konsumen.
Selain itu, perusahaan juga terancam denda besar bila terbukti melanggar aturan perlindungan konsumen maupun ketentuan digital Uni Eropa. Biaya tambahan untuk kepatuhan, audit, serta penyesuaian rantai pasok akan semakin membebani operasional.
Citra mereka pun bisa semakin tercoreng akibat tuduhan praktik tidak etis dan dampak lingkungan. Meski begitu, situasi ini juga mendorong perusahaan mode super cepat untuk bertransformasi menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan dan transparan.
Dalam proses produksinya, sering bergantung pada praktik yang tidak etis, misalnya kerja paksa dan cara produksi yang merusak lingkungan. Selain itu, bahan yang dipakai umumnya berkualitas rendah sehingga pakaian cepat rusak, akibatnya bisa merugikan manusia sekaligus bumi.
Sementara itu, ultra-fast fashion adalah istilah untuk produksi pakaian yang bergerak, bahkan lebih cepat daripada fast fashion. Merek jenis ini bisa merilis gaya baru setiap minggu, bahkan setiap hari.
Model bisnis ini juga banyak dikritik lantaran sering menggunakan praktik yang merusak lingkungan, serta menerapkan sistem kerja yang buruk dan upah rendah.
Belum lagi, setiap harinya tren fesyen terbaru bermunculan di media sosial sehingga menuntut pengerjaan pakaian yang lebih cepat lagi. Akibatnya, toko-toko kini banyak menjual pakaian terinspirasi tren terkini, bukan menunggu koleksi musim berikutnya.
Baca juga: Selektif Pilih Pakaian Berkualitas Sebagai Upaya Memerangi Fast Fashion
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Melalui dokumen tersebut, mereka menegaskan komitmen kolektif melawan dominasi platform ritel asal China seperti Shein dan Temu, serta mendesak Uni Eropa dan otoritas nasional segera mengambil langkah nyata menghadapi ancaman ini.
Baca juga: Fenomena Fast Fashion dan Upaya Merajut Industri Mode Berkelanjutan
Menurut estimasi Euratex, sekitar 4,5 miliar paket dari platform murah asal China masuk ke Eropa pada tahun lalu. Jumlah tersebut kini mencakup 5 persen penjualan pakaian di Eropa dan 20 persen dari total penjualan pakaian daring.
Para penandatangan deklarasi itu memperingatkan dampak serius dari fenomena ini, antara lain lonjakan limbah tekstil akibat produksi berlebihan barang dengan usia pakai yang sangat singkat. Tekanan berat pada UMKM Eropa yang selama ini taat pada standar sosial dan lingkungan yang ketat.
Selain itu, ancaman langsung bagi peritel lokal, yang mempercepat kemunduran pusat-pusat kota. Belum lagi, praktik ultra-fast fashion yang melanggar aturan Eropa, termasuk penggelapan PPN, pemalsuan, dan persaingan tidak sehat.
Adapun acara penandatanganan berlangsung di Villepinte, Prancis, bertepatan dengan pameran dagang internasional Première Vision Paris yang digelar pada 16-18 September 2025. Meski suasana hangat antarsesama pelaku industri terlihat, ketegangan tetap terasa.
Para peserta sepakat bahwa persaingan dari produk ultra-murah China yang kerap lolos pengawasan, bahkan bea cukai, telah menciptakan kondisi darurat bagi industri mode Eropa.
Situasi semakin menegangkan ketika pada hari yang sama, Shein Prancis mengumumkan kerja sama dengan merek Prancis pertama mereka. Ini memperlihatkan betapa agresifnya strategi mereka mendominasi pasar mode.
Dalam isi deklarasi, federasi industri menyerukan agar Uni Eropa segera mencabut pembebasan bea masuk bagi paket non-UE bernilai di bawah 150 euro. Mereka juga mengusulkan adanya pungutan tambahan untuk mendanai inspeksi serta kewajiban pemungutan PPN.
Selain itu, para penandatangan menuntut percepatan investigasi dan pemberian sanksi melalui Digital Services Act dan Digital Markets Act, serta menjalin dialog dengan otoritas China yang dinilai memiliki tujuan berbeda dengan praktik platform ultra-fast fashion.
“Industri mode tidak bisa dan tidak akan menunggu,” tegas Pierre-Francois Le Louet, Presiden UFIMH (Union Francaise des Industries Mode & Habillement), yang menggagas inisiatif ini.
Dia menekankan bahwa perjuangan harus dilakukan di tingkat nasional maupun Uni Eropa agar legislator dan Komisi Eropa segera bertindak lebih cepat.
Mario Jorge Machado, Presiden Euratex, konfederasi industri tekstil Eropa, menilai pertemuan ini penting agar suara industri lebih terdengar di tingkat Komisi Eropa. Dia mengingatkan bahwa pelaku ultra-fast fashion memanfaatkan kelemahan regulasi dan merugikan merek serta konsumen Eropa.
“Anda tidak bisa menghancurkan kreativitas dan hak kekayaan intelektual dengan cara seperti itu. Industri kita dikenal dengan inovasi, kualitas, dan desain, dan itu harus kita pertahankan,” ujarnya.
Seiring desakan regulasi baru yang menargetkan praktik ultra-fast fashion, produk-produk Shein dan Temu berpotensi menghadapi tekanan besar di Eropa. Jika aturan penghapusan pembebasan bea masuk untuk paket murah diberlakukan, harga produk Shein bisa naik dan mengurangi daya tariknya di kalangan konsumen.
Selain itu, perusahaan juga terancam denda besar bila terbukti melanggar aturan perlindungan konsumen maupun ketentuan digital Uni Eropa. Biaya tambahan untuk kepatuhan, audit, serta penyesuaian rantai pasok akan semakin membebani operasional.
Citra mereka pun bisa semakin tercoreng akibat tuduhan praktik tidak etis dan dampak lingkungan. Meski begitu, situasi ini juga mendorong perusahaan mode super cepat untuk bertransformasi menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan dan transparan.
Perbedaan Fast Fashion dan Ultra-fast Fashion
Fast fashion adalah model bisnis di industri mode yang memproduksi model-model pakaian yang sedang ngetren. Tak jarang mereka meniru desain-desain para perancang busana yang menampilkan karyanya di fashion show, lalu diproduksi kembali dalam jumlah besar dan harga murah. Tujuan mereka memenuhi permintaan konsumen yang ingin selalu bergaya modis dengan harga terjangkau.Dalam proses produksinya, sering bergantung pada praktik yang tidak etis, misalnya kerja paksa dan cara produksi yang merusak lingkungan. Selain itu, bahan yang dipakai umumnya berkualitas rendah sehingga pakaian cepat rusak, akibatnya bisa merugikan manusia sekaligus bumi.
Sementara itu, ultra-fast fashion adalah istilah untuk produksi pakaian yang bergerak, bahkan lebih cepat daripada fast fashion. Merek jenis ini bisa merilis gaya baru setiap minggu, bahkan setiap hari.
Model bisnis ini juga banyak dikritik lantaran sering menggunakan praktik yang merusak lingkungan, serta menerapkan sistem kerja yang buruk dan upah rendah.
Belum lagi, setiap harinya tren fesyen terbaru bermunculan di media sosial sehingga menuntut pengerjaan pakaian yang lebih cepat lagi. Akibatnya, toko-toko kini banyak menjual pakaian terinspirasi tren terkini, bukan menunggu koleksi musim berikutnya.
Baca juga: Selektif Pilih Pakaian Berkualitas Sebagai Upaya Memerangi Fast Fashion
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.